

Malam singgah perlahan di pesantren kecil itu, seperti kain gelap yang dibentangkan tanpa suara. Tanpa aba-aba.
Tidak ada gemuruh.
Hanya perubahan cahaya yang pelan-pelan menghilang dari langit, digantikan warna jingga kusam yang kemudian larut menjadi hitam.
Pesantren itu berdiri jauh dari jalan besar. Terlalu jauh untuk disebut terisolasi, tapi cukup terpencil untuk dilupakan. Orang-orang menyebutnya Pesantren Al-Ma’wa. Nama yang terdengar sederhana, seolah memang diciptakan hanya untuk mereka yang sedang berhenti sejenak dalam hidupnya.
Di sanalah Arga duduk bersila, di serambi Musholla yang menghadap langsung ke pemakaman.
Lampu minyak tergantung rendah di salah satu tiang kayu. Api kecilnya bergetar, memantulkan bayangan panjang di lantai semen yang dingin. Bau minyak tanah bercampur dengan aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Angin berembus pelan, cukup untuk membuat ujung sarung Arga bergerak sedikit.
Arga menundukkan kepala.
Tasbih kayu di tangannya bergerak perlahan, butiran demi butiran disentuh dengan jemari yang sudah terbiasa. Gerakannya tenang, hampir mekanis, tapi tidak kosong.
Setiap sentuhan punya niat.
Setiap niat punya doa.
“Allahumma-ghfir lahu, warhamhu, wa ‘afihi, wa’fu ‘anhu…”
Suaranya lirih. Tidak menggema. Tidak juga ditujukan untuk siapa pun yang mendengar. Di pesantren ini, doa tidak perlu keras untuk sampai. Malam sudah terlalu akrab dengan bisikan.
Di kejauhan, pepohonan di tepi makam bergoyang perlahan. Daun-daunnya saling beradu, menimbulkan suara gesek yang lembut. Alih-alih menakutkan, ini cukup untuk mengingatkan bahwa dunia tidak pernah benar-benar diam.
Bagi orang lain, mungkin ini malam biasa.
Tapi bagi Arga, malam selalu punya lapisan lain.
Ia tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa ia tidak sendirian.
Perasaan itu datang seperti embun. Dingin, halus, dan tiba-tiba sudah ada.
Bukan rasa takut.
Arga sudah lama berdamai dengan itu. Lebih seperti… kehadiran. Seolah ruang di sekitarnya dipenuhi sesuatu yang tak kasatmata, tapi nyata.
Arga menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Tenang,” bisiknya, entah pada dirinya sendiri atau pada sesuatu di luar dirinya. “Aku sedang berdoa.”
Ia tidak tahu sejak kapan tepatnya semua ini dimulai. Ingatannya tentang masa kecil selalu samar di bagian itu, seperti ada tirai tipis yang menutup sebagian kenangan. Hal yang ia ingat dengan jelas tentang malam pertama ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat anak kecil.
Waktu itu ia baru tujuh tahun.
Ibunya menggenggam tangannya erat di tepi makam ayahnya. Tanah masih merah basah, nisan masih bersih. Orang-orang membaca doa dengan suara pelan, sementara Arga berdiri mematung. Bukan karena sedih, melainkan karena ia melihat ayahnya berdiri di sisi lain makam.
Diam.
Menatapnya.
Arga yang masih terlalu kecil untuk memahami kehilangan sepenuhnya. Raut wajah ayahnya tidak menakutkan, tapi terlihat lelah. Seolah ada kalimat yang ingin disampaikan, tapi tidak sempat diucapkan.
Sejak malam itu, Arga mulai mengetahui dunia yang ternyata tidak sesederhana yang diajarkan di buku.
Dan sejak itu pula, malam tak pernah benar-benar sunyi baginya.
Tasbih di tangannya berhenti di butiran terakhir. Arga menutup doa dengan pelan, lalu tetap duduk tanpa bergerak. Ia membiarkan keheningan malam yang penuh menelannya.
Di hadapannya, terpampang jelas pagar bambu yang memisahkan pesantren dan pemakaman berdiri miring, beberapa batangnya sudah patah dan diganti seadanya. Tidak ada gerbang megah dan batas yang kokoh. Seolah pesantren dan makam memang sengaja dibiarkan berdampingan antara hidup dan mati saling menyapa tanpa sekat berlebihan.
Arga membuka mata.
Pandangannya menyapu nisan-nisan yang berdiri tak beraturan. Ada yang masih jelas tulisannya. Ada yang sudah luntur dimakan hujan dan waktu. Dan ada pula yang hanya berupa batu kecil tanpa nama.
Di antara nisan-nisan itu, ia melihat sesuatu.
Siluet putih.
Remang-remang. Tidak bercahaya seperti dalam cerita-cerita orang. Hanya berbentuk samar, berdiri diam di dekat pohon kamboja tua. Diam mematung, tidak mendekat, tidak juga menghilang.
Arga tidak langsung berdiri. Ia sudah belajar bahwa tergesa hanya akan memperkeruh keadaan.
Sebagian dari mereka juga tidak suka dikejutkan.
“Belum,” ucap Arga pelan. “Aku belum selesai.”
Siluet itu tidak bergerak. Tapi perasaan di dada Arga menguat. Seperti seseorang yang menunggu giliran bicara.
Ia akhirnya memutuskan untuk berdiri, melangkah turun dari serambi. Kakinya menyentuh tanah yang lembap. Sandalnya sedikit berdecit. Setiap langkah pasti bukan karena takut, tapi karena perasaan menghormati.
Arga berhenti beberapa langkah dari pagar bambu.
“Kalau ingin didoakan,” katanya lembut, “tunggu sebentar.”
Ia berbalik menuju ruang kecil di belakang musala. Ruangan itu sempit, hanya cukup untuk beberapa rak kayu dan sebuah meja rendah. Di sinilah kain kafan disimpan. Digulung rapi, dibungkus kain tipis agar tetap bersih.
Begitu pintu kayu dibuka, aroma khas itu langsung menyambutnya. Aroma kain bersih, kapur barus, dan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bau yang selalu membuat orang lain menahan napas, tapi bagi Arga terasa seperti pulang.
Ia mengambil satu gulungan kain kafan.
Tangannya sedikit berhenti.
Entah kenapa, dadanya terasa lebih berat dari biasanya. Seperti ada beban tak terlihat yang menekan perlahan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri.
“Ini cuma malam biasa,” gumamnya. “Jangan berlebihan.”
Namun perasaan itu tidak pergi.
Bukan ketakutan.
Bukan juga kehadiran arwah yang menuntut doa.
Melainkan sesuatu yang asing.
Saat Arga kembali ke serambi, siluet putih itu masih ada. Tapi kini terasa berbeda. Lebih dekat. Bukan secara jarak, tapi secara… emosi.
Arga duduk kembali, meletakkan kain kafan di sampingnya. Ia tidak langsung mulai berdoa. Ia menunggu.
Dan di antara hening yang menebal, perasaan itu akhirnya menemukan namanya.
Rindu.
Arga terdiam.
Ia tidak tahu rindu pada siapa. Ia tidak merasa kehilangan siapa pun. Tidak ada wajah yang terlintas jelas di kepalanya. Hanya rasa sesak yang lembut, seperti ingin memanggil seseorang tapi lupa namanya.
Rindu yang tidak punya alamat.
Lampu minyak kembali bergetar, bayangannya menari di dinding musala. Angin membawa suara dedaunan dari makam. Malam terus berjalan, tanpa peduli pada kebingungan seorang manusia yang duduk di antara hidup dan mati.
Arga menunduk, memejamkan mata, dan akhirnya berdoa lagi.
Namun malam ini, doanya terasa berbeda.
Seolah bukan hanya ia yang sedang memohon.
Seolah ada doa lain yang ikut menumpang di suaranya.
Angin malam berembus sedikit lebih kencang, membuat nyala lampu minyak bergoyang tidak stabil. Bayangan Arga di dinding musala memanjang lalu memendek, seolah ikut bernapas bersama cahayanya. Ia duduk diam, kedua tangannya bertumpu di pangkuan, tasbih kini tergeletak tanpa disentuh.
Rindu itu tak kunjung pergi.
Ia menetap. Tidak mendesak, tapi juga tidak memberi ruang untuk diabaikan. Rasanya seperti berdiri di ambang pintu yang tidak masuk, tidak pula pergi.
Arga membuka mata perlahan.
Siluet putih di dekat pohon kamboja kini tampak lebih jelas. Bukan dari rupa wajahnya, melainkan postur tubuhnya. Tegak, tapi lelah. Seperti seseorang yang terlalu lama menunggu.
“Kalau kau ingin ku doakan,” ucap Arga lagi, lebih pelan dari sebelumnya, “aku akan berdoa.”
Tidak ada jawaban tapi dada Arga menghangat, seperti disentuh sesuatu yang tak kasatmata. Ia menelan ludah.
Ada jenis kehadiran yang menuntut.
Ada pula yang memohon.
Dan yang ini… berbeda.
Arga meraih tasbihnya kembali. Jemarinya bergerak, satu butir demi satu. Namun kali ini, doanya terhenti di tengah jalan. Kata-kata yang biasanya mengalir begitu saja mendadak terasa berat, seolah ada yang mengganjal di ujung lidahnya.
Ia mengernyit.
“Kenapa?” bisiknya, hampir tidak terdengar.
Malam tetap tidak menjawab, hanya mengubah berubah. Udara di sekitarnya terasa lebih rapat, seolah ruang itu mengecil, memusatkan perhatian pada satu titik pada dirinya.
Arga menutup mata.
Di balik kelopak matanya, sebuah bayangan muncul. Bukan wajah utuh, hanya potongan-potongan ujung kain yang bergerak pelan, suara napas tertahan, dan sepasang mata yang tidak menatap lurus, seolah menyimpan sesuatu yang terlalu berat untuk diungkapkan.
Arga tersentak kecil.
Ia jarang—bahkan hampir tidak pernah—melihat gambaran sejelas ini. Biasanya kehadiran hanya berupa rasa. Kali ini, ada bentuk. Ada emosi.
“Ini bukan caranya,” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri. “Aku bukan tempatmu.”
Namun kalimat itu terdengar kosong, bahkan bagi telinganya sendiri.
Ia menarik napas panjang, lalu berdiri. Kakinya melangkah pelan menuju pagar bambu. Tanah lembap menempel di telapak sandalnya. Setiap langkah terasa seperti mendekati sesuatu yang belum siap ia pahami.
Saat jaraknya tinggal beberapa langkah dari pagar, siluet itu akhirnya bergerak.
Ia hanya… menunduk.
Gerakan sederhana itu membuat dada Arga bergetar. Ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya, seperti tembok yang selama ini ia bangun tanpa sadar.
“Jangan,” ucap Arga cepat. “Aku… aku tidak tahu caranya.”
Ia berhenti. Tangannya mencengkeram pagar bambu. Kayunya kasar, serpihannya menusuk kulit, tapi Arga tidak melepaskan. Ia butuh sesuatu yang nyata untuk dipegang.
“Aku hanya bisa mendoakan,” lanjutnya, suaranya bergetar tipis. “Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa.”
Keheningan menjawabnya.
Namun kali ini, Arga merasa bahwa kehadiran itu mendengarkan.
Ia menghela napas panjang, lalu akhirnya melangkah mundur. Alih-alih merasa takut, melainkan karena ia tahu batas. Pesantren mengajarkannya banyak hal, tapi yang paling penting adalah tidak semua yang bisa disentuh harus didekati.
Arga kembali duduk di serambi. Kain kafan masih tergeletak di sampingnya, putih dan tenang, seolah tidak peduli pada pergolakan batin manusia di sebelahnya.
Ia memandang kain itu lama.
“Kau tahu,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri, “kafan selalu jujur. Ia tidak pernah berpura-pura bahwa semuanya akan baik-baik saja.”
Ia tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip kelelahan.
“Kau membungkus seseorang, lalu melepasnya. Selesai.”
Malam tetap diam. Tapi rindu itu berdenyut, seolah menolak kesederhanaan kalimatnya.
Arga memejamkan mata lagi, mencoba kembali ke doanya. Kali ini, ia tidak membaca doa khusus. Ia hanya berbicara.
“Kalau kau masih di sini,” katanya dalam hati, “aku harap kau tidak sendirian.”
Kalimat itu membuat dadanya sesak. Ia tidak tahu kenapa ia mengucapkannya. Ia bahkan tidak tahu kepada siapa ia berbicara. Tapi begitu kata-kata itu terlintas, sesuatu di sekitarnya terasa… lebih ringan.
Seperti beban yang dibagi dua.
Angin kembali berembus, lebih lembut kali ini. Daun-daun kamboja bergesekan, menurunkan satu bunga putih yang jatuh perlahan ke tanah makam.
Arga membuka mata tepat saat siluet putih itu mulai memudar. Tidak hilang seketika, hanya menjadi semakin samar, seperti kabut yang terseret cahaya pagi. Tidak ada rasa kehilangan. Hanya perasaan ganjil, seolah sebuah percakapan baru saja dimulai dan dihentikan sebelum selesai.
Arga menatap tempat itu lama, sampai ia yakin tidak ada apa pun lagi di sana.
Malam kembali seperti semula. Sunyi. Tenang. Tapi tidak kosong.
Ia menghela napas, lalu mengangkat kain kafan itu. Tangannya merapikannya kembali, memastikan lipatannya sempurna. Gerakan kecil yang ia lakukan dengan penuh perhatian, seperti sedang merawat sesuatu yang rapuh.
Saat ia berdiri untuk menyimpan kembali kain itu, langkah kaki terdengar dari arah dalam pesantren.
“Arga?”