Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
BATU PETIR PONIJAN

BATU PETIR PONIJAN

Agung Wickz | Bersambung
Jumlah kata
36.8K
Popular
100
Subscribe
27
Novel / BATU PETIR PONIJAN
BATU PETIR PONIJAN

BATU PETIR PONIJAN

Agung Wickz| Bersambung
Jumlah Kata
36.8K
Popular
100
Subscribe
27
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalZero To HeroHarem21+
Dihina sebagai kuli panggul miskin, dipukuli hingga babak belur, dan dibuang ke jurang saat mencoba menyelamatkan cinta pertamanya yang dipaksa menikah. Orang-orang desa pikir riwayat Ponijan sudah tamat.Mereka salah besar.Di dasar jurang, darah Ponijan justru membangkitkan Mustika Batu Petir, sebuah artefak kuno yang mengubah takdirnya secara brutal. Ia kembali bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai sosok dengan tubuh sekeras baja, kekuatan penghancur langit, dan aura maskulin yang membuat wanita manapun bertekuk lutut.Kini, Ponijan siap menagih "utang" pada mereka yang menginjaknya. Ia akan meruntuhkan kesombongan para juragan dan menaklukkan hati wanita-wanita tercantik dari berbagai dunia—mulai dari kembang desa yang lugu, CEO kota yang angkuh, hingga ratu penjaga hutan.Saksikan bagaimana seorang kuli rendahan berubah menjadi Raja Harem yang menguasai dunia hitam dan putih. Siapkan jantung Anda, karena badai pembalasan Ponijan baru saja dimulai!
BAB 1: Nasib Buruk Ponijan

Matahari Desa Sukamaju siang itu terasa seperti sedang menghukum siapa saja yang berani menengadah ke langit. Panasnya bukan main. Cahaya terik itu membakar kulit, membuat aspal jalanan desa menguap dan menciptakan fatamorgana yang menyakitkan mata. Namun bagi Ponijan, panas matahari bukanlah musuh terbesarnya hari ini. Musuh terbesarnya adalah karung beras seberat lima puluh kilogram yang sedang bertengger di pundaknya yang ringkih.

Tulang punggung pemuda dua puluh tiga tahun itu berderit protes. Kakinya gemetar hebat setiap kali ia melangkah menaiki tangga gudang milik Pak Haji Sobri. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kaos oblong lusuh yang warnanya sudah tidak jelas lagi antara putih, abu-abu, atau cokelat karena daki. Napasnya memburu, terdengar seperti bunyi peluit kereta uap tua yang hampir rusak.

"Ayo cepat sedikit, Jan! Jangan lelet kayak siput!" bentak Mandor Karto dari bawah. Pria berkumis tebal itu sedang duduk santai di kursi bambu sambil mengipasi lehernya dengan topi anyaman. "Masih ada dua truk lagi yang harus bongkar muat. Kalau kerjamu begini terus, kapan selesainya?"

Ponijan tidak menjawab. Ia tidak punya tenaga untuk itu. Ia hanya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan rasa perih di bahu kanannya yang sudah lecet karena gesekan karung goni kasar. Ia memaksakan satu langkah lagi. Lalu satu langkah lagi. Sampai akhirnya karung itu berhasil ia hempaskan ke tumpukan beras di dalam gudang yang pengap.

Bruk.

Bunyi debuman itu sedikit melegakan. Ponijan menegakkan tubuhnya, lalu memutar pinggangnya hingga terdengar bunyi kretek yang nyaring. Rasanya nikmat sekaligus menyiksa. Ia menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor.

"Sudah, Mandor. Ini yang terakhir untuk truk ini," lapor Ponijan dengan suara parau. Tenggorokannya kering kerontang. Ia membayangkan segelas es teh manis buatan Warung Mpok Leha, tapi ia segera menepis bayangan itu. Uang di kantongnya tidak cukup untuk kemewahan semacam itu.

Mandor Karto melempar selembar uang dua puluh ribu rupiah yang sudah lecek ke tanah, tepat di depan sepatu butut Ponijan yang solnya sudah menganga.

"Nih, upahmu hari ini. Besok datang lagi jam lima pagi. Jangan telat," kata Mandor Karto tanpa menatap wajah Ponijan.

Ponijan menunduk, memungut uang itu dengan tangan gemetar. Harga dirinya terasa diinjak-injak setiap kali ia harus memungut rezekinya dari tanah seperti pengemis. Tapi ia tidak punya pilihan. Perutnya butuh diisi, dan yang lebih parah lagi, utang peninggalan orang tuanya terus menghantuinya setiap detik.

"Terima kasih, Mandor," ucapnya pelan.

Ia berjalan keluar dari area pasar desa dengan langkah gontai. Desa Sukamaju sebenarnya adalah desa yang subur dan makmur, terletak di kaki gunung yang hijau. Sawah-sawah terbentang luas, kebun sayur mayur melimpah ruah. Namun kemakmuran itu seolah tidak pernah mampir ke hidup Ponijan. Sejak orang tuanya meninggal karena kecelakaan longsor lima tahun lalu, Ponijan mewarisi dua hal: gubuk reyot di pinggir kali dan utang sebesar lima puluh juta rupiah pada Juragan Barja.

Lima puluh juta.

Bagi warga desa biasa, jumlah itu sudah seperti harga nyawa. Bunga utang itu terus berbunga, mencekik leher Ponijan hingga ia tidak bisa bernapas lega sedikit pun. Setiap sen yang ia dapatkan dari kerja serabutan selalu habis disetor ke anak buah Juragan Barja, menyisakan hanya remah-remah untuk makan nasi aking.

Saat Ponijan melintasi jembatan bambu menuju gubuknya, ia melihat sosok yang membuat jantungnya berdegup kencang sekaligus nyeri.

Di pinggir sungai, sedang mencuci pakaian, ada Sari.

Sari adalah definisi keindahan yang sederhana namun mematikan. Gadis itu mengenakan kebaya katun sederhana bermotif bunga kecil dan kain jarik yang sedikit basah di bagian bawahnya. Rambut hitam panjangnya digelung asal-asalan, menyisakan beberapa helai anak rambut yang menempel di leher jenjangnya yang berkeringat. Kulitnya kuning langsat, bersinar di bawah terpaan sinar matahari sore.

Ponijan berhenti sejenak di balik pohon besar, mengagumi gadis itu dari jauh. Sari adalah teman masa kecilnya. Satu-satunya orang di desa ini yang tidak memandang Ponijan dengan tatapan jijik. Dulu, mereka sering bermain di sungai ini, berjanji akan menikah kalau sudah besar nanti. Janji-janji manis bocah ingusan yang kini terasa seperti racun.

Sari sepertinya menyadari kehadiran seseorang. Ia menoleh, dan senyum manis langsung merekah di bibirnya saat melihat Ponijan. Senyum itu. Senyum yang membuat Ponijan rela mati berkali-kali.

"Mas Ponijan!" panggil Sari sambil melambaikan tangan yang penuh busa sabun.

Ponijan tersenyum kecut, lalu mendekat. "Sari. Masih nyuci jam segini?"

"Iya, Mas. Tadi bantu Ibu di ladang dulu," jawab Sari. Ia menatap wajah Ponijan yang kusam dan penuh debu dengan tatapan khawatir. Tangannya yang basah terulur, ingin menyentuh pipi Ponijan tapi tertahan di udara. "Mas... Mas Ponijan kelihatan capek banget. Sudah makan?"

Ponijan menggeleng pelan. "Belum sempat. Nanti saja di rumah."

Wajah Sari berubah sendu. Tanpa kata, ia merogoh keranjang cuciannya dan mengeluarkan bungkusan daun pisang. "Ini, Sari tadi sengaja nyisain nasi liwet sama ikan asin buat Mas. Makan ya, Mas. Jangan sampai sakit."

Ponijan menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar. Kehangatan nasi itu menembus kulit tangannya, merambat lurus ke hatinya yang dingin. "Sari... kamu nggak perlu repot-repot begini. Nanti ibumu marah kalau tahu kamu kasih jatah makanmu buat aku."

"Biarin Ibu marah," kata Sari tegas, meski matanya berkaca-kaca. "Sari nggak tega lihat Mas Ponijan kurus kering begini terus. Mas harus kuat."

Ada nada mendesak dalam suara Sari yang membuat Ponijan curiga. Ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. "Sari, ada apa? Kok ngomongnya begitu? Ada masalah di rumah?"

Sari menunduk, memainkan ujung kain jariknya. Suasana hening sejenak, hanya terdengar gemericik air sungai yang menabrak bebatuan. Ketika Sari mengangkat wajahnya lagi, air mata sudah mengalir di pipinya yang mulus.

"Bapak... Bapak sudah nerima lamaran Juragan Barja buat Mas Bagus," isak Sari pelan.

Dunia Ponijan rasanya runtuh seketika. Langit yang cerah mendadak terasa gelap gulita. Bagus. Anak semata wayang Juragan Barja. Pemuda gendut, sombong, dan tukang main perempuan itu akan menikahi Sari? Sari-nya?

"Kapan?" tanya Ponijan dengan suara tercekat.

"Minggu depan, Mas. Tunangannya minggu depan," Sari menangis sesenggukan. "Bapak bilang utang Bapak ke Juragan Barja bakal lunas kalau Sari mau jadi istri kedua Mas Bagus. Sari nggak mau, Mas! Sari maunya sama Mas Ponijan!"

Tangan Ponijan mengepal erat hingga kukunya menancap ke telapak tangan. Rasa tidak berdaya menghantamnya lebih keras daripada pukulan apapun. Ia hanyalah kuli panggul miskin. Apa yang bisa ia tawarkan pada orang tua Sari? Cinta? Cinta tidak bisa membayar utang. Cinta tidak bisa membeli beras.

"Aku akan bicara sama Bapakmu, Sar," kata Ponijan, meski ia sendiri tidak yakin apa yang akan dikatakannya.

"Percuma, Mas. Kecuali..." Sari menatap Ponijan dengan tatapan penuh harap yang menyakitkan. "Kecuali Mas bisa melunasi utang Mas sendiri ke Juragan Barja, lalu melamar Sari dengan layak. Tapi... tapi jumlahnya..."

Lima puluh juta. Angka keramat itu lagi.

Sebelum Ponijan sempat menjawab, sebuah suara berat dan kasar memecah momen emosional mereka.

"Woy! Tikus got! Enak-enakan pacaran di sini, hah?!"

Ponijan dan Sari tersentak. Di atas jembatan bambu, berdiri tiga orang pria bertubuh kekar dengan wajah garang. Itu adalah Jono, Karyo, dan Dullah. Tiga centeng andalan Juragan Barja yang tugasnya menagih utang dengan kekerasan.

Jono, yang badannya paling besar dan penuh tato murahan di lengan, meludah ke sungai, nyaris mengenai kepala Ponijan.

"Juragan Barja nyariin lu dari tadi pagi! Lu kira bisa kabur, hah?" bentak Jono sambil turun dari jembatan, diikuti dua temannya.

Ponijan refleks berdiri di depan Sari, melindunginya. Tubuhnya yang kurus tampak sangat kecil dibandingkan tiga preman kampung itu. "Aku nggak kabur, Bang Jono. Aku baru pulang kerja."

"Kerja? Kerja apaan yang duitnya nggak pernah nyampe ke tangan Juragan?" cibir Karyo sambil menoyor kepala Ponijan dengan keras. Kepala Ponijan terhuyung ke belakang.

"Mas, jangan!" pekik Sari ketakutan.

Jono tertawa mengejek melihat Sari. Matanya yang jelalatan menyapu tubuh gadis itu dari atas ke bawah dengan tatapan yang membuat Ponijan ingin mencolok mata itu. "Wih, calon bini Tuan Muda Bagus makin hari makin montok aja. Pantesan Tuan Muda ngebet banget pengen cepet-cepet ngelonin lu."

Darah Ponijan mendidih. "Jaga mulutmu, Bang!"

Buk!

Sebuah pukulan telak mendarat di perut Ponijan. Ia terbungkuk, memuntahkan air liur bercampur sedikit darah. Dullah baru saja menghantam ulu hatinya tanpa peringatan. Ponijan jatuh berlutut di tanah yang becek.

"Mas Ponijan!" Sari hendak menolong, tapi tangannya dicengkeram oleh Karyo. "Lepasin! Lepasin aku!"

"Lu diem di situ, Neng Manis. Ini urusan laki-laki," kata Karyo sambil menyeringai.

Jono menjambak rambut Ponijan, memaksanya mendongak. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Bau rokok kretek dan alkohol murahan menguar dari mulut Jono.

"Denger baik-baik, tikus," desis Jono. "Juragan Barja udah habis kesabarannya. Lu dikasih waktu tiga hari. Tiga hari buat ngelunasin bunga utang bulan ini sebesar lima juta. Kalau nggak ada duitnya, gubuk reyot lu bakal dibakar. Dan lu..." Jono menepuk pipi Ponijan dengan kasar, "...lu bakal kami jadiin pupuk di kebon singkong Juragan."

Ponijan terbatuk, rasa sakit menjalar di seluruh rusuknya. "Lima juta? Dari mana aku dapat uang segitu dalam tiga hari, Bang? Itu nggak masuk akal!"

"Bodo amat! Lu mau jual ginjal kek, mau ngerampok kek, itu urusan lu!" Jono melepaskan jambakannya, membuat kepala Ponijan membentur tanah lagi. "Ingat. Tiga hari. Kalau lu macem-macem atau coba lapor polisi, Sari yang bakal nanggung akibatnya sebelum dia resmi jadi bini Tuan Muda."

Ketiga preman itu tertawa terbahak-bahak, lalu melenggang pergi meninggalkan Ponijan yang terkapar di tanah dan Sari yang menangis histeris.

Sari segera berlutut, memeluk tubuh Ponijan yang kotor dan babak belur. "Mas... Mas nggak apa-apa? Ya Allah... bibir Mas berdarah."

Ponijan merasakan air mata Sari menetes di wajahnya, bercampur dengan darah dan keringat. Rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit di hatinya. Ia merasa sangat kecil. Sangat tidak berguna. Ia gagal melindungi dirinya sendiri, apalagi melindungi wanita yang ia cintai.

Ia menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, seolah-olah alam sedang menertawakan kemalangannya.

"Maafin aku, Sar..." bisik Ponijan parau. "Aku... aku janji akan cari jalan keluar."

"Nggak usah janji, Mas. Kita kabur aja yuk? Kita pergi dari desa ini malam ini juga," ajak Sari dengan putus asa.

Ponijan menggeleng lemah. "Nggak bisa, Sar. Mereka bakal ngejar kita. Dan keluargamu... mereka bakal nyiksa Bapak Ibumu kalau kamu hilang."

Ponijan bangkit perlahan dengan sisa tenaganya, menolak bantuan Sari. Ia butuh berdiri sendiri. Ia butuh merasakan sakit ini sepenuhnya agar ia ingat betapa kejamnya dunia padanya.

Malam itu, Ponijan duduk sendirian di depan gubuknya yang gelap karena listrik sudah diputus PLN seminggu lalu. Bungkusan nasi liwet dari Sari masih utuh di sampingnya, sudah dingin dikerubuti semut. Ia menatap ke arah utara, ke arah puncak gunung yang tertutup awan hitam pekat. Kilat mulai menyambar-nyambar di kejauhan, menandakan badai besar akan datang.

Orang-orang desa bilang, di balik gunung itu ada "Hutan Larangan". Tempat di mana tidak ada manusia yang boleh masuk dan bisa kembali hidup-hidup. Konon, banyak harta karun peninggalan kerajaan kuno yang terkubur di sana.

Mata Ponijan menyipit. Kilatan putus asa bercampur nekat mulai muncul di matanya yang bengkak sebelah.

"Tiga hari..." gumamnya pada angin malam yang menusuk tulang. "Kalau aku diam saja, aku mati. Kalau aku melawan, aku mati. Kalau begitu, lebih baik aku mati saat mencoba mengubah nasib."

Guruh menggelegar dahsyat, seolah menjawab sumpah dalam hati Ponijan. Takdir roda kehidupannya baru saja mulai berputar, menuju ke arah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca