Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
MELODI JAM YANG MATI

MELODI JAM YANG MATI

IM_BACK | Bersambung
Jumlah kata
40.8K
Popular
100
Subscribe
4
Novel / MELODI JAM YANG MATI
MELODI JAM YANG MATI

MELODI JAM YANG MATI

IM_BACK| Bersambung
Jumlah Kata
40.8K
Popular
100
Subscribe
4
Sinopsis
PerkotaanAksiMisteriMafiaTeka-teki
"Waktu tidak pernah berbohong, tapi manusia melakukannya." Tuan Baskoro ditemukan tewas di dalam ruang kerja yang terkunci rapat dari dalam. Tidak ada senjata, tidak ada jejak kaki. Satu-satunya keganjilan adalah arloji di pergelangan tangannya yang berhenti di angka 10:10, sementara ia tewas dua jam sebelumnya. Aris Sena, detektif dengan ingatan fotografis, harus membedakan mana detak jantung yang jujur dan mana denting jam yang palsu di tengah keluarga yang penuh rahasia. Sanggupkah kamu memecahkan teka-tekinya sebelum bab terakhir mengungkap segalanya?
BAB 1: Jam yang Berbohong

Gerimis tipis mulai membasahi aspal jalanan Jakarta saat mobil tua milik Aris Sena berhenti di depan gerbang besi setinggi tiga meter. Di baliknya, berdiri sebuah bangunan kolonial yang megah namun tampak muram. Rumah itu milik Tuan Baskoro, seorang kolektor jam antik yang reputasinya dikenal luas di kalangan aristokrat, namun pribadinya tertutup rapat seperti peti besi.

Aris mematikan mesin mobil. Di sampingnya, Lina, seorang jurnalis muda yang selalu membawa buku catatan kecil, tampak gelisah. "Kamu yakin kita diundang untuk makan malam, Aris? Suasananya lebih mirip seperti kita akan menghadiri pembacaan wasiat," gumam Lina sambil menatap bayangan pohon-pohon beringin yang meliuk tertiup angin di halaman luas itu.

"Baskoro tidak mengundang orang untuk sekadar makan," jawab Aris datar. Matanya yang tajam menatap ke arah jendela lantai dua yang menyala temaram. "Dia merasa nyawanya terancam. Dan jam-jam miliknya... mereka selalu punya cara untuk memberitahu jika ada sesuatu yang salah."

Mereka disambut oleh pelayan tua bernama Pak maman, yang wajahnya sedingin marmer lantai rumah itu. Tanpa banyak bicara, mereka digiring menuju ruang makan formal. Di sana, sudah duduk dua orang lainnya: Sofia, istri muda Baskoro yang tampak anggun namun jari-jarinya tak berhenti memainkan ujung taplak meja, dan Rendy, keponakan Baskoro yang terus-menerus memeriksa ponselnya dengan raut wajah gusar.

"Tuan Besar sedang berada di ruang kerjanya," ujar Pak Maman dengan suara serak. "Beliau berpesan agar kalian mulai makan dulu. Beliau akan menyusul setelah menyelesaikan urusan dengan jam Grandfather di atas."

Namun, hingga hidangan pembuka selesai, Baskoro tak kunjung turun. Kesunyian di ruang makan itu hanya dipecah oleh suara denting jam dinding yang jumlahnya belasan di seluruh penjuru rumah. Setiap detik terasa seperti hantaman palu kecil yang memicu sakit kepala.

"Ini tidak benar," cetus Aris tiba-tiba. Ia meletakkan garpunya. "Sudah empat puluh menit. Baskoro adalah orang yang sangat disiplin terhadap waktu. Baginya, terlambat satu menit adalah dosa besar."

Aris berdiri dan segera melangkah menuju lantai dua, diikuti oleh Lina yang kebingungan dan Rendy yang mulai tampak panik. Mereka berhenti di depan pintu kayu jati yang kokoh. Pintu itu terkunci dari dalam.

"Tuan Baskoro!" Aris mengetuk keras. Tak ada jawaban.

Rendy mencoba mendobrak, namun pintu itu terlalu solid. Akhirnya, dengan bantuan linggis dari gudang yang diambil Pak Maman, pintu itu terbuka paksa dengan suara berderit yang memilukan.

Bau apek kayu tua dan aroma samar minyak mesin jam menyambut mereka. Di tengah ruangan, Tuan Baskoro terduduk kaku di kursi kerjanya yang besar, menghadap ke meja kayu jati yang penuh dengan peralatan bedah jam. Kepalanya terkulai ke samping. Matanya terbuka, menatap kosong ke arah deretan jam di dinding yang seolah sedang menertawakannya.

Lina menjerit tertahan. Aris segera mendekat, namun ia tidak menyentuh mayat itu. Ia hanya membungkuk, mengamati detail yang paling mencolok.

Tuan Baskoro sudah tidak bernapas. Kulitnya mulai mendingin. Namun, perhatian Aris teralihkan oleh tangan kanan korban yang tergeletak di atas meja. Di pergelangan tangannya melingkar sebuah jam tangan emas—sebuah karya seni dari abad ke-19. Jarum jam itu berhenti tepat di angka 10:10.

"Hubungi polisi, Lina," perintah Aris tanpa menoleh.

"Tapi Aris... lihat jam besar di sudut sana," sahut Rendy dengan suara gemetar sambil menunjuk jam berdiri (grandfather clock) yang ada di pojok ruangan. "Jam itu menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit. Kenapa jam di tangannya berbeda jauh?"

Aris melirik jam dinding, lalu melirik arloji di pergelangan tangannya sendiri. Pukul 08:15. Ia kemudian melihat ke arah jendela. Jendela itu tertutup rapat dan terkunci dari dalam menggunakan grendel ganda. Ruangan ini adalah sebuah kotak yang sempurna. Tidak ada jalan masuk atau keluar selain pintu yang baru saja mereka dobrak.

"Dokter forensik mungkin akan mengatakan dia meninggal sekitar jam delapan tadi, berdasarkan suhu tubuhnya," gumam Aris pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri. "Tapi jam di tangannya menunjukkan 10:10. Itu dua jam di masa depan."

Aris berlutut di lantai, matanya menyisir setiap inci karpet Persia di bawah meja. Ia menemukan sesuatu yang aneh. Sebuah goresan tipis melingkar di kaki meja, seolah-olah seseorang baru saja menggeser sesuatu yang sangat berat dengan sangat hati-hati.

"Aris, apa menurutmu dia sempat meninggalkan pesan sebelum meninggal?" tanya Lina yang sudah mulai memotret TKP dengan kamera ponselnya setelah sedikit tenang.

"Baskoro tidak sempat meninggalkan pesan," jawab Aris sambil berdiri kembali. Ia menatap ketiga orang yang kini berdiri di ambang pintu: Sofia yang menangis tanpa air mata, Rendy yang berkeringat dingin, dan Pak Maman yang wajahnya tetap tanpa ekspresi.

"Jam itu tidak mati karena rusak," lanjut Aris dengan nada dingin. "Seseorang sengaja mengatur waktu di jam tangan itu. Seseorang ingin kita percaya bahwa kematian terjadi di waktu yang berbeda, atau mungkin... seseorang sedang mengirimkan teka-teki kepada kita."

Di bawah cahaya lampu meja yang redup, Aris menyadari satu hal lagi. Di bawah kursi korban, terdapat sebuah serpihan kecil berwarna putih. Aris mengambilnya dengan sapu tangan. Itu adalah serpihan porselen tipis, mungkin dari cangkir teh atau vas bunga. Namun, di seluruh ruangan itu, tidak ada satu pun benda porselen yang pecah.

"Teka-teki pertama dimulai," bisik Aris. "Siapa yang membawa porselen ke ruangan ini, dan ke mana perginya sisanya?"

Lina mencatat semuanya. Di luar, suara sirine polisi mulai terdengar mendekat, memecah keheningan malam yang mencekam di rumah penuh jam yang kini, entah mengapa, terasa seperti sedang berhenti berdetak secara bersamaan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca