

TAK!
Potongan kapur tulis itu mendarat tepat di jidat Raka. Debu putihnya mengotori kemeja batik lusuh yang sudah ia pakai tiga hari berturut-turut.
"Woy, Pak Guru! Minggir dong! Bapak ngalangin kipas angin, nih. Panas!"
Suara tawa meledak di seluruh penjuru kelas XII IPS-3. Di pojok belakang, Aldo, si biang kerok sekaligus anak donatur yayasan sekolah, menaikkan kakinya ke atas meja.
Ia menatap Raka dengan tatapan merendahkan, seolah Raka bukanlah gurunya, melainkan kuman.
Raka mengepalkan tangannya erat-erat di balik punggung. Buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di tangan kirinya sedikit gemetar.
"Aldo, turunkan kakimu. Kita sedang membahas sejarah Kerajaan Islam di Nusantara," ucap Raka, berusaha menahan getaran suaranya.
"Bodo amat sama sejarah, Pak. Sejarah nggak bikin kenyang!" Aldo meludah ke lantai kelas. "Mending Bapak mikirin sejarah dompet Bapak sendiri. Katanya gaji honorer bulan ini telat lagi ya? Hahaha! Kasian amat hidup lo, Pak."
Wajah Raka memanas. Hinaan itu bukan sekadar ejekan, itu fakta yang menyakitkan.
Di saku celananya, ponsel Raka bergetar hebat sejak tadi. Raka tahu siapa itu. Bukan istri tercintanya, bukan pula kabar gembira. Itu adalah teror.
Raka melirik layar ponselnya sekilas. Pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal dengan huruf kapital semua:
[DEBT COLLECTOR - PINJOL KILAT] WOY RAKA! BAYAR HUTANGMU 5 JUTA HARI INI JAM 12 SIANG! KALAU TIDAK, KAMI DATANG KE SEKOLAH DAN TERIAK PAKAI TOA MASJID KALAU GURU INI MALING!]
Jantung Raka serasa mau copot. Jam dinding menunjukkan pukul 10.30. Dia hanya punya waktu satu setengah jam sebelum harga dirinya dihancurkan di depan seluruh sekolah.
"Kenapa, Pak? Mukanya pucat amat? Dikejar rentenir ya?" celetuk Aldo lagi, disambut tawa teman-teman gengnya.
Raka menunduk. Ia ingin marah, ingin berteriak, bahkan ingin menghajar bocah kurang ajar itu. Tapi ia ingat wajah istri dan anaknya yang masih bayi di rumah kontrakan.
Ia butuh pekerjaan ini. Meskipun gajinya hanya 300 ribu per bulan dan sering telat, setidaknya itu status yang ia punya.
BRAK!
Pintu kelas terbuka kasar. Kepala Sekolah, Pak Darmawan, masuk dengan wajah merah padam. Perut buncitnya berguncang saat ia menunjuk wajah Raka.
"Pak Raka! Ikut saya ke ruangan sekarang!" bentaknya tanpa mempedulikan ada murid di sana.
"Ta-tapi Pak, saya sedang mengajar..."
"Mengajar apa?! Lihat kelas ini! Seperti pasar!" Pak Darmawan menunjuk Aldo yang masih santai merokok elektrik (vape).
"Dengar baik-baik, Raka. Yayasan sudah memutuskan. Kalau nilai rata-rata kelas ini tidak naik di ujian minggu depan, atau kalau ada satu saja orang tua murid komplain soal caramu mengajar... Detik itu juga kamu saya pecat!"
Dunia Raka seakan runtuh.
Dipecat? Hutang 5 juta jatuh tempo siang ini? Anak butuh susu? Istri sakit?
Semua tekanan itu menumpuk di kepala Raka seperti bom waktu. Pandangannya mulai kabur. Telinganya berdengung panjang.
Ngiung....
Raka terhuyung mundur, menyenggol papan tulis.
"Yah, Pak Gurunya mau pingsan tuh! Lemah banget!" seru Aldo sambil merekam kejadian itu dengan HP mahalnya untuk konten TikTok.
Saat kesadaran Raka hampir hilang karena stres yang memuncak, tiba-tiba sebuah suara mekanik yang dingin dan jernih terdengar di dalam kepalanya. Suara itu bukan berasal dari telinga, tapi langsung bergema di otaknya.
[DING!]
[Sistem Terdeteksi: Tuan Rumah berada dalam titik keputusasaan maksimal.]
[Syarat Terpenuhi.]
Raka mengerjap. Sebuah layar hologram berwarna biru transparan tiba-tiba muncul melayang di depan matanya. Tulisan di layar itu bersinar terang, menutupi wajah sombong Aldo dan Pak Darmawan.
SELAMAT DATANG DI SISTEM PENDIDIK MUTLAK!
Host: Raka Perdana Pekerjaan: Guru Honorer (Level: Sampah) Saldo: Rp 15.000 (Cukup untuk beli cilok) Status: Terancam
Raka mengira dia sudah gila karena stres. Tapi tulisan itu berubah lagi.
[MISI PEMULA 1 DIAKTIFKAN]
Tugas: Bungkam mulut murid kurang ajar dalam waktu 10 detik. Hadiah: Uang Tunai Rp 10.000.000 + Skill: "Aura Dominasi Guru" (Level 1). Hukuman Gagal: Mati konyol karena serangan jantung.
"Hah?" Raka bergumam pelan.
"Apa 'hah heh hah heh'? Cepat ke ruangan saya!" bentak Pak Darmawan lagi.
Mata Raka tertuju pada angka di layar itu. Sepuluh Juta Rupiah. Itu setara gajinya selama 3 tahun mengajar di sini.
Sistem itu seolah menantangnya. Ambil atau mati.
Tiba-tiba, rasa takut di dada Raka lenyap. Digantikan oleh gelombang energi aneh yang panas menjalar dari tulang punggung ke seluruh tubuhnya. Postur tubuh Raka yang tadi membungkuk, perlahan tegak. Tatapan matanya yang sayu berubah tajam seperti elang yang siap menyambar mangsa.
Raka menatap Aldo, lalu menatap Pak Darmawan.
Dia tidak lagi melihat mereka sebagai ancaman. Dia melihat mereka sebagai... sumber uang.
"Pak Darmawan," suara Raka terdengar berat dan berwibawa, membuat seisi kelas merinding seketika. "Tolong diam sebentar. Saya belum selesai mendidik murid saya."
Hening.
Pak Darmawan melongo. Aldo berhenti menghisap vape-nya.
Waktu tersisa: 5 detik.