

Mobil travel yang ditumpangi Sasmito berhenti tepat di ujung jalan desa, remnya berbunyi seperti orang mengeluh panjang soal hidup yang berat.
"Mas, sampai sini aja, ya. Jalan masuknya terlalu sempit, mobil saya trauma kalau diajak masuk gang desa," ujar sopir dengan nada santai seolah ini hal paling lumrah.
Sasmito turun perlahan, membawa serta ransel, tas laptop, dan satu kardus berisi mi instan—solusi bertahan hidup paling realistis untuk tipe orang yang tidak bisa masak tapi sok ingin mandiri.
"Tenang aja, Bang. Saya juga punya trauma sendiri dengan urusan pulang kampung," gumamnya lirih. Desa itu menyambut kedatangannya dengan suara ayam yang kokoknya entah kenapa terdengar seperti sedang berdebat sengit. Udara sore terasa lembap, bercampur aromanya dengan bau tanah basah.
Di kejauhan, suara anak-anak bermain bola bersahut-sahutan, "WOI OFFSIDE WOI!" meskipun jelas-jelas tanpa ada wasit. Rumah warisan kakeknya berdiri di ujung jalan kecil itu—terpencil dan menyendiri. Meski dindingnya masih tampak kokoh, catnya sudah memudar menjadi warna khas "masa lalu yang terlupakan." Halamannya cukup lebar, dihiasi pohon mangga tua, jemuran bambu sederhana, dan sebuah sumur tua yang auranya lebih cocok untuk setting film horor berlatar minim anggaran. Sasmito berhenti di depan pagar yang mulai berkarat.
"Oke, santai aja. Ini cuma rumah tua biasa. Bukan rumah hantu. Cuma… rumah 'bersejarah'. Ya. Bersejarah doang," ucapnya pelan, mencoba membesarkan hati meskipun bulu kuduknya sudah berdiri seperti pasukan siap perang. Dengan perlahan dia membuka pagar itu. Suaranya memekik panjang, creeeek, mirip bunyi seseorang yang sedang melakukan peregangan otot habis bangun tidur.
"Apa nggak ada pagar rumah tua yang bunyinya lebih normal? Paling nggak crek-nya bikin gemes kek," ia menggerutu kecil sambil melangkah masuk. Begitu melewati gerbang itu, ia langsung disambut suara.
GEBRAK! Refleks, Sasmito melompat.
ASTAGA! Hanya seekor ayam yang melompat dari kursi bambu di teras. Ayam itu menatapnya tanpa ekspresi, seolah berkata, "Bro... ini dulu rumah gue." Sasmito, masih terguncang kaget, menjawab,
"Maaf, Bu Ayam, tapi sekarang sertifikatnya atas nama keluarga saya." Ia membuka pintu rumah. Aroma kayu tua bercampur debu langsung menyergap indra penciumannya.
"Aduh, nostalgia bercampur asma," gumamnya, diikuti batuk pelan.
Perabotan di dalam rumah tampak masih utuh. Lemari tua berdiri kukuh, kursi rotan tergeletak asal, dan sebuah foto kakek-nenek menghiasi dinding—mata figur di foto itu seperti mengikuti geraknya ke mana pun ia pergi. Atau mungkin perasaannya saja yang terlalu berlebihan. Setelah membuka barang bawaannya, Sasmito otomatis merogoh saku untuk mengambil ponsel.
"No signal," katanya sambil cek layar.
Dia bergeser dua langkah ke kiri. "Bar sinyal satu," gumamnya.
Lalu ia memutuskan naik ke atas kursi. "4G! Akhirnya." Namun begitu ia turun, koneksinya kembali lenyap. Sasmito menarik napas panjang. "Jadi kalau mau internetan, harus bergaya kayak patung Liberty di atas kursi."
Belum sempat ia menikmati rumah itu lebih lama, terdengar suara melengking akrab dari luar.
"MITOOOO?!" Tubuh Sasmito seketika kaku. Itu suara Bu RT. Tetangga paling kepo dan paling update se-kecamatan. Ia pun keluar rumah. Benar saja, Bu RT sudah berpose di depan pagar dengan senyuman lebar yang hampir tidak wajar hanya karena menyambut tetangga baru.
"Lhoh, kamu beneran pindah ke sini? Sendirian?" Nada "sendirian" itu diberi penekanan kuat, sementara matanya dengan cepat menyapu seluruh isi rumah dari kejauhan.
"Iya, Bu. Jaga rumah aja sekalian work from village," jawab Sasmito sambil memasang senyum sok modern.
"Kerja apa tho kamu?"
"Freelance aja, Bu," balasnya singkat.
Pak RT mengangguk-angguk meski jelas tak memahami apa yang dikatakan.
"Ooo… nganggur tapi gaya, pakai bahasa Inggris segala," katanya santai. Sasmito baru saja hendak menjelaskan, tetapi sosok Pak RT lain sudah muncul di belakang.
"Mit, malam Jumat mending jangan keluar ya."
Sasmito merengut bingung, langsung bertanya. "Hah? Ada apa, Pak?"
Pak RT menjawab dengan enteng. "Banyak nyamuk. Demam berdarah." Sasmito terdiam, mencoba mencerna.
Sebelumnya ia sudah dibayangi pikiran yang jauh lebih menyeramkan, yang ternyata tak berdasar. Ketika azan magrib mulai berkumandang, atmosfer di rumahnya perlahan berubah—terlalu sepi. Jika di kota, kesunyian adalah sebuah kemewahan, maka di desa, sunyi punya cara unik: menciptakan suara-suara tertentu langsung dari imajinasi manusia. Sasmito berhenti berpikir yang aneh-aneh, duduk di teras dan membuka laptop. Headset pun terpasang di telinganya.
"Oke… push rank aja. Biar lupa sama suasana kampung yang bikin horor," gumamnya sambil mulai bermain.
Baru lima menit berlalu, terdengar letusan menggelegar: BLAAAR! Suara itu berasal dari jalan depan rumahnya. Reflek, Sasmito merunduk hampir jatuh dari kursi.
"YA TUHAN! CICILAN SAYA BELUM LUNAS!" serunya panik. Ketegangan hanya sebatas reaksi berlebihan. Anak-anak di kampung ternyata sedang menyalakan petasan. Setelah mengetahui sumber suara, ia duduk lagi dan berusaha terlihat santai meskipun jantungnya seperti baru menyelesaikan lomba lari maraton. Angin malam mulai membawa dingin, daun di pohon mangga saling bergesekan pelan, dan lampu teras sempat berkedip satu kali sebelum stabil kembali. Melihat itu, Sasmito berhenti bermain dan bergumam kecil.
"Tolonglah… PLN jangan ikutan acara horor begini." Lampu stabil lagi, membuatnya tertawa kecil karena merasa terlalu baper dengan situasi tersebut.
"Mit, kamu overthinking banget! Ini cuma rumah tua… cuma kampung… cuma malam yang gelap… cuma—
" TUK… TUK… Ia mendadak terpaku. Ada suara samar dan pelan dari dalam rumah, seolah seseorang mengetuk sesuatu yang berbahan kayu.
Sambil menelan ludah, Sasmito mencoba menenangkan diri.
"Mungkin… kayu lagi memuai gara-gara suhu dingin… iya… sains kan bisa jelasin ini…
"Suara itu terdengar lagi: TUK… Dengan langkah perlahan, ia bangkit berdiri sambil menggenggam sandal—senjata tradisional ala kampung yang siap untuk menghadapi apapun.
Ia bergerak menuju asal suara itu, lalu berteriak dengan nada tinggi dan penuh keberanian palsu: "SIAPA DI SANA?!" Yang menjawab hanya kesunyian. Hingga tiba-tiba terdengar dari arah dapur… sebuah suara.
MEEEOOONG.
Seekor kucing muncul dari bawah meja, melangkah santai tanpa peduli pada sekitarnya. Sasmito terjungkal, duduk dengan napas tertahan.
Kucing?! Astaga, nyaris saja aku disangka mau sholat taubat! pikirnya dalam hati. Tanpa sepatah kata, kucing itu berlalu begitu saja, hilang ke sudut gelap ruangan. Menyadari ketegangannya barusan, Sasmito tersenyum kecut, tawa kecil lepas di antara rasa lega dan sedikit malu.
Oke… jelas sudah. Yang menyeramkan di rumah ini bukan hantunya. Tapi otak saya sendiri, gumamnya lirih, menenangkan diri. Ia kembali ke teras, menghempaskan tubuh di kursi usang, memasang headset dengan cepat untuk melanjutkan obrolan bersama tim game-nya. Fokus kini kembali ke layar kecil di genggaman.
Namun, tak ada yang terasa aneh baginya. Ia sibuk meledek teman-temannya soal permainan yang tengah berlangsung. Di balik keasyikannya itu, dari dalam rumah yang berbalut kehampaan, sebuah bayangan samar-samar muncul di jendela ruang tengah yang menghadap ke arahnya.
Seperti sesosok tubuh, berdiri diam mematung, hanya memperhatikan. Hening. Tak ada pergerakan sedikit pun dari bayangan tersebut. Sasmito, yang masih di teras, terus berceloteh keras-keras kepada timnya yang mulai kalah strategi, Bro cover gue woy, sinyal kampung ini parah banget! suaranya memecah malam. Dan rumah tua itu… seolah ikut menghela napas panjang yang nyaris tak terdengar, tenggelam dalam kelamnya malam.