Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Aroma Candu Sang Pengamen

Aroma Candu Sang Pengamen

Dwinda | Bersambung
Jumlah kata
80.9K
Popular
146
Subscribe
49
Novel / Aroma Candu Sang Pengamen
Aroma Candu Sang Pengamen

Aroma Candu Sang Pengamen

Dwinda| Bersambung
Jumlah Kata
80.9K
Popular
146
Subscribe
49
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalSistemHaremTransmigrasi
Rian, seorang pengamen yang dikhianati dan dibunuh oleh Lisa dan Reyhan, kembali ke masa lalu dengan 'Sistem Kaisar Parfum'. Melalui manipulasi aroma, ia bertransformasi dari rakyat jelata menjadi CEO 'Aroma Candu' yang menguasai pasar kosmetik global. Di balik kesuksesannya, Rian harus menghadapi perang korporat melawan Vesper Global dan ancaman metafisik dari 'The Observer' yang mengincar eksistensi sistemnya. Setelah berhasil menghancurkan musuh-musuh lamanya melalui kehancuran sosial, Rian dihadapkan pada pilihan sulit: menjadi tuhan melalui kontrol aroma atau tetap menjadi manusia dengan melepaskan kekuatan absolutnya. Dengan bantuan tiga wanita yang menjadi kuncinya: Arya, Serena, dan Lia. Rian akhirnya membangun 'The Citadel', sebuah benteng kejujuran yang melindungi dunia dari manipulasi aroma untuk selamanya.
Bab 1: Sungai yang Mengubah Takdir

"Tolong! Tolong!" teriakku sambil menggapai udara kosong yang terasa seperti logam berkarat.

"Berisik, bangsat! Gak usah teriak-teriak!" hardik Reyhan sambil menginjak jariku yang mencengkeram besi jembatan.

"Sakit, Tuan... Sakit," rintihku dengan air mata yang bercampur air hujan.

"Kamu denger itu, Sayang?" ucap Reyhan kepada wanita di sampingnya, "Dia manggil aku Tuan. Lucu, ya?"

"Udah, Rey, buruan," kata Lisa dengan nada dingin yang belum pernah kudengar sebelumnya, "Aku gak kuat lama-lama disini. Bau badannya itu, lho... Benar-benar bikin mual!"

"Lisa, ini aku, Rian," bisikku, berharap masih ada sisa kasih sayang di matanya yang indah, "Kenapa kamu lakuin ini? Bukannya kemarin kita baru aja ngerayain hari jadian kita yang kedua?"

"Dua tahun itu kesalahan terbesar dalam hidup aku, Rian," ucap Lisa sambil menunduk menatapku dengan tatapan jijik, "Kamu cuma pengamen sampah yang gak punya masa depan. Gimana caranya kamu bisa pikir kalau aku beneran sayang sama kamu?"

"Tapi semua uang aku... Semuanya buat kamu kuliah, Lisa," kataku dengan suara bergetar.

"Makanya, makasih ya atas bantuannya," potong Reyhan sambil tertawa kencang, "Uang hasil kamu genjreng-genjreng di lampu merah itu udah bantu Lisa masuk ke lingkaran sosial yang jauh di atas kelas kamu. Dan sekarang, jasa kamu udah selesai!"

"Lepasin tangan aku, Reyhan! Kamu gila?" teriakku saat dia mulai mencongkel kuku-kukuku dari tepian jembatan.

"Jangan salahin aku, Sayang," ujar Reyhan kepada Lisa sebelum menoleh padaku, "Salahin nasib kamu yang terlahir miskin dan berani deketin pacar orang kaya kayak aku. Mati aja kamu!"

"Nggak! Tolong!" teriakku saat peganganku lepas.

"Dadah, Pengamen!" seru Lisa tanpa ada sedikit pun raut penyesalan.

Aku jatuh. Sensasi perut yang teraduk-aduk karena gravitasi itu sangat nyata. Dinginnya air sungai langsung menusuk tulangku seperti ribuan jarum es. Paru-paruku terasa meledak saat aku mencoba menarik napas namun hanya lumpur dan air yang masuk. Bau busuk air sungai, anyir darah dari kuku-kukuku, dan dingin yang luar biasa menjadi sensasi terakhir yang aku ingat sebelum semuanya menjadi gelap gulita.

Tiba-tiba, ada cahaya terang yang menyiksa mataku.

"Woi! Bangun! Kamu denger gak sih? Malah enak-enakan molor disini!" bentak sebuah suara serak yang terasa sangat dekat di telingaku.

Aku tersentak dan langsung terjatuh dari bangku kayu yang keras. Paru-paruku menarik oksigen sebanyak-banyaknya seolah-olah baru saja keluar dari tangki kedap udara. Aku batuk dengan hebat, berusaha membuang air yang kurasa masih ada di dalam dada.

"Eh, kamu kenapa? Jangan muntah disini, dong! Kamu mabok ya?" tanya suara itu lagi.

Aku mendongak dengan wajah pucat. Di depanku berdiri seorang pria berseragam satuan pengaman, lengkap dengan tongkat pemukul dan tatapan yang tidak bersahabat. Aku melihat ke sekeliling. Taman kota. Pepohonan yang rindang, bau kembang melati yang menyengat, dan cahaya matahari pagi yang menembus sela-sela dedaunan.

"Pak Jaka?" gumamku pelan, mengenali pria itu.

"Lho, kok kamu tahu nama saya?" tanya Satpam itu dengan dahi mengkerut, "Kamu sering mangkal disini, ya?"

"Ini... ini tanggal berapa, Pak?" tanyaku sambil mencoba meraba-raba badanku. Tidak ada luka. Bajuku tidak basah. Gitarku yang kusam tersandar rapi di bangku taman itu.

"Masih mabok beneran ya ini anak. Hari ini tanggal sepuluh Juni, Tong! Udah jam tujuh pagi lagi. Gimana sih?" jawab Pak Jaka sambil geleng-geleng kepala.

"Dua ribu dua puluh empat?" desakku lagi.

"Iya! Memangnya mau tahun berapa? Dua ribu delapan puluh?" ejeknya sambil memutar mata, "Sana buruan pergi. Jangan sampe komandan saya lihat kamu ada disini. Bisa panjang urusannya nanti!"

"Makasih, Pak. Makasih banyak!" seruku sambil menyambar gitar dan berdiri dengan terhuyung-huyung.

Aku lari menjauh tanpa tujuan. Hatiku berdegup kencang seakan mau copot. Aku memeriksa saku celanaku dan menemukan ponsel usang dengan layar yang sudah retak seribu. Tanggalnya benar. Sepuluh Juni. Itu berarti... tiga minggu sebelum malam itu di jembatan. Tiga minggu sebelum Lisa dan Reyhan mendorongku ke kematian.

"Gak mungkin," gumamku sambil berhenti di depan cermin sebuah ruko yang masih tutup.

"Apa yang gak mungkin, Yan? Kok kamu kayak baru lihat setan?" tanya seorang pria yang baru saja selesai memasang tali senar gitarnya di emperan toko itu.

"Kardi?" ucapku hampir berteriak.

"Lha, iya ini aku. Emangnya kamu kira aku ini hantu jembatan apa?" jawab Kardi sambil tertawa renyah, "Ayo buruan jalan. Spot di lampu merah simpang lima itu udah mau penuh kalau kita gak buru-buru sekarang!"

"Tunggu, Kardi," kataku sambil mencengkeram bahunya dengan kuat, "Kita beneran mau ngamen hari ini?"

"Aneh bener ini orang," sahut Kardi sambil menyingkirkan tanganku, "Gimana sih kamu? Kan kita udah janji dari kemarin. Hari ini kamu butuh uang buat bayar kontrakan Lisa, kan? Katanya pacar kesayangan kamu itu butuh tambahan uang buat tugas akhir? Kamu yang bilang sendiri, kok!"

"Kontrakan... Lisa," bisikku sambil merasakan gelombang amarah yang sangat panas mengalir di nadi-nadiku.

"Hah, lupakan aja soal Lisa itu, Yan. Fokus aja nyari duit dulu," saran Kardi sambil menarik lenganku, "Tadi aku denger di berita kalau bahan baku kosmetik itu harganya makin naik. Bayangkan kalau kita punya pabrik parfum, Yan, bukan cuma pengamen kayak gini!"

"Kenapa Bapak bilang soal parfum, Pak?" tanyaku heran.

"Bapak? Lha, tumben bener kamu panggil aku Bapak? Biasanya juga cuma Kardi-kardi aja," katanya sambil mengerutkan dahi, "Gak tahu ya, mendadak kepikiran aja. Kamu kan suka ngomongin wangi-wangian yang sering dibawa pulang sama si Lisa itu. Wanginya yang aneh-aneh itu, lho,"

"Aroma Lisa... Bau kebohongan," sahutku pelan.

"Hah? Apa kamu bilang? Suara motor kenceng bener tadi, aku gak denger," ucap Kardi sambil berjalan cepat ke arah persimpangan.

Aku mengikuti langkah Kardi, namun pikiranku melayang jauh ke masa lalu yang belum terjadi. Bau-bauan di sekitar kami tiba-tiba menjadi sangat tajam di hidungku. Aku bisa mencium bau oli bekas dari aspal, aroma nasi goreng basi dari tumpukan sampah di sudut jalan, sampai wangi sabun mandi yang dipakai Kardi pagi ini. Indra penciumanku mendadak berfungsi sepuluh kali lipat lebih sensitif.

"Kardi, kamu ngerasa gak baunya beda hari ini?" tanyaku saat kami sampai di tepi jalan.

"Bau apa sih, Yan? Biasa aja, bau asep knalpot kayak biasa," jawabnya tanpa menoleh.

"Enggak, Pak. Ini beda banget," kataku sambil menutup hidung sejenak, "Wanginya... tajam banget!"

"Ah, itu mah perasaan kamu aja. Makanya, kalau tidur itu jangan kelamaan, otak kamu jadi oleng itu," sahut Kardi sambil mulai memetik senar gitarnya. "Ayo, itu lampunya udah merah. Ayo maju!"

Saat aku baru saja hendak melangkah masuk ke tengah barisan kendaraan, kepalaku mendadak terasa dihantam oleh sebuah godam besar. Sebuah getaran listrik menjalar dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Aku tersungkur ke aspal yang panas.

"Rian! Kamu kenapa, Yan? Waduh, kamu kenapa jatuh begitu?" tanya Kardi dengan wajah panik.

"Kepala... kepala aku sakit banget, Di," desisku sambil menekan pelipis.

Tiba-tiba, di tengah kegelapan yang menyerang penglihatanku, muncul sebuah binar cahaya biru pucat. Cahaya itu memadat, membentuk sebuah kotak semi transparan yang melayang tepat di hadapan mataku. Ada teks yang mulai bermunculan satu per satu dengan bunyi 'ping' yang lembut namun sangat nyata di telingaku.

[Inisialisasi Sistem Kaisar Parfum Berhasil]

[Menyinkronkan Ingatan Inang]

[Menganalisis Kondisi Candour Saat Ini]

[Selamat Datang, Tuan Rian]

"Tuan?" bisikku dengan suara yang hampir tak terdengar di antara kebisingan knalpot mobil.

"Tuan siapa, Yan? Aduh, jangan pingsan dulu dong! Aku gak kuat gotong kamu sendirian!" teriak Kardi sambil mencoba mengangkat badanku.

Tiba-tiba, aroma di sekitarku berubah secara radikal. Bau aspal dan asap knalpot itu seolah tersaring sempurna. Sebuah wangi kayu manis yang sangat halus mulai memenuhi rongga hidungku, disusul oleh sensasi dingin yang menyegarkan. Pandanganku kembali fokus, dan layar transparan di depan mataku itu menunjukkan daftar bahan yang ada di sekitarku secara mendetail.

"Apa ini... sistem?" tanyaku pelan, tidak memedulikan tatapan aneh Kardi.

[Tugas Pertama: Dapatkan Aroma Ketakutan Seseorang]

[Imbalan: Resep Aura Pesona Tingkat 1]

[Apakah Anda Akan Menerimanya?]

Aku melihat ke arah lampu lalu lintas yang mulai berubah kuning. Di depan sana, ada sebuah mobil mewah berwarna perak yang sangat kukenal. Mobil milik keluarga Reyhan. Ayah Reyhan yang arogan duduk di bangku belakang, tengah berbicara dengan asistennya melalui ponsel. Aroma ketakutan? Aku merasa sebuah kekuatan besar baru saja menyuntikkan keberanian ke dalam darahku.

"Kardi, kasih gitarnya ke aku sebentar," kataku dengan suara yang kini terdengar lebih dalam dan berwibawa.

"Hah? Kan gitar kamu ada di pundak kamu, Yan! Kamu ini kenapa sih?" tanya Kardi dengan mata melotot.

Aku mengabaikan pertanyaannya. Aku melangkah ke arah mobil mewah itu. Setiap langkahku terasa ringan, seakan aku tidak lagi menapak di bumi yang kejam ini. Aku mengetuk kaca jendela belakang mobil perak itu dengan gerakan pelan namun menuntut. Saat kaca mobil itu turun sedikit, aku bisa mencium aroma parfum mahal yang bercampur dengan rasa stres sang pejabat.

"Ngapain kamu ketok-ketok mobil saya? Mau minta uang?" tanya pria di dalam mobil itu dengan wajah meremehkan.

"Bukan, Bapak," jawabku sambil menatap matanya tepat di pupilnya, "Saya cuma mau ngasih tahu, Bapak... bau kehancuran itu makin deket ya?"

Pria itu langsung terdiam, matanya melebar, dan dari saku dadanya keluar sebuah uap hitam transparan yang hanya bisa kulihat sendiri. Uap itu berputar di depanku, sangat dingin dan penuh keputusasaan.

[Bahan Berhasil Diperoleh: Aroma Ketakutan Pejabat Rendahan]

[Selamat, Resep Pertama Terbuka]

"Berengsek kamu! Pergi sana!" bentak pria itu sambil buru-buru menaikkan kaca jendelanya dengan wajah ketakutan yang nyata.

"Yan, kamu ngomong apa tadi sama dia?" tanya Kardi yang sekarang berdiri mematung di sampingku, "Mukanya sampe pucat kayak gitu, gila!"

Aku hanya tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tak pernah ada di wajah Rian sang pengamen.

"Bukan apa-apa, Di," ucapku dengan dingin, "Aku baru aja ngeracik... masa depan kita!"

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca