Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sang Raja Gombal

Sang Raja Gombal

Sayap Uranus | Bersambung
Jumlah kata
64.6K
Popular
100
Subscribe
5
Novel / Sang Raja Gombal
Sang Raja Gombal

Sang Raja Gombal

Sayap Uranus| Bersambung
Jumlah Kata
64.6K
Popular
100
Subscribe
5
Sinopsis
PerkotaanAksiMengubah NasibPria DominanBadboy
Nino, seorang pemuda tampan yang diusir oleh orang tuanya, mengalami perubahan drastis setelah terserempet motor dan kepalanya terhantuk batu. Dia tidak hanya menjadi lebih konyol dan periang, tapi juga mendapatkan kemampuan unik untuk melihat nilai asli sebuah benda. Dengan kemampuan barunya, Nino menjadi pahlawan di kota dan mendapatkan julukan Raja Gombal. Namun, ketika dia bertemu dengan seorang gadis cantik, dia tahu bahwa dia harus menggunakan semua kemampuan dan jurus gombalnya untuk mendapatkan hatinya. Tapi, apakah Nino siap menghadapi tantangan besar dan mengungkap rahasia di balik kemampuan barunya? Apakah dia bisa mendapatkan hati gadis cantik itu, atau akankah dia menjadi korban dari kemampuan barunya sendiri? Update pukul 11.30 WIB dan Pukul 18.30 WIB
Bab 1 Tendangan Takdir

Suara debaman pintu menggelegar di seluruh rumah megah keluarga Hartanto. Nino terduduk di lantai marmer yang dingin, pipinya masih terasa panas akibat tamparan keras dari ayahnya sendiri.

"Keluar! Aku tidak punya anak sepertimu!" Suara Tuan Hartanto menggema dengan penuh amarah. "Sudah kuberi kesempatan berkali-kali, tapi kau malah menghambur-hamburkan uang untuk judi dan wanita!"

Nino mengusap sudut bibirnya yang berdarah, menatap ayahnya dengan pandangan kosong.

Di sampingnya, sang ibu hanya bisa menangis tersedu-sedu, tidak berani membela anak semata wayangnya.

"Ayah, berikan aku kesempatan sekali lagi, kumohon," pintanya, suara Nino bergetar, namun terdengar hambar tanpa emosi yang berarti.

"Kesempatan? Kau sudah menghabiskan tiga miliar dalam sebulan! Untuk apa? Perjudian! Wanita murahan! Mobil mewah yang kau tabrakan sendiri karena mabuk!" Tuan Hartanto melempar sebuah tas ransel ke hadapan Nino. "Pergi sekarang juga. Mulai hari ini, kau bukan lagi bagian dari keluarga Hartanto."

Nino meraih tas itu dengan tangan gemetar. Matanya beralih ke ibunya yang masih menangis, tapi wanita itu menggeleng pelan sambil menunduk. Tak ada pembelaan. Tak ada harapan.

"Baik," gumam Nino dingin. Ia berdiri, menyambar tas ranselnya, dan melangkah keluar tanpa menoleh.

Langit Jakarta mulai gelap ketika Nino berjalan tertatih di trotoar jalan raya. Hujan gerimis mulai turun, membasahi kemeja putihnya yang sudah kusut.

Di dalam tas ransel, hanya ada beberapa potong baju dan uang lima ratus ribu rupiah, sisa terakhir dari kehidupan mewahnya.

"Sial," umpat Nino pelan. Kakinya terus melangkah tanpa arah, pikirannya kosong.

Tiba-tiba, sebuah motor melaju kencang dari arah belakang. Klaksonnya memekik keras, tapi Nino yang tengah melamun tidak mendengar.

Motor sport itu menyerempet tubuh Nino dengan keras. Tubuhnya terpental ke samping, kepalanya membentur batu besar di pinggir jalan dengan bunyi yang menyeramkan.

"Hei, kau tidak apa-apa?!" teriak pengendara motor itu panik, tapi Nino sudah tidak sadarkan diri.

Kegelapan menyelimuti kesadarannya.

***

Nino terbangun dengan kepala yang berdenyut sangat sakit. Matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit rumah sakit yang putih. Aroma antiseptik menyeruak ke hidungnya.

"Sudah sadar, Nak?" Seorang perawat menghampiri dengan senyum ramah.

"Kepalaku ..." Nino meringis, memegang kepalanya yang diperban. Tapi kemudian, senyum lebar mengembang di wajahnya. "Eh, tunggu dulu. Kakak perawat, apa aku sudah mati dan masuk surga? Soalnya aku melihat bidadari sedang berdiri di depanku."

Perawat itu tersipu, lalu tertawa kecil sambil memukul lengan Nino pelan. "Dasar! Baru bangun sudah gombal."

"Bukan gombal, Kak. Ini diagnosis medis. Mataku melihat cahaya terang di sekitar wajah Kakak. Mungkin efek samping jatuh cinta mendadak," sahut Nino dengan wajah serius sambil memegang dadanya.

"Kamu ini ya," perawat itu menggeleng sambil tersenyum geli. "Sudah dua hari kau tidak sadarkan diri. Kepalamu terbentur batu cukup keras. Untung tidak terlalu parah."

"Pantas saja otakku terasa berubah. Tadinya aku punya otak normal, sekarang jadi otak jatuh cinta sama Kakak," timpal Nino sambil mengedipkan mata.

Perawat itu tertawa lagi. "Sudah-sudah, istirahat saja. Ngomong-ngomong, tidak ada yang menjengukmu. Keluargamu?"

Senyum Nino sedikit memudar, tapi ia tetap berusaha terlihat ceria. "Tidak ada. Tapi sekarang aku punya Kakak perawat cantik, itu sudah cukup."

Perawat itu menghela napas simpati sambil menepuk bahu Nino. "Besok kamu sudah bisa pulang. Jaga dirimu baik-baik ya."

"Siap! Apalagi kalau yang jaga itu Kakak," jawab Nino sambil tersenyum lebar.

Setelah perawat itu pergi, Nino menatap langit-langit sambil menghela nafas panjang. Tapi kemudian ia merasakan sesuatu yang aneh di penglihatannya. Ada yang berbeda.

Ia menatap vas bunga di meja samping, dan tiba-tiba sesuatu yang mustahil terjadi. Tulisan transparan muncul di depan matanya, melayang di udara.

[Vas Keramik Biasa, Nilai: Rp 35.000]

Nino tersentak, langsung duduk tegak di tempat tidur. "Apa-apaan ini?!"

Ia mengucek matanya keras-keras, mengira sedang berhalusinasi. Tapi ketika membuka mata, tulisan itu masih ada. Bahkan semakin jelas.

"Gila! Aku gila!" Nino berbisik panik sambil memegang kepalanya. "Pasti efek benturan tadi. Otakku rusak!"

Ia menatap jam dinding dengan jantung berdebar.

[Jam Dinding Merek Seiko Palsu, Nilai: Rp 50.000]

"Astaga!" Nino melompat dari tempat tidur, nyaris tersandung selang infus. Matanya membelalak lebar. "Ini beneran ada! Aku bukan bermimpi!"

Ia berlari ke jendela sambil menggigit jarinya sendiri, merasakan sakit yang nyata. Ketika menatap mobil di parkiran, tulisan muncul lagi.

[Toyota Avanza 2015, Nilai: Rp 145 juta]

"Nggak, nggak, nggak!" Nino menggeleng-gelengkan kepala dengan keras. "Ini pasti mimpi buruk! Atau aku sudah mati? Atau jangan-jangan aku jadi orang gila?"

Ia menampar pipinya sendiri. Keras.

"Adaw!" ringisnya kesakitan. "Sakit! Berarti aku nggak mimpi!"

Nino berlari mondar-mandir di kamar, menarik-narik rambutnya sendiri. "Tenang, Nino. Tenang. Mungkin ini cuma efek obat. Ya, pasti obat bius! Besok pasti hilang!"

Ia kembali ke tempat tidur, menutup matanya rapat-rapat. "Tidur, tidur, tidur. Besok bangun semuanya sudah normal."

Tapi ketika membuka mata sebentar saja, tulisan-tulisan itu masih terlihat di mana-mana. Setiap benda yang ia tatap menampilkan informasi nilai.

"Ya ampun! Kenapa nggak hilang-hilang?!" jeritnya frustasi sambil menutup wajah dengan bantal.

Pintu kamar terbuka. Perawat tadi kembali dengan wajah khawatir. "Ada apa? Aku dengar kamu teriak."

Nino menatap perawat itu, dan di atas kepalanya muncul tulisan.

[Jam Tangan Casio, Nilai: Rp 350.000]

[Seragam Perawat Standar, Nilai: Rp 175.000]

"Kakak..." Nino menatap perawat itu dengan mata berkaca-kaca. "Apa aku sudah gila?"

"Loh, kenapa tiba-tiba?" Perawat itu menghampiri, memegang dahi Nino. "Demam tidak. Kamu kenapa?"

"Aku ... aku lihat hal-hal yang aneh, Kak," bisik Nino takut-takut. "Tulisan-tulisan melayang di udara. Apa ini normal?"

Perawat itu menatap Nino dengan pandangan khawatir. "Tunggu di sini. Aku panggil dokter dulu."

Setelah perawat itu pergi, Nino merosot lemas di tempat tidur. "Aku benar-benar gila. Kepalaku rusak gara-gara kejedot batu."

Ia menatap tangannya sendiri yang gemetar. Tapi kemudian, sebuah pikiran melintas di kepalanya. Bagaimana kalau ini bukan kegilaan? Bagaimana kalau tulisan-tulisan ini nyata?

"Tunggu dulu," gumamnya pelan. "Kalau ini nyata, berarti aku bisa tahu harga barang apapun?"

Dokter datang memeriksa Nino, dan setelah serangkaian pemeriksaan, dokter itu mengatakan tidak ada masalah serius selain gegar otak ringan yang sudah membaik.

"Mungkin kamu masih dalam masa pemulihan. Halusinasi ringan bisa terjadi, tapi biasanya akan hilang dalam beberapa hari," jelas dokter itu sambil tersenyum menenangkan.

Nino hanya mengangguk lemah, tidak berani menceritakan lebih detail.

***

Keesokan harinya, Nino keluar dari rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia takut dengan kondisi matanya yang aneh, tapi disisi lain ia mulai penasaran.

Sepanjang jalan, matanya terus menangkap informasi nilai dari berbagai benda. Sepeda motor, gerobak bakso, bahkan sandal jepit pedagang kaki lima.

"Ini gila," gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi ... kayaknya berguna juga ya?"

Ia berjalan tanpa tujuan, sampai tanpa sadar kakinya membawanya ke pasar loak Glodok. Tempat yang penuh dengan barang-barang bekas dan antik.

"Kalau mataku ini beneran bisa lihat harga asli," Nino berbisik sambil menatap deretan toko, "berarti aku bisa cari barang murah yang sebenarnya mahal?"

Jantungnya mulai berdebar. Ia masuk ke sebuah toko antik, matanya menyapu berbagai barang. Kebanyakan menampilkan nilai puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Sampai pandangannya terhenti pada sebuah lukisan tua yang nyaris lusuh di sudut toko.

[Lukisan Karya Affandi Tahun 1967, Nilai Asli: Rp 2.7 Milyar]

Nino terdiam membeku. Matanya membelalak lebar. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

"Dua ... dua milyar tujuh ratus juta?" bisiknya gemetar. "Ini nggak mungkin. Pasti mataku error. Pasti salah."

Ia mengucek matanya keras-keras, tapi angka itu tetap sama.

"Ya ampun! Ya ampun! Ya ampun!" Nino memegang dadanya yang terasa sesak. "Ini beneran atau aku lagi halusinasi parah?!"

Ia mondar-mandir di depan lukisan itu, menggigit kukunya sendiri. "Gimana kalau beneran? Gimana kalau salah? Kalau beli terus ternyata cuma lukisan jelek, uangku habis!"

Nino menatap lukisan itu lagi, lalu menatap saldo di rekeningnya yang tinggal dua ratus ribu rupiah.

"Sial! Kenapa mataku harus rusak sekarang?!" gerutunya frustasi. "Atau jangan-jangan ... ini bukan rusak, tapi ... skill?"

Ia teringat semua manga dan novel yang pernah dibacanya. Karakter utama yang mendapat kemampuan aneh setelah kecelakaan.

"Nggak mungkin ... nggak mungkin kan?" gumamnya ragu-ragu. "Tapi ... kalau emang beneran?"

Setelah berdebat dengan dirinya sendiri selama sepuluh menit, akhirnya Nino memberanikan diri menghampiri pemilik toko.

"Selamat siang, Pak Kakek yang baik hati," sapanya dengan suara sedikit bergetar.

Kakek tua berkacamata tebal itu menatapnya curiga. "Mau beli apa?"

"Lukisan yang di pojok sana, Pak," Nino menunjuk sambil berusaha terlihat santai, padahal tangannya gemetar. "Yang kusam itu. Berapa?"

"Oh, lukisan buruk itu?" Kakek itu menatap sekilas. "Lima ratus ribu deh. Sudah lama nggak laku."

Nino menelan ludah. Lima ratus ribu, tapi dia cuma punya dua ratus ribu. "Pak, saya orang susah, Pak."

"Baru keluar rumah sakit. Diusir orang tua. Kepala benjol," ia menunjuk perbannya dengan wajah memelas. "Uang saya cuma tiga ratus ribu. Boleh ya, Pak?"

Kakek itu menatap Nino dengan pandangan kasihan. "Yaudah, tiga ratus ribu. Cepat ambil."

"Terima kasih, Pak!" Nino segera membayar dengan uang yang ia punya ditambah utang seratus ribu yang akan ia bayar besok dengan janji.

Kakek itu mempercayainya dan mengizinkan Nino membawa lukisan.

Begitu keluar dari toko, Nino langsung berlari dengan pelukan erat pada lukisan. Tapi bukan senang, wajahnya justru pucat.

"Gila, gila, gila! Aku baru saja menghabiskan hampir semua uangku!" jeritnya panik. "Kalau ternyata mataku salah, aku bakal tidur di jalan!"

Ia menatap lukisan di tangannya dengan perasaan takut bercampur harap. "Tolong jadi beneran mahal. Kumohon!"

***

Sore itu, dengan kaki gemetar, Nino masuk ke kantor balai lelang ternama. Ia hampir pingsan saking tegangnya.

Seorang penilai berusia empat puluhan menerima lukisan itu dengan wajah datar, kemudian mulai memeriksanya dengan kaca pembesar.

Nino menggigit kukunya, keringat dingin mengalir deras. "Ya Tuhan, kalau ini palsu, aku benar-benar sudah gila dan miskin."

Ekspresi penilai itu berubah. Dari datar menjadi terkejut. Matanya membelalak.

"Ini ...." Penilai itu menatap Nino dengan tatapan tidak percaya. "Dari mana kau dapat ini?"

Jantung Nino nyaris copot. "Ke-kenapa, Pak? Palsu ya? Aku sudah duga! Mataku memang rusak!"

"Palsu?" Penilai itu menggeleng cepat. "Ini asli! Lukisan Affandi tahun 1967! Kondisinya memang tidak sempurna, tapi ini karya asli!"

Dunia Nino berputar. Kakinya lemas. "A-asli?"

"Ya! Kami bisa melelangnya dengan harga dua miliar rupiah!"

"What?!" Nino berteriak histeris. "Du milyar! Ini beneran? Aku nggak mimpi?"

Ia mencubit lengannya sendiri keras-keras. "Adaw! Sakit! Beneran! Ini beneran!"

Kemudian Nino melompat, memeluk penilai itu dengan erat sambil menangis. "Huwaaaa! Mataku bukan rusak! Aku punya skill! Aku punya cheat skill!"

Penilai itu terkejut, wajahnya memerah. "E-eh, lepaskan dulu, Pak!"

"Maaf, maaf!" Nino melepaskan pelukan sambil tertawa dan menangis bersamaan. "Ini hari terbaik dalam hidupku! Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, batu yang menghantam kepalaku!"

Orang-orang di kantor menatapnya dengan pandangan aneh.

"Langsung dilelang besok ya, Pak!" seru Nino sambil melompat-lompat.

"Ba-baik, Pak. Kami akan mengurus semuanya."

Nino keluar dari kantor balai lelang dengan senyum selebar-lebarnya. Ia berteriak di tengah jalan, "Aku punya superpower! Hahahaha …!"

Beberapa orang menjauh, mengira dia gila.

***

Tiga hari kemudian, Nino berdiri di depan ATM dengan tangan gemetar. Ia memasukkan kartu, menekan tombol cek saldo, dan matanya nyaris keluar dari rongganya.

[Saldo: Rp 2.000.000.000]

"Dua milyar!" teriaknya histeris. "Dua milyar rupiah! Ini beneran? Aku kaya!"

Ia memeluk mesin ATM sambil menangis. "Terima kasih, ATM sayang! Terima kasih, batu yang menghantam kepalaku! Terima kasih, mata ajaibku!"

Seorang ibu-ibu yang mengantri di belakang menatapnya dengan wajah khawatir. "Mas, sudah selesai atau belum?"

"Oh, maaf, Bu!" Nino segera mengambil struk dan menciumnya. "Ini struk terindah di dunia!"

Ia keluar dari bank sambil menari-nari. Tapi kemudian berhenti ketika melihat seseorang di seberang jalan.

Seorang gadis cantik berambut panjang berjalan sambil membawa tas belanjaan. Kulitnya putih bersih, wajahnya lembut seperti boneka porselen.

[Dress Putih Polos, Nilai: Rp 250.000]

[Tas Kulit Asli, Nilai: Rp 1.2 juta]

"Eh, tunggu." Nino menggelengkan kepala. "Jangan lihat harga barangnya! Lihat orangnya!"

Ia menyeberang jalan dengan gaya berlari sok keren, padahal malah seperti bebek kaget.

"Hai, Nona cantik!" sapanya dengan senyum lebar sambil menghadang jalan gadis itu.

Gadis itu menoleh, menatap Nino dengan alis terangkat. "Ya?"

"Maaf mengganggu. Aku baru saja dari rumah sakit karena kepalaku terbentur batu sebesar bola bowling." Nino memulai dengan wajah serius sambil menunjuk perban di kepalanya. "Akibatnya, mataku jadi rusak."

"Setiap lihat yang jelek, langsung sakit. Tapi anehnya, pas lihat kamu, mataku langsung sembuh! Kira-kira kamu obat jenis apa? Parasetamol atau Antibiotik cinta?"

Gadis itu terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. "Gombal sekali."

"Gombal tapi hasil riset medis serius," sahut Nino sambil menepuk dadanya. "Namaku Nino, tapi sejak kepalaku kejedot batu, aku dapat julukan baru, Raja Gombal. Gelar resmi yang tertulis di surat keterangan dokter."

"Masa sih?" Gadis itu tertawa. "Karin. Senang berkenalan, Raja Gombal yang aneh."

