

“Stop Kak! Rasanya aku udah nggak kuat lagi sama kelakuan dia!, kita nggak punya kewajiban untuk ngurusin dia selamanya!,” pekik Rana sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Roni. Ia sudah muak dengan kelakuan kakak laki-laki satu-satunya. Roni pun hanya terdiam melihat adik bungsunya saling beradu mulut dengan kakak tertuanya yang masih terlihat membelanya. Rina sebagai kakak tertua nampak bingung harus mengambil sikap seperti apa. Ia menyayangi kedua adiknya tanpa terkecuali dan juga kedua orang tuanya. Selama ini ia lebih banyak mengalah pada semuanya terutama pada Roni si adik laki-lakinya. Ia selalu membuat masalah dan lagi-lagi Rina yang selalu membereskannya. Bukan apa-apa Rina hanya tak ingin mengecewakan bapak dan ibunya yang memang sangat terlihat berbeda dalam memberikan kasih sayang mereka pada anak-anaknya. Roni adalah anak kesayangan keduanya karena ia anak laki-laki satu-satunya. Dan ia pun membuatnya menjadi manja dan berbuat semaunya. Sejak kecil Roni selalu mendapat bagian lebih dalam hal makanan, mainan maupun uang. Sementara kedua saudaranya dipaksa mengalah dan menerima. Roni yang arogan dan berbuat semaunya selalu dibela mati-matian oleh orang tuanya terutama ibu yang selalu menjadi garda terdepan untuknya. Hingga saat mereka baru beranjak dewasa musibah datang di keluarga mereka, bapak meninggal akibat serangan jantung.
Kali ini Roni kembali membuat masalah di mana seperti biasa ia tak mampu menyelesaikannya sendiri. Masih lekat di ingatan keluarga mereka bulan lalu, Roni baru saja bebas bersyarat setelah berurusan dengan pihak kepolisian karena berkelahi dengan teman tongkrongannya yang sama-sama pengangguran. Semua upaya dilakukan sebab biaya tebusannya tidaklah sedikit. Mereka juga harus menyewa pengacara sebab keluarga korban merasa tak terima atas perlakuan Roni pada korban. Belum lagi masalah utang dan judi yang sebelum-sebelumnya juga membuat keluarganya turun tangan untuk membereskannya. Sebagai laki-laki satu-satunya di keluarga seharusnya membuat Roni merasa memiliki tanggung jawab lebih atas keluarganya. Namun nyatanya sifat manja dan kekanak-kanakannya tak pernah hilang hingga ia dewasa. Rina sebagai kakak tertua selalu berkorban untuk keluarganya, bahkan di usianya yang menginjak tiga puluh lima tahun ia masih belum kepikiran untuk berumah tangga, sementara Rana si bungsu yang selalu mengalah pun harus ikut memikul beban keluarga.
“Kak, aku mohon kali ini aku janji ini yang terakhir. Aku akan cari kerja Kak…,” ujar Roni yang sebenarnya sudah berkali-kali ia ucapkan kata-kata seperti itu. Tangannya mengatup di dadanya dan memohon belas kasih kakak dan adiknya. Sementara ibu hanya tertunduk tak bisa berkata apa-apa. Terkadang ada penyesalan karena terlalu memanjakan Roni, namun berkali-kali rasa emosionalnya itu tumbuh lebih cepat mengalahkan logikanya. Roni memang anak kesayangannya dan tak terbantahkan sejak dulu.
“Kakak nggak punya uang lagi Ron! Tabunganku sudah habis karena ulahmu!,” isak Rina yang tak terbendung lagi dan merasa gagal sebagai kakak.
“Hanya kalian yang bisa menolongku… Aku mohon..,”
“Kak, kamu ini memang nggak punya malu yah… sudah berapa kali kamu bilang ini akan jadi masalah terakhirmu dan berapa kali kamu bilang akan cari kerja dan tak akan berulah lagi! Tapi apa? Apa sekarang? Masalah selalu saja datang bersama denganmu! Kamu ini laki-laki, minimal gunakan otakmu!,” teriak Rana yang sudah tidak sudi menatap ke arah Roni karena sudah terlalu sering kelakuannya membuat keluarganya susah.
Ibu hanya bisa menangis melihat pemandangan tak menyenangkan dari ketiga anaknya itu. Uang pensiunan dari almarhum suaminya sudah habis dijadikan jaminan utang di bank, sebagian untuk membayar utang-utang Roni dan sebagian untuk modal berjualan sembako yang ujung-ujungnya dihabiskan juga oleh Roni.
“Sudah lah Ibu capek dengan kelakuanmu Roni! Ibu mati saja nyusul bapakmu! Memang semua salah ibu….,” tangis Bu Murni semakin pecah, tubuhnya lemas bersandar dalam pelukan Rina yang berusaha menenangkannya.
“Bu… maafkan Roni…. Maafkan Roni Bu……,” sambil bersimpuh di pangkuan ibunya Roni memohon ampun dan berharap diberi kesempatan.
“Kak, beri aku satu kesempatan lagi Kak, Rana.. Mas mohon… kali ini aku akan bersungguh- sungguh mencari cara untuk mendapatkan uang…, sebentar lagi preman-preman itu pasti akan datang kemari mencariku… kalau aku tidak siapkan uangnya sekarang juga habis lah aku…..,”
“Mas, lalu bagaimana dengan motorku yang diam-diam kamu jual itu? bagaimana dengan uang kuliahku yg kamu bilang kamu pinjam dari hasil jeri payah ku berjualan ke sana ke mari yang berkali-kali kamu pinjam padaku? Tapi tak sekalipun terpikir untuk kau kembalikan. Apa kamu nggak mikir? Kamu hanya beban di keluarga ini! Bisamu hanya judi dan mabuk-mabukan!” tukas Rana yang semakin tersulut emosi.
Brakk.. braakk.. brakkk…
Tak berselang lama terdengar suara orang mengetuk pintu dengan keras. Seketika suara di dalam ruangan itu senyap, semua hanya bisa menutup mulut sementara Roni kebingungan karena ia yakin yang datang adalah gerombolan preman anak buah Bang Karta rentenir sekaligus bandar sabung ayam di wilayahnya. Utang-utang Roni yang sudah menumpuk beserta bunga-bunganya membuatnya murka dan mengerahkan anak buahnya turun tangan untuk menghajarnya. Tak ada yang berani membuka atau sekedar menengok ke arah jendela, sebab mendengar suara gebrakannya pada pintu saja sudah membuat siapa pun yang mendengarnya ciut nyali.
“Keluar Roni.. Roni!! Keluar kamu!!,” teriak Sapri preman berbadan tinggi besar dengan tampang paling sangar. Wajahnya dipenuhi brewok dan rambut panjangnya dikuncir, serta suara paraunya menambah kesan seram bagi orang yang berurusan dengannya. Sebenarnya ini bukan kali pertama Roni berurusan dengan preman-preman Bang Karta, wajah dan badannya sudah beberapa kali menjadi samsak preman-preman tersebut. Tapi Roni memang seakan tak pernah jera dengan hal itu dan terus mengulangi kesalahannya, berjudi dan akhirnya kalah hingga berutang pada rentenir yang terkenal kejam dengan bunga mencekik itu.
Roni mencoba berlari keluar rumah lewat pintu belakang, namun sialnya sudah ada dua preman dari gerombolan Sapri yang sudah menunggunya di sana. Tanpa aba-aba Roni yang sudah tertangkap basah pun langsung menjadi sasaran para preman dan menghajarnya hingga babak belur.
Bughh..,Tinju dan tendangan meluncur dengan segera di tubuhnya. Tubuh Roni jatuh tersungkur, darahnya keluar dari hidung dan mulutnya. Memar dan luka-luka di wajahnya menjadi pemandangan menyedihkan bagi Bu Murni yang langsung histeris melihat anak kesayangannya dihabisi tanpa ampun. Rina pun langsung bertindak ia langsung berlari meminta pengampunan dari orang-orang berbadan kekar tersebut dengan penampilan kumal mungkin untuk menambah kesan sangar dan garang. Rina menarik kaki Sapri sambil berlutut untuk menghentikan aksinya. Tapi Sapri tak peduli hingga tubuh Rina terpelanting cukup jauh. Rana pun membantu kakak perempuannya itu untuk bangun. Ini pertama kalinya masalah Roni membuat keluarganya terlibat secara fisik. Siku dan tangan kanan Rina sampai berdarah.
“Hentikan!! Atau saya lapor polisi kalian sudah melakukan tindak penganiayaan berat!,” teriak Rana yang membuat preman-preman itu berhenti sejenak dan menoleh ke arah Rana. Bukannya takut mereka malah menertawakan ancaman Rana.
“Hahahaa… Kamu mau lapor polisi? Lapor saja kami nggak takut! Yang ada nyawa kakakmu akan kami habisi saat ini juga. Atau sekalian kamu kami bawa sebagai ganti bayar utang kakakmu yang bodoh ini?!”
“Siapkan sekarang juga uang seratus juta itu sudah termasuk bunganya!,”
Rina dan Rana lemas mendengar jumlah uang yang tak mungkin mereka miliki saat itu juga. Di saat itu juga Bu Murni mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri dan berteriak dan aksinya berhasil membuat preman-preman itu pergi meski harus mengorbankan harta satu-satunya yang keluarganya punya.