Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pemulung Sultan - Botol Bekas Seharga Emas

Pemulung Sultan - Botol Bekas Seharga Emas

Bunyen_Heha | Bersambung
Jumlah kata
61.9K
Popular
726
Subscribe
157
Novel / Pemulung Sultan - Botol Bekas Seharga Emas
Pemulung Sultan - Botol Bekas Seharga Emas

Pemulung Sultan - Botol Bekas Seharga Emas

Bunyen_Heha| Bersambung
Jumlah Kata
61.9K
Popular
726
Subscribe
157
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalZero To HeroSistemKaya
"Sadar, Danar! Elo itu miskin. Seumur hidup elo cuma jadi sampah!" Diusir dari kontrakan, dipecat secara tidak adil, dan dicampakkan oleh Mayangsari demi pria kaya, hidup Danar hancur dalam semalam. Namun, saat ia meratapi nasib di pinggir jalan, sebuah keajaiban muncul dalam bentuk layar hologram yang dingin. [SISTEM KEKAYAAN BOTOL DIAKTIFKAN] [Objek Terdeteksi: Botol Plastik Bekas] [Konversi Berhasil: Rp 150.000,00] Dunia menganggap Danar sudah gila. Di saat orang lain berlomba memakai jas rapi, Danar justru menyusuri selokan dengan karung goni di bahunya. Mantan kekasihnya tertawa melihatnya menjadi pemulung, tidak menyadari bahwa setiap botol yang dipungut Danar setara dengan gaji manajer dalam sebulan. Dari gang sempit Jakarta hingga menjadi tuan tanah yang menguasai hektaran sawah dan ternak di desa, kekayaan Danar tumbuh secara tidak masuk akal. Transformasinya dari pria pecundang menjadi "Sultan" yang tenang dan berwibawa mulai menarik perhatian banyak wanita. Dari rekan kerja yang setia hingga kembang desa yang ambisius, mereka semua kini berlomba mendapatkan perhatian sang pemuda misterius. Danar tidak lagi mengejar cinta yang mengemis. Kini, dialah yang menentukan aturan main. Bagi mereka yang dulu menghinanya, bersiaplah melihat Danar membangun takhta di atas benda-benda yang kalian anggap sampah!
Bab 1 : Sampah yang Dibuang

“Maaf, Pak! Tolong beri saya waktu tiga hari lagi! Saya pasti bayar!” Danar memohon, tangannya gemetar menahan pintu pagar yang hendak ditutup.

Langit Jakarta seolah turut menangis hari itu. Hujan deras mengguyur tanpa ampun, menyamarkan air mata yang jatuh di pipi Danar.

Di depannya, sebuah koper usang dan dua kantong plastik besar berisi pakaian dilempar begitu saja ke jalanan yang basah.

Pemilik kontrakan yang berperut buncit itu, menatap Danar dengan jijik.

“Tiga hari, tiga hari! Kamu sudah nunggak dua bulan, Danar! Saya dengar kantor tempatmu kerja bangkrut, kan? Mau bayar pakai apa kamu? Pakai daun?” ucapnya sinis.

Brak!

Pagar besi itu dibanting tepat di depan wajah Danar.

Danar berdiri mematung. Tubuhnya basah kuyup. Di usia dua puuh lima tahun, dia resmi menjadi gelandangan. Padahal tadi pagi, dia masih punya pekerjaan.

Namun, perusahaan logistik tempatnya bekerja, mendadak gulung tikar karena korupsi manajemen.

Pesangon? Nol besar.

“Mayang ....” Danar bergumam.

Perempuan itu adalah satu-satunya harapan yang dia punya saat ini.

Danar merogoh saku celananya yang basah, memastikan ponselnya tidak rusak, lalu mengecek saldo di M-banking. Tidak ada saldo di rekeningnya.

Selama dua tahun terakhir, setiap sen gaji Danar selalu habis untuk memanjakan Mayangsari, kekasihnya. Dia membelikan tas, kosmetik, hingga membayar cicilan motor gadis itu. Danar rela makan mie instan setiap hari demi melihat senyum Mayang yang memabukkan.

“Mayang pasti mengerti. Dia pasti mau menampungku sementara waktu,” harap Danar, mencoba optimis di tengah kesulitan.

Dengan menyeret koper yang rodanya macet, Danar berjalan kaki sejauh tiga kilometer menuju kosan eksklusif tempat Mayangsari tinggal.

Sesampainya di sana, napasnya tersengal. Namun, pemandangan di depan gerbang kosan membuat senyum di bibirnya merekah.

Mayangsari berdiri di sana. Cantik, wangi, dan kering di bawah payung besar.

Namun, saat Danar melihat kekasihnya tidak sendirian, senyuman di bibirnya menghilang. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap terparkir di depan pintu kamar kos Mayangsari.

“Mayang!” panggil Danar, suaranya parau.

Gadis itu menoleh. Alih-alih khawatir melihat kondisi kekasihnya yang basah kuyup seperti tikus kecebur got, wajah Mayang justru memerah karena malu. Matanya menyiratkan satu hal, meminta Danar pergi sekarang juga.

“Sayang, a-aku dipecat. Aku diusir dari kontrakan.” Danar mendekat, mengabaikan tatapan satpam kosan. “Boleh aku numpang sebentar? Cuma sampai aku dapat pekerjaan lagi.”

Mayangsari mundur selangkah, menutup hidungnya.

“Numpang? Elo pikir kamar gue penampungan gelandangan? Sadar diri dong, Dan!” Kalimat Mayangsari jauh dari kata mesra.

“Tapi, selama ini gajiku ....”

“Itu kewajiban elu sebagai pacar gue!” potong Mayang tajam. “Dengar ya, Danar. Kita putus. Gue nggak butuh laki-laki madesu macam elo!”

Danar terkejut, kaget. Belum sempat dia membalas, pintu mobil sedan terbuka. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi keluar sembari tersenyum miring.

Danar mengenalnya, sangat mengenalnya.

“Pak Tatang?”

Pria paruh baya itu adalah mantan manajer operasional di kantornya. Atasan yang sering memotong bonus Danar dengan alasan kinerja, padahal Danar adalah karyawan paling rajin.

Pak Tatang merangkul pinggang Mayangsari dengan santai. Mayangsari tidak menolak, malah menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Pak Tatang.

“Kenapa kamu ada di sini, Danar?” Pak Tatang terkekeh, menatap Danar dari ujung kaki ke ujung kepala.

“Kasihan sekali. Sudah jatuh tertimpa tangga, ditinggal pacar pula. Mayang cerita kalau kamu membosankan dan miskin. Makanya dia lebih nyaman sama saya,” ejeknya.

“Kalian ....” Tangan Danar terkepal erat hingga kukunya memutih. “Kalian berselingkuh di belakangku? Di saat kondisi kantor sedang chaos?”

“Bukan selingkuh, Dan. Gue cuma meng-upgrade nasib. Udah sana pergi! Jangan bikin gue malu di sini!” usir Mayang.

Pak Tatang mengeluarkan dompet, mengambil selembar uang lima puluh ribu biru, lalu melemparnya ke genangan air di dekat kaki Danar.

“Ambil buat ongkos pulang kampung. Kota Jakarta nggak cocok buat pecundang,” ucapnya dengan tatapan hina.

Hati Danar hancur berkeping-keping. Harga dirinya diinjak-injak tepat di depan matanya. Tanpa mengambil uang itu, Danar berbalik badan, lalu berjalan cepat menembus hujan. Dia tidak ingin mereka melihatnya menangis.

Satu jam kemudian, hujan mulai reda, menyisakan gerimis tipis. Danar duduk di trotoar depan sebuah ruko tutup, perutnya berbunyi nyaring. Dia lapar, kedinginan, dan sendirian.

Tatapannya kosong menatap jalanan aspal yang basah. Di dekat kakinya, tergeletak sebuah botol plastik bekas minuman isotonik. Kotor dan gepeng karena terlindas ban motor.

Kebiasaan lama Danar muncul. Sejak kecil, dia hobi mengumpulkan botol bekas untuk didaur ulang menjadi pot bunga atau mainan, sebuah hobi yang sering diejek Mayang sebagai hobi pemulung.

“Mungkin kalau dikumpulin, bisa buat beli gorengan,” gumam Danar getir.

Tangannya terulur memungut botol itu.

Namun, saat ujung jarinya menyentuh permukaan plastik, sesuatu yang aneh terjadi.

Zing!

Botol kosong itu berkedip. Bukan karena pantulan lampu jalan, tetapi cahaya kebiruan yang muncul dari dalam botol itu sendiri.

“Hah?” Danar mengucek matanya. “Apa aku halusinasi karena lapar?”

Dia menggenggam botol itu. Detik berikutnya, botol itu terurai menjadi partikel cahaya biru dan menghilang dari genggamannya, seolah menyerap masuk ke dalam kulitnya.

Tiba-tiba, sebuah layar hologram transparan berwarna biru muncul melayang di depan retina matanya, disertai suara robotik yang dingin dan jernih.

[SISTEM DAUR ULANG SULTAN DIAKTIFKAN]

[Objek Terdeteksi: Botol Plastik Bekas (Grade F)]

[Dikonversi menjadi saldo uang tunai ....]

Ting!

Ponsel di saku Danar bergetar panjang. Danar buru-buru mengeceknya. Sebuah notifikasi dari M-Banking muncul di layar ponselnya yang ketinggalan jaman itu.

TRANSFER MASUK: RP 500.000,00.

KETERANGAN: CONVERT_BTL_001

Mata Danar melotot nyaris keluar. Lima ratus ribu rupiah? Untuk satu botol sampah?

“Ini ... ini pasti sistem bank lagi error. Iya, pasti karena itu, kan?”

Suara robotik itu kembali terdengar, kali ini bukan di telinga, tetapi langsung di dalam kepalanya.

”Ini bukan error, Tuan Danar. Selamat datang di kehidupan baru Anda. Setiap sampah botol yang Anda pungut akan dikonversi menjadi kekayaan.”

Jantung Danar berdegup kencang. Dia menatap sekeliling. Di seberang jalan, ada tumpukan sampah sisa pedagang kaki lima. Ada sekitar lima atau enam botol plastik berserakan di sana.

Jika satu botol harganya setengah juta, itu artinya tumpukan sampah itu bernilai jutaan rupiah!

Danar menatap kembali saldo di ponselnya. Rp 500.000. Cukup untuk makan enak dan sewa kamar malam ini. Dia melihat ke arah kosan Mayangsari yang berjarak beberapa kilometer dari sana. Senyum tipis terukir di bibir Danar.

“Pak Tatang, Mayang, tunggu saja. Pemulung ini akan membeli harga diri kalian.”

Danar melangkah menuju botol kedua yang tergeletak di dekat tiang listrik. Botol itu bersinar redup, seolah memanggilnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca