Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kakek Playboy Kembali Ke Zaman Kuno

Kakek Playboy Kembali Ke Zaman Kuno

Kagura | Bersambung
Jumlah kata
59.3K
Popular
907
Subscribe
164
Novel / Kakek Playboy Kembali Ke Zaman Kuno
Kakek Playboy Kembali Ke Zaman Kuno

Kakek Playboy Kembali Ke Zaman Kuno

Kagura| Bersambung
Jumlah Kata
59.3K
Popular
907
Subscribe
164
Sinopsis
18+PerkotaanSupernatural21+Mengubah NasibBadboy
Baskara meninggal saat usia 80 tahun, tapi keajaiban datang dan membuatnya bertransmigrasi ke tahun 1965, Baskara kembali hidup di saat usianya masih 19 tahun. Dengan ingatan masa depan yang ia miliki, kini Baskara ingin mengubah takdirnya sendiri. Agar tak mati mengenaskan, agar kejayaannya tetap berada di tangan dan agar keluarganya tetap utuh. Tapi ketampanan yang Baskara miliki adalah godaan paling susah dia hadapi, benarkah Baskara mampu merubah takdirnya? atau hidupnya hanya berputar-putar di tempat yang sama.
Bab 1

“To-tolong aku, Soraya… aku mohon," ucap Baskara sekuat tenaga, namun tetap saja hasilnya terdengar lirih, hampir tak terdengar di tengah napasnya yang tersengal-sengal.

Tubuh tuanya tergeletak miring di dasar tangga rumah besar yang selama puluhan tahun ia banggakan sebagai simbol kejayaannya. Lantai dingin menempel di pipinya, sementara rasa sakit menjalar dari kaki hingga ke ujung kepala seperti ribuan jarum menusuk tanpa henti.

Bahkan darah hangat pun mengalir dari hidungnya, menetes perlahan menciptakan noda merah gelap di lantai putih yang mengilap. Baskara tergelincir dan tubuhnya menggelinding sepanjang tangga dan kini keadaannya benar-benar mengenaskan.

Tangannya bergetar mencoba meraih sesuatu, lantai, kaki meja atau apapun yang bisa ia jadikan pegangan. Namun jari-jarinya terlalu lemah, tubuhnya terlalu renta hingga setiap gerakan hanya membuat rasa sakit semakin menghantam.

Dan saat ia mengangkat wajah dengan sisa tenaga, yang Baskara lihat adalah mereka. Istri dan anak-anaknya berdiri di depan membentuk lingkaran yang tak satu pun memiliki ekspresi panik.

Tidak ada yang berlari ke arahnya, tidak ada yang berteriak meminta pertolongan. Tidak ada yang berlutut untuk memeluk dan menenangkannya.

Semua orang hanya diam dengan tatapan kosong. Seolah yang tergeletak di hadapan mereka sekarang bukanlah suami dan seorang ayah, melainkan benda usang yang akhirnya rusak.

"Soraya, tolong aku," ucap Baskara, namun kini tak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya. Hanya gerakan semu yang tak akan bisa dipahami oleh semua orang.

Pelayan yang berdiri di sudut ruangan akhirnya memberanikan diri melangkah maju. Wajahnya pucat, suaranya gemetar namun tak bisa diam saja melihat apa yang terjadi sekarang. “Nyonya, sebaiknya kita segera membawa Tuan Baskara ke rumah sakit.”

“Jangan.” Satu kata itu jatuh dengan entengnya, namun berhasil membuat Baskara makin nelangsa.

Pelayan itu tertegun. “T-Tapi, Nyonya_”

“Aku bilang jangan,” ulang Soraya tajam. “Biarkan saja dia di situ.”

Para pelayan saling pandang dengan cemas. Salah satu kembali memberanikan diri untuk buka suara. “Nyonya, jika tuan Baskara tidak segera ditolong kondisi Tuan bisa semakin buruk.”

Namun Soraya tidak mengindahkan ucapan tersebut. Soraya justru melangkah lebih dekat, ia menatap tubuh Baskara yang sudah tak berdaya, namun sungguh sedikitpun dia tidak merasa terenyuh.

“Kamu ingin tahu kenapa aku bisa setega ini padamu, Mas?” suara Soraya kembali terdengar, pelan namun mengisyaratkan banyak luka yang selama ini dia pendam. “Semua ini karena ulahmu sendiri," timpalnya tanpa merasa takut lagi.

Di detik itu Baskara akhirnya benar-benar mengerti bahwa satu-satunya yang ia miliki adalah keluarga. Sementara semua kekayaan, kekuasaan, dan kesenangan yang ia banggakan selama ini tak memberinya satu pun tangan yang mau menolong saat ia sekarat.

Tapi keluarga yang ia miliki pun telah Baskara sakiti bertubi-tubi. Baskara bahkan sampai tak bisa menghitung sebanyak apa dia telah mengkhianati Soraya, memiliki hubungan dengan wanita lain di belakang Sang istri.

Baskara sampai tak bisa mengingat sebanyak apa dia terus meremehkan dan merendahkan semua keluarganya, Soraya dan anak-anak adalah pelampiasan dari semua amarah dan kesombongannya sendiri.

Mengingat semua hal tersebut Baskara ingin sekali bicara dan memohon ampun, namun kini dia sudah tak memiliki daya lagi. Detak jantungnya melemah dan bahkan pandangan Baskara mulai menggelap perlahan.

“Katamu kamu bisa melakukan semuanya sendiri,” lanjut Soraya. “Katamu kamu tidak butuh kami. Katamu kami hanya beban.”

'Aku salah Soraya, aku salah padamu dan anak-anak. Aku mohon maafkan aku, aku mohon,' pinta Baskara, namun sayangnya kini kalimat itu tak mampu dia utarakan secara langsung.

'Aku mohon Soraya, maafkan aku,' pinta Baskara lagi, berharap setidaknya sedikit saja Soraya membaca penyesalan yang ia tunjukkan melalui sorot matanya yang lemah.

Tapi Baskara lupa bahwa rasa sakit yang telah dia ciptakan sudah begitu dahsyatnya, membuat Soraya tak lagi merasakan kasih meski hanya sedikit.

“Jadi sekarang lakukanlah sendiri, Mas. Selamatkan hidupmu sendiri, atau jika bisa mintalah bantuan pada samua wanitamu di luar sana.”

Baskara mencoba membuka mulut, tapi suaranya tak keluar sedikitpun. Hanya desahan lemah yang tak memiliki arti apapun.

'Maafkan aku Soraya, aku salah. Aku telah begitu kejam padamu. Maafkan aku.'

Soraya kemudian tertawa kecil. “Tidak bisa, kan?” tanyanya penuh sindiran. "Jadi lebih baik kamu mati saja, aku dan anak-anak akan hidup bahagia tanpamu," timpal Soraya, lalu kembali di susul tawa penuh kemenangan.

“Kamu tahu, Mas. melihatmu sekarat seperti ini aku tidak ingin menangis,” bisiknya. “Aku justru ingin tertawa terus.”

“Hahaha.” Suara tawa Soraya menggema di ruangan luas tersebut, berbaur dengan suara napas Baskara yang semakin berat.

Darah di wajah Baskara mulai mengering. Namun kini yang mengalir adalah air matanya. Dada tuanya sesak seperti ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya perlahan hingga napasnya tercerabut satu per satu.

'Soraya,' batin Baskara lagi dan lagi, kini hanya ada satu nama itu di dalam benaknya. Nama yang membuatnya makin terluka oleh rasa bersalah. 80 tahun kehidupan kini berakhir dengan membawa penyesalan.

'Harusnya tidak seperti ini? Ya Tuhan, benarkah aku tidak memiliki kesempatan lagi?'

Pandangan Baskara mulai menghitam dan suara tawa Soraya menjadi hal terakhir yang ia dengar.

Lalu semuanya berubah gelap.

“Bas! Baskara! Bangun, Bas!”

Suara laki-laki itu terdengar jelas tapi seperti datang dari kejauhan. Lalu semakin dekat dan terdengar banyak suara berisik lainnya.

Seseorang mengguncang bahu Baskara dengan cukup keras.

“Baskara! Ini hari Kelulusan, woi! Jangan tidur di lapangan!”

Baskara terengah, sontak saja dadanya naik turun cepat seolah baru saja ditarik keluar dari dasar laut. Kelopak matanya terbuka mendadak dan napasnya terputus-putus, sementara keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya.

Baskara melihat langit biru membentang di atas kepalanya, silau matahari menusuk penglihatan. Bukan langit-langit rumah megah atau lantai yang dingin. Tidak ada bau darah, bahkan tubuhnya pun tak terasa ada yang sakit.

“Hah!” Baskara reflek bangkit dari tidurnya dan mengambil posisi duduk.

Tubuhnya terasa sangat ringan, ia kemudian mengangkat tangannya yang gemetar dan melihat kulitnya yang masih kencang. Tidak keriput, tidak bernoda usia. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan napas memburu.

"Ini tanganku?" ucap Baskara tanpa sadar, kalimat itu lolos begitu saja dari mulutnya.

“Bas, kamu kenapa sih?” seorang pemuda berambut cepak menatapnya heran. Seragam putih abu-abu dikenakannya dengan dasi yang sudah dilonggarkan. “Dari tadi tiduran di lapangan seperti orang gila."

Baskara menoleh perlahan, dilihatnya wajah seorang anak laki-laki yang sangat ia kenal. “Agung,” ucap Baskara pelan, syok dengan apa yang dilihatnya sekarang.

Agung mengernyit. “Ya iyalah ini aku Agung. Kamu kenapa, sih? Jangan bilang kelulusan bikin kamu stres?”

"Kelulusan?" Baskara menoleh ke sekeliling.

Tempatnya duduk saat ini adalah lapangan sekolah. Spanduk besar bertuliskan SELAMAT KELULUSAN ANGKATAN terbentang di depan gedung tua bercat kusam. Murid-murid SMA berhamburan, tertawa, sebagian menangis bahagia dan berpelukan erat.

'Ini SMA ku dulu.' batin Baskara, 'Apa ini mimpi?'

Sungguh Baskara masih belum bisa menerima jika ini adalah kenyataan. Bahwa dia kembali hidup di tahun 1965. Dia selamat dari kematiannya namun terlempar jauh ke waktu yang berbeda, kesempatan kedua yang entah akan dilaluinya seperti apa. Adakah perubahan besar yang Baskara lakukan atau kehidupannya akan berjalan seperti yang lalu hingga kematiannya tepat di depan istri dan anak-anaknya.

“T-tahun berapa ini?” tanya Baskara yang suaranya yang gemetar. Dia dan Agung sudah berpisah sejak lama, sejak Baskara memutuskan pergi ke kota Servo dan meninggalkan desa.

Agung tertawa. “Yaelah, Bas. Pertanyaan macam apa itu?

“Agung,” potong Baskara tiba-tiba, matanya memerah. “Tolong tinju aku.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca