Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kembali ke Masa Lalu dan Menjadi Kaya

Kembali ke Masa Lalu dan Menjadi Kaya

R_As25 | Bersambung
Jumlah kata
50.7K
Popular
496
Subscribe
78
Novel / Kembali ke Masa Lalu dan Menjadi Kaya
Kembali ke Masa Lalu dan Menjadi Kaya

Kembali ke Masa Lalu dan Menjadi Kaya

R_As25 | Bersambung
Jumlah Kata
50.7K
Popular
496
Subscribe
78
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeTime TravelZero To HeroMiliarder
Ucapan penyesalan selalu datang belakangan dirasakan oleh Endra. Di masa tuanya, ia masih selalu dibayangi kejadian ibu dan istrinya yang meninggal karena dikejar rentenir akibat dirinya yang suka berjudi dan berhutang dimana-mana. Tak hanya itu, teman dekatnya mencuri resep turunan keluarga dan kini menjadi sukses, sedangkan dirinya hanya seorang gelandangan. Menjelang ajalnya, Endra berharap diberi kesempatan menebus dosa. Dan saat ia membuka matanya, ia kembali ke 20 tahun yang lalu! Endra kini bertekad menjadi suami dan anak yang perhatian bagi istri dan ibunya, dan menjadi sukses.
Bab 1 Kembali ke 20 Tahun Lalu

Helikopter eksekutif berlapis hitam itu mendarat halus di helipad atap gedung stasiun televisi terbesar di kota. Sistem penyeimbang otomatis meredam getaran, membuat pendaratannya nyaris tanpa suara.

Sepasang sepatu kulit menginjak permukaan helipad terlebih dulu, diikuti sosok pria tinggi yang turun dengan tenang seolah pusaran angin tak menyentuhnya. Hendro berjalan mantap, para pengawal mengiringi di belakang dengan langkah teratur.

Siaran langsung kompetisi memasak malam itu menghadirkan Hendro sebagai juri tamu kehormatan yang terkenal memiliki kerajaan bisnis kuliner.

Kedatangannya disambut meriah. Jutaan orang menonton lewat televisi generasi baru dengan proyeksi hologram, sementara layar 3D raksasa di tepi jalan menayangkan wajahnya setinggi gedung. Orang-orang berhenti melangkah untuk menonton, bahkan mereka yang tak punya tempat pulang.

Di bawah salah satu layar itu, seorang gelandangan berdiri terpaku.

Matanya bukan tertuju ke siaran, melainkan ke sebuah kedai ayam bakar di seberang jalan. Asap tipis mengepul dari panggangan, membawa aroma daging berbumbu yang tajam dan menggoda. Perut kosong Danendra berkontraksi keras.

Kedai itu sedang sepi. Hanya ada si penjual yang sibuk membolak-balik ayam di atas bara merah.

Danendra mendekat perlahan. Tubuhnya ringkih, kurus, dan tampak jauh lebih tua dari usianya yang baru menginjak empat puluh lima tahun. Wajahnya kusam, kulitnya pucat. Sisa-sisa kehidupan keras tergambar jelas di sana. Tahun-tahun yang dihabiskan dalam minuman keras dan obat terlarang telah merusak tubuh sebelum waktunya.

Dia bukan warga asli kota itu, melainkan perantau yang datang dari desa.

Danendra berjalan membungkuk, setiap langkahnya berat seperti menyeret beban tak terlihat. Lututnya gemetar. Napasnya pendek. Namun aroma ayam bakar itu menariknya maju seperti tali yang tak bisa diputus.

"Pak…," suaranya pecah, kering seperti tenggorokan yang lama tak dialiri air. "Aku belum makan tiga hari. Tolong… aku lapar."

Tangannya terangkat gemetar, menengadah. Berharap akan belas kasih.

"Minta?" katanya tajam. "Kalau mau makan, beli! Kamu pikir aku jualan buat amal?"

Penjual itu mendelik kesal.

"Aku jualan buat mencukupi kebutuhan anak-istri!" bentaknya! "Pergi sana!"

Perut Danendra melilit hebat. Rasa perih menjalar sampai ke kerongkongan. Dia menahan diri agar tidak roboh.

"Aku mohon, Pak…" pintanya lirih. "Sedikit saja. Perutku sakit…"

"Itu bukan urusanku! Dasar gembel!"

Kata itu menghantam lebih keras dari pukulan. Untuk orang seperti Danendra dihina memang sudah biasa, namun dihina saat lapar sungguh membuat pertahanannya ambruk.

"Pergi!" teriak si penjual lagi, wajahnya penuh jijik. "Jangan kotori kedaiku dengan bangkai berjalan macam kamu! Pembeliku bisa kabur!"

Tangan kasar itu mendorong dada Danendra cukup keras.

Bruuuk!

Hingga tubuh ringkihnya terlempar ke trotoar. Punggungnya menghantam beton dingin, dengan kepala yang ikut berdenyut hebat. Untuk sesaat Danendra kesulitan bernapas. Asam lambung membuat ulu hatinya terasa perih dan panas seperti terbakar.

Orang-orang yang lewat sempat melirik. Langkah mereka melambat sekejap, cukup lama untuk menyadari ada tubuh tergeletak di trotoar, lalu mereka berjalan lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang benar-benar peduli padanya.

Danendra terbaring, menatap langit kota. Di atas sana, layar hologram raksasa terus memancarkan tawa, kemewahan, dan wajah-wajah bahagia. Dunia yang gemerlap itu bergerak tanpa jeda, seolah mengejek keberadaannya yang nyaris tak berarti.

"Hendro…," gumam Danendra, matanya terpaku pada layar.

Danendra melihatnya dengan senyum penuh ejekkan. Bukan pada orang di balik layar itu, melainkan pada dirinya sendiri. Hendro, bukan orang asing. Dia adalah teman akrab Danendra dulu. Mereka berasal dari desa yang sama.

Mirisnya, nasib kini begitu berbeda. Hendro hidup dalam kemewahan, serba ada, sementara Danendra bahkan tak mampu membeli sebungkus nasi. Padahal dua puluh tahun yang lalu, perbedaan mereka tak terlalu mencolok.

Jalan yang Danendra pilih menjerumuskannya ke jurang kehancuran, sementara resep rahasia keluarga Danendra yang dicuri Hendro menjadi kunci kesuksesannya berbisnis kuliner.

Dulu, Danendra masa bodoh. Dia mengira buku resep milik ibunya yang dibawa Hendro hanyalah buku biasa, tapi ternyata itu berisi resep rahasia keluarga yang telah diwariskan turun-temurun.

Kecanduan togel, sabung ayam, dan taruhan membuatnya malas bekerja, meski hobinya mahal—memelihara burung kicau. Dia membeli burung dengan uang pinjaman rentenir tanpa memikirkan akibat. Perlahan, harta keluarganya habis, utang menumpuk, dan rumahnya tak pernah sepi dari penagih utang.

Namun yang paling menghancurkannya bukanlah kehilangan uang atau burung mahalnya yang mati. Melainkan kehilangan istri dan ibunya, akibat kebodohannya sendiri.

Hari itu para penagih utang datang lagi. Mereka rentenir yang selama ini memberinya uang untuk berjudi dan memuaskan hobinya. Suasana rumah kecil itu langsung dipenuhi teriakan. Danendra tak punya apa pun lagi untuk membayar. Tidak ada uang, tidak ada barang berharga semuanya sudah raib, bahkan burung mahal yang dibelinya tidak laku dijual karena bulunya rontok dan kicaunya jelek.

Karena Danendra tidak punya apa pun untuk membayar, para rentenir itu menuntut sesuatu yang lebih kejam. Dia dipaksa untuk menyerahkan istri dan ibunya pada mereka dengan tujuan untuk dijual. Istrinya akan dijual pada mucikari, sedangkan ibunya yang tua mungkin akan diserahkan pada mafia perdagangan jual-beli organ.

Ketakutan menyambar rumah itu. Istri dan ibunya dicekal, membuat mereka meronta lalu berlari kabur. Dalam kepanikan, keduanya berlari tanpa arah hingga tiba di tepi sungai. Naas, mereka terpeleset dan tercebur ke arus yang sangat deras. Sungai merenggut nyawa ibu dan istrinya.

Sejak hari itu, yang tersisa darinya bukan hanya utang, melainkan rasa bersalah yang terus menggerogoti, menghukumnya setiap kali dia mencoba bernapas. Yang ada dalam benaknya sekarang hanya ingin bertemu istri dan ibunya di alam baka lalu memohon maaf. Andai dia bisa menebus semua kesalahannya, Danendra pasti akan melakukan apa pun.

"Rani… Ibu…," gumam Danendra dengan napas tersengal. Matanya mulai gelap, dunia seakan berputar, dan rasa sakit menusuk hingga ke ubun-ubun.

Perlahan, matanya mulai menutup.  Dalam hembusan napas terakhirnya, Endra masih membawa penyesalan itu.

***

"Endraaa! Endraaa!"

Suara teriakan yang mirip dengan suara ibunya membuat Danendra terlonjak. Apakah kini dia sudah berada di alam baka?

Dia terduduk linglung sembari mengucek matanya. Di sekelilingnya, tembok berdinding anyaman bambu dengan lantai tanah. Dan ia melihat kalender yang tergantung, bertuliskan 9 Maret 2006. 

Ini adalah hari kematian ibu dan istrinya 20 tahun yang lalu!

BRAK!

Pintu kamar terbuka lebar. Di sana sosok Ibunya muncul dengan raut wajah terlihat menahan kesal, "Di luar ada orang yang menagih utang lagi! Apa yang harus kita lakukan? Semua harta sudah ludes kamu jual."

Danendra mengerjap lagi, dia ingin memastikan apa yang dilihat tidak salah. 

Ia kemudian sadar, kalau memang dia diberi kesempatan kedua dan kembali ke masa dua puluh tahun lalu!

"Ibuuu!" Tanpa basa-basi Danendra memeluk badan kurus ibunya.

"Endra, kamu ini apa-apaan? Tidak dengar di luar ada penagih utang yang mencarimu?! Kenapa malah peluk, Ibu? Cepat temui mereka--"

Belum sampai Sekar selesai bicara, segerombolan penagih utang sudah berdiri di ambang pintu. Badan mereka tinggi kekar.

"Mas Endra," Danendra menoleh, dia melihat istrinya yang terlihat begitu cantik, namun raut wajahnya begitu cemas.

"Rani?" 

Matanya berkaca-kaca, betapa dia sangat merindukan istrinya itu. Danendra ingin mendekat dan memeluknya, namun Maharani justru menyentak dan menepis tangannya.

"Bayar utangmu, Mas! Setelah surat tanah dan sawah kamu curi dari Ibu lalu menjualnya diam-diam, kali ini apa lagi, Mas?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca