

"Aku yakin malam ini Naila akan merengek meminta ampun dariku," kata Zaen sambil menatap obat kuat yang direkomendasikan temannya.
Mobil terparkir di garasi rumahnya, ia lekas keluar dan masuk ke dalam rumah. Kata temannya, obat ini akan membuat pasangan akan terus meminta lebih dan bertahan lama, ia berharap Naila akan seperti itu. Dia melangkah masuk ke kamar dan melihat Naila duduk di tepi ranjang dengan rambut setengah basah. Ia baru selesai mandi.
Zaen melangkah mendekat pelan seperti orang yang mencoba tidak membuat suara. Ia duduk di samping Naila, lalu menatap wajah istrinya. Zaen mengangkat tangannya, menyentuh ujung rambut Naila yang menempel di leher.
"Naila," panggilnya.
Naila menoleh, sekilas saja. Zaen lalu memberanikan diri. Ia meraih pinggang Naila, menariknya ke dalam pelukan, ciumannya jatuh pelan di pelipis lalu di pipi. Namun, tubuh Naila menegang. Zaen langsung merasakannya. Ia menghentikan gerakannya, tapi tangannya masih berada di pinggang Naila. Sejenak ia menunggu reaksi istrinya, tapi yang keluar justru kata-kata yang sudah terlalu sering ia dengar setahun terakhir.
"Jangan, Zaen," kata Naila.
Zaen menelan ludah. Rahangnya mengeras, bukan karena marah, tapi karena rasa sakit yang semakin sulit ia sembunyikan.
"Kita sudah lama ngga ngelakuin itu. Aku kangen kamu."
Naila tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai, seolah ada sesuatu yang lebih penting di sana daripada wajah suaminya. Zaen menarik tangannya perlahan dan mundur setengah langkah, ia membenci dirinya sendiri karena masih berharap.
"Kenapa? Kalau kamu nggak mau setidaknya bilang alasannya," kata Zaen.
Naila hanya diam tidak mau menjawab,
"Kamu selalu bilang jangan, aku cuma mau tahu, sampai kapan?" tanya Zaen.
Naila menarik jubah tidurnya lebih rapat. "Aku capek."
Zaen tersenyum pahit. "Kamu selalu capek, tapi kamu nggak pernah capek untuk orang lain."
Naila menoleh tajam. "Apa maksudmu?"
Zaen belum sempat menjawab ketika ponsel Naila bergetar. Nama yang muncul membuat Zaen tidak perlu menebak.
Randy.
Naila langsung mengambil ponsel itu. Ia menjauh dua langkah, bersandar ke dinding.
"Halo," ucap Naila dengan suara yang tidak pernah lagi Zaen dengar ditujukan padanya.
Zaen berdiri diam, ia tidak pergi. Ia ingin tahu sejauh apa rasa tidak dihargai itu bisa melukai hatinya sebagai seorang suami.
"Iya, aku belum tidur, kamu bagaimana?" lanjut Naila.
Zaen memalingkan wajah dan menatap lantai. Ia merasa seperti orang asing di depan istrinya sendiri.
"Aku khawatir, suaramu agak serak. Apa kamu sakit? Kamu jangan telat makan, aku tahu kamu suka lupa makan kalau kerja," kata Naila.
Zaen menutup mata, kalimat itu dulu sering Naila ucapkan padanya.
"Iya, aku juga kangen," lanjut Naila.
Zaen menunduk. Ia tidak ingin mendengar, tapi telinganya tidak bisa menutup. Naila tertawa kecil yang mengingatkan Zaen pada masa-masa mereka baru menikah. Saat Naila memeluknya dari belakang ketika ia membuat kopi, lalu menempelkan dagu di bahunya kemudian berkata ia ingin hidup seperti itu selamanya. Kini tawa itu bukan untuknya.
Telepon ditutup beberapa menit kemudian. Naila kembali ke wastafel, seolah tidak ada yang terjadi.
Zaen menatapnya. "Kamu lebih hangat ke dia daripada ke suamimu sendiri."
Naila menghela napas. "Jangan mulai lagi."
Zaen tertawa pendek. "Aku tidak mulai apa-apa. Ini sudah lama terjadi."
Naila tidak menjawab. Ia mematikan lampu kamar mandi dan berjalan kembali ke ranjang dan membaringkan diri dengan punggung menghadap Zaen. Zaen berdiri lama di tengah kamar.
Setahun, sudah setahun ia tidur di ranjang yang sama, tapi merasa sendirian. Zaen masih ingat betul bagaimana ia bisa menikah dengan Naila. Mereka menikah bukan karena paksaan dan bukan karena perjodohan. Mereka saling mencintai. Setidaknya, Zaen yakin demikian. Naila memilihnya meski keluarganya tidak sepenuhnya setuju. Naila berdiri di depan ayahnya dan berkata ia ingin hidup dengan Zaen.
Masalah muncul pelan-pelan, nyaris tidak terasa. Pertanyaan tentang anak datang sebagai candaan lalu berubah menjadi tekanan dan setahun lalu, ayah Naila yaitu Bram memberikan tenggat waktu bagi mereka untuk memberikan cucu kepada beliau.
Zaen menyanggupi permintaan ayah mertuanya dan ia yakin jika mereka akan berjuang bersama. Ia bahkan mengusulkan pemeriksaan, program medis, apa pun. Ia juga seorang dokter dan tentunya tahu prosesnya tidak selalu instan. Namun yang ia tidak tahu, perjuangan itu hanya ada di kepalanya karena sejak tenggat itu ditetapkan, Naila berubah menjadi perempuan yang tidak ingin disentuhnya sama sekali.
Zaen berdiri di tengah kamar, sementara Naila sudah kembali ke ranjang, membaringkan tubuhnya membelakangi sang suami.
Zaen menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak, tapi ia memaksa suaranya tetap rendah.
"Naila sekali ini saja," katanya.
Naila tidak bergerak, Zaen melangkah mendekat. Tangannya gemetar saat ia meraih laci meja samping ranjang. Ia membukanya, lalu mengeluarkan satu benda kecil dari dalam saku celananya. Kotak obat berwarna gelap. Ia menaruhnya di atas meja seolah sengaja agar Naila bisa melihat.
"Aku sudah beli ini," ucapnya lirih. "Obat kuat."
Naila akhirnya bergerak. Ia menoleh setengah badan, matanya langsung tertuju pada kotak itu, bukan terkejut melainkan terganggu.
"Untuk apa?" tanyanya dingin.
"Supaya aku bisa bertahan lebih lama dan supaya kamu tidak merasa kecewa."
Kalimat itu keluar dengan susah payah, seolah setiap kata merobek harga diri yang selama ini ia jaga. Ia dokter, ia tahu tubuhnya baik-baik saja, tapi ia juga tahu di hadapan Naila dan keluarganya logika tidak lagi berarti apa pun.
"Aku cuma mau satu kesempatan, satu malam saja. Tolong!" pinta Zaen.
Naila menatapnya beberapa detik.
"Kamu tidak perlu melakukan itu," katanya.
"Kenapa?" Zaen mendekat satu langkah. "Kita suami istri dan ini seharusnya normal."
Naila duduk, menyilangkan tangan di dada. "Aku nggak mau."
"Ngga mau karena aku?" tanya Zaen.
Naila menghela napas, jelas mulai kesal. "Zaen, jangan mulai."
"Jawab aku! Kenapa kamu berubah seperti ini? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"
Naila menoleh ke arah lain. "Nggak."
"Kalau bukan aku, apa karena Randy?"
Naila langsung menoleh. "Jaga kata-katamu."
Zaen tertawa getir. "Kamu mengangkat teleponnya tengah malam, bicara lembut dan tertawa, tapi ke aku kamu bahkan nggak mau disentuh. Menurutmu aku harus berpikir apa?"
"Randy hanya teman, teman lama."
Zaen mengangguk pelan. "Teman lama yang lebih kamu percaya daripada suamimu sendiri."
"Itu nggak benar, kamu yang berlebihan," bantah Naila
"Kalau memang hanya teman, kenapa aku merasa seperti orang ketiga di rumah ini?" tanya Zaen sambil memejamkan mata sesaat.
"Aku capek, Zaen. Aku nggak mau bahas ini lagi."
Ia meraih selimut, membaringkan diri kembali, kali ini lebih tegas memunggungi Zaen.
"Kamu mau tidur begitu saja?" tanya Zaen.
"Iya."
Zaen berdiri lama. Ia menatap punggung istrinya, berharap Naila akan berbalik mengatakan ia hanya takut dan hanya bingung, tapi tidak ada.
"Naila," panggilnya sekali lagi.
Naila menarik selimut lebih tinggi. "Besok malam kita makan bersama keluarga besar! Jangan lupa."
Zaen mengernyit. "Kenapa mendadak?"
"Bukan mendadak, Ayah sudah menjadwalkannya."
Zaen merasa jantungnya berdetak lebih cepat. "Makan malam biasa?"
Naila diam beberapa detik, lalu berkata, "Ya. Makan malam."
Tapi nada suaranya tidak meyakinkan.
Zaen menatap langit-langit kamar. Ia tahu betul keluarga besar Naila tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan dan makan malam, bagi mereka, jarang sekali hanya soal makanan.
Naila sudah memejamkan mata. "Matikan lampu," katanya.
Zaen tidak bergerak. Ia menatap kotak obat di atas meja, lalu menatap Naila yang kini berpura-pura tidur. Ada rasa pahit terasa di dadanya, bukan karena ditolak, tapi karena merasa tidak lagi diinginkan.
***
Acara makan malam akhirnya tiba, Zaen duduk di kursinya dan di sampingnya, Naila tampak tenang, wajahnya dipoles sempurna, senyumnya tipis setiap kali menyapa anggota keluarga yang datang.
Randy sudah ada di sana, ia duduk di seberang meja, berbincang ringan dengan salah satu paman Naila. Sikapnya sopan, gesturnya santai, seperti seseorang yang tahu persis tempatnya di ruangan itu. Sesekali, pandangannya bertemu dengan Naila.
Makan malam dimulai tanpa banyak basa-basi. Zaen nyaris tidak menyentuh makanannya. Ia tahu, ini bukan soal hidangan. Ketika hidangan utama hampir selesai, ayah Naila yaitu Bram meletakkan sendoknya perlahan. Suara kecil itu langsung membuat meja menjadi hening.
"Sudah satu tahun seperti yang kita sepakati."
Zaen mengangkat kepala, ia tahu kalimat itu akan datang.
"Naila belum hamil dan keluarga ini tidak bisa menunggu lebih lama."
Zaen menarik napas. "Ayah, soal anak tidak bisa..."
"Cukup! Aku sudah memberi waktu satu tahun penuh."
Zaen menoleh ke arah Naila. "Naila, katakan sesuatu."
Naila menunduk, jari-jarinya saling bertaut di pangkuan. "Aku sudah berusaha."
Bram kembali bersuara. "Karena itu, aku akan mengambil keputusan, kamu akan menceraikan Naila dan Naila akan menikah dengan Randy."