

Nama lengkapnya adalah Samudera Arga Han, dan selama dua puluh tahun hidupnya, ia belum pernah benar-benar merasa tinggal di satu tempat.
Ia lahir di sebuah kota pesisir bernama Teluk Arwana, sebuah daerah tua di ujung selatan Pulau Jawa yang lebih dikenal oleh nelayan daripada peta wisata. Rumahnya berdiri tidak jauh dari bibir pantai—sebuah rumah kayu bercat putih yang warnanya telah memudar oleh angin asin dan matahari. Dari jendela kamarnya, Samudera tumbuh dengan pemandangan yang sama setiap hari: laut yang tak pernah diam, seolah selalu ingin mengatakan sesuatu namun tak pernah selesai.
Ayahnya, Bramanta Han, adalah seorang pelaut riset yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut lepas. Ibunya meninggal ketika Samudera masih kecil, meninggalkan rumah itu hanya berisi dua laki-laki dan terlalu banyak sunyi. Ketika Bramanta menghilang tiga tahun lalu dalam sebuah ekspedisi yang tak pernah tercatat resmi, Samudera berhenti menyebut rumah itu sebagai “tempat tinggal”. Ia menyebutnya “titik awal”.
Pagi itu, angin Teluk Arwana berembus lebih kencang dari biasanya.
Samudera berdiri di atas tebing batu karang yang menghadap langsung ke laut terbuka. Jaket kulit cokelatnya telah usang di bagian lengan, ransel besar tergantung mantap di punggungnya. Di tangannya, sebuah peta tua terbuka—kertasnya menguning, tepinya robek, dan simbol-simbolnya tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh logika modern.
Peta itu bukan peta harta karun biasa.
Ia adalah catatan perjalanan terakhir Bramanta Han.
Bukan emas. Bukan permata. Bukan peti bajak laut.
Yang Samudera cari adalah kebenaran.
Tentang sebuah tempat bernama Pulau Aksara, pulau yang tidak tercatat di peta resmi mana pun. Pulau yang, menurut catatan ayahnya, menyimpan Arsip Samudra—kumpulan dokumen kuno dan artefak navigasi yang diyakini dapat mengubah pemahaman manusia tentang jalur pelayaran kuno Asia Timur dan Nusantara.
Dan lebih dari itu…
Pulau itu adalah tempat terakhir Bramanta menuliskan kata. “Jika aku tak kembali, Samudera akan tahu harus ke mana.”
—
Kapal kayu tua bernama Narayana berderit pelan di dermaga kecil Teluk Arwana. Kapal itu bukan kapal megah—hanya kapal ekspedisi kecil dengan layar krem dan mesin yang lebih sering mengeluh daripada bekerja. Namun Narayana adalah satu-satunya kapal yang bersedia berlayar ke koordinat “tak masuk akal” yang tertera di peta Samudera.
Kapten kapal itu, Jaya Mahendra, menatap Samudera dari ujung dermaga dengan ekspresi setengah bosan, setengah penasaran.
“Kau yakin ini bukan sekadar cerita ayahmu?” tanya Jaya sambil menyulut rokok. “Laut punya kebiasaan mengubah ingatan orang.”
Samudera naik ke geladak tanpa ragu.
“Kalau laut bisa mengubah ingatan,” katanya pelan, “aku hanya ingin tahu apa yang ia sembunyikan dariku.”
Jaya tertawa pendek, lalu mematikan rokoknya.
“Baiklah, Nak. Tapi dengar baik-baik. Ini bukan perjalanan mencari harta. Ini perjalanan yang bisa membuatmu tak pulang.”
Samudera menatap laut.
“Justru itu alasanku pergi.”
—
Malam pertama pelayaran datang dengan cepat. Langit berubah gelap, penuh bintang, sementara ombak memukul lambung kapal seperti detak jantung raksasa. Samudera duduk di kabin kecilnya, membuka buku catatan kulit milik ayahnya.
Tulisan Bramanta rapi namun penuh tekanan, seolah setiap kata ditulis dengan kesadaran bahwa waktu sedang menipis.
Pulau Aksara tidak bisa ditemukan oleh mereka yang datang dengan niat serakah.
Ia hanya akan muncul bagi mereka yang mencari jawaban.
Samudera menutup buku itu, menarik napas panjang.
Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di ujung perjalanan ini. Apakah ayahnya masih hidup. Apakah Pulau Aksara nyata. Atau apakah semua ini hanyalah obsesi seorang anak yang terlalu lama hidup berdampingan dengan kehilangan.
Namun satu hal ia yakini sejak awal.
Petualangan ini bukan tentang harta karun.
Ini tentang warisan, tentang darah, tentang laut yang memanggilnya sejak ia belajar berjalan.
Di luar, Narayana terus melaju, memotong gelapnya samudra.
Dan jauh di depan sana—di balik kabut dan koordinat yang tak diakui dunia—sebuah pulau menunggu untuk ditemukan kembali.
Atau dilupakan selamanya.
Angin malam menyusup lewat celah-celah kabin, membawa aroma asin yang tak pernah benar-benar bisa diusir dari kapal laut. Samudera berbaring di ranjang sempitnya, namun matanya tak kunjung terpejam. Denting halus dari tiang layar dan derit papan kayu menjadi lagu pengantar yang justru membuat pikirannya semakin terjaga.
Ia kembali membuka buku catatan ayahnya, kali ini lebih pelan, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh.
Beberapa halaman terakhir dipenuhi coretan yang tidak biasa—garis-garis melingkar, simbol arah mata angin yang diputar, serta satu sketsa pulau kecil berbentuk menyerupai huruf yang tidak ia kenal. Di bawahnya, Bramanta menulis singkat.
Pulau ini tidak mengikuti hukum peta.
Ia mengikuti ingatan laut.
Samudera mengerutkan kening. Sebagai anak pelaut, ia paham bahwa laut memang tidak selalu rasional. Arus bisa berubah tanpa aba-aba, kompas bisa berputar karena anomali magnetik. Tapi kata ingatan terasa… personal. Seolah laut bukan sekadar ruang, melainkan makhluk hidup yang mengingat siapa saja yang pernah melintasinya.
Ia menutup buku itu dan menatap langit-langit kabin. Bayangan ayahnya kembali hadir—postur tegap, kulit legam, mata yang selalu menyimpan kejauhan. Bramanta Han jarang bercerita tentang bahaya laut. Ia hanya pernah berkata satu hal yang selalu diingat Samudera.
“Kalau kau takut, jangan melawan laut. Dengarkan.”
Waktu itu Samudera masih terlalu muda untuk mengerti. Sekarang, di tengah samudra yang gelap dan tak dikenal, kalimat itu terasa lebih seperti peringatan daripada nasihat.
—
Keesokan paginya, Narayana bergoyang tidak biasa.
Samudera terbangun oleh hentakan keras, tubuhnya hampir terlempar dari ranjang. Dari luar kabin terdengar teriakan kru dan suara angin yang mendadak meninggi. Ia segera mengenakan jaketnya dan berlari ke geladak.
Langit yang semalam penuh bintang kini berubah kelabu pekat. Awan tebal bergulung rendah, seolah menekan permukaan laut. Ombak naik lebih tinggi, memukul lambung kapal dengan suara berat dan basah.
“Ada perubahan arus!” teriak salah satu kru.
Kapten Jaya berdiri di dekat kemudi, wajahnya serius—tidak lagi menyimpan nada bercanda seperti kemarin. “Ini aneh,” gumamnya. “Seharusnya perairan ini tenang.”
Samudera mendekat, berpegangan pada pagar kapal. Ia merasakan sesuatu yang ganjil, bukan hanya pada cuaca, melainkan pada dadanya sendiri. Ada sensasi seperti ditarik—pelan, namun konsisten—ke satu arah tertentu.
“Koordinat kita berubah?” tanya Samudera.
Jaya melirik kompas, lalu mengumpat pelan. “Kompasnya berputar. Seperti… bingung.”
Kalimat itu membuat bulu kuduk Samudera meremang.
Ia teringat catatan ayahnya.
Pulau Aksara tidak ditemukan. Ia ditemukan kembali.
Tiba-tiba sebuah gelombang besar menghantam dari sisi kanan. Narayana oleng keras. Air laut menyembur ke geladak, membuat dek licin dan kacau. Kru berusaha menstabilkan layar, sementara mesin kapal meraung seperti dipaksa bekerja melebihi batasnya.
Samudera hampir terjatuh, namun berhasil berpegangan pada tali. Di tengah kekacauan itu, pandangannya menangkap sesuatu di kejauhan.
Kabut.
Bukan kabut tipis biasa, melainkan dinding putih keabu-abuan yang berdiri tegak di depan jalur kapal, seolah laut sengaja menyembunyikan sesuatu di baliknya.
“Kabut di siang hari?” Jaya mengernyit. “Ini tidak masuk akal.”
Samudera menelan ludah. Dadanya berdebar bukan karena takut—melainkan karena pengenalan. Perasaan yang sama seperti saat ia pertama kali membaca peta itu. Seperti ketika ia tahu, tanpa alasan logis, bahwa ia harus pergi.
“Kita mendekati sesuatu,” katanya pelan.
Jaya menatapnya tajam. “Atau sesuatu yang mendekati kita.”
—
Ketika Narayana akhirnya menembus kabut, suara laut mendadak berubah.
Ombak yang semula gaduh menjadi tenang, terlalu tenang. Udara terasa lebih berat, lebih lembap, seolah setiap tarikan napas mengandung cerita lama. Di depan mereka, perlahan, muncul bayangan gelap di balik kabut yang mulai menipis.
Sebuah garis daratan.
Pulau.
Tidak besar. Tidak mencolok. Namun bentuknya persis seperti sketsa kasar di buku Bramanta Han.
Samudera berdiri kaku, matanya tak berkedip. Tangannya gemetar saat meraih peta tua dari ransel dan membandingkannya dengan apa yang ia lihat di depan mata.
Sama.
Lengkungan pantai. Tebing batu di sisi timur. Lekukan hutan di tengah pulau.
Pulau Aksara.
“Kita… kita tidak pernah mencatat pulau ini,” bisik salah satu kru.
Kapten Jaya terdiam lama. Untuk pertama kalinya, wajahnya kehilangan semua ekspresi skeptis. “Dalam tiga puluh tahun aku berlayar,” katanya akhirnya, “aku belum pernah melihat daratan ini.”
Samudera melangkah maju, mendekati haluan kapal. Jantungnya berdentum keras, bukan oleh ketakutan, melainkan oleh kepastian yang akhirnya menjelma nyata.
Ini bukan legenda.
Ini bukan ilusi.
Pulau itu nyata.
Dan entah bagaimana, ia merasa—dengan keyakinan yang tak bisa dijelaskan—bahwa pulau ini juga mengenalnya.
Angin berembus pelan dari arah daratan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua. Samudera menutup mata sejenak, membiarkan perasaan itu meresap.
“Ayah…” gumamnya. “Aku sampai.”
Di belakangnya, Narayana perlahan menurunkan layar.
Dan tanpa mereka sadari, dari balik pepohonan lebat Pulau Aksara, sepasang mata mengamati kedatangan mereka—diam, waspada, seolah telah menunggu sejak lama.
Bersambung........