

Malam itu turun lebih cepat dari biasanya.
Langit di atas Desa Wanasetra tidak lagi menampilkan warna jingga yang lembut seperti sore-sore sebelumnya. Awan kelabu menggantung berat, seolah menahan sesuatu yang tak kasat mata.
Arga berdiri di beranda rumah kayunya yang hampir roboh. Angin membawa aroma tanah basah dari arah timur—arah yang selalu dihindari penduduk desa.
Arah Hutan Larangan.
Sejak kecil, Arga sudah mendengar cerita tentang hutan itu. Orang tuanya selalu berkata:
“Jangan pernah mendekat. Jangan menoleh saat mendengar namamu dipanggil dari sana.”
Namun malam ini… sesuatu berbeda.
Ia mendengar suara.
Bukan suara hewan. Bukan angin.
Suara ranting patah. Pelan. Berirama.
Krek… krek… krek…
Arga menajamkan pendengarannya.
Desa biasanya sunyi setelah magrib. Tak ada yang berani keluar rumah. Namun suara itu tidak datang dari jalan desa.
Itu dari hutan.
Ia mencoba mengabaikannya. Masuk ke dalam rumah. Menutup pintu rapat. Tapi jantungnya berdegup tidak wajar. Seolah tubuhnya mengenali sesuatu yang pikirannya belum pahami.
Lalu terdengar lagi.
Kali ini lebih jelas.
“Arga…”
Ia membeku.
Suara itu tidak keras. Tidak berteriak. Hanya bisikan lembut yang seperti datang dari balik dedaunan.
“Arga…”
Dingin menjalar di punggungnya.
Ibunya pernah berkata—jika hutan memanggil namamu, jangan jawab.
Tapi suara itu…
Bukan menyeramkan.
Bukan mengancam.
Melainkan seperti… rindu.
Arga menggenggam dada kirinya. Ada sensasi hangat yang aneh. Seperti disentuh sinar matahari di pagi hari.
Tiba-tiba, terdengar teriakan dari ujung desa.
“Pak Wiryo hilang!”
Beberapa lampu minyak dinyalakan serentak. Orang-orang keluar dengan wajah panik.
Arga ikut berlari ke arah kerumunan.
Di tepi sawah, jejak kaki besar tercetak di tanah basah. Bukan jejak manusia. Bukan juga hewan yang pernah ia lihat.
Dan jejak itu mengarah ke…
Hutan Larangan.
Ketua desa, Pak Lurah Darmawan, menghela napas panjang.
“Kita tak bisa lagi menutup mata,” katanya tegang. “Sudah tiga orang hilang bulan ini.”
Seorang warga berseru, “Kita bakar saja hutannya!”
Keributan langsung pecah.
Arga berdiri diam.
Entah mengapa, kata-kata itu membuat dadanya sesak.
Bakar hutan?
Tiba-tiba ia melihat kilatan bayangan di antara pepohonan di kejauhan. Seperti sesuatu sedang mengawasi mereka.
Bukan dengan niat buruk.
Tapi dengan kewaspadaan.
Seolah hutan itu… takut.
Malam semakin larut. Warga kembali ke rumah masing-masing dengan ketakutan.
Namun Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di ambang jendela, menatap siluet pohon-pohon hitam di kejauhan.
Dan kembali terdengar bisikan.
“Datanglah…”
Kali ini bukan hanya suara.
Angin berembus membawa serpihan daun kering yang masuk ke kamarnya. Daun itu berputar di udara, lalu jatuh tepat di tangannya.
Anehnya, daun itu masih hijau segar.
Padahal musim kemarau belum lama berakhir.
Arga berdiri perlahan.
Ia tak tahu mengapa kakinya melangkah.
Tak tahu mengapa ketakutannya justru terasa memudar.
Langkah demi langkah ia berjalan menuju batas desa.
Bulan tertutup awan. Cahaya hanya berasal dari kunang-kunang yang berkerlip samar.
Saat ia melewati batu penanda batas wilayah, angin berhenti tiba-tiba.
Sunyi.
Begitu sunyi hingga detak jantungnya sendiri terdengar nyaring.
Ia berdiri tepat di depan pohon besar pertama—pohon tua dengan akar menjalar seperti ular.
Inilah awal Hutan Larangan.
“Kenapa kau memanggilku?” bisiknya tanpa sadar.
Tak ada jawaban suara.
Namun tanah di bawah kakinya bergetar halus.
Dari balik pohon, muncul cahaya samar kehijauan. Bukan api. Bukan lampu.
Cahaya itu membentuk siluet tinggi, menyerupai manusia… tapi tidak sepenuhnya.
Arga mundur satu langkah.
Namun sosok itu tidak menyerang.
Ia hanya berdiri.
Dan Arga merasakan sesuatu yang ganjil—
Bukan rasa takut.
Melainkan… perlindungan.
Di saat yang sama, dari arah desa terdengar teriakan panjang yang membuat darahnya membeku.
Jeritan seorang anak kecil.
Arga menoleh ke belakang.
Sosok cahaya itu bergerak cepat—lebih cepat dari kilat—dan tiba-tiba berdiri di antara Arga dan arah desa.
Seolah menghalangi sesuatu.
Angin berembus kencang. Pepohonan bergoyang hebat.
Dari balik kegelapan, terdengar raungan makhluk yang bukan milik dunia biasa.
Arga melihat bayangan besar dengan mata merah menyala.
Makhluk itu hendak menerjang desa.
Namun akar-akar pohon tiba-tiba muncul dari tanah, melilit makhluk itu dengan kekuatan luar biasa.
Raungan menggema.
Tanah retak.
Udara bergetar.
Dan Arga berdiri di sana… menyaksikan.
Hutan itu bertarung.
Untuk desa.
Untuknya.
Cahaya kehijauan semakin terang. Makhluk bermata merah itu menjerit sebelum akhirnya terseret masuk ke dalam tanah.
Sunyi kembali.
Daun-daun perlahan berhenti bergerak.
Sosok cahaya itu menoleh ke arah Arga.
Untuk sesaat, Arga merasa melihat wajah ibunya dalam kilau cahaya itu.
Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
“Siapa… kamu?” suaranya bergetar.
Kali ini ia mendengar jawaban.
Bukan lewat telinga.
Tapi langsung di pikirannya.
“Aku adalah akar yang melindungimu. Darahmu adalah janjiku.”
Arga terdiam.
Darahku?
Angin kembali berembus lembut.
Sosok itu perlahan memudar.
Sebelum hilang sepenuhnya, satu kalimat terakhir terdengar:
“Waktumu akan tiba.”
Arga berdiri sendirian di depan Hutan Larangan.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa sendirian.
Ia menoleh ke arah desa yang kini sunyi kembali.
Mereka tak tahu apa yang baru saja terjadi.
Tak tahu bahwa sesuatu telah bangkit.
Dan tak tahu bahwa Hutan Larangan bukan lagi sekadar tempat terkutuk.
Hutan itu… telah memilih pelindungnya.
Dan tanpa disadari Arga, di kedalaman paling gelap hutan, sepasang mata lain terbuka.
Mengamati.
Menunggu.
Permainan baru saja dimulai."
------
Pagi di Desa Wanasetra terasa berbeda.
Biasanya ayam berkokok bersahutan, ibu-ibu bercakap di sumur, dan anak-anak berlari kecil menuju ladang. Tapi pagi ini, suasana terasa berat.
Arga berdiri di depan rumahnya, memandangi jalan tanah yang masih lembap oleh embun.
Tiba-tiba terdengar suara langkah cepat.
“Arga!”
Itu Raka, sahabatnya sejak kecil. Wajahnya pucat, napasnya terengah.
“Ada apa?” Arga bertanya pelan.
“Kau dengar semalam?” Raka menelan ludah. “Jeritan itu… semua orang dengar.”
Arga terdiam sejenak. “Aku dengar.”
“Kau lihat sesuatu?”
Pertanyaan itu membuat jantung Arga bergetar sesaat.
Ia tidak langsung menjawab.
Raka mempersempit matanya. “Jangan bilang kau keluar rumah.”
“Aku cuma sampai batas desa.”
“KAU GILA?!” Raka hampir berteriak. “Itu Hutan Larangan!”
Arga menatap sahabatnya lurus-lurus. “Hutan itu melindungi kita.”
Raka terdiam. “Apa?”
“Aku melihatnya sendiri.”
“Melihat apa?”
Arga menarik napas panjang. “Makhluk bermata merah. Besar. Hendak masuk desa.”
Raka mundur selangkah. “Kau bercanda, kan?”
“Kalau bercanda, aku tak akan berdiri di sini dengan tubuh gemetar seperti ini.”
Raka menatapnya beberapa detik. “Lalu?”
“Hutan menghentikannya.”
“Hutan? Maksudmu… pohon-pohon?”
“Bukan sekadar pohon.”
Raka menggeleng keras. “Tidak. Tidak. Jangan mulai bicara seperti orang tua yang kerasukan cerita nenek moyang.”
Arga mendekat. “Raka, aku melihat akar-akar keluar dari tanah. Melilit makhluk itu. Menariknya masuk.”
Raka menatap mata Arga dalam-dalam.
“Kau tidak bohong?”
“Aku berharap aku bohong.”
Suasana hening sesaat.
Lalu dari kejauhan terdengar suara Pak Lurah Darmawan memanggil warga untuk berkumpul di balai desa.
Balai desa penuh.
Pak Lurah berdiri di tengah, wajahnya serius.
“Kita tidak bisa terus hidup dalam ketakutan,” katanya lantang. “Tiga orang hilang. Ternak lenyap. Semalam kita dengar suara yang bukan suara biasa.”
Seorang pria tua berdiri. “Itu tanda, Pak Lurah. Hutan minta tumbal.”
“Tumbal apa lagi, Pak Sastro?” potong seorang ibu dengan suara gemetar.
Pak Sastro menatap tajam. “Dulu, sebelum kalian lahir, desa ini pernah hampir musnah. Hutan meminta penjaga.”
Ruangan langsung sunyi.
Arga merasa bulu kuduknya berdiri.
“Penjaga?” Raka berbisik di sampingnya.
Pak Lurah menghela napas. “Cerita lama tak perlu diungkit.”
“Justru harus!” seru Pak Sastro. “Darah penjaga masih ada di desa ini.”
Arga merasakan dada kirinya berdenyut.
Raka meliriknya pelan.
Pak Lurah memukul meja. “Cukup! Kita tak akan menyerahkan siapa pun pada hutan!”
Arga tanpa sadar berdiri.
“Bagaimana kalau hutan tidak meminta?” suaranya terdengar jelas.
Semua mata menoleh.
“Apa maksudmu, Arga?” tanya Pak Lurah.
“Bagaimana kalau hutan justru melindungi kita?”
Beberapa orang langsung berbisik.
“Anak itu sudah kemasukan,” terdengar suara lirih.
Pak Sastro menatap Arga tajam. “Kau bermimpi apa semalam, Nak?”
Arga menahan napas. “Saya melihat makhluk dari luar desa mencoba masuk. Hutan menghentikannya.”
Ruangan meledak dalam keributan.
“Itu mustahil!”
“Dia berhalusinasi!”
Raka tiba-tiba berdiri di samping Arga. “Aku percaya dia.”
Arga menoleh kaget.
Raka menelan ludah tapi tetap melanjutkan, “Arga bukan pembohong. Kalau dia bilang melihat sesuatu, berarti itu nyata.”
Pak Lurah menatap mereka berdua lama sekali.
“Arga,” suaranya lebih lembut, “ibumu dulu juga sering berkata hal yang sama.”
Jantung Arga berhenti sesaat.
“Apa maksudnya?”
Pak Lurah terdiam, seolah menimbang sesuatu.
Namun Pak Sastro lebih dulu berbicara.
“Ibumu, Lestari… sering masuk ke tepi hutan. Sendirian.”
Arga membeku. “Itu tidak mungkin.”
“Mungkin kau terlalu kecil untuk mengingat.”
Pak Lurah akhirnya berkata pelan, “Ibumu pernah menyelamatkan desa ini.”
“Bagaimana?”
“Dengan berdiri di batas hutan saat badai besar datang dua puluh tahun lalu.”
“Lalu?”
Pak Lurah menatap tanah. “Setelah malam itu, badai berhenti. Tapi ibumu tak pernah sama lagi.”
Arga merasa dunia berputar.
“Kenapa tak pernah ada yang menceritakan ini padaku?”
“Karena ibumu melarang,” jawab Pak Lurah lirih.
“Melarang?”
“Ia bilang… waktunya belum tiba.”
Kata-kata itu membuat ingatan semalam kembali bergaung.
“Waktumu akan tiba.”
Arga terdiam.
Raka mencengkeram lengannya. “Ga, katakan kau tidak berpikir untuk masuk lagi ke hutan.”
Arga menatap sahabatnya.
“Aku harus tahu kebenarannya.”
“Tidak!” Raka menggeleng keras. “Kita bisa cari cara lain.”
“Cara apa?”
“Kita… kita minta bantuan kota.”
Beberapa warga langsung setuju.
“Ya! Panggil aparat!”
“Biar mereka bersenjata!”
Pak Sastro tertawa kecil. “Senjata manusia tak ada artinya di hadapan yang tua.”
Arga mengangkat suara lagi. “Kalau kalian panggil orang luar, hutan mungkin akan menganggapnya ancaman.”
“Dan kau lebih memilih percaya hutan daripada desa ini?” seorang pria muda membentaknya.
Arga terdiam beberapa detik.
“Aku ingin melindungi desa ini.”
“Dengan jadi kaki tangan hutan?” ejek pria itu.
Raka berdiri di depan Arga. “Cukup! Kita semua takut! Tapi saling menyalahkan tidak akan membantu!”
Suasana memanas.
Pak Lurah akhirnya mengangkat tangan.
“Keputusan belum diambil. Kita beri waktu tiga hari. Jika ada tanda buruk lagi… kita akan meminta bantuan dari luar.”
Semua orang perlahan bubar.
Di luar balai desa, Raka menarik Arga ke samping.
“Kau benar-benar mau masuk lagi?”
“Aku tidak tahu.”
“Jangan lakukan sendirian.”
Arga tersenyum tipis. “Kau mau ikut?”
Raka terdiam lama.
Lalu menghela napas panjang. “Aku takut setengah mati.”
“Aku juga.”
“Tapi kalau kau pergi sendiri dan tak kembali, siapa yang akan kubenci seumur hidup?”
Arga tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu.
“Kau ini…”
Raka memukul pelan bahunya. “Kapan?”
“Malam ini.”
Raka memucat. “KENAPA MALAM INI?!”
“Karena jika orang kota datang nanti… semuanya bisa berubah.”
Raka mengusap wajahnya frustasi. “Baik. Tapi kalau aku mati, kau yang jelaskan pada ibuku di alam sana.”
Arga tersenyum. “Deal.”
Namun jauh di dalam Hutan Larangan, tanah kembali bergetar pelan.
Dan suara yang sama berbisik—
“Bersiaplah…”
Bersambung