

“Arven!”
Teriakan itu terdengar sampai ke garasi. Arven yang sedang memeras lap dengan cepat menoleh. Air sabunnya masih menetes ke lantai.
Seorang pria muda dengan rambut acak-acakan berdiri tak jauh darinya, siapa lagi kalau bukan Jordy Kakak pertama Arven yang selalu bersikap menyebalkan.
“Iya, Ka,” jawab Arven sambil mendekat. Lap di tangannya diremas lebih kuat.
Sepasang sepatu kotor tiba-tiba melayang.
Dugh!
Sepatu itu menghantam dada Arven lalu jatuh ke lantai, meninggalkan noda tanah.
“Kenapa sepatu gue belum dicuci? Hah?” bentak Jordy. “Gue sebentar lagi mau pergi!”
Pandangan Arven turun ke sepatu itu. Bahunya sedikit mengendur.
“Maaf, Ka,” ucapnya pelan. “Tadi Ka Rendy minta aku cuci mobil dulu.”
Alis Jordy terangkat, rahangnya mengeras.
“Arrgghh... alesan aja lo!
Lap di meja melayang ke arah Arven. Kain basah itu mengenai bahunya dan jatuh ke kaki. Arven tidak membalas.
Dia hanya menunduk, dan menelan ludah. "Sabar Ven, jangan ngelawan," batinnya.
Ia mengambil kain lap itu, lalu berbalik menuju kamarnya. Baru dua langkah, suara teriakan kembali terdengar.
“Arven!”
Langkahnya terhenti sejenak. Arven menghela napas tipis, lalu berbalik dan berjalan cepat ke arah garasi.
Pria itu berdiri di samping mobil. Tangannya bertolak pinggang, dagunya menunjuk ke body mobil yang masih basah, dia adalah Rendy anak terakhir, tapi selalu ingin di sebut Kakak oleh Arven.
“Nyuci mobil aja nggak becus!” kata Rendy sambil berdecak. “Liat tuh, masih kotor!”
Arven mendekat. “Ma-maaf, Ka,” ucapnya. Tangannya terangkat, lap siap menyentuh body mobil.
Plak.
Tangannya ditepis kasar. “Udah! Nggak usah!” Rendy membuka pintu mobil, lalu mendorong bahu Arven hingga tubuhnya terhuyung. “Gue buru-buru!”
Mesin mobil meraung. Ban berdecit saat mobil itu melaju keluar dari parkiran, meninggalkan asap knalpot dan bau bensin.
Arven hanya berdoa diri, lap masih tergenggam di tangannya. Air menetes perlahan ke lantai.
“Den Arven yang sabar ya,” suara lembut menyapa dari belakang. Bi Inem (Art yang selalu membela Arven) dia berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh rasa iba. “Den Rendy memang begitu orangnya.”
Arven mengangguk kecil, bibirnya melengkung tipis.
“Iya, Bi,” katanya lirih. “Aku sudah biasa di perlakukan seperti ini.”
Ia membungkuk sedikit, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya, menyisakan kesunyian yang lebih berat dari sebelumnya.
“Kasihan sekali Den Arven. Selalu saja diperlakukan kasar oleh kedua saudaranya,” gumam bi Inem lirih. Ujung jarinya mencengkeram kain celemek, lalu mengendur pelan. “Cuma nyonya yang benar-benar sayang sama Den Arven.”
Arven terlahir tanpa Ayah dan Ibu, dia tinggal dipanti asuhan sejak kecil. Ibu Marline adalah salah satu donatur tetap di sana, saat melihat Arven. Ibu Marline merasa jatuh hati. Sebelumnya Ibu Marline sudah memiliki satu anak, tapi karena rasa sayangnya kepada Arven, akhirnya dia mengadopsi Arven.
Di kamar sempit bercahaya temaram, Arven menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu kelopak matanya menutup begitu saja.
Beberapa jam kemudian...
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pelan. Pintu terbuka perlahan, seorang wanita paruh baya melangkah masuk.
Wajahnya tenang, matanya hangat. Ia berhenti di sisi ranjang, menunduk, lalu mengusap rambut Arven dengan lembut nyaris tak bersuara.
Sentuhan itu membuat Arven tersentak. Ia terbangun dan langsung duduk, selimut terjatuh ke pangkuannya.
“Ma-maaf,” ucapnya tergesa, suaranya serak. Tangannya refleks merapikan rambut yang masih berantakan. “Aku ketiduran.”
Ibu Marline terkekeh kecil. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. “Kamu kenapa sih?” katanya lembut. “Ini Mama.”
Arven menatapnya, ketegangan di bahunya mengendur. “Mama…” Ia tersenyum kecil, canggung. “Aku kira...”
“Memang kamu pikir siapa?” tanya Ibu Marline kepalanya sedikit miring, tatapannya tak lepas dari wajah Arven.
Arven menggeleng. Pandangannya turun, menghindari mata itu. Ibu Marline memperhatikan baju Arven, dia melihat ada noda tanah di lengan dan bagian bawah.
“Kok baju kamu kotor?” tanyanya, sedikit heran. “Kamu habis ngapain?”
Arven menunduk, memperhatikan pakaiannya sendiri. Dia mencoba membersihkannya dengan tangan.
"Astaga… aku lupa mandi," batinnya.
“Aku… abis bantu Mang Asep Ma,” katanya cepat.
Ibu Marlinr terdiam. Matanya menyapu wajah Arven, luka kecil di punggung tangan, bahu yang sedikit membungkuk. Arven hanya menunduk.
“Apa ada yang kamu sembunyikan dari Mama?” tanya Ibu Marline pelan, hampir berbisik.
Arven tidak menjawab. Ia hanya menggeleng perlahan.
***
Kini jam sudah menunjukkan pukul 02.00. Ibu Marline terbangun dari tidurnya, ia hendak berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
Ia melihat lampu tengah belum di padamkan. Langkahnya pelan menuju dapur, tiba-tiba saja dia mendengar suara mobil masuk ke dalam garasi.
Ibu Marline menghentikan langkahnya dan menoleh kearah jam. "Siapa yang datang," gumamnya.
Dia berbalik arah menuju pintu depan.
Tiba-tiba saja pintu depan terbuka sebelum Ibu Marline keluar.
“Rendy.”
Satu kata itu cukup membuat punggung Rendy menegang. Ia mendongak, Ibu Marline berdiri di ambang pintu, tangan bersedekap, sorot matanya jatuh lurus ke arah Jordy yang terkulai lemas.
Botol kosong tergelincir dari saku jaket Jordy dan jatuh ke lantai.
Trank...
Keheningan menebal. Rendy buru-buru menendang botol itu ke samping dengan ujung sepatu. “Ma… Ka Jordy... ” katanya cepat, takut ketahuan.
Ibu Marline tak menjawab. Ia hanya melangkah mendekat, menatap wajah Jordy yang berantakan dan kusut.
Dia menghela napas panjang. “Masuk,” ucapnya tegas dengan tatapan mata yang tajam.
Rendy mengangguk cepat. Ia kembali mengangkat tubuh Jordy, kali ini dengan tangan yang terasa lebih gemetar dari sebelumnya.
Di belakang mereka, pintu rumah tertutup pelan.
Suara Ibu Marline memecah ruang tamu.
“Jordy, kamu ini sudah keterlaluan, ini jam berapa? Kenapa kalian baru pulang!”
Jordy yang tergeletak di sofa bergerak. Dahinya berkerut. “Kenapa sih… Mama berisik banget,” ucapnya.
Ibu Marline berdiri di depannya. “Kamu mabuk, Jordy. Lihat diri kamu!”
Jordy terkekeh. “Oh, sekarang Mama peduli?”
Tatapan Ibu Marline menajam. “Jangan bicara sembarangan.”
Jordy berdiri. Langkahnya sedikit oleng, tapi matanya tajam. “Kalau Arven yang pulang telat, apa Mama juga bakal teriak kayak gini?” suaranya meninggi. “Atau karena dia cuma anak angkat, jadi selalu benar?”
Ruangan mendadak sunyi.
Wajah Ibu Marline memucat. Tangannya terangkat... berhenti di udara. Jari-jarinya gemetar, tertahan beberapa inci dari pipi Jordy.
Jordy menyeringai tipis. “Tuh, kan. Mama mau tampar aku, tampar Ma! Tampar!” katanya dengan nada yang tinggi dan penuh emosi sambil menepuk pipinya sendiri dengan keras.
Tangan itu perlahan turun. Ibu Marline menghela napas kasar, dadanya naik turun cepat. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya tetap dingin.
“Cukup Jordy! Kamu benar-benar anak tidak tahu diri.”
Ia berbalik, langkahnya cepat menuju kamar. Pintu kamar dibanting pelan.
Di dalam kamar, Ibu Marline menyandarkan punggung ke pintu. Napasnya tersendat, ia menutup wajahnya, dadanya kini terasa sesak.
Sementara di luar, Jordy kembali duduk di sofa. Tatapannya kosong, rahangnya mengeras.
"Sial! Semua gara-gara Arven, gue harus nyingkirin dia."
Arven selalu berada di posisi yang seolah aman dari amarah Ibu Marline.Tangannya mengepal di atas lutut. Urat di pelipisnya berdenyut.
Seketika tawa Jordy pecah. “Anak angkat,” gumamnya lirih. “Anak angkat tapi diperlakukan seperti anak emas.”
Rendy berdiri beberapa langkah di depan sofa, ragu mendekat. “Ka… Kakak istirahat aja dulu,” ucapnya hati-hati.
Jordy berdiri lalu berjalan mondar-mandir di ruang tamu, tangannya menyibak rambut dengan kasar.
“Gue anak kandung Mama, Ren,” katanya, suaranya bergetar. “Gue yang duluan lahir di rumah ini. Tapi Mama lebih berpihak sama Arven.”
Ia berhenti di depan cermin besar. Bayangannya sendiri menatap balik... kusut, mata sayu, tapi penuh amarah.
“Dia pura-pura baik,” desis Jordy. “Pura-pura nurut. Padahal cuma numpang hidup.”
Rendy menggeleng pelan. “Ka, Arven nggak...”
“Lo juga belain dia?” Jordy membalikkan badan, nadanya naik tajam. “Gillaaa. Semua orang sekarang belain dia.”
Keheningan jatuh. Jordy tertawa lagi. “Pantes aja Mama mau nampar gue barusan,” katanya lirih. “Buat Mama, gue cuma biang masalah dan Arven yang paling baik dan paling nurut.”
Tangannya terangkat, menghantam sandaran sofa.
Duk.
“Ini nggak adil buat gue,” gumamnya.
Rahangnya mengeras, matanya menyipit. “Selama dia masih ada di rumah ini,” katanya pelan, tapi penuh kebencian, “gue bakal terus di salahin.”
Ia menjatuhkan diri kembali ke sofa. Bibirnya bergerak pelan. “Gue punya rencana.”
Rendy yang sejak tadi berdiri kaku di dekat pintu langsung menegang. Ia melangkah setengah mendekat saat Jordy menepuk sisi sofa.
Jordy condong ke depan. Suaranya turun, kalimat-kalimat itu keluar cepat, tersendat, diselingi napas berat, dan senyum yang miring.
Setelah mendengar rencana Jordy, Rendy seketika membeku. Wajahnya pucat, matanya melebar.
“Ka…” suaranya serak, hampir tak keluar. Ia menelan ludah. “Kakak yakin? Aku takut…”
Jordy mendengus kesal. “Lo nggak usah jadi pengecut,” katanya pelan tapi menusuk. “Lo itu adik kandung gue, jadi nggak boleh punya rasa takut.”
Ia berdiri di hadapan Rendy. “Lo udah pahamkan,” lanjut Jordy. Tangannya mendarat di bahu Rendy, menekan keras. “Inget. Nggak usah takut, lo itu bukan pengecut.”
Rendy mengerjap cepat. Napasnya memendek, dadanya naik turun tak beraturan.
“Lo harus berani,” kata Jordy lagi. “Kayak gue... paham?”