

Udara malam di koridor kos itu terasa lebih berat dari biasanya. Padahal, pendingin ruangan di lobi kecil baru saja diperbaiki. Maya, salah satu penghuni baru di kamar nomor 12, meremas ujung blus tipisnya. Di depannya berdiri sebuah pintu kayu jati besar dengan ukiran kuno yang tampak kontras dengan bangunan modern di sekitarnya.
Kamar nomor 00. Kamar sang pemilik kos.
Tok... tok...
"Mas Arya? Ini saya, Maya. Mau bayar uang sewa," suara Maya nyaris berbisik, bergetar antara gugup dan keinginan yang sulit ia definisikan.
Pintu terbuka tanpa suara engsel sedikit pun. Wangi kayu cendana bercampur aroma maskulin yang tajam langsung menyeruak, memabukkan indra penciuman Maya. Di sana, berdiri Arya Sailoka Guridan. Ia hanya mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan kulit lehernya yang kecokelatan dan bersih.
"Masuk, Maya. Saya sudah menunggu." Suara Arya berat, bergema rendah di dada Maya.
Maya melangkah masuk. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi beberapa lampu kuning redup dan aroma dupa tipis yang entah kenapa terasa menggairahkan.
"Duduk," perintah Arya pendek. Ia duduk di kursi kerjanya, menatap Maya dengan mata tajam yang seolah bisa menelanjangi rahasia terdalam gadis itu.
"Ini uangnya, Mas. Pas dua juta," kata Maya sambil meletakkan amplop di meja. Tangannya gemetar.
Arya tidak melihat amplop itu. Matanya tetap terkunci pada wajah Maya.
"Kamu tahu kan, Maya? Di kos ini, saya tidak hanya menerima uang."
Maya menelan ludah. "Maksud... maksud Mas Arya?"
Arya bangkit dari kursinya. Gerakannya tenang, seperti predator yang sudah tahu mangsanya tidak akan lari ke mana-mana. Ia berjalan memutar, berhenti tepat di belakang kursi Maya. Ia menunduk, bibirnya berada tepat di samping telinga Maya.
"Ada energi yang tidak tenang di tubuhmu. Kamu tidak bisa tidur sejak pindah ke sini, kan?" bisik Arya. Hawa nafasnya yang hangat membuat bulu kuduk Maya meremang.
"I-iya... saya selalu merasa ada yang memperhatikan."
"Itu saya," sahut Arya jujur, tanpa dosa. Tangannya perlahan turun, menyentuh bahu Maya, lalu jemarinya merayap naik ke tengkuk gadis itu.
"Saya memperhatikan setiap nafasmu dari balik dinding. Kamu punya daya tarik yang... merepotkan."
"Mas Arya nakal ya, suka mengintip," goda Maya memberanikan diri, meski jantungnya berdegup kencang. Ia memutar tubuhnya, kini mereka berhadapan sangat dekat.
Arya tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata, namun cukup untuk membuat lutut siapa pun lemas.
"Saya pemilik tempat ini. Setiap sudut, setiap inci kamar itu, adalah milik saya. Termasuk siapa pun yang ada di dalamnya."
Tangan Arya beralih ke dagu Maya, mengangkatnya sedikit agar mata mereka sejajar.
"Kamu mau tahu kenapa kos ini selalu penuh? Kenapa pria dan wanita di sini betah meski mereka tahu saya 'berbeda'?"
"Kenapa?" bisik Maya parau.
"Karena saya memberikan apa yang tidak bisa diberikan dunia luar," Arya mendekatkan wajahnya. Hidung mereka bers3ntuhan. "Ketenangan... dan pelepasan yang mutlak."
Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berkedip sekali, lalu padam total. Dalam kegelapan, Maya merasakan tangan Arya yang kuat menarik pinggangnya hingga tubuh mereka merapat sempurna. Maya bisa merasakan detak jantung Arya yang tenang, kontras dengan miliknya yang menggila.
"Mas... gelap," rintih Maya, namun tangannya justru mengalung di leher Arya.
"Dalam gelap, indramu yang lain akan lebih tajam, Maya," bisik Arya di ceruk lehernya. Ia memberikan kecupan ringan namun menuntut di sana, membuat Maya memejamkan mata dan mendesah kecil.
"Rasakan itu. Itu bukan sekadar sentuhan. Itu adalah bagian dari diriku yang masuk ke dalam nadimu."
"Mas Arya... pakai ilmu ya?" Maya bertanya di sela nafasnya yang memburu.
Arya terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat jantan dan berbahaya.
"Sebut saja itu karisma duda, sayang. Tapi jika kamu menyebutnya mistik, aku tidak keberatan membuktikannya padamu malam ini."
Tangan Arya mulai bekerja lebih jauh, membuka kancing blus Maya satu per satu dengan ketangkasan yang luar biasa. Setiap sentuhan ujung jarinya terasa seperti sengatan listrik yang membakar.
"Kamar nomor 12 akan terasa sangat sepi malam ini, Maya. Menginaplah di sini. Biar kutunjukkan padamu bagaimana cara 'membayar' sewa yang sebenarnya," bisik Arya tepat di depan bibir Maya sebelum akhirnya menyatukan bibir mereka dalam pagutan yang panas dan penuh dominasi.
Di luar kamar, angin berhembus kencang, menggoyangkan pohon kamboja di halaman kos. Namun di dalam kamar nomor 00, hanya ada suara napas yang menderu dan janji-janji manis yang berbau mistis.
Maya merasa seluruh dunianya seolah tersedot ke dalam pusaran yang diciptakan Arya. P4gutan pria itu tidak kasar, namun penuh otoritas, seolah ia sedang menandai wilayah kekuasaannya. Di sela-sela ci uman yang memabukkan itu, Maya merasakan hawa dingin yang aneh menjalar dari telapak tangan Arya yang kini berada di punggungnya, namun pada saat yang sama, bagian dalam tubuhnya terasa terbakar hebat.
"Mas..." rintih Maya saat Arya melepaskan tautan bibir mereka, memberikan ruang bagi Maya untuk menghirup oksigen yang terasa menipis.
"Kenapa tangan Mas... dingin sekali?"
Arya menjauhkan wajahnya sedikit, hanya beberapa sentimeter, sehingga Maya bisa melihat kilat aneh di mata pria itu meskipun dalam kegelapan.
"Dingin? Itu hanya persepsimu, Maya. Tubuh manusia bereaksi beda saat berhadapan dengan sesuatu yang... tidak sepenuhnya mereka pahami."
Arya kemudian menggendong Maya dengan sekali sentakan, membawanya menuju tempat tidur besar yang berada di sudut ruangan. Begitu tubuhnya menyentuh kasur, Maya merasakan kelembutan kain sutra yang menyejukkan, namun suasana mistis di kamar itu kian pekat.
"Dengar, Maya," Arya berbisik sambil merangkak naik ke atas tubuhnya, menumpu berat badannya dengan kedua tangan.
"Di kos ini, ada aturan tak tertulis. Apa yang terjadi di dalam kamar nomor 00, tidak akan pernah dibawa keluar pintu jati itu. Mengerti?"
Maya mengangguk pelan, jemarinya kini sibuk menelusuri otot-otot dada Arya yang keras di balik kemeja hitam yang kini sudah terbuka lebar.
"Termasuk soal Mas Arya yang... punya daya tarik aneh ini?"
Arya terkekeh, suara baritonnya terasa bergetar di dada Maya.
"Daya tarik itu berkah sekaligus kutukan. Kamu pikir kenapa penghuni pria di sini, seperti si Kevin atau Doni, selalu tunduk padaku? Mereka bukan takut, mereka terpesona. Mereka ingin menjadi sepertiku, meski mereka tidak akan pernah bisa."
"Dan penghuni wanitanya?" pancing Maya, tangannya kini berani menarik rambut hitam Arya yang tertata rapi.
"Mereka?" Arya mendekatkan wajahnya ke perut Maya, menci um kulit halus itu dengan gerakan yang sangat provokatif.
"Mereka hanya ingin memiliki sedikit saja dari 'kekuatan' ini. Seperti yang sedang kamu lakukan sekarang."
Tiba-tiba, suara ketukan pintu kembali terdengar. Tok... tok... tok... Kali ini lebih keras dan terkesan terburu-buru.
"Mas Arya! Mas, ini Doni dari kamar 05. Maaf ganggu malam-malam, tapi lampu kamar saya mati lagi dan saya merasa... ada yang tidak beres di pojokan kamar," suara Doni terdengar gemetar dari balik pintu jati.
Arya menghentikan gerakannya. Ia menghela nafas panjang, tampak sedikit terganggu namun tidak terkejut. Ia menatap Maya yang terlihat kecewa, lalu tersenyum nakal.
"Tunggu di sini. Jangan beranjak sedikit pun," perintah Arya.
Ia bangkit, merapikan kemejanya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa, lalu berjalan menuju pintu. Saat pintu dibuka sedikit, cahaya dari koridor masuk, memperlihatkan sosok Doni yang pucat pasi.
"Doni, sudah kubilang kan? Jangan terlalu sering melamun di jam segini. Energi negatif itu datang karena kamu mengundangnya," suara Arya terdengar dingin dan berwibawa.
"Tapi Mas, saya dengar suara perempuan tertawa di kamar mandi saya," bisik Doni ketakutan.
Arya meletakkan tangannya di bahu Doni. Maya melihat dari kejauhan bagaimana Doni seketika menjadi tenang, bahunya yang tegang langsung merosot rileks hanya dengan satu sentuhan Arya.
"Kembalilah ke kamarmu. Tidur. Jangan nyalakan lampu sampai pagi. Aku akan 'mengurusnya' dari sini," ucap Arya tegas.
"Baik, Mas... terima kasih. Maaf mengganggu waktunya," Doni membungkuk hormat, seolah Arya adalah seorang raja, lalu berbalik pergi dengan langkah lunglai seperti orang yang sedang terhipnotis.
Arya menutup kembali pintu jatinya dan menguncinya. Ia berbalik menatap Maya yang masih terbaring di tempat tidur dengan pakaian setengah terbuka.
"Ada yang diganggu makhluk halus, Mas?" tanya Maya penasaran.
Arya berjalan kembali mendekat, kali ini ia melepaskan kemejanya sepenuhnya, memperlihatkan tato berbentuk aksara kuno di punggungnya yang tampak seolah bisa bergerak dalam keremangan.
"Bukan makhluk halus, Maya. Hanya imajinasi orang-orang yang terlalu haus akan perhatian. Tapi sekarang..." Arya kembali mendarat di atas tubuh Maya, mengunci kedua tangan gadis itu di atas kepala. "...perhatianku hanya untukmu. Sampai fajar tiba, dan sampai kamu memohon padaku untuk berhenti."
"Aku tidak akan memohon untuk berhenti, Mas Arya," tantang Maya dengan suara serak.
"Oh ya? Kita lihat seberapa kuat kamu menghadapi 'misteri' yang sebenarnya," bisik Arya sebelum kembali membenamkan wajahnya di leher Maya, memulai babak baru yang jauh lebih panas dan liar di malam yang sunyi itu.
Next...