Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Penjaga Asrama Putri

Penjaga Asrama Putri

Agung Wickz | Bersambung
Jumlah kata
90.4K
Popular
169
Subscribe
70
Novel / Penjaga Asrama Putri
Penjaga Asrama Putri

Penjaga Asrama Putri

Agung Wickz| Bersambung
Jumlah Kata
90.4K
Popular
169
Subscribe
70
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHarem21+Urban
Bima Satria, mantan anggota pasukan khusus dengan masa lalu berdarah, tidak pernah menyangka nasib akan membawanya ke tempat yang paling dihindari laki-laki waras. Sebuah penthouse mewah di Jakarta Selatan yang dipenuhi aroma parfum mahal dan pakaian dalam wanita berserakan. Tugas barunya terdengar sederhana namun menyiksa mental. Dia harus menjadi perisai hidup bagi Divinity, grup idola wanita nomor satu di Indonesia yang sedang diteror oleh penguntit obsesif.​Bima terpaksa tinggal satu atap selama 24 jam penuh dengan empat gadis yang memiliki kepribadian bertolak belakang. Ada Clara si pemimpin yang angkuh dan dominan, Zoya si penari seksi yang gemar menguji iman laki-laki, Rere si pemberontak yang liar, serta Vanya si gadis polos yang rapuh. Bagi mereka, Bima hanyalah orang asing yang mengganggu privasi. Bagi Bima, mereka hanyalah tugas yang harus diselesaikan demi uang.​Namun, situasi berubah ketika bahaya semakin nyata. Di balik pintu asrama yang tertutup rapat, batas antara profesionalitas dan hasrat perlahan mulai kabur. Bima harus menjaga pertahanannya sekuat baja, tidak hanya dari serangan musuh yang mengincar nyawa, tetapi juga dari godaan empat "dewi" yang perlahan mulai menginginkan tubuh dan hatinya. Ini bukan sekadar kisah panggung hiburan yang gemerlap. Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi ketika kamera mati, saat sang pelindung berubah menjadi satu-satunya pria yang mereka butuhkan di atas ranjang.
Bab 1: Panggilan Tengah Malam & Tamu Tak Diundang

Dentuman bass dari musik EDM yang memekakkan telinga itu terasa seperti pukulan palu godam di dada Bima.

Udara di dalam kelab malam "The Void" terasa berat, lembap, dan berbau campuran antara alkohol murah, keringat ratusan manusia yang berdesakan, serta asap rokok yang menggantung tebal di langit-langit ruangan. Lampu strobo menyapu lantai dansa dengan kilatan warna ungu dan merah, menciptakan efek halusinasi bagi siapa saja yang terlalu banyak menenggak minuman keras.

Namun Bima Satria tidak mabuk. Dia tidak pernah mabuk saat sedang bekerja.

Pria itu berdiri diam di sudut gelap dekat pintu VIP. Tubuhnya yang setinggi 185 sentimeter terbalut kaos hitam polos yang merekat ketat, memperlihatkan kontur otot dada dan lengannya yang masif. Dia berdiri tegak dengan tangan bersidekap, matanya yang tajam memindai kerumunan seperti seekor elang yang sedang mengawasi mangsa dari ketinggian tebing. Wajahnya keras, dihiasi rahang tegas yang jarang tersenyum, dan ada aura berbahaya yang menguar darinya. Aura yang membuat para pemabuk paling nekat sekalipun berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengannya.

"Hei, Bang Jago! Minggir!"

Seorang pemuda dengan kemeja flanel terbuka yang memperlihatkan dada kurusnya mencoba menerobos masuk ke area VIP. Matanya merah dan napasnya bau naga. Dia jelas salah satu anak orang kaya baru yang merasa dunia ini milik bapaknya.

Bima tidak bergeming. Dia hanya merentangkan satu lengan kirinya yang besar, menghalangi jalan pemuda itu seperti palang pintu kereta api yang terbuat dari beton bertulang.

"Area khusus," suara Bima keluar, rendah dan serak, nyaris tenggelam oleh suara musik. "Tunjukkan kartu member atau mundur."

Pemuda itu menarik napas kasar, merasa terhina. Dia mencoba menepis tangan Bima. "Lo nggak tahu siapa gue? Gue bisa beli tempat sampah ini beserta isinya, termasuk lo!"

Gerakan selanjutnya terjadi begitu cepat hingga mata normal sulit menangkapnya. Pemuda itu mencoba melayangkan pukulan canggung ke wajah Bima. Bima hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri, membiarkan kepalan tangan itu memukul udara kosong. Dalam sepersekian detik berikutnya, tangan kanan Bima mencengkeram pergelangan tangan si pemuda, memutarnya ke punggung, dan mendorong wajahnya menempel ke dinding yang dingin.

"Aaargh! Lepas! Tangan gue!" jerit pemuda itu, suaranya kalah oleh drop beat lagu DJ yang sedang naik.

Bima mendekatkan wajahnya ke telinga pemuda itu. "Gue nggak peduli siapa bapak lo. Tapi kalau lo bikin rusuh di shift gue, gue pastikan lo pulang merangkak. Paham?"

Cengkeraman itu sedikit mengendur, tapi ancamannya terasa nyata. Pemuda itu mengangguk panik. Saat Bima melepaskannya, dia langsung lari terbirit-birit menembus kerumunan, melupakan harga dirinya yang baru saja diinjak-injak.

Bima menghela napas panjang. Dia membenci pekerjaan ini. Menjadi bouncer atau penjaga keamanan di kelab malam kumuh di Jakarta Barat adalah penurunan karir yang drastis bagi seseorang yang dulunya memegang senapan serbu di garis depan pertempuran. Tapi hidup tidak memberikan banyak pilihan bagi seorang mantan tentara yang dipecat secara tidak hormat karena sebuah kasus yang bahkan bukan kesalahannya.

Getaran ponsel di saku celana jinsnya membuyarkan lamunan Bima. Dia merogoh saku dan melihat layar yang retak itu menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor rumah sakit. Tagihan perawatan adiknya yang koma sudah jatuh tempo, dan nominalnya membuat kepala Bima berdenyut lebih kencang daripada musik di ruangan itu.

"Sialan," umpatnya pelan.

Tiba-tiba, seorang pelayan bar berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Wajahnya pucat.

"Bang Bima! Ada tamu nyariin Abang di ruang manajer. Penting katanya."

Bima mengerutkan kening. Siapa yang mencarinya jam dua pagi begini? Penagih hutang? Atau polisi?

Tanpa banyak bicara, Bima berjalan membelah kerumunan. Orang-orang secara naluriah menyingkir memberikan jalan saat melihat postur tubuhnya yang mengintimidasi. Dia masuk ke area belakang, menuju sebuah ruangan kantor yang sedikit lebih kedap suara.

Di dalam ruangan itu, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang tampak sangat mahal, sangat kontras dengan sofa kulit sintetis yang sudah sobek di sana. Pria itu tampak gelisah, terus-menerus mengetukkan jari-jarinya yang memakai cincin emas ke meja.

Itu Surya Atmadja. Salah satu CEO agensi hiburan terbesar di Jakarta. Bima pernah melihat wajahnya di majalah bisnis yang tergeletak di ruang tunggu rumah sakit.

"Anda Bima Satria?" tanya Pak Surya langsung saat pintu tertutup. Dia tidak membuang waktu untuk basa-basi.

Bima mengangguk pelan, tetap berdiri di dekat pintu. "Ada urusan apa orang besar masuk ke lubang tikus ini?"

Pak Surya berdiri, wajahnya tampak lelah dan putus asa. Ada kantung mata tebal yang menggantung di wajahnya. "Saya butuh keahlian kamu. Sekarang juga."

"Saya sedang kerja," jawab Bima datar.

"Saya bayar sepuluh kali lipat dari gaji kamu sebulan di sini, hanya untuk malam ini. Dan kalau kamu setuju kontrak jangka panjang, saya akan lunasi semua hutang rumah sakit adik kamu."

Kalimat terakhir itu membuat Bima membeku. Matanya menyipit tajam. "Anda menyelidiki saya?"

"Saya orang bisnis, Bima. Saya selalu riset sebelum membeli aset," Pak Surya mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari tas kerjanya dan meletakkannya di meja. "Itu uang muka. Cash. Lima puluh juta rupiah."

Bima menatap amplop itu, lalu menatap mata Pak Surya. Instingnya mengatakan ini bukan pekerjaan sembarangan. Uang sebesar itu pasti datang dengan risiko yang setimpal.

"Siapa targetnya? Politisi? Mafia?" tanya Bima.

Pak Surya menggeleng, dia mengusap wajahnya dengan sapu tangan. "Bukan. Kamu tidak akan membunuh orang. Kamu hanya perlu menjaga. Menjaga aset paling berharga perusahaan saya."

"Narkoba?"

"Bukan!" Pak Surya membentak frustrasi, lalu merendahkan suaranya lagi. "Grup idola. Divinity."

Bima terdiam sejenak, lalu tersenyum sinis. "Anda bercanda. Anda mau nyewa mantan pasukan khusus buat jadi babysitter sekelompok cewek yang kerjanya joget-joget di TV?"

"Bodyguard mereka sebelumnya baru saja masuk ICU dua jam yang lalu," potong Pak Surya dengan nada dingin yang mematikan tawa Bima. "Tulang rusuknya patah tiga, rahangnya retak. Dihajar orang tidak dikenal saat mencoba melindungi salah satu member di parkiran studio."

Suasana ruangan itu berubah mencekam. Bima menegakkan tubuhnya. Insting bahayanya mulai menggelitik tengkuknya. Ini bukan sekadar gangguan fans fanatik. Ini ancaman serius.

"Polisi?" tanya Bima.

"Tidak bisa. Kalau ini bocor ke media, saham perusahaan anjlok. Karir mereka tamat. Saya butuh hantu. Orang yang bisa ada di sana tanpa terlihat, tapi bisa mematahkan leher orang lain kalau diperlukan. Saya dengar reputasi kamu di unit lama. 'The Wall'. Tembok yang tidak bisa ditembus."

Bima menatap amplop tebal di meja itu lagi. Bayangan adiknya yang terbaring lemah dengan selang infus memenuhi benaknya. Harga dirinya sebagai tentara mungkin terluka karena harus menjaga artis, tapi harga diri tidak bisa membayar obat.

Bima melangkah maju, tangannya yang kasar menyambar amplop itu.

"Kapan saya mulai?"

"Sekarang," jawab Pak Surya lega. "Mobil sudah menunggu di belakang."

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ──

Satu jam kemudian, suasana bising kelab malam sudah berganti dengan keheningan mewah di dalam kabin mobil Alphard hitam yang melaju membelah jalanan Jakarta Selatan. Bima duduk di kursi depan di samping sopir, sementara Pak Surya sibuk dengan tabletnya di kursi belakang.

Bima menatap jalanan lewat kaca jendela. Mereka memasuki kawasan apartemen elit "The Haven". Ini adalah kompleks hunian vertikal paling mahal di Jakarta, tempat di mana privasi adalah komoditas utama yang dijual. Penjagaannya berlapis. Bima menghitung setidaknya ada tiga pos pemeriksaan sebelum mobil mereka berhenti di lobby khusus penghuni Penthouse.

"Mereka tinggal di lantai 40. Satu lantai itu milik mereka," jelas Pak Surya saat mereka masuk ke dalam lift pribadi. "Dengar Bima, mereka... sedikit sulit diatur. Mereka bintang besar. Ego mereka setinggi langit. Bodyguard lama tidak ada yang betah lebih dari sebulan, bahkan sebelum insiden pemukulan itu."

"Saya tidak dibayar untuk menyukai mereka," jawab Bima datar. "Saya dibayar untuk memastikan mereka tetap bernapas."

Lift berdenting halus, menandakan mereka telah sampai di lantai teratas. Pintu lift terbuka langsung menuju ruang tamu Penthouse yang luasnya mungkin tiga kali lipat ukuran rumah kontrakan Bima.

Kesan pertama yang ditangkap Bima adalah: Mewah dan Wangi.

Lantai marmer putih yang berkilau memantulkan cahaya dari lampu kristal gantung. Sofa-sofa beludru berwarna krem tertata rapi menghadap jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan cakrawala Jakarta di malam hari. Namun, kontras dengan kemewahan itu, ruangan tersebut berantakan. Ada sepatu hak tinggi berserakan di dekat pintu, tumpukan majalah mode di meja, dan bungkus makanan ringan di karpet.

Dan di sanalah mereka. Empat gadis yang wajahnya terpampang di setiap papan reklame di ibu kota.

Di sofa panjang, seorang gadis berambut pirang dengan piyama satin tipis sedang berbaring sambil memaikan ponsel. Kakinya yang jenjang diangkat ke sandaran sofa. Itu Zoya, si penari utama yang terkenal dengan imej seksinya.

Di lantai karpet, duduk seorang gadis dengan hoodie kebesaran dan headphone di telinga, matanya terpaku pada layar televisi yang menampilkan game konsol. Dia berteriak-teriak kasar pada layar. Itu Rere, si rapper tomboy.

Di sudut ruangan dekat jendela, seorang gadis mungil dengan wajah sembab sedang memeluk lutut. Dia terlihat seperti anak kucing yang ketakutan. Vanya, si center yang menjadi kesayangan publik.

Dan terakhir, seorang wanita muda yang berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersidekap. Dia mengenakan gaun tidur sutra berwarna merah marun yang elegan, wajahnya cantik namun dingin seperti es. Tatapannya tajam menusuk ke arah Bima dan Pak Surya. Clara. Sang Leader.

"Pak Surya," suara Clara terdengar tajam, memecah keheningan. "Siapa lagi preman yang Bapak bawa ini?"

Pak Surya berdeham canggung. "Clara, jaga bicaramu. Ini Bima. Dia akan menggantikan Pak Joko sementara waktu."

Zoya menurunkan ponselnya, matanya yang nakal memindai tubuh Bima dari ujung kaki ke ujung kepala, lalu berhenti sejenak di bagian dada bidang Bima yang tercetak jelas di balik kaos hitamnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring. "Wah, upgrade yang lumayan. Setidaknya yang ini enak dilihat."

"Gue nggak butuh baby sitter!" Rere melepaskan headphone-nya dengan kasar. "Kita butuh privasi, Pak! Kenapa sih harus ada laki-laki asing di dalam rumah kita?"

Vanya hanya menunduk semakin dalam, menyembunyikan wajahnya. Tubuhnya sedikit gemetar. Jelas trauma akibat insiden teror sebelumnya masih menghantuinya.

Bima hanya diam. Dia berdiri tegak di dekat pintu lift, tas ransel lusuh berisi pakaian gantinya tersampir di satu bahu. Dia merasa seperti serigala yang baru saja masuk ke kandang sekumpulan kucing persia yang manja.

"Ini demi keselamatan kalian," tegas Pak Surya, suaranya meninggi. "Teror kemarin bukan main-main. Sampai pelaku tertangkap, Bima akan tinggal di sini. Dia akan tidur di kamar dekat pintu masuk."

"Kamar gudang?" Clara menarik napas meremehkan. Dia melangkah maju mendekati Bima. Aroma parfum mahal bercampur body lotion vanila menerpa indra penciuman Bima. Clara berhenti tepat satu langkah di depan Bima, mendongak menantang karena tinggi badannya yang memakai hak sekalipun masih kalah jauh dari Bima.

"Dengar ya, Pak Bima," ucap Clara dengan nada angkuh. "Saya tidak peduli siapa kamu di luar sana. Tapi di sini, ini adalah kerajaan kami. Jangan berpikir kamu bisa mengatur kami. Tugasmu cuma berdiri di depan pintu dan pastikan tidak ada orang gila yang masuk. Jangan bicara pada kami kalau tidak ditanya, jangan menatap kami, dan jangan berani-berani masuk ke area pribadi kami."

Clara menunjuk sebuah garis di lantai. "Kamu cuma satpam. Tahu diri."

Suasana ruangan itu hening. Zoya terkikik pelan menantikan reaksi Bima. Pak Surya tampak panik dan hendak melerai, tapi Bima mengangkat tangannya, mengisyaratkan bosnya untuk diam.

Bima menatap lurus ke dalam mata cokelat Clara. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa terhina. Hanya kekosongan yang dingin. Perlahan, dia menjatuhkan tas ranselnya ke lantai marmer dengan bunyi gedebuk yang berat.

Dia melangkah maju satu langkah, mengikis jarak antara dirinya dan Clara. Clara yang terkejut dengan keberanian itu secara refleks mundur selangkah, dominasinya runtuh seketika oleh intimidasi fisik yang Bima pancarkan.

"Satu hal yang perlu Nona luruskan," suara Bima berat dan menggema di ruangan luas itu. Dia tidak berteriak, tapi nadanya penuh penekanan yang mutlak. "Saya bukan satpam kompleks. Saya bukan asisten rumah tangga. Dan saya jelas bukan fans kalian."

Bima mengalihkan pandangannya, menatap satu per satu wajah member Divinity. Menatap Zoya yang kini berhenti tersenyum, Rere yang melongo memegang stik game, dan Vanya yang akhirnya berani mengintip dari balik lututnya.

"Kalian pikir ini permainan?" lanjut Bima, kali ini dia mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya. Sebuah pisau lipat taktis yang dia sita dari pemuda mabuk di kelab tadi. Dengan gerakan santai, dia menancapkan pisau itu ke meja kayu jati di dekatnya. Trak! Pisau itu menancap dalam, berdiri tegak dan bergetar.

Keempat gadis itu tersentak kaget. Vanya memekik kecil.

"Orang yang menghajar bodyguard lama kalian sampai masuk ICU itu profesional," kata Bima dingin. "Kalau dia mau, dia bisa masuk ke sini malam ini dan menghabisi kalian semua sebelum kalian sempat teriak minta tolong di Instagram."

Bima kembali menatap Clara yang kini wajahnya pucat pasi.

"Mulai detik ini, aturan di rumah ini berubah. Saya tidak peduli dengan ego kalian, karir kalian, atau seberapa mahal harga diri kalian. Prioritas saya cuma satu, memastikan kalian tetap bernapas sampai besok pagi."

Bima mengambil tasnya kembali, lalu berjalan melewati Clara begitu saja seolah sang Leader itu tidak ada. Dia menuju pintu kamar kecil di dekat pintu masuk yang disebut sebagai 'gudang' tadi.

Sebelum membuka pintu, dia menoleh sedikit ke belakang.

"Kunci semua pintu kamar kalian. Saya akan pasang sensor gerak di koridor dalam sepuluh menit. Kalau ada yang keluar kamar tanpa izin, saya anggap ancaman."

Bima masuk ke dalam kamar itu dan menutup pintunya. Meninggalkan empat idola pujaan Indonesia itu terpaku dalam keheningan yang mencekam, menyadari bahwa kehidupan nyaman mereka di menara gading baru saja berakhir.

Serigala itu kini tinggal di dalam rumah.

Lanjut membaca
Lanjut membaca