

Pagi itu, bantal dan guling di kos Zathrian terasa sangat dingin. Angin berhembus meniup gorden dari jendela yang lupa dia tutup semalam. Zathrian terbangun oleh suara buku yang terhentak ke lantai kosnya. Dia segera tersentak dan bangkit seakan tubuhnya baru saja diberikan CPR.
“SHIT SHIT SHITTT!!!!” Dia segera turun dari kasurnya berjinjit melewati kumpulan kertas yang belum selesai digunting, kardus yang terletak di bawah kasurnya, selotip, kertas berwarna dan pulpen yang tintanya sudah tereksploitasi.
Rian berjalan menuju wastafel dan segera mencuci mukanya berharap kerak matanya bisa langsung rontok dengan air dingin di waktu fajar itu. Tangannya membentuk mangkuk menampung air dan membasuh kepalanya dan tengkuknya. Entah mengapa, tapi Rian tidak membutuhkan kopi untuk menggertak nyawanya, dia hanya butuh air dingin yang menyentuh tengkuknya.
Rian melihat jam dinding di kamar kosannya, pukul 5.00, sejam lagi dia harus sudah sampai di aula kampusnya. Dia segera membuka ponselnya melihat list barang yang harus dibawa sesuai pembekalan kemarin sore.
Semuanya Rian masukkan sampai tasnya sepadat carrier untuk naik gunung. Dia melipat kardus berbentuk bulat yang telah dilapisi kertas berwarna hijau dan plastik. Tak lupa dengan name tag berbentuk toa dengan tali berwarna kuning yang harus dia kalungi sepanjang hari.
—------------------
“Angkat tangannya jangan ditekuk!!” semua mahasiswa mengangkat tangannya tinggi tinggi
“Cepat putri!!! Teman teman kamu sudah mengangkat barang bawaannya dari tadi, kamu masih sibuk mencari!” kata kakak tingkat yang lain menghampiri salah seorang mahasiswi yang belum mengangkat tangannya karena ada satu barang yang masih dia cari
Sementara mahasiswa mahasiswa lain sudah mulai ada yang menekuk tangannya karena rasa pegal.
“JANGAN TURUNKAN TANGANNYA!” kata kakak tingkat pengawas yang lain ketika melihat mahasiswa baru itu menurunkan tangannya.
“Kenapa putri? Ga bawa alat makan?!” sentak kakak tingkat itu ketika si mahasiswi tak kunjung menemukan barang bawaannya.
“Catat, nama kamu siapa putri?!”
“Naura kak”
“Naura tidak bawa alat makan, kakak pembimbingnya catat!”
“Turunkan!” kata Disha, komdis yang suaranya paling nyaring itu.
“Sekarang keluarkan kursi goyang, reuse book, gunting, sendal, kue waktu bagus, permen serigala, alat ibadah, dan gunting!” dikte Heri, komdis laki laki yang membawa toa dengan badge merah di lengan atasnya.
Semua buru buru mengeluarkan barang yang didikte dengan kecepatan kilat tadi. Dikte dengan kecepatan kilat bukanlah hal baru disini. Siapapun yang mendengar apapun akan mencatat apapun. Mereka akan saling melihat catatan orang lain untuk melihat apa yang tidak ada di catatan sendiri.
Semua orang dengan baju hitam putih dan nametag ini berbaur suka atau tidak suka. Setidaknya begitulah cara mereka bertahan pada masa-masa ini. Kadang mereka mengerjakan tugas bersama sama untuk saling membantu pada situasi situasi genting dan terdesak.
Sayangnya, Zathrian adalah manusia apatis yang berpikir bahwa dia bisa mengerjakan apapun sendirian. Memang benar, tapi tidak untuk situasi seperti ini.
“Mana gunting kamu?” Seorang laki laki dengan badge di keningnya mendekati Rian.
Fuck kata Rian dalam hati. Dia masih mencari dimana guntingnya di dalam tas padat itu, dia cari sedalam mungkin siapa tau gunting sialan itu ada di dasar tasnya.
Tiba tiba sekelebat bayangan ketika tadi pagi dia buru buru merapikan kekacauan kamarnya, kemudian kakinya tak sengaja menendang gunting ke bawah kasurnya,
Melintang di pikirannya saat ini. Rian menutup matanya dengan gestur “I’m a dead man” .
“Kalau ditanya itu jawab” kata kakak tingkatnya itu berbicara tepat di telinga Rian. Bukan sentakan, hanya nada biasa yang dingin dan tajam.
“Ga bawa kak” kata Rian pelan.
“Apa?” kata kayak tingkatnya itu. Sekarang agak keras, cukup keras untuk mengumpulkan kakak tingkat lain meninggalkan mahasiswa yang mereka arah dan berjalan mendekati Rian.
“Ga bawa kak” Rian mengulangi ucapannya sekali lagi.
“Dam, siapa yang ga bawa apa?” tanya Harry kepada Adam. Ya, kakak tingkat dengan badge di keningnya itu bernama Adam.
“Siapa nama lo?” tanya Adam
“Rian kak”
“Ke depan” perintah Adam singkat
“Hah?” tanya Rian kaget.
“KE DEPAN!!” teriak Adam. Suara Adam seperti singa mengaung. Dalam dan sangar.
Harry menarik Rian paksa ke depan
“Zathrian dipanggilnya Rian?” tanya Ashila berjalan mengelilingi Rian sambil menyusuri punggung Rian dengan map yang digulung di tangannya.
“I.iya kak”
“Lo tau ngga kenapa lo ditarik ke depan Rian?” tanya Ashila lagi.
“Karena saya ga bawa gunting kak”
“Naura ga bawa alat makan ga disuruh ke depan tuh” kata Ashila menyilangkan tangannya
Rian terdiam
“Ayo dong, mikir mikir.. Dah jadi mahasiswa ga mungkin masih disitu situ aja kan pikirannya?”
Rian benar benar tidak tahu kenapa dia ditarik kedepan. Dia harus jawab apa? Karena Naura perempuan dan dia laki laki? Apa hubungannya? Apa kesalahan dia kali ini?
“JAWAB PUTRA!!” teriak Harry
“Saya gatau kak” Rian refleks mengeluarkan isi pikirannya.
Adam tersenyum sarkas.
“Biar cepet nih, gue kasih lo gunting, tapi abis gue gunting rambut lo. Setuju ga?” kata Adam
Rian tercengang, ah lupa ngegundulin rambut anjir
“Gimana?” tanya Adam
“Saya bakal cukur rambut beres masa orientasi hari ini kak” kata Rian
“Boong” timpal Ashila
“Saya kelupaan kemaren kak”
“Alasan” timpal Harry
“Kelupaan ya? Sama halnya lo kelupaan untuk nyamain warna tali name tag lo sama temen temen lain gitu?” tanya Adam.
Rian melihat tali name tag nya yang berwarna kuning, kemudian melihat tali name tag teman-temannya yang berwarna merah.
“Gua tau tipikal orang kayak lo sih Rian. Tipikal orang yang bilang nanti padahal ngga bakal dilakuin. Tipikal orang yang langsung pulang ke kosan, tidur, menunda pekerjaan, melewatkan kesempatan untuk kerja efektif dengan temen-temen lain karena lo berpikir lo bisa ngerjain sendiri dan ga butuh bantuan siapa-siapa padahal sebenernya lo gabisa dan ga mau berusaha untuk bisa” kata Adam
Rian terdiam. Rian takut dan benci situasi ini. Situasi menjadi pusat perhatian apalagi dalam hal negatif. Tapi bukan hanya karena situasi yang dia benci, Rian juga terdiam karena apa yang Adam katakan tidak salah.
“Lo harus ubah perilaku lo kalo lo mau kuliah disini. Gabisa apatis dan sok bisa kayak gitu. Lo gabisa-”
“SATGAS SATGAS” Tiba tiba semua perhatian teralihkan ke salah satu mahasiswi yang tumbang.
Semua kakak tingkat berlarian menuju sumber suara untuk memastikan kondisi masih terkoordinir.
“Mimisan dam, kesana dulu” kata Harry mengajak Adam untuk mendekati sumber kericuhan: mahasiswi yang pingsan dalam kondisi mimisan.
“Balik ke tempat lo Rian” perintah Adam kepada Rian.
“Makasih kak” kata Rian segera menuju tempat duduknya.
Thanks to whoever you are yang udah ngalihin perhatian mereka dari gue batin Rian.
—----------