Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Calon Tumbal Mertua

Calon Tumbal Mertua

Bintang kecil@15 | Bersambung
Jumlah kata
24.8K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / Calon Tumbal Mertua
Calon Tumbal Mertua

Calon Tumbal Mertua

Bintang kecil@15| Bersambung
Jumlah Kata
24.8K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
18+HorrorHorrorDunia GaibSilatPesugihan
Jatuh cinta pada pandangan pertama, itulah yang Yudha rasakan saat melihat Arumi__janda perawan yang sudah enam kali menikah, dan keenam suaminya meninggal di malam pertama pernikahannya. Meskipun penuh tentangan dari keluarganya, namun, tidak sedikitpun menggoyahkan niat Yudha untuk menikahi Arumi. Malam pertama pernikahan yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan, berubah menjadi ketegangan yang harus dilewati Yudha. Karena di malam itu semua misteri tentang kematian keenam suami Arumi terkuak. Dan di malam itu juga sebuah kekuatan bangkit dalam tubuh Yudha. Akankah Yudha berhasil selamat dari misteri itu atau ia harus menjadi korban selanjutnya? Ikuti kisahnya di sini!Jangan lupa subscribe akun author Bintang kecil@15 Dan kita juga bisa saling sapa dan mengenal visual dalam cerita ini, melalui akun medsos author. FB: Bintang kecil IG: bintang kecil15.11 TT: Bintang kecil._15
Bab 1 Dibawa ke alam gaib

"Nasib, nasib, malam pertama bukannya ngelonin istri, malah suruh jaga lumbung padi," gumam Yudha sambil mengarahkan senter ke bawah kolong bangunan dari kayu yang dipakai lumbung padi atau tempat penyimpanan padi.

"Busyet! Itu kaki siapa, ya? Mulus bener? Apa jangan-jangan, Arumi diam-diam datang ke sini untuk menemaniku?" batin Yudha, saat cahaya senternya tak sengaja menyorot sepasang kaki putih mulus yang terlihat sedang berdiri membelakanginya.

Yudha mengucek matanya beberapa kali, dan kembali menyorot ke arah kaki tadi, namun, ia sudah tidak menemukan apa-apa di sana.

"Tuh kan, itu hanya penglihatanku saja yang sudah tidak sabar ingin segera melakukan ritual malam pertama dengan Arumiku," gumamnya sambil tersenyum, lalu duduk bersandar di bangku rotan depan lumbung padi milik mertuanya.

Rasa ngantuk tiba-tiba datang menyerang Yudha. Beberapa kali ia mengucek mata dan menggelengkan kepalanya, mengusir rasa kantuknya. Namun, rasa kantuknya benar-benar tidak tertahankan.

Suara gamelan ditabuh dan gemerincing lonceng kereta kuda, samar-samar terdengar di indra pendengaran Yudha yang hampir terlelap tidur.

Semakin lama, suara-suara itu semakin terdengar jelas. Yudha ingin bangun, namun matanya terasa berat seperti dipakaikan lem, namun, sekuat tenaga ia membukanya.

Setengah terbuka, mata Yudha melihat sebuah kereta kuda kencana datang melayang dan berhenti di depan lumbung padi.

Sosok wanita cantik, berkebaya merah dengan rambut panjang hitam tergerai indah, tampak turun dari kereta kuda dan melangkah dengan anggunnya menuju Yudha.

Senyuman manis wanita cantik itu seolah membius Yudha membuatnya diam tidak berkutik. Semakin dekat wajah wanita itu semakin terlihat.

Mata Yudha terbelalak, karena wajah wanita cantik itu mirip sekali dengan istrinya yang baru tadi sore ia nikahi. Wangi bunga melati menguar di udara seperti mengikuti setiap langkah wanita cantik itu.

"Arumi!" pekik Yudha saat dengan jelas melihat sosok wanita cantik itu.

Wanita yang mirip Arumi itu tersenyum manis, lalu menatap dalam Yudha. Tatapannya seperti mengandung sihir, membuat Yudha segera berdiri menyambutnya.

Tangan halus wanita cantik itu terulur untuk mengusap dada bidang Yudha dan berhenti tepat di atas jantung Yudha yang berdetak kencang. Wanita itu maju, mengikis jarak antara dirinya dan Yudha. Ia mendekatkan wajahnya ke arah dada Yudha tepat di jantungnya, lalu mengecupnya.

"A-Arumi, kenapa tidak tidur di kamar?"

Wanita cantik yang mirip Arumi itu mendongakkan kepalanya dan menatap Yudha.

"Aku ingin tidur bersama Akang," jawabnya dengan nada manja.

"T-tapi, Akang masih harus menjaga lumbung padi Ibu."

Wanita itu malah tersenyum lalu menarik tangan Yudha agar mengikutinya naik ke atas kereta kuda.

"M-mau ke mana?" tanya Yudha, kebingungan.

"Naiklah dulu, nanti kamu tahu," jawab wanita cantik itu.

Yudha manut, seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Ia berjalan menuju kereta kuda itu.

Yudha duduk berdampingan dengan wanita cantik mirip Arumi. Dan seketika kereta kuda itu terbang melesat, membuat kesadaran Yudha pun terasa menghilang.

*

Uuuught!

Yudha menggeliat pelan, saat kesadarannya kembali. Kepalanya terasa berat, seolah baru saja ditarik dari mimpi yang terlalu dalam. Ia segera bangkit, mengucek mata, mencoba menyesuaikan penglihatan.

"Di mana aku?" gumamnya pelan.

Aroma melati menyeruak pekat, memenuhi paru-parunya. Yudha menatap sekeliling dengan waspada. Ternyata, ia berada di sebuah kamar yang asing baginya, kamar yang sunyi dan temaram. Dindingnya dipenuhi rangkaian bunga melati yang menjuntai ke bawah. Di tengah kamar berdiri sebuah ranjang tua, tertutup kelambu putih yang bergoyang perlahan meski tak ada angin.

Jantung Yudha berdegup lebih cepat saat ia menatap ranjang tua itu.

Di balik kelambu putihnya, samar-samar terlihat bayangan seorang wanita. Tubuhnya bergerak perlahan, meliuk dalam irama yang tak terdengar, seperti tarian yang hanya dikenal oleh dunia lain. Ia terus menari dalam diam, meliukkan tubuhnya dengan gerakan lambat namun memikat, seperti ritual kuno yang penuh makna terlarang.

Saat cahaya redup lampu minyak menyapu bayangan itu, Yudha tersentak. Bayangan tersebut tampak tanpa balutan apa pun, hanya kelambu putih yang menjadi satu-satunya penghalang bagi tubuhnya.

Perlahan, kelambu putih itu tersibak dengan sendirinya.

"Selamat datang di ranjangku, Yudha," ucap wanita itu, pelan. Tangannya terangkat, jemarinya melambai pelan, memberi isyarat agar Yudha mendekat. "Naiklah."

Degh!

Yudha mundur satu langkah. Perasaan ragu menyelimuti hatinya.

"K-kamu bukan Arumiku," ujar Yudha, terbata.

"Tapi akulah pengantinmu, Yudha. Cepat naiklah ke ranjangku!" desak wanita itu, dengan tarian yang semakin cepat.

"Tidak!"

"Jangan membantahku!"

Yudha berlari menuju pintu berniat kabur dari kamar itu. Namun tiba-tiba, kakinya ada yang melilit dan menariknya. Mata Yudha terbelalak saat melihat ular-ular melilit kakinya.

Sreeeeettt!

Tubuh Yudha tertarik menuju ranjang.

Bruk!

Yudha jatuh telungkup di atas kasur. Napas Yudha memburu dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Perlahan ia mendongakkan kepalanya. Dan di hadapannya, wanita cantik tadi telah berubah wujud menjadi wujud mengerikan. Kulitnya tampak pucat kehijauan, matanya menghitam tanpa putih sama sekali. Rambut panjangnya yang menjuntai berubah menjadi ular-ular yang siap mematuk siapapun yang ada didekatnya.

Yudha terperanjat dan langsung bangkit.

"K-kamu siluman ular?"

"Aku pengantinmu, Yudha."

"Bukan!"

Di tengah ketegangan itu Yudha tak sengaja menyentuh saku celananya. Ia baru ingat dengan benda pemberian kakeknya saat tadi ia akan meninggalkan rumah.

Yudha cepat merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah tasbih berukuran kecil, berwarna putih. Ia langsung menggenggamnya erat dan mulai melafalkan taawudz (meminta perlindungan kepada Yang Maha Kuasa) dan bacaan ayat kursi.

Wrrrrrrrrrr!

Wrrrrrrrrrr!

Tiba-tiba dinding kamar terasa bergetar seperti ada gempa.

Siluman ular tampak gelisah, tatapannya tajam membidik Yudha.

"Kurang aj*r! Kamu mau melawanku, Yudha?" tanyanya sambil melesat menyerang dengan kekuatan asap merah yang mengepul dari kedua tangannya.

Yudha memejamkan matanya, mencoba fokus membacakan ayat-ayat suci yang dia hafal. Ia berserah pada Yang Maha Kuasa, jika memang ia harus pergi dari dunia ini. Namun tiba-tiba, cahaya terang menyilaukan keluar dari tubuhnya, menghadang serangan siluman ular.

Sreeeeettt!

Blarrrrrr!

Wujud siluman mengerikan itu terpental ke belakang. Kekuatannya sama sekali tidak bisa menyentuh Yudha karena perisai cahaya yang keluar dari tubuh Yudha.

"Siapa kamu sebenarnya, Yudha?" tanya siluman ular yang kembali bangkit.

Perlahan, Yudha membuka matanya. Ia pun terbelalak saat melihat cahaya terang itu memancar dari tubuhnya.

"Ya Tuhan ... apa ini?" batin Yudha.

Namun, keterkejutannya tak berlangsung lama, Yudha cepat membalas tatapan tajam siluman ular itu.

"Kenapa? Apa kamu takut denganku?" tanya Yudha penuh keberanian.

"Cih! Manusia bodoh sepertimu tidak akan bisa mengalahkanku!"

Siluman ular itu memejamkan mata. Tiba-tiba, asap hitam pekat menyembur dari tubuhnya. Dalam sekejap, puluhan ular merayap liar datang dari semua arah, bergerak cepat menuju Yudha.

"Binasakan manusia itu!" raung siluman ular dengan suara menggelegar, sarat amarah dan kebencian.

BERSAMBUNG

Lanjut membaca
Lanjut membaca