

Jakarta, jam dua pagi.
Bagi sebagian orang, ini adalah waktu untuk mimpi indah di balik selimut empuk. Tapi bagi Rael Wardana, ini adalah waktu di mana matanya terasa seperti digosok amplas. Sinar dari layar monitor 24 inci di depannya terasa menusuk langsung ke saraf otak. Di ruangan kantor yang luas dan sunyi itu, hanya ada suara dengung AC sentral dan bunyi klik mouse yang monoton.
Rael bersandar di kursi kantornya yang sudah mulai kehilangan empuknya. Dia menatap tumpukan file proyek pengembangan sistem yang baru saja dia selesaikan.
"Beres juga akhirnya," gumam Rael parau. Suaranya terdengar asing bagi telinganya sendiri setelah hampir sepuluh jam tidak berbicara dengan siapa pun.
Rael adalah seorang project manager muda yang sebenarnya punya otak encer. Logikanya tajam, strateginya selalu presisi, dan dia punya kemampuan buat melihat masalah sebelum masalah itu muncul. Tapi di dunia nyata yang kejam ini, kecerdasannya cuma jadi komoditas murah.
Baru tadi sore, bosnya—seorang pria paruh baya bernama Pak Danu yang hobi pake parfum menyengat—masuk ke kubikel Rael dengan senyum palsu yang memuakkan.
"Rael, kerja bagus buat proyek ini. Saya sudah presentasi ke direksi, dan mereka suka banget. Saya bilang ke mereka kalau ini hasil arahan ketat dari saya. Kamu tahu kan, demi karir kita bareng-bareng ke depannya?"
Karir bareng? Rael mendengus pelan mengingat momen itu. Pak Danu dapet bonus besar dan pujian setinggi langit, sementara Rael cuma dapet ucapan "terima kasih" dan perintah buat lembur ngeberesin administrasi yang membosankan. Gaji? Masih di angka UMR plus tunjangan transport yang nggak seberapa. Dia merasa hidupnya kayak roda gigi kecil di mesin raksasa; penting buat jalanin mesin, tapi nggak bakal ada yang peduli kalau roda gigi itu patah dan diganti baru.
"Gue ini manager atau budak korporat sih sebenarnya?" Rael memijat pangkal hidungnya.
Dia mematikan komputer. Kantor yang tadinya diterangi cahaya monitor kini tenggelam dalam kegelapan yang hanya disinari lampu darurat di pojok ruangan. Rael mengambil tas punggungnya yang sudah mulai sobek di bagian bawah, lalu berjalan menuju lift. Langkah kakinya menggema di lorong yang kosong, seolah mengejek kesepian yang dia rasakan.
Begitu keluar dari lobi gedung perkantoran di daerah Sudirman itu, udara malam Jakarta yang panas dan lembap langsung menyergap. Bau asap knalpot sisa siang tadi masih terasa, bercampur dengan aroma aspal yang pengap.
Rael berjalan gontai menuju trotoar. Dia memutuskan untuk jalan kaki sedikit ke halte busway, berharap masih ada angkutan malam yang lewat. Pikirannya melayang. Dia membayangkan hari esok yang pasti bakal sama membosankannya. Bangun tidur, macet-macetan, dimarahin bos, lembur, lalu pulang dalam keadaan rongsok. Begitu terus sampai pensiun, kalau dia beruntung nggak kena serangan jantung duluan di usia tiga puluh.
"Gue cuma pengen perubahan," bisik Rael pada angin malam. "Gue pengen tempat di mana gue dihargai. Tempat di mana gue nggak cuma jadi alat."
Langkah Rael tiba-tiba terhenti.
Di atas trotoar beton yang retak-retak, tepat di bawah bayangan pohon peneduh yang rimbun, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah benda kecil, berbentuk segitiga dengan sudut-sudut yang sangat presisi, tergeletak begitu saja.
Awalnya Rael mengira itu cuma sampah botol plastik atau mainan anak yang jatuh. Tapi benda itu bersinar. Cahayanya biru redup, berdenyut pelan seirama dengan detak jantung Rael. Biru yang sangat jernih, seperti air laut yang belum pernah disentuh polusi.
"Benda apaan nih? Glow in the dark?"
Insting project manager-nya yang selalu penasaran terhadap detail mulai bekerja. Rael berjongkok. Dia melihat benda itu lebih dekat. Semakin dia menatap cahaya biru itu, semakin dia merasa tenang. Semua rasa lelah, stres gara-gara Pak Danu, dan kepusingan soal cicilan motor seolah memudar hanya dengan melihat denyut cahayanya.
Benda itu terlihat seperti potongan kristal, tapi terasa "hidup". Ada ukiran halus di permukaannya yang menyerupai bahasa kuno yang belum pernah Rael lihat di buku sejarah mana pun.
Rael mengulurkan tangannya. Logikanya berteriak: Jangan sentuh barang aneh di pinggir jalan! Tapi tubuhnya bergerak sendiri, seolah-olah ada magnet kuat yang menarik jiwanya menuju kristal itu.
Begitu ujung jarinya bersentuhan dengan permukaan kristal yang dingin...
DEZZZZZT!
Dunia seolah berhenti berputar.
Rael merasa seperti tersambar petir dalam kondisi sadar. Rasa panas yang luar biasa menjalar dari ujung jari, naik ke lengan, hingga menghantam dadanya seperti palu godam. Dia ingin berteriak, tapi mulutnya kaku. Suara bising Jakarta—suara klakson jauh, deru knalpot, dan suara angin—tiba-tiba menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
Lalu, sebuah suara mekanis yang sangat jernih dan berwibawa bergema langsung di dalam otaknya.
[Mendeteksi Gelombang Otak yang Kompatibel...]
[Identifikasi Jiwa: Lord Candidate Terverifikasi.]
[Memulai Proses Pemindahan Antar Dimensi...]
"Woi! Apa-apaan nih?!" Rael mencoba menarik tangannya, tapi kristal itu seolah-olah sudah menyatu dengan kulitnya.
Benda itu pecah menjadi ribuan butiran cahaya biru yang masuk ke dalam pori-pori kulit Rael. Pandangan Rael mulai meliuk. Gedung-gedung pencakar langit Sudirman yang kokoh tiba-tiba meleleh seperti lilin yang dipanaskan. Aspal di bawah kakinya terasa lenyap, membuatnya merasa jatuh ke dalam jurang tanpa dasar yang berisi kegelapan total.
Rael kehilangan kesadaran di tengah-tengah rasa mual yang luar biasa, seolah tubuhnya ditarik dan diputar balik melalui lubang jarum.
"Agh... kepalaku..."
Rael tersedak. Hal pertama yang dia rasakan adalah rasa perih di tenggorokannya, seolah dia baru saja menghirup segenggam pasir panas. Bau pertama yang menyengat indra penciumannya bukan lagi bau Jakarta, melainkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Bau amis darah yang kental bercampur dengan aroma tajam dari kayu yang terbakar.
Rael membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih kabur, tertutup bayangan hitam dan putih yang menari-nari. Dia mencoba bergerak, tapi tangannya menyentuh sesuatu yang basah dan lengket. Lumpur? Bukan. Cairan itu terasa lebih kental.
Begitu pandangannya mulai fokus, Rael tersentak hingga hampir muntah.
Dia sedang berbaring di tanah berlumpur yang tercampur dengan darah. Di sekelilingnya, pemandangan yang terlihat adalah definisi dari neraka dunia. Dia berada di tengah-tengah reruntuhan sebuah desa kecil yang hancur total. Bangunan-bangunan kayu yang sederhana sudah roboh, sebagian besar masih dimakan api yang mengeluarkan asap hitam pekat ke langit.
Dan mayat... ada mayat di mana-mana.
Mayat-mayat itu bukan mengenakan pakaian modern, melainkan pakaian kain kasar dan kulit, layaknya warga dari zaman pertengahan. Beberapa dari mereka tewas dengan ekspresi ketakutan yang membeku, dengan luka robekan besar di dada seolah-olah diterjang oleh binatang buas raksasa.
"Gue... gue di mana?! Apa ini zona perang? Apa ada ledakan bom?!" Rael berteriak panik, suaranya parau dan bergetar.
Dia mencoba berdiri, kakinya lemas seperti jeli. Kemeja kantornya yang tadi rapi sekarang sudah kotor terkena lumpur dan noda darah, robek di beberapa bagian. Rael memutar tubuhnya, mencari tanda-tanda peradaban modern—lampu jalan, menara BTS, atau minimal suara mobil.
Nihil. Hanya ada suara derak api dan desis angin yang melewati hutan lebat yang mengelilingi reruntuhan desa ini.
"Gue nggak lagi di Jakarta..." Rael menelan ludah, dadanya sesak karena panik. "Ini nggak mungkin... kristal itu..."
Saat pikirannya mulai kacau, sebuah cahaya biru muncul tepat di depan matanya. Bukan cahaya fisik, melainkan sebuah layar transparan berwarna biru yang seolah menempel di retina matanya. Layar itu mengambang, sangat modern, kontras dengan latar belakang desa abad pertengahan yang hancur di depannya.
[Status Sinkronisasi: 100%]
[Selamat Datang di Dunia Aethelgard, Lord Rael.]
[Lokasi saat ini: Ash Village (Wilayah Anda).]
[Peringatan: Wilayah berada dalam kondisi 'Ruined'. Populasi yang tersisa: 5 Jiwa.]
Rael terpaku. Matanya melotot menatap kata-kata di layar itu. "Aethelgard? Lord? Wilayah gue? Apa-apaan semua ini?!"
Dia sering baca novel atau main game dengan tema seperti ini pas lagi bosen di kantor, tapi merasakannya secara langsung adalah cerita lain. Rasa dingin yang menusuk kulitnya, bau amis yang membuat perutnya bergejolak, dan rasa takut yang nyata ini... ini bukan mimpi. Ini bukan simulasi VR.
[Pesan dari Sistem:]
[Jangan mati dulu, Lord Rael. Masa depan fragmen dewi ada di tangan Anda.]
[Predator lokal sedang mendekat ke arah Anda.]
"Predator? Woi, Sistem! Jelasin dulu dong!" teriak Rael ke arah udara kosong.
Tapi sistem itu tidak menjawab. Sebaliknya, dari balik semak-semak lebat di pinggir desa yang hancur, terdengar suara geraman rendah yang membuat bulu kuduk Rael berdiri tegak. Suara itu bukan milik anjing atau serigala biasa. Itu suara sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih lapar, dan sudah mengunci Rael sebagai targetnya.
Rael Wardana, sang manager UMR dari Jakarta, kini berdiri sendirian di dunia yang asing, tanpa senjata, tanpa perlindungan, hanya ditemani sebuah layar biru yang memintanya untuk tidak mati.
"Gaji UMR gue emang bikin pengen mati, tapi nggak gini juga caranya, woi!"
Malam di Aethelgard baru saja dimulai, dan bagi Rael, perjuangannya untuk bernapas baru saja dimulai.