

Alvaro. Sebuah nama yang dipilihkan sang kakek dengan penuh pertimbangan. Dalam bahasa asalnya, nama itu berarti "Pelindung yang Bijak."
Kakek Damar memberikan nama itu bukan tanpa alasan. Ia menaruh harapan besar agar Alvaro kelak bisa menjadi benteng bagi keluarganya—menambal lubang menganga yang ditinggalkan oleh kedua orang tua mereka yang pergi entah ke mana, seolah menganggap anak-anak mereka hanyalah beban yang bisa dibuang begitu saja.
Kini, di usianya yang ke-19, Alvaro memikul beban yang terlalu berat untuk pundak remaja sebayanya. Sambil mengenakan seragam SMA kelas 3, ia harus membagi waktu antara buku pelajaran dan keringat kerja serabutan.
Alvaro yang sekarang dikenal sebagai pemuda yang tenang dan rendah hati. Namun, bayang-bayang masa lalunya tak seindah itu. Dulu, ia adalah pemberontak. Tanpa kasih sayang orang tua, Alvaro mencari pelarian di jalanan, sering bolos, dan jarang pulang ke rumah yang baginya terasa hampa.
Hanya satu orang yang tidak pernah menyerah padanya: Kakek Damar.
"Al, kemarin Kakek dapat telepon lagi. Katanya kamu ikut tawuran di pasar?" Kakek Damar menatap cucu tertuanya itu. Matanya yang mulai mengeruh tertutup katarak menyimpan kesedihan yang jauh lebih tajam daripada amarah.
Alvaro hanya menunduk, meremas jemarinya. Di hadapan pria tua yang sudah renta itu, lidahnya yang biasanya tajam mendadak kelu. Ia tak sanggup membantah.
Sang kakek menghela napas berat, tangannya yang gemetar menyentuh bahu Alvaro. "Kakek tahu kamu marah, Al. Kamu benci keadaan ini, kamu benci orang tuamu. Tapi ingat satu hal... jangan jadi seperti mereka. Kalau kamu hancur, siapa yang akan menjaga adik-adikmu?"
Pria tua itu berbalik, langkahnya terseret-seret saat meninggalkan ruang tamu yang remang.
"Kakek tidak akan selamanya ada di sini, Al. Tolong, mulailah mengerti."
Kalimat sederhana itu menghantam ulu hati Alvaro. Sejak hari itu, ia perlahan memangkas pergaulan liarnya. Ia mulai pulang lebih awal. Namun, tepat saat ia mencoba memperbaiki segalanya, takdir justru memukulnya lebih keras.
Berita itu datang bak petir di siang bolong. Alvaro berlari sekuat tenaga, mengabaikan napasnya yang sesak, menuju rumah sederhana mereka.
"Kakek! Tidak mungkin!"
Halaman rumahnya sudah ramai oleh warga. Bendera kuning belum terpasang, tapi suasana duka sudah menyergap udara.
"Yang sabar, Al," ucap Pak RT sambil menepuk pundaknya. "Tadi adik-adikmu teriak histeris. Kakekmu jatuh di kamar mandi. Saat warga datang untuk menolong, beliau sudah tidak ada."
Dunia Alvaro seolah runtuh. Ia menggertakkan gigi, mencoba menahan tangis yang mendesak keluar, namun setetes air mata jatuh juga.
"Hiks... Kek... maafin Al..." Ia ambruk, berlutut di tanah sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Rasa bersalah menghujamnya telak. Ia menyesal karena baru sekarang ia memilih untuk sering di rumah, tepat di saat kakeknya sudah tidak bisa lagi melihat perubahannya.
"KAK AL! Kakek nggak bangun-bangun! Kenapa Kak?!"
Suara tangis melengking itu datang dari Aldo, adik pertamanya. Bocah itu berlari dan memeluk Alvaro erat. Di belakangnya, Amelia, sang adik bungsu, berdiri mematung dengan mata sembab.
Alvaro mengangkat wajahnya yang basah. Ia melihat ketakutan yang murni di mata adik-adiknya. Dengan sisa tenaganya, ia merengkuh mereka berdua.
"Sini, Lia... Maafin Kakak, ya. Kakak jarang pulang, jarang main sama kalian." Alvaro merentangkan tangan, mengundang adik perempuannya.
Amelia sempat ragu. Baginya, Alvaro adalah sosok kakak yang asing dan pemarah. Namun, melihat kerapuhan di mata kakaknya sekarang, pertahanannya runtuh. Ia berlari masuk ke dekapan Alvaro.
"Lia takut! Kenapa Kakak baru pulang sekarang? Kakek jatuh dan nggak mau bangun! Ini semua salah Kak Al!" Amelia memukul-mukul dada Alvaro dengan kepalan tangan kecilnya.
Alvaro tidak menghindar. Ia justru mengeratkan pelukannya, membiarkan setiap pukulan itu menjadi penebus dosanya. Ia berjanji dalam hati, di depan jasad kakeknya, ia tidak akan membiarkan mereka sendirian lagi.
Setelah pemakaman usai dan para pelayat kembali ke rumah masing-masing, rumah itu terasa sunyi mencekam. Alvaro menyelimuti kedua adiknya hingga mereka terlelap karena kelelahan menangis.
Langkahnya kemudian terayun menuju kamar sang kakek. Bau minyak kayu putih dan tembakau lintingan masih tertinggal di sana. Di atas meja kayu yang usang, terselip sebuah amplop putih.
"Al, kalau kamu baca ini, berarti Kakek sudah pergi..."
Alvaro membaca baris demi baris surat itu dengan tangan gemetar. Kakeknya ternyata sudah lama mengidap penyakit jantung. Ia memilih bungkam, tak ingin membebani cucunya dengan biaya rumah sakit yang selangit, meski ada layanan BPJS sekalipun.
"Jangan menyerah pada hidup, Al. Hidup memang keras, tapi kamu lebih keras dari itu. Kakek tahu kamu merasa tidak pantas lahir ke dunia ini karena ditinggalkan orang tuamu. Tapi dengarkan Kakek: Yang tidak pantas itu mereka! Mereka yang tidak pantas memiliki anak sehebat kamu. Lindungi keluargamu, Alvaro. Jadilah pelindung yang bijak."
Alvaro meremas surat itu, tangisnya pecah tanpa suara. Ia memukul tembok kamar dengan frustrasi. "Alvaro janji, Kek... Alvaro akan jaga mereka. Makasih untuk semuanya."
Waktu Sekarang: Keputusan di Ujung Tanduk
Dua tahun kemudian.
"Jadi begini, Alvaro..."
Pria paruh baya berkumis tipis itu mengetukkan pulpen ke meja kerjanya. Beliau adalah Kepala Sekolah SMA Harapan Jaya. Di hadapannya, Alvaro duduk dengan wajah kuyu dan lingkaran hitam di bawah mata—tanda ia baru saja pulang dari shift malam di gudang ekspedisi.
"...Absensi kamu sudah lewat batas. Kamu sering bolos dan tidur di kelas. Saya capek menasihati kamu. Sekarang pilihannya cuma dua: lanjut sekolah dengan syarat yang berat, atau berhenti sekarang juga?"
Alvaro terdiam. Ia menatap ke luar jendela, memikirkan tagihan listrik dan biaya sekolah adik-adiknya yang menunggak. Pilihan itu sebenarnya sudah ia ambil sejak lama di dalam kepalanya.
"Saya berhenti saja, Pak," jawab Alvaro datar.
Ia berdiri, menyampirkan tas punggungnya yang sudah pudar warnanya, lalu berbalik tanpa menunggu jawaban.
"Kamu serius?! Al! Hei! Dasar anak keras kepala!" teriakan kepala sekolah itu hanya dianggap angin lalu.
Saat ia berjalan melewati koridor sekolah, bisik-bisik miring mulai terdengar. Di ujung jalan, langkahnya terhenti. Sesosok remaja dengan seragam necis dan gaya angkuh menghadangnya.
"Woi, Yatim! Mau ke mana lo? Jarang masuk, sekalinya masuk malah cabut. Mau jadi gembel ya?" Rio, sang perundung sekolah, mendorong bahu Alvaro hingga ia terhuyung.
Alvaro hanya menatap Rio dengan tatapan kosong, seolah pria di depannya hanyalah kerikil kecil. Ia berdiri tegak kembali.
"Aku nggak mau cari ribut, Rio. Mending kamu belajar yang bener selagi masih ada orang tua yang mau bayarin sekolahmu." ucap Alvaro tenang namun menusuk.
Wajah Rio memerah padam. "Si bangsat! Dasar miskin! Bilang aja lo iri sama gue! Dasar sampah nggak punya orang tua!"
Alvaro berhenti melangkah. Ia menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang sarat akan sindiran. Ia tahu kenapa dapat di sebut tidak memiliki orang tua:Karena ke dua orang tuanya tidak pernah ada selama ini.
"Tidak memiliki orang tua jauh lebih baik... daripada memiliki orang tua yang gagal mendidik anaknya sampai jadi sepertimu."
Alvaro kembali berjalan, meninggalkan Rio yang mematung menahan amarah di tengah lapangan, sementara ia melangkah menuju dunia yang jauh lebih kejam di luar gerbang sekolah.