Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Khodam Pemikat Wanita

Khodam Pemikat Wanita

Ichageul | Bersambung
Jumlah kata
141.4K
Popular
19.2K
Subscribe
2.2K
Novel / Khodam Pemikat Wanita
Khodam Pemikat Wanita

Khodam Pemikat Wanita

Ichageul| Bersambung
Jumlah Kata
141.4K
Popular
19.2K
Subscribe
2.2K
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHaremMengubah Nasib
“Harusnya kamu ngukur diri kamu. Kamu itu siapa? Kamu itu ngga lebih cuma kacung! Jongos! Jangan seperti punguk yang merindukan bulan! Berani-beraninya kamu bilang cinta dan mau jadiin aku pacar. Cuih.. ngga tahu diri! Kalau pun kamu laki-laki terakhir di dunia ini, aku tetap ngga sudi sama kamu!” Sejak ditolak mentah-mentah bahkan dihina habis-habisan oleh perempuan yang dicintainya, Maman memilih hijrah ke Bandung untuk mengadu nasib. Namun semuanya berubah ketika dia mendapatkan gelang warisan sang Kakak. Keberuntungan mulai menghampiri pria itu. Bukan hanya uang, tapi para wanita cantik juga ikut mendekat. Mereka seakan tidak bisa menolak pesona seorang Maman.
Sakit Hati

SREK!

Maman hanya terbengong melihat karangan bunga yang susah payah didapat dibuang begitu saja ke lantai oleh Naira. Kemudian gadis itu menjejak bunga tersebut hingga sudah tak berbentuk lagi.

"Kenapa bunganya dibuang? Apa kamu ngga suka dengan bunganya?" tanya Maman.

"Kamu ngapain kasih aku bunga Kamboja? Kamu doain aku mati?!" berang Naira. Matanya melotot dan wajahnya memerah menahan amarah.

"Maaf kalau kamu nggak suka bunga itu, Nai. Soalnya, aku cuma tahu kalau bunga Kamboja itu melambangkan ketulusan."

Maman yang ingin terlihat romantis ketika menyatakan cinta, susah payah mencari bunga untuk gadis idamannya. Siapa sangka kalau malah membuat Naira marah?

"Lalu, maksud kamu apa kasih aku bunga?"

"Aku cinta kamu, Nai."

"Cinta?"

"Iya, Nai. Aku udah lama cinta sama kamu. Setelah kebersamaan kita, aku pikir ngga ada salahnya kalau kita pacaran. Kamu mau kan?" tanya Maman dengan polosnya.

Melihat Naira yang selalu tersenyum padanya setiap datang rumah ke rumah orang tuanya, Membuat Maman merasa diterima dengan baik.

Kadang jika Naira membutuhkan bantuannya, dia selalu mengatakan dengan penuh kelembutan dan nada manja.

Bahkan ketika Naira mengalami kesulitan, orang pertama yang dihubunginya adalah Maman. Maka wajar saja kalau pria itu merasa Naira memiliki perasaan yang sama dengannya.

"Pacaran? Hahahaha…" Suara tawa Naira terdengar sumbang. 

PLAK!!

Alih-alih menerima pernyataan cinta Maman, sebuah tamparan justru mendarat di pipi pemuda itu. Refleks Maman memegangi pipinya yang terasa panas. 

"Kamu jadi orang ngga tahu diri banget! Kamu ngga punya kaca ya di rumah? Ngaca sana, apa kamu pantas bersanding sama aku?"

Belum habis rasa terkejut Maman akan reaksi Naira, sekarang gadis itu melontarkan kata-kata yang membuat harga dirinya tergores.

"Harusnya kamu ngukur diri kamu. Kamu itu siapa? Kamu itu ngga lebih cuma kacung! Jongos! Jangan seperti punguk yang merindukan bulan!

Berani-beraninya kamu bilang cinta dan mau jadiin aku pacar.  Emangnya kamu mampu ngajak aku ke tempat-tempat indah? Membelikan aku barang-barang bermerk?

Ngga kan? Hidup mu aja masih bergantung dari upah yang yang diberikan Ayahku! Cuih! ngga tahu diri! Kalau pun kamu laki-laki terakhir di dunia ini, aku tetap ngga sudi sama kamu!"

Kalimat-kalimat tajam yang dilontarkan Naira bagaikan ribuan jarum yang menusuk hati Maman.

Kepala pria itu tertunduk lemas. Pertama kali menyatakan cinta, dia justru mendapat penolakan keras.

Bukan hanya penolakan, tapi juga penghinaan yang membuatnya sakit hati, malu dan terhina. Harga diri Maman dibuat jatuh berserakan hingga tak bersisa.

"Sebentar lagi aku akan menikah dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari kamu! Kamu ngga usah bermimpi bisa bersama ku. Lebih baik kamu pergi! Dan jangan datang lagi. Aku muak melihat kamu!"

Setelah puas melontarkan kata-kata kejamnya, Naira pergi meninggalkan Maman begitu saja.

Pelan-pelan Maman berjongkok lalu memunguti kelopak bunga yang berserakan. Dengan langkah gontai, pria itu meninggalkan rumah Naira.

Sepanjang jalan pulang, pikiran Maman berkelana tak tentu arah. Di kepalanya masih berkelebat bayangan kebersamaannya dengan Naira.

Mengingat senyum manis gadis itu, membuat perasaan Maman semakin sakit.

Tak terasa Maman sampai di rumah. Belum hilang kesedihan dan sakit hatinya akan sikap Naira. Pria itu kembali dibuat terluka mendengar suara tangis Ibunya di kamar.

Diam-diam Maman mengintip dari balik pintu. Ternyata sang Ibu sedang menangis sambil memeluk foto Dadang, Kakaknya yang sudah meninggal dunia setahun yang lalu.

"Ibu kangen kamu, Dadang. Kenapa kamu meninggalkan Ibu begitu cepat."

Setahun sejak kepergian Dadang, Ibunya masih terus menangisinya. Tak peduli pada Maman yang masih hidup dan selalu berada di sampingnya.

Tak peka dengan perasaan anak bungsunya yang mengharapkan perhatian dan kasih sayang darinya.

"Kenapa kamu yang harus pergi? Kenapa bukan Maman saja sih, Nak..?"

Ucapan terakhir Ibunya sukses menohok batin Maman. Sakit ditolak Naira tidak lebih sakit mendengar kata-kata sang Ibu. Bagaimana mungkin seorang Ibu menginginkan kematian anaknya?

Dengan perasaan tak karuan, Maman keluar rumah. Sejenak pria itu menenangkan diri, sebelum akhirnya memutuskan menghubungi Raisa, Kakak iparnya.

"Halo Man," suara lembut Raisa terdengar dari seberang. "Kenapa? Tumben banget menelepon?"

"Teh, Maman pengen nyoba kerja di Bandung. Teteh bisa bantu ngga?"

"Kamu mau kerja di Bandung? Bapak sama Ibu setuju ngga?"

"Maman sudah besar, Teh. Maman mau merantau ke Bandung. Siapa tahu nasib Maman bisa berubah."

"Ya sudah, nanti kalau ada info pekerjaan, Teteh kasih tahu."

Selama menjadi menantu di keluarga Maman, Raisa memang sudah tahu perbedaan perlakuan Ibu Maman. Karena merasa prihatin, wanita itu memutuskan untuk membantu Maman.

Adik suaminya ini orang yang baik dan polos. Sayang, nasibnya tidak sebaik mantan suaminya. Namun begitu Maman selalu terlihat ceria. Pria itu pintar sekali menyembunyikan kesedihannya.

"Iya, Teh. Makasih."

Perasaan Maman menjadi ringan setelah berbicara dengan Raisa. Semoga saja ada pekerjaan untuknya dan dia bisa meninggalkan kampung yang hanya menorehkan kenangan buruk untuknya.

***

Keesokan harinya Maman langsung bersiap pergi ke Bandung. Walau Raisa belum mengabarkan ada pekerjaan untuknya, namun pria itu sudah bertekad untuk pergi.

Hatinya sudah terlalu sakit untuk tetap berada di sini. Dia tidak sanggup lagi untuk berpura-pura bahagia.

Keputusan Maman tentu saja membuat Ayahnya terkejut. Kepindahan anak bungsunya itu terlalu mendadak. Berkali-kali dia menanyakan alasan Maman pindah, tapi anaknya itu hanya mengatakan ingin mengubah nasib saja.

Berbeda dengan Ayahnya, sang Ibu terlihat biasa saja. Bahkan wanita itu mewanti-wanti agar Maman tidak menyusahkan Raisa nantinya.

Dengan berbekal uang seadanya, pria itu nekad pergi ke Bandung. Barang yang dibawanya pun tidak banyak. Hanya beberapa helai pakaian dan ponsel jadulnya. 

Selebihnya hanya semangat membara dan tekad kuat saja. Bahkan doa seorang Ibu pun tak didapatnya.

Maman mencium punggung tangan kedua orang tuanya sebelum meninggalkan rumah yang sudah 21 tahun dihuninya. Dapat dilihat tatapan sendu Ayahnya melepas kepergiannya.

'Maafkan Bapak, Man. Maafkan Bapak yang tidak bisa melindungimu', batin Ayah Maman seraya melihat kepergian anaknya dengan tatapan nanar.

***

Pukul delapan malam Maman sampai di rumah Raisa. Dengan ramah Kakak iparnya itu menyambut kedatangannya. Bahkan dia sudah membereskan kamar yang biasa ditempati anaknya.

"Kamu tidur di kamar Refan aja ya. Kamu sudah makan belum, Man?"

"Belum, Teh. hehehe.." Maman melemparkan cengiran khasnya disusul bunyi kriuk dari perutnya.

"Taruh dulu tas mu di kamar, terus makan. Teteh panaskan dulu makanan buat kamu."

Maman hanya mengangguk pelan. Sikap ramah dan penuh perhatian Kakak iparnya itu tak ayal membuat hati Maman menghangat. Pria itu masuk ke dalam kamar untuk menaruh tasnya. Begitu keluar, di meja makan sudah tersedia makanan untuknya.

"Makan dulu, Man."

"Makasih, Teh."

Maman langsung melahap makanan yang disediakan. Perutnya memang sudah keroncongan sedari tadi. Raisa yang duduk di dekat Maman, memperhatikan adik iparnya itu.

Entah apa yang membuat Ibu mertuanya tidak menyukai Maman. Padahal adik iparnya itu adalah pria yang baik, mandiri dan pekerja keras.

"Oh iya, hampir aja Teteh lupa."

Teringat akan sesuatu, Raisa beranjak dari tempatnya. Wanita itu masuk ke kamar dan tak lama kemudian keluar dengan membawa kantung serut kecil di tangannya.

"Man, ini untuk kamu," Raisa menyerahkan kantung serut di tangannya.

"Ini apa, Teh?"

"Gelang yang biasa dipakai Kang Dadang. Waktu Kang Dadang sakit, titip pesan untuk menyerahkan gelang itu sama kamu. Katanya ini gelang mau dia berikan ke kamu. Tapi Teteh lupa, maaf ya, Man."

Tidak ada jawaban dari Maman. Keningnya berkerut mencoba mengingat gelang apa yang dimaksud.

Selesai makan, Maman segera masuk ke kamarnya. Pria itu merebahkan tubuhnya di kasur dengan posisi telentang. Matanya memandangi langit-langit kamar yang terdapat noda bekas rembesan air.

Terdengar helaan nafas beratnya, seolah pria itu tengah menanggung seisi dunia.

Ingatannya kembali melayang pada saat-saat menyakitkan di kampungnya. Penolakan dan penghinaan Naira serta ucapan menyakitkan Ibunya.

'Kenapa hidup ku seperti ini? Ngga disayang Ibu, jomblo juga. Apa aku emang ditakdirkan tidak disukai perempuan ya?'

Teringat akan pemberian Raisa, Maman menegakkan tubuhnya. Dia mengambil kantong serut yang ditaruh di atas ranselnya. Dibukanya kantong tersebut kemudian mengeluarkan isi di dalamnya.

Mata Maman memandangi sebuah gelang berwarna merah. Cukup lama dia mengamati gelang yang bentuknya berulir.

Maman mengambil ponselnya kemudian menyalakan senter. Dia menyorot gelang di tangannya. Ternyata gelang itu tembus cahaya saat disenter.

'Gelang apa ini?'

Maman memasukkan gelang ke tangannya. Ternyata ukurannya begitu pas di tangannya. dipandanginya gelang berwarna kemerahan itu.

'Bagus juga.'

Tiba-tiba saja Maman merasakan hawa panas yang berasal dari gelang yang dikenakannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca