

Ketika Permainan Tidak Lagi Membutuhkan Arena
Tidak ada sirene malam itu.
Tidak ada hitungan mundur.
Tidak ada layar raksasa yang menyala,
tidak ada suara sintetis yang berkata “Welcome, Players.”
Dan justru karena itulah semua terasa jauh lebih menakutkan.
Langit di atas kota berwarna abu-abu kotor, seolah matahari sendiri ragu untuk terbit sepenuhnya. Bangunan-bangunan tinggi berdiri seperti saksi bisu yang sudah terlalu lama melihat kematian hingga lupa cara bereaksi. Jalanan tetap ramai, kendaraan tetap melintas, orang-orang tetap berjalan namun ada sesuatu yang hilang dari langkah mereka.
Ritme.
Sejak The Scary Games runtuh pada musim dingin lalu, dunia tidak pernah benar-benar bernapas lega. Tidak ada perayaan besar. Tidak ada pengumuman kemenangan. Yang tersisa hanyalah kekosongan aneh seperti setelah badai besar, ketika semua orang masih berdiri di antara puing-puing sambil bertanya dalam hati:
apakah ini benar-benar sudah berakhir?
Jawabannya, seperti yang akan segera mereka sadari, adalah tidak.
Karena permainan terbaik tidak selalu membutuhkan panggung.
Dan permainan paling kejam tidak selalu meminta peserta yang sadar.
Di sebuah ruangan bawah tanah yang tidak tercatat di peta mana pun, seorang pria tua menatap deretan monitor yang kini hanya menampilkan statistik pasif denyut jantung kota, pergerakan massa, fluktuasi emosi kolektif yang direkam melalui jutaan perangkat kecil di saku manusia.
Ia tidak tersenyum.
Ia tidak marah.
Ia hanya mengamati seperti seorang penjudi yang tahu bahwa taruhan terbesarnya belum dimainkan.
“Eksperimen fase tiga berhasil,” gumamnya pelan.
“Manusia belajar takut. Sekarang… kita lihat apa yang mereka lakukan dengan kebebasan.”
Di layar lain, wajah-wajah yang selamat dari The Scary Games muncul dalam arsip: mata yang terlalu waspada, tangan yang gemetar saat memegang secangkir kopi, mimpi buruk yang tidak pernah benar-benar berhenti. Mereka adalah bukti bahwa permainan itu nyata dan bahwa luka yang ditinggalkannya tidak bisa dihapus hanya dengan mematikan sistem.
Sementara itu, di sisi lain kota, seseorang berdiri sendirian di atap gedung apartemen yang setengah runtuh.
Ia adalah saksi.
Ia adalah penyintas.
Dan tanpa ia sadari, ia adalah kunci terakhir.
Angin malam menerpa wajahnya, membawa bau logam dan hujan yang belum jatuh. Di tangannya, sebuah perangkat kecil bukan senjata, bukan bom, melainkan rekaman mentah: potongan data, suara, dan potret kebenaran yang selama ini disembunyikan terlalu rapi.
Ia tahu satu hal pasti sekarang.
The Scary Games tidak diciptakan untuk hiburan.
Tidak untuk kontrol semata.
Tidak pula untuk seleksi manusia kuat.
Permainan itu ada untuk menguji satu pertanyaan sederhana
Seberapa jauh manusia mau melukai sesamanya,
ketika mereka diberi alasan yang terdengar masuk akal?
Dan jawaban yang terkumpul selama bertahun-tahun
cukup untuk membangun dunia baru
atau menghancurkan yang lama sampai ke akarnya.
Ia menutup mata, mengingat wajah-wajah yang tidak sempat sampai sejauh ini. Nama-nama yang tidak pernah muncul di berita. Orang-orang yang mati bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai angka dalam laporan akhir.
Jika permainan ini harus berakhir…
maka seseorang harus berani menghentikannya dari dalam.
Bukan dengan ledakan.
Bukan dengan pengumuman heroik.
Melainkan dengan keputusan paling menakutkan dari semuanya:
membuka kebenaran,
dan membiarkan manusia memilih apa yang akan mereka lakukan dengannya.
Di kejauhan, layar-layar iklan kota tiba-tiba menyala serempak bukan menampilkan produk, bukan berita, melainkan satu kalimat sederhana yang membuat siapa pun yang membacanya berhenti bernapas sesaat:
THE GAME NEVER ENDED.
YOU JUST STOPPED SEEING THE RULES.
Dan pada saat itu, tanpa suara, tanpa aba-aba,
bab terakhir pun dimulai.
Layar-layar itu tidak mati setelah kalimat itu muncul.
Mereka bertahan.
Lima detik.
Sepuluh.
Satu menit penuh.
Cukup lama untuk membuat orang-orang berhenti berjalan. Cukup lama untuk membuat pengemudi menginjak rem tanpa tahu alasannya. Cukup lama untuk membuat seorang ibu menggenggam tangan anaknya lebih erat, meski tidak tahu apa yang sedang ia lindungi.
Kalimat itu tidak mengancam.
Tidak berteriak.
Tidak memerintah.
Ia hanya ada.
Dan justru karena itu, ia menempel di kepala siapa pun yang membacanya.
Beberapa tertawa gugup, mengira itu bagian dari kampanye iklan baru humor gelap yang keterlaluan, tapi masih bisa dimaklumi di dunia pasca-kekacauan. Beberapa lainnya merekam dengan ponsel mereka, mengunggahnya ke media sosial dengan caption bercanda, mencoba meyakinkan diri bahwa rasa dingin di punggung mereka hanyalah sugesti.
Namun ada juga yang langsung mematikan layar, menutup jendela, menarik tirai, dan duduk diam di sudut rumah mereka karena mereka tahu.
Mereka adalah orang-orang yang pernah mendengar jeritan itu secara langsung.
Yang pernah melihat bagaimana aturan bisa berubah tanpa peringatan.
Yang tahu bahwa The Scary Games selalu dimulai dengan kalimat yang terdengar sepele.
Di sebuah rumah sakit tua di pinggiran kota, seorang pria terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal. Monitor jantung di samping ranjangnya berbunyi cepat, nyaris panik. Ia menatap langit-langit putih yang retak, lalu tertawa kecil tawa kering yang tidak membawa kelegaan.
“Mereka bilang sudah selesai,” bisiknya pada ruangan kosong.
“Tapi mimpi buruk tidak pernah tahu cara berhenti.”
Ia adalah salah satu yang keluar hidup-hidup.
Dan itu bukan berkah itu hukuman yang panjang.
Di tempat lain, seorang perempuan membuka laci rahasia di bawah lantai apartemennya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan kalung logam kecil bernomor seri identitas yang seharusnya sudah dimusnahkan. Jarinya gemetar saat menyentuh angka itu, kenangan lama merambat naik seperti racun yang tidak pernah benar-benar keluar dari darah.
“Kalau ini dimulai lagi,” katanya pelan, “aku tidak akan bersembunyi.”
Sementara dunia di permukaan mulai retak oleh kecurigaan, mesin-mesin di bawah tanah justru bekerja dengan tenang. Tidak ada lagi hitungan waktu permainan, tidak ada lagi zona mati, tidak ada lagi pembawa acara dengan suara ceria palsu.
Yang ada hanyalah algoritma yang mempelajari satu hal
bagaimana manusia bertindak ketika mereka percaya tidak sedang diawasi.
Ketakutan tidak lagi dipaksa.
Ia dibiarkan tumbuh sendiri.
Statistik menunjukkan hasil yang memuaskan.
Tingkat kepercayaan antarindividu menurun.
Empati melemah dalam situasi krisis kecil.
Keputusan-keputusan egois meningkat pelan, konsisten, nyaris indah dalam pola matematisnya.
“Lihat?” kata pria tua itu pada bayangannya sendiri di layar gelap.
“Mereka tidak butuh permainan. Mereka adalah permainannya.”
Namun ada satu variabel yang terus mengganggu sistem.
Satu anomali.
Seseorang yang tidak bereaksi seperti yang diprediksi. Tidak panik, tidak menyerang, tidak mengisolasi diri. Ia justru mengumpulkan, menyusun, dan memahami potongan-potongan kecil kebenaran yang tercecer di balik kebohongan rapi.
Orang itu tahu satu hal yang tidak dipahami oleh para perancang permainan:
bahwa ketakutan paling berbahaya bukan yang membuat manusia berlari,
melainkan yang membuat mereka menerima.
Dan ia menolak menerima apa pun lagi.
Di atap gedung yang sama, angin kembali berhembus. Awan bergerak lambat, seolah langit pun menunda keputusan. Perangkat kecil di tangannya kini menyala bukan menampilkan data, melainkan pesan singkat yang baru saja masuk.
Satu kalimat.
Tanpa nama pengirim.
Jika ini benar-benar akhir,
maka buatlah dunia melihat bagaimana awalnya.
Ia menarik napas panjang.
Di bawah sana, kota masih hidup tidak tahu bahwa ia sedang berdiri di ambang pilihan terakhir. Bukan pilihan antara hidup atau mati, melainkan antara diam atau jujur.
Dan ia tahu, apa pun yang ia lakukan setelah malam ini,
The Scary Games tidak akan dikenang sebagai permainan.
Melainkan sebagai cermin.
Cermin yang akhirnya dipaksa untuk dihadapkan ke wajah manusia.
Prolog berakhir bukan dengan ledakan,
bukan dengan darah,
melainkan dengan satu kepastian yang jauh lebih menakutkan
tidak semua akhir membawa keselamatan.
Sebagian hanya membuka babak yang lebih jujur.
Dan itulah sebabnya,
ini disebut Last Chapter.