"Aneh tapi menarik kan?" Nino menyeringai. "Eh, Karin, kamu tahu nggak kenapa aku sampai nabrak kamu? Soalnya gravitasi bumi tiba-tiba berubah arah ke kamu. Jadi aku nggak bisa ngelawan, langsung tertarik ke sini."

Karin menggelengkan kepala sambil tersenyum geli. "Kamu lucu sih. Tapi aku buru-buru, ya."

"Tunggu, tunggu!" Nino menghadang lagi. "Cuma tiga detik! Satu, aku suka bakso. Dua, aku kaya mendadak. Tiga, aku butuh nomor telepon kamu biar bisa ngajak kamu makan bakso pakai uang hasil kekayaanku."

"Kaya mendadak?" Karin tertawa. "Dari mana?"

"Dari skill mata ajaibku yang bisa lihat harga barang!" jawab Nino bangga, lalu langsung menutup mulutnya. "Eh, maksudku dari ... bisnis! Bisnis antik!"

"Hmm, bisnis antik ya?" Karin menatapnya dengan senyum jahil. "Oke deh. Ini nomorku. Tapi kalau kamu ternyata tukang gombal doang tanpa aksi, langsung aku blokir."

"Siap!" Nino menyimpan nomor itu dengan semangat membara. "Besok aku traktir bakso termahal se-Jakarta! Yang pakai daging sapi wagyu!"

"Hahaha, nggak usah lebay," Karin menggeleng sambil tersenyum. "Bakso biasa juga aku mau. Dadah, Raja Gombal."

"Dadah, Ratu yang bikin jantungku aritmia!"

Setelah Karin pergi, Nino melompat-lompat girang. "Yes! Dapat nomor cewek cantik di hari yang sama aku jadi miliarder! Ini hari terbaik sepanjang masa!"

***

Malam itu, Nino duduk di kamar hotel sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia mengetik pesan untuk Karin.

"Hai, Karin cantik. Aku Nino, Raja Gombal yang tadi. Aku sudah sampai hotel dengan selamat. Tapi ada masalah. Aku nggak bisa tidur karena mikirin kamu terus. Ini termasuk gangguan kesehatan nggak ya?"

Lima menit kemudian, balasan masuk.

"Hahaha, obatnya gampang. Tidur aja."

"Nggak bisa. Soalnya kalau aku tidur, nanti mimpi ketemu kamu. Kalau mimpi ketemu kamu, nanti bangun-bangun kecewa karena cuma mimpi. Mending nggak tidur sekalian."

"Dasar! Udah ah, aku mau tidur beneran. Selamat malam, Raja Gombal."

"Selamat malam, Ratu yang bikin aku insomnia bahagia."

Nino meletakkan ponselnya sambil tersenyum lebar. Tapi senyumnya memudar ketika membuka media sosial. Postingan ayahnya muncul di beranda, merayakan ulang tahun di restoran mewah tanpa dirinya.

"Sudahlah," gumamnya sambil menutup aplikasi. "Aku punya kehidupan baru. Kehidupan Raja Gombal yang punya mata ajaib."

Ia mulai mengetik rencana kencan dengan Karin besok, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.

"Halo? Kalau mau jualan asuransi, maaf ya, aku lagi bahagia, nggak mau diganggu."

"Nino Hartanto?" Suara pria di seberang terdengar dingin dan serius.

Senyum Nino memudar. "Ya, ini saya. Siapa?"

"Lukisan yang kau jual kemarin ternyata dicuri dari museum sepuluh tahun lalu. Polisi sedang dalam perjalanan menuju lokasimu sekarang."

Klik.

Sambungan terputus.

Nino terdiam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar memegang ponsel. Matanya melirik ke jendela, dan ia melihat dua mobil hitam sedang parkir di depan hotel.

"Nggak mungkin ...." bisiknya ketakutan. "Baru dapat skill, masa udah mau dipenjara?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca