

Sawit Sebrang bukan sekadar pulau. Ia seperti dunia yang berdiri sendiri—terpisah dari daratan utama, terasing dari hiruk-pikuk kota, namun sibuk oleh suara mesin dan jerit halus pohon-pohon yang tumbang setiap hari. Untuk sampai ke sana, dibutuhkan perjalanan hampir tiga jam dari pelabuhan kecil di pesisir: satu jam menembus laut keruh dengan kapal kayu bermesin kasar, lalu dua jam lagi menyusuri jalan tanah merah yang berdebu dan berlumpur tergantung musim.
Dari kejauhan, pulau itu tampak hijau dan menjanjikan. Hamparan kelapa sawit membentang sejauh mata memandang, tertata rapi seperti barisan tentara yang tak pernah lelah berdiri. Namun semakin dekat, keindahan itu berubah menjadi rasa asing. Tidak ada perkampungan warga. Tidak ada pasar. Tidak ada sekolah. Yang ada hanya wilayah-wilayah perkebunan yang dibagi menjadi beberapa Area, masing masing area dikuasai oleh seorang penguasa. Memimpin dan mengelola wilayah masing masing.
Setiap areal memiliki perumahan masing masing. Pondok pondok pekerja berdiri ditiap areal. Beberapa areal berdiri menjadi pusat manajement areal, ada pula menjadi pusat belanja diareal itu. Dan yang terbesar adalah pekan raya, area itu menjadi pusat pulau sawit seberang.
Diantara area area itu, area A feng yang terlihat buruk, barak-barak pekerja terlihat lapuk. Manajementnya juga kurang, area itu menjadi ajang hirarki. Bahkan salah satu asisten menegernya bernama Pongki menjadikan seorang kraninya menjadi simpanan.
Kesenjangan di Sawit Sebrang terasa nyata. Terutama diareal A Feng, Terlalu nyata.
Kapal yang membawa Gatot Kuncoro akhirnya merapat di dermaga kayu kecil menjelang sore. Angin laut membawa bau asin bercampur solar. Gatot turun dengan tas ransel lusuh di punggungnya. Matanya menatap sekeliling dengan campuran harap dan cemas.
“Inilah Sawit Sebrang,” gumamnya pelan.
Seorang pria bertubuh besar dengan kulit legam dan kumis tebal mendekatinya. Seragam lapangannya kotor oleh lumpur kering.
“Kau Gatot?” tanyanya singkat.
“Iya, Pak.”
“Aku Moris. