

Hujan di Desa Lembah Abu tidak pernah membawa kesuburan; ia hanya membawa lumpur dan aroma kematian yang tertunda. Bagi Arka, setiap tetesnya terasa seperti jarum dingin yang menembus mantel tipisnya, mengingatkannya bahwa semesta tidak memiliki tempat hangat untuknya. Di usianya yang ketujuh belas, Arka adalah seorang pemuda dengan sorot mata yang terlalu tua untuk wajah yang masih menyimpan gurat masa kanak-kanak.
Dunia telah memberinya label sebelum ia sempat mengeja namanya sendiri. Di balik kain pakaiannya, tepat di atas jantung yang berdenyut gelisah, bersemayam sebuah tanda hitam. Para tetua menyebutnya Tanda Pembantai, sebuah noda legam yang menyerupai arang membara di bawah kulit. Bagi warga desa, itu adalah vonis. Bagi Arka, itu adalah beban yang membuatnya berjalan membungkuk, seolah memikul nisan miliknya sendiri setiap hari.
Malam itu, langkah Arka terasa lebih berat dari biasanya. Ia melewati deretan rumah kayu yang pintu-pintunya tertutup rapat, namun ia tahu di balik celah kayu itu, mata-mata penuh kebencian sedang mengawasinya.
"Anak terkutuk itu masih hidup," bisik sebuah suara dari balik dinding lapuk. Suara itu tidak berbisik karena sopan santun, melainkan karena rasa takut yang mendarah daging. Arka mendengarnya, namun ia tidak menoleh. Ia sudah terbiasa dianggap sebagai mayat yang berjalan, sebuah kesalahan alam yang seharusnya sudah lenyap bersama ibunya delapan tahun silam.
Ibunya adalah sebuah alasan mengapa Arka tidak membiarkan dirinya ditelan kegelapan lebih awal. Wanita itu meninggal dalam kelelahan yang luar biasa, menghabiskan sisa hidupnya memohon pada kepala desa agar anaknya tidak dibuang ke hutan. Ia meninggal dengan tangan menggenggam tangan Arka, matanya yang redup mencoba meyakinkan dunia bahwa anaknya hanyalah seorang manusia biasa. Namun, kematian sang ibu justru menjadi bukti bagi penduduk desa bahwa keberadaan Arka hanya akan membawa petaka bagi siapa pun yang mencintainya.
Arka sampai di jalan setapak menuju sungai di tepi hutan. Di sanalah ia biasanya menemukan kedamaian, di mana suara air yang menghantam batu lebih nyaring daripada bisikan jahat manusia. Namun, malam ini, keheningan itu pecah oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa di belakangnya.
"Berhenti di sana, monster!"
Arka mematung. Ia mengenali suara itu. Borak. Putra kepala penjaga desa yang merasa memiliki hak untuk menjadi hakim atas hidup Arka. Borak tidak datang sendiri; tiga pemuda lainnya berdiri di sampingnya dengan tongkat kayu dan pisau tumpul di tangan. Wajah mereka memerah, bukan karena kedinginan, melainkan karena adrenalin yang dipicu oleh kebencian.
"Ke mana kau hendak pergi? Ke hutan untuk memanggil iblis-iblis saudaramu?" Borak melangkah maju, ludahnya bercampur dengan hujan. "Ayahku bilang kau adalah penyakit. Dan cara terbaik menyembuhkan penyakit adalah dengan mencabut akarnya."
Arka membalikkan badan perlahan. "Aku tidak mencari masalah, Borak. Biarkan aku lewat."
"Masalahnya adalah kau bernapas, Arka!"
Pukulan pertama mendarat di bahu kiri Arka. Rasa sakit yang tumpul menjalar, namun Arka hanya terhuyung. Ia tidak melawan. Ia tidak ingin membuktikan bahwa mereka benar tentang dirinya. Pukulan kedua menghantam perutnya, membuatnya berlutut di tanah berlumpur. Darah mulai terasa asin di bibirnya, bercampur dengan air hujan yang dingin.
"Ayo, lawan kami! Tunjukkan taringmu, binatang!" teriak salah satu teman Borak sambil mengayunkan tongkat ke punggung Arka.
Di tengah rasa sakit yang mendera, Arka merasakan sesuatu yang lain. Di dadanya, tepat di posisi tanda hitam itu, muncul sensasi panas yang tidak wajar. Awalnya hanya seperti sengatan kecil, namun dalam hitungan detik, panas itu menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan pecah.
Dunia di sekitarnya tiba-tiba melambat. Tetesan hujan tampak menggantung di udara seperti kristal yang terjatuh dalam gerak lambat. Suara tawa Borak terdengar parau dan jauh. Dan di dalam benaknya, sebuah bisikan muncul bukan suara manusia, melainkan gema dari masa lalu yang purba dan haus darah.
Bunuh.
"Tidak..." bisik Arka, mencoba menahan tangannya yang mulai bergetar hebat.
"Apa kau bilang? Kau ingin menangis?" Borak mengangkat pisau tumpunya, berniat memberi luka permanen di wajah Arka.
Saat ujung pisau itu nyaris menyentuh kulitnya, segel di dalam diri Arka hancur. Sebuah ledakan energi dingin namun membakar meletup dari Tanda Pembantai. Arka tidak lagi merasakan sakit. Ia tidak lagi merasakan dingin. Yang tersisa hanyalah naluri murni.
Dalam satu gerakan yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa, Arka menangkap pergelangan tangan Borak. Krak. Suara tulang yang patah terdengar begitu jernih di tengah suara hujan. Borak bahkan belum sempat berteriak ketika Arka merampas pisau itu dan mengayunkannya dalam sebuah busur cahaya yang sempurna.
Semuanya terjadi begitu cepat, seolah-olah tubuh Arka dikendalikan oleh bayangan yang sangat ahli dalam seni mencabut nyawa. Gerakannya tidak canggung; setiap tebasan dan hantaman dilakukan dengan presisi seorang master. Satu orang jatuh dengan leher robek, yang lain tersungkur dengan dada yang hancur. Borak, yang kini tergeletak di lumpur, hanya bisa menatap Arka dengan mata yang membelalak penuh horor.
"Kau... kau benar-benar monster..." bisik Borak sebelum kegelapan merenggutnya.
Ketika kesadaran Arka kembali sepenuhnya, hujan kembali turun dengan kecepatan normal. Namun, dunia di sekitarnya telah berubah warna. Tanah berlumpur itu kini berwarna merah pekat. Empat tubuh terbaring diam, menjadi saksi bisu atas apa yang baru saja terjadi.
Arka jatuh berlutut. Ia memuntahkan isi perutnya, gemetar hebat bukan karena takut pada orang-orang itu, tetapi karena takut pada dirinya sendiri. Tangannya yang berlumuran darah menelusuri tanda di dadanya. Panasnya telah memudar, menyisakan sensasi dingin yang hampa.
"Jadi... ini yang mereka takutkan?" gumam Arka. Suaranya pecah, ditelan oleh deru angin malam.
Jauh di dalam dirinya, Arka menyadari sebuah kebenaran pahit. Selama ini ia berusaha menjadi manusia di dunia yang tidak mengizinkannya menjadi apa pun selain senjata. Pengorbanan ibunya, kesabarannya selama bertahun-tahun semuanya hancur dalam satu malam. Namun, di tengah keputusasaan itu, ada sebuah percikan kekuatan yang aneh. Seolah-olah untuk pertama kalinya, ia benar-benar hidup.
Gong peringatan desa mulai bergema di kejauhan. Penduduk desa akan segera datang. Mereka tidak akan mendengarkan penjelasannya. Mereka hanya akan melihat mayat-mayat ini dan memburu sang "monster" hingga ke ujung dunia.
Arka berdiri tegak. Ia tidak lagi menunduk. Ia menatap ke arah hutan hitam yang luas, tempat di mana rahasia-rahasia kuno dan para kultivator kuat bersembunyi dari peradaban biasa. Tanda di dadanya kini terasa berbeda. Bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai kunci. Sebuah pintu menuju Dao yang berlumuran darah.
Di bawah bayang-bayang pohon besar, sesosok figur berjubah hitam yang sejak tadi mengawasi dari kegelapan tersenyum tipis. "Satu benih telah pecah," bisik figur itu dengan suara yang terdengar seperti gesekan kertas tua. "Dunia ini membutuhkan lebih banyak kehancuran sebelum bisa dibangun kembali."
Arka melangkah masuk ke dalam hutan, meninggalkan Desa Lembah Abu selamanya. Ia tidak menoleh ke belakang. Jika dunia menginginkannya menjadi pembantai, maka ia akan menjadi pembantai yang paling ditakuti. Bukan karena ia menyukainya, tapi karena itulah satu-satunya cara untuk bertahan hidup hingga ia bisa menuntut jawaban dari langit mengapa ia dilahirkan dengan kutukan ini.
Malam itu, di bawah guyuran hujan yang tak kunjung usai, seorang pemuda mati dan seorang legenda lahir. Jalan kultivasi Arka baru saja dimulai, dan ia akan memastikan bahwa setiap tetes darah yang ia tumpahkan akan menjadi anak tangga menuju puncak kekuasaan yang tak tergoyahkan.