

Jakarta sedang tidak bersahabat malam ini. Langit seolah tumpah, mencurahkan ribuan liter air ke aspal yang masih panas. Arka berdiri mematung di depan lobi Apartemen The Zenith, salah satu hunian paling elite di Jakarta Pusat. Tubuhnya yang dibalut jaket parasut kusam berlogo perusahaan ekspedisi itu basah kuyup. Sepatu ketsnya yang sudah jebol di bagian ujung mengeluarkan bunyi mencit yang menyedihkan setiap kali ia bergeser.
Di tangannya, ada sebuah kotak beludru kecil berwarna merah yang ia lindungi dengan telapak tangan agar tidak terkena percikan air. Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak sederhana. Bukan berlian, bukan pula emas putih 24 karat. Hanya perak murni yang ia beli dari hasil menyisihkan uang makan dan lembur selama tiga bulan terakhir sebagai kurir.
Malam ini adalah ulang tahun Siska yang ke-23. Arka ingin memberikan kejutan, sebuah janji bahwa meski sekarang ia hanya seorang kurir yang sedang berjuang melunasi hutang pengobatan ibunya, ia tidak akan pernah menyerah pada masa depan mereka. Namun, kejutan itu justru datang padanya lebih dulu dengan cara yang paling menghancurkan.
Pintu kaca otomatis lobi yang mewah itu terbuka. Siska keluar dengan gaun hitam ketat yang anggun, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Wajahnya dipoles make-up mahal yang sangat kontras dengan penampilan Arka yang dekil. Dia tidak sendiri. Seorang pria bertubuh tegap dengan kemeja sutra berwarna marun merangkul pinggangnya dengan sangat posesif.
"Siska?" suara Arka parau, hampir tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar.
Langkah Siska terhenti. Matanya membulat menatap Arka dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ada kilat kejutan di matanya, yang dengan cepat berubah menjadi rasa malu dan jijik saat ia menyadari beberapa penghuni apartemen lain mulai melihat ke arah mereka dengan pandangan merendahkan.
"Arka? Ngapain kamu ke sini?" tanya Siska tanpa nada hangat sedikit pun. Dingin, seolah Arka adalah kotoran yang mengotori pemandangannya.
"Aku... aku mau kasih ini. Selamat ulang tahun, Sis," Arka menyodorkan kotak merah itu dengan tangan yang gemetar karena kedinginan—dan ketakutan akan kenyataan yang mulai ia rasakan.
Pria di samping Siska, yang Arka kenali sebagai Riko, seorang manajer bank sukses yang sering memamerkan jam tangan mewahnya, tertawa meremehkan. "Ini siapa, Sayang? Kurir paket langganan kamu? Atau pengemis yang salah masuk lobi?"
Siska menghela napas panjang, menatap Arka seolah-olah pria di depannya adalah noda di atas karpet putih yang bersih. "Dia bukan siapa-siapa, Ko. Cuma teman lama dari kampung yang nggak tahu diri."
Hati Arka seperti dihantam godam besar. Teman lama? Mereka sudah menjalin hubungan selama tiga tahun. Sejak Arka masih menjadi mahasiswa berprestasi sebelum keluarganya bangkrut dan ia terpaksa putus sekolah demi menyambung hidup.
"Teman lama? Tapi Sis, kita—"
"Cukup, Arka!" potong Siska tajam, suaranya melengking mengatasi suara hujan. "Lihat diri kamu! Kamu ke sini naik motor butut yang knalpotnya berisik, baju basah, bau keringat, dan sekarang kamu mau kasih aku cincin perak murah ini? Kamu tahu nggak harga sepatu yang aku pakai sekarang? Ini harganya sepuluh kali lipat dari gaji kamu sebulan!"
Riko mengeluarkan dompet kulitnya, menarik beberapa lembar uang seratus ribuan, dan melemparkannya ke arah kaki Arka. Uang itu jatuh ke genangan air, menjadi kotor dan basah di bawah sepatu kets Arka yang robek.
"Nih, buat ongkos bensin motor bututmu. Pergi sana, jangan ganggu pacar orang. Kamu itu cuma sampah yang kebetulan lewat di hidup Siska. Jangan bermimpi bisa bersanding dengan berlian kalau kamu sendiri cuma kerikil jalanan," ejek Riko sambil menarik Siska menuju mobil sedan mewah yang sudah menunggu di depan pintu.
Arka hanya bisa diam. Ia melihat mobil itu melaju pergi, mencipratkan air kubangan ke celananya. Ia berlutut di aspal, memunguti cincin perak yang terjatuh ke selokan kecil. Air matanya jatuh, bercampur dengan air hujan. Ia merasa benar-benar hancur. Ibunya baru saja menelepon minta obat, hutang rentenir peninggalan ayahnya menumpuk, dan sekarang satu-satunya orang yang ia anggap sebagai penyemangat justru menginjak-injak harga dirinya di depan umum.
"Kenapa... kenapa dunia ini nggak adil?" bisik Arka lirih di tengah isak tangisnya. "Kenapa orang miskin selalu dianggap tidak punya perasaan?"
Tepat saat Arka berada di titik nadir, sebuah cahaya keemasan yang hanya bisa dilihat olehnya muncul secara tiba-tiba di depan mata. Waktu seolah melambat. Tetesan air hujan menggantung di udara seperti kristal yang diam, tidak lagi jatuh ke bumi.
[DING! TERDETEKSI GELOMBANG OTAK DENGAN KEPUTUSASAAN TINGKAT TINGGI.] [SISTEM PILIHAN TAKDIR SEDANG MELAKUKAN SINKRONISASI DENGAN JIWA TUAN...] [10%... 45%... 80%... 100%!] [SINKRONISASI BERHASIL. SELAMAT DATANG, TUAN ARKA PRADIPTA.]
Arka terkesiap, jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi satpam apartemen pun mematung seperti patung lilin. "Suara... suara siapa itu? Apa aku sudah mati?"
[Sistem Pilihan Takdir akan membantu Anda mengubah nasib. Di dunia yang kejam ini, kekayaan adalah satu-satunya hukum. Mulai sekarang, Anda adalah pemain utama dalam permainan takdir.]
[TARGET TERDETEKSI: PENGHINAAN DARI MANTAN KEKASIH DAN PRIA KAYA.] [SILA PILIH TINDAKAN ANDA UNTUK MENENTUKAN JALAN HIDUP BARU:]
Menerima Uang di Lantai dan Pergi dengan Malu. (Hadiah: Rp500.000 & Gelar 'Pecundang Abadi' - Mental Anda akan melemah secara permanen).
Mengejar Mobil Mereka dan Memohon Siska untuk Kembali. (Hadiah: Stamina +10 & Kesempatan dipukuli oleh pengawal pribadi Riko).
Membuang Cincin Lama dan Mengklaim Warisan Takdir. (Hadiah: Kartu Hitam 'Infinite Balance' & Rekonstruksi Tubuh Level 'God-Tier Handsome' & Skill Pasif: Aura Penguasa).
Arka menatap pilihan ketiga dengan mata membelalak. Ia merasa ini gila, mungkin otaknya sudah rusak karena tekanan hidup. Tapi, rasa perih di hatinya jauh lebih nyata dari apa pun. Ia tidak mau lagi menjadi kurir yang bisa diinjak-injak.
"Aku pilih... nomor tiga! Aku ingin mereka menyesal!" teriak Arka dalam hati dengan penuh amarah.
[PILIHAN DIKONFIRMASI. MEMULAI PROSES REKONSTRUKSI TUBUH SECARA INSTAN...]
Tiba-tiba, rasa panas menjalar dari tulang sumsum Arka ke seluruh pori-pori kulitnya. Rasanya seperti tubuhnya dibongkar dan disusun kembali. Tulang-tulangnya berderak keras, otot-ototnya yang tadinya kaku dan kurus kini menjadi padat, kuat, dan proporsional.
Wajahnya terasa seperti dipahat ulang oleh seniman paling genius di dunia. Rahangnya menjadi lebih tegas, hidungnya lebih mancung sempurna, dan matanya yang tadinya sayu kini tajam dengan binar kepercayaan diri yang luar biasa. Kulitnya yang kusam karena debu jalanan kini menjadi bersih dan cerah, seolah ia selalu melakukan perawatan mewah setiap hari.
Tidak berhenti di situ, sebuah kartu berwarna hitam legam dengan aksen emas murni tiba-tiba muncul di antara sela jari telunjuk dan tengahnya. Kartu itu terasa dingin, berat, dan memancarkan aura kemewahan yang tak terlukiskan. Di permukaannya tertulis nama dengan huruf timbul emas: ARKA PRADIPTA.
[REKONSTRUKSI SELESAI. STATUS TUAN TELAH DIPERBARUI KE LEVEL: ELITE.] [KARTU HITAM INFINITE TELAH DIAKTIFKAN. SALDO: TIDAK TERBATAS.] [SKILL PASIF 'AURA PENGUASA' AKTIF: SIAPA PUN YANG MELIHAT ANDA AKAN MERASA SEGAN.]
Waktu kembali bergerak normal. Hujan masih turun deras, tapi anehnya, Arka merasa air itu tidak lagi menyentuhnya dengan dingin yang menusuk. Ia berdiri tegak, dan entah bagaimana, tinggi badannya kini mencapai 185 cm, membuatnya tampak sangat dominan.
Arka berjalan menuju pintu lobi apartemen. Satpam yang tadi menatapnya sinis kini tertegun. Ia tidak mengenali pria tampan di depannya sebagai kurir basah kuyup yang tadi berdiri memelas. Pria ini memakai jaket kurir yang sama, tapi entah kenapa, jaket itu sekarang terlihat seperti fashion item mahal karena pemakainya sangat luar biasa tampan.
"Selamat malam, Tuan. Ada... ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam itu dengan sangat sopan, bahkan sedikit membungkuk secara otomatis karena merasa tertekan oleh aura Arka.
Arka menatap satpam itu dengan pandangan datar. Suaranya yang sekarang berat, jernih, dan penuh wibawa keluar, membuat resepsionis di dalam lobi menoleh serempak.
"Saya ingin bertemu manajer apartemen ini," ucap Arka dingin. "Saya ingin membeli unit penthouse terbaik yang tersedia. Bayar tunai sekarang juga."
"Ta-tapi Tuan, unit itu harganya mencapai 60 miliar rupiah..." resepsionis itu tergagap, wajahnya memerah karena terpesona melihat ketampanan Arka.
Arka tidak bicara banyak. Ia hanya meletakkan kartu hitamnya di atas meja marmer resepsionis. Bunyi klik saat kartu itu menyentuh meja terasa seperti lonceng kematian bagi kehidupan miskinnya yang lama.
"Silakan periksa," ucap Arka singkat.
Resepsionis itu gemetar saat menggesek kartu tersebut ke mesin EDC khusus. Detik berikutnya, layar mesin itu menunjukkan pesan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya: [AUTHORIZATION APPROVED - NO LIMIT].
Seluruh staf lobi terperangah. Mereka menunduk dalam-dalam, menyadari bahwa pria di depan mereka bukanlah sembarang orang kaya, melainkan penguasa yang sedang menyamar.
Arka mengambil kembali kartunya dan berjalan masuk dengan langkah mantap. Di dalam hatinya, ia berbisik pada dirinya yang lama. Siska, Riko... kalian benar. Kerikil memang tidak pantas bersanding dengan berlian. Tapi kalian salah satu hal... aku bukan kerikil. Aku adalah gunung yang akan meruntuhkan dunia kalian.