Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Lungkangkang Jimat Penakluk wanita

Lungkangkang Jimat Penakluk wanita

SahabatCinta | Bersambung
Jumlah kata
32.3K
Popular
126
Subscribe
41
Novel / Lungkangkang Jimat Penakluk wanita
Lungkangkang Jimat Penakluk wanita

Lungkangkang Jimat Penakluk wanita

SahabatCinta| Bersambung
Jumlah Kata
32.3K
Popular
126
Subscribe
41
Sinopsis
18+PerkotaanAksiPria Miskin21+Harem
Ketika hinaan, ejekan, dan cemooh melewati batas, kesabaran pun runtuh. Dari titik itulah dendam dan amarah bangkit. Jaka, pria yang selama ini diasingkan dan dipermalukan karena penyakit yang ia derita, akhirnya tak sanggup lagi menahan beban penghinaan warga desa. Rasa sakit yang dipendam bertahun-tahun mendorongnya menempuh jalan gelap, menuntut pembalasan atas perlakuan keji yang ia terima. Dikuasai dendam, Jaka melampaui batas kemanusiaan. Dengan bantuan batu mustika Lungkangkang yang di dapat, ia menodai kehormatan gadis gadis dan ketenteraman desa yang pernah menginjak-injak harga dirinya. Namun pembalasan itu tak pernah membawa kedamaian. Sebaliknya, ia justru menyeret Jaka ke dalam pusaran takdir yang lebih kelam dan kehidupan yang jauh lebih brutal dari sebelumnya.
Bab 1

Jaka mengendap endap dalam kegelapan malam, menyusuri pinggiran sebuah rumah di tengah desa. Rumah sederhana yang berdinding tembok.

Di rumah itulah Dea dan Diana tinggal. Dua gadis yang paling vokal menghinanya.

Ia berhenti di samping rumah, menoleh cepat ke kiri dan kanan memastikan semuanya aman. Desa terasa sepi. Hanya suara jangkrik dan debar jantungnya sendiri yang mengganggu telinga. Dengan perlahan ia merunduk, merangkak mendekati jendela kamar mandi, gerakannya pelan, hati-hati, seperti kucing mengintai mangsa.

Jaka mengintip dari celah jendela.

Lampu kamar mandi menyala terang, menerangi uap tipis yang mulai memenuhi ruangan kecil itu. Percikan air terdengar samar.

Dan kemudian ia melihatnya.

Diana, gadis sembilan belas tahun itu berdiri di dalam kamar mandi, membelakangi jendela, menyabuni tubuhnya. Rambut panjangnya yang basah menempel di punggung hingga ke lekuk pinggang yang mulai terbentuk. Setiap kali tangannya mengusap sabun ke kaki, pantatnya yang bulat bergerak pelan.

Jaka menahan napas.

Diana membalikkan badan. Wajahnya dari samping tampak tenang, bibirnya bersenandung mengikuti lagu dangdut yang sedang populer. Matanya terpejam, menikmati air yang mengguyur.

Jaka menjilat bibirnya yang kering.

Setiap kali Diana mengusap sabun ke leher, ke lengan, lalu turun ke perutnya, dada Jaka terasa makin sesak. Celananya semakin sempit menahan batangnya yang berdenyut.

Ketika Diana membungkuk untuk membasuh kakinya, tubuhnya ikut condong ke depan. Pantatnya terangkat, mengarah tepat ke jendela tempat Jaka mengintip. Dari posisi itu, belahan di antara dua bulatan itu tampak jelas, samar tertutup bulu-bulu halus yang basah oleh air.

Pemandangan itu seketika memicu bayangan liar di kepala Jaka.

Ia membayangkan tangannya sendiri menyentuh pantat itu, meremasnya keras, lalu mendorong Diana ke dinding bilik mandi. Membalikkan tubuh gadis itu, menahannya di sana, dan—

Napas Jaka mendadak memburu.

Pikirannya dipenuhi gambaran yang semakin liar, sementara tangannya tanpa sadar bergerak turun ke celananya sendiri.

Namun di tengah imajinasi yang memuncak, Diana bergerak. Ia menyabuni dadanya sendiri, memijat perlahan, jari-jarinya memutar putingnya dengan gerakan lambat. Wajahnya sedikit memicing, bibirnya mengerut, dan dari mulutnya keluar desahan kecil, nyaris tak terdengar.

Jaka hampir tak percaya. Gadis yang sering menghinanya, yang bilang ia bau dan menjijikkan—gadis itu malam ini menyentuh tubuhnya sendiri seperti perempuan nakal.

Masukin... masukin jarinya... batin Jaka.

Tapi Diana menghentikan tangannya. Ia mengambil gayung, menyiram tubuhnya sekali lagi, lalu meraih handuk. Dibalutnya tubuh itu, dikeringkannya rambutnya, lalu melangkah keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Jaka dengan batang mengeras, napas memburu, dan perasaan campur aduk.

Jaka berbalik. Tapi ia tak benar-benar pergi.

Ia berjalan ke arah desa, lalu memutar balik saat lampu rumah Dea mulai padam satu per satu. Pertama lampu teras. Lalu lampu ruang tamu. Terakhir lampu kamar.

Gelap.

Jaka menunggu di balik pohon mangga di pinggir jalan, menghitung. Cukup lama untuk dua perempuan tertidur pulas. Cukup lama untuk keberaniannya merangkak naik dari perut hingga ke dada.

Ini saatnya.

Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara. Kakinya yang terbiasa menapak pematang sawah di malam buta tahu persis cara menghindari kerikil, ranting, atau daun kering.

Pagar rumah Dea hanya besi rendah. Jaka melompatinya dengan mudah, lalu segera merunduk di sisi dinding.

Dari tempat itu ia tak bisa mendengar apa-apa. Dinding tembok terlalu tebal. Namun ia tahu Dea dan Diana tidur di kamar dalam—ruangan yang jendelanya, setelah berkali-kali ia perhatikan sebelumnya, hampir tak pernah dikunci rapat.

Ia merayap ke sisi rumah.

Di sana ada jendela dengan jeruji besi, celahnya cukup lebar untuk menyelipkan tangan. Kaca model lama yang bisa digeser.

Perlahan Jaka mendorongnya.

Sekat.

Sekat.

Cukup terbuka untuk menjulurkan kepala.

Bagian dalam ruangan gelap, tetapi mata Jaka sudah terbiasa dengan malam. Cahaya bulan yang masuk dari sela atap cukup untuk memperlihatkan dua tubuh yang terbaring di atas ranjang.

Dea di sisi luar, membelakangi jendela. Diana di sisi dalam, menghadap ke arah sepupunya. Selimut tipis menutupi sebagian tubuh mereka.

Jaka merasakan sesuatu berdesir di dadanya. Bukan gairah, melainkan sesuatu yang lebih gelap. Lebih dalam. Dendam dan amarah.

Kamu tidur nyenyak, Diana. Kamu tidak tahu aku di sini. Kamu tidak tahu aku melihatmu.

Aku akan menghancurkanmu.

Tangannya gemetar. Jaka mencengkeram kusen jendela, mencoba menenangkan napasnya.

Masuk… atau tidak?

Bayangan lama kembali menyerbu pikirannya. Diana yang menutup hidung setiap kali ia lewat. Suara gadis itu, tajam dan menghina.

“Badan kamu bau. Saya jadi mau muntah.”

Tawa teman-temannya. Tatapan jijik mereka.

Dada Jaka mendidih.

Perlahan ia mengangkat tubuhnya dan menyusup masuk lewat jendela. Kakinya menyentuh lantai keramik dengan bunyi samar.

Jaka langsung membeku di tempat.

Ia menunggu.

Tak ada pergerakan dari dalam kamar. Napas dua perempuan di atas ranjang tetap teratur, naik turun dalam tidur.

Jaka mulai melangkah lagi, sangat hati-hati. Ia menghindari kursi kayu dan meja kecil di sudut ruangan.

Satu langkah. Dua langkah.

Sekarang ia berdiri tepat di sisi dipan.

Dea terbaring di sisi ranjang yang paling dekat dengan Jaka. Wajah perempuan itu setengah menghadap ke atas, bibirnya sedikit terbuka dalam tidur. Dadanya naik turun perlahan. Dari tempat Jaka berdiri, ia bisa melihat belahan dada Dea di balik kancing baju tidur yang longgar.

Jaka menelan ludah. Tangannya tanpa sadar terulur ke arah leher Dea.

Sentuh… sekali saja…

Ujung jarinya hampir menyentuh kulit leher gadis itu—ketika Dea tiba-tiba bergerak.

Jaka langsung membeku. Tangannya kaku di udara.

Namun Dea hanya menggeliat dalam tidurnya. Ia membalikkan badan ke sisi lain, menghadap Diana, lalu kembali diam.

Jaka baru berani menghembuskan napas setelah beberapa detik.

Apa yang kamu lakukan, Jaka? Kamu mau mati?

Tapi kakinya tidak juga mundur. Pandangannya perlahan beralih ke Diana.

Gadis itu masih tidur dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Tangannya terselip di bawah bantal. Wajahnya tampak tenang, hampir terlalu damai. Diana tidur sangat pulas.

Terlalu pulas.

Sebuah ide jahat mulai muncul di kepala Jaka.

Andai… andai aku…

Pikirannya seperti berkelahi dengan dirinya sendiri.

Satu sisi berkata: Pulanglah. Kamu sudah keterlaluan.

Namun sisi lain berbisik lebih pelan, lebih dingin: Inilah saatnya. Balas dendammu.

Jaka memilih sisi kedua.

Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu: sebotol kecil minyak kayu putih. Bukan untuk dihirup, melainkan untuk dioleskan pada sepotong kain.

Kain itu kemudian ia dekatkan perlahan ke hidung Diana.

Tak butuh waktu lama.

Napas Diana berubah. Lebih dalam. Lebih lambat.

Minyak kayu putih itu sudah dicampur dengan tumbuhan liar dari tepi hutan—tumbuhan yang menurut cerita orang kampung bisa membuat seseorang tidur lebih pulas. Tidak berbahaya, hanya membuat orang sulit terbangun.

Jaka menunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tak ada gerakan dari kedua gadis itu.

Kini, di hadapannya, terbaring dua perempuan yang sering menghinanya. Dua orang yang selama ini tak pernah menganggap dirinya ada.

Tubuh Jaka gemetar.

Bukan karena takut.

Melainkan karena ia sadar—ini nyata.

Tangannya perlahan meraih ujung selimut yang menutupi tubuh mereka.

Dengan sangat hati-hati ia menariknya sedikit demi sedikit.

Selimut itu turun.

Kaki Dea terlihat lebih dulu. Betisnya mulus dan pucat dalam cahaya bulan.

Jaka menarik selimut itu lagi.

Kini selimut turun sampai ke paha.

Ia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu menariknya sepenuhnya.

Dea dan Diana kini terbaring hanya dengan baju tidur tipis. Kaki Diana sedikit terbuka, memperlihatkan pangkal pahanya yang samar terlihat di balik celana putih polos.

Lanjut membaca
Lanjut membaca