
Simfoni Takdir: Di Antara Garis Merah
fadila|Bersambung
- Jumlah kata
- 6.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 6.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Arjuna Mahendra adalah seorang pemuda yang memilih hidup dalam bayang-bayang. Sebagai ahli restorasi barang antik yang jenius, ia lebih nyaman berurusan dengan roda gigi jam kuno yang jujur daripada intrik manusia yang penuh dusta. Sepuluh tahun lalu, dunianya hancur ketika ibunya menghilang tanpa jejak, sebuah tragedi yang membuatnya memutus hubungan dengan keluarga besar Mahendra yang kaya raya namun korup.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Debu di Atas Kenangan
Suara detak jam dinding kuno bermerek Seikosha itu adalah satu-satunya melodi yang menemani Arjuna di dalam bengkel kerjanya yang sempit. Ruangan itu berbau campuran minyak pelumas, kayu jati tua, dan aroma samar teh melati yang sudah mendingin di sudut meja. Di bawah lampu meja yang temaram, Arjuna memegang sebuah pinset perak, mencoba memasukkan sekrup sekecil butiran pasir ke dalam mekanisme jam saku peninggalan era kolonial.
Napasnya teratur. Fokusnya tajam. Baginya, memperbaiki barang rusak jauh lebih mudah daripada memperbaiki hubungan antar manusia. Barang mati tidak bisa berbohong; jika mereka berhenti bekerja, itu karena ada bagian yang aus atau patah. Sederhana. Logis.
"Selesai," bisiknya saat roda gigi itu kembali berputar dengan irama tik-tak yang stabil.
Arjuna menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berderit. Ia melepas kacamata pembesarnya, memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal. Di usianya yang baru menginjak dua puluh empat tahun, Arjuna telah dikenal di kalangan kolektor elit sebagai "Tangan Tuhan" dalam hal restorasi. Namun, di balik reputasi itu, ia hanyalah seorang pria yang lebih suka berbicara dengan benda mati daripada dengan orang-orang di luar sana.
Tiba-tiba, pintu depan tokonya yang bertuliskan “Lentera Klasik” berdentang. Bunyi lonceng kuningan itu menandakan ada tamu yang masuk. Arjuna melirik jam tangan—pukul delapan malam. Seharusnya ia sudah tutup.
"Kami sudah tutup," seru Arjuna tanpa beranjak dari kursinya.
Tidak ada jawaban verbal. Hanya suara langkah kaki yang mantap dan berwibawa, suara tumit sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai kayu ek. Aroma parfum yang mahal—campuran mawar hitam dan vanila—mulai memenuhi ruangan, mengalahkan bau minyak pelumas.
Arjuna menghela napas, bangkit, dan berjalan menuju lobi depan. Di sana, berdiri seorang wanita yang seolah-olah baru saja melangkah keluar dari sampul majalah bisnis ternama. Rambut hitamnya disanggul rapi, matanya yang tajam dilapisi riasan tipis namun tegas, dan setelan blazernya menunjukkan kelas yang berbeda dengan debu di toko ini.
"Arjuna Mahendra?" suara wanita itu dingin, sepadan dengan tatapannya.
"Tergantung siapa yang bertanya," jawab Arjuna datar.
Wanita itu mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna krem dengan segel lilin merah berbentuk lambang pohon beringin—lambang keluarga Mahendra yang sudah lama Arjuna tinggalkan.
"Saya Clara Adiwangsa. Saya yakin kamu mengenali segel ini. Kakekmu, Tuan Broto Mahendra, telah meninggal dunia tiga hari yang lalu."
Arjuna terdiam. Jantungnya berdenyut sedikit lebih cepat, namun wajahnya tetap datar. Kakeknya, satu-satunya orang yang memahaminya, telah pergi. Dan ia bahkan tidak tahu.
"Lalu? Saya sudah tidak ada urusan dengan keluarga itu sejak sepuluh tahun lalu," kata Arjuna, berusaha menahan getaran di suaranya.
Clara melangkah maju, meletakkan amplop itu di atas meja pajangan yang penuh debu. "Urusanmu baru saja dimulai, Arjuna. Kakekmu tidak meninggalkan harta warisannya kepada anak-anaknya yang rakus. Dia meninggalkannya untukmu. Tapi ada syaratnya."
"Saya tidak butuh uangnya," potong Arjuna cepat.
Clara tersenyum sinis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Ini bukan hanya soal uang.
Ini soal aset-aset bersejarah, yayasan pendidikan, dan sebuah janji lama. Di dalam wasiat ini, kakekmu menyebutkan bahwa kamu harus mengelola 'Proyek Simfoni' bersama lima orang wali yang telah ditunjuk. Dan saya adalah salah satunya."
Arjuna mengerutkan kening. "Proyek Simfoni?
Apa maksudnya?"
"Baca sendiri," jawab Clara sambil berbalik menuju pintu. "Besok pagi pukul sembilan, sebuah mobil akan menjemputmu. Kita akan pergi ke kediaman Mahendra. Jangan terlambat, atau kamu akan kehilangan satu-satunya petunjuk tentang apa yang terjadi pada ibumu sepuluh tahun lalu."
Kalimat terakhir Clara menghantam Arjuna seperti gada besi. Ibunya. Kasus hilangnya ibunya yang dianggap tabu oleh keluarga besar Mahendra. Bagaimana kakeknya bisa menyimpan informasi itu dalam sebuah wasiat?
Setelah Clara pergi, keheningan kembali menyelimuti toko. Arjuna mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya, terdapat selembar foto tua yang sudah menguning. Foto itu menunjukkan kakeknya berdiri bersama lima orang gadis kecil yang sedang bermain di taman mawar. Salah satu gadis itu adalah Clara, ia bisa mengenalinya dari tatapan matanya yang angkuh sejak kecil.
Namun, di bawah foto itu, ada secarik kertas dengan tulisan tangan kakeknya yang gemetar:
> "Arjuna, cucuku... Maafkan kakek yang pengecut ini. Kebenaran tidak pernah berbentuk garis lurus. Ia bercabang, seperti hati manusia. Temukan kelima kunci itu, dan kamu akan menemukan ibumu. Tapi ingat, setiap kunci memiliki perasaan. Jangan hanya gunakan logikamu, gunakanlah hatimu."
>
Arjuna terduduk di kursi panjang. Pikirannya kacau. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan pesan singkat.
“Senang melihatmu kembali ke permainan, Juna. Aku menunggumu di toko besok pagi. – Hana.”
Hana? Nama itu membangkitkan memori tentang seorang gadis kecil yang selalu mengekor di belakangnya, menangis setiap kali Arjuna jatuh dari pohon. Teman masa kecil yang pindah ke luar negeri tak lama setelah ibunya hilang.
Malam itu, Arjuna tidak bisa tidur. Ia memandang ke arah langit-langit bengkelnya. Dunia yang ia bangun dengan susah payah untuk menjauh dari keramaian kini mulai runtuh. Ia merasa seperti sebuah jam tangan kuno yang baru saja diputar pegasnya—ia dipaksa untuk terus berjalan, meski ia tidak tahu ke arah mana jarum jam itu akan membawanya.
Apakah ini awal dari penebusan dosa? Ataukah ini jebakan lain dari keluarga Mahendra yang haus kekuasaan?
Satu hal yang pasti, aroma mawar dari parfum Clara dan nama Hana yang muncul tiba-tiba adalah awal dari sebuah simfoni yang akan mengubah hidupnya selamanya. Ia harus menghadapi para wanita ini—para pemegang kunci takdirnya—dan di antara mereka, mungkin saja salah satunya adalah jawaban yang selama ini ia cari, atau justru masalah terbesar yang pernah ia hadapi.
Arjuna mematikan lampu meja. Dalam kegelapan, hanya suara detak jam yang terdengar, seolah menghitung mundur waktu menuju badai yang akan segera datang.
Daftar bab
5 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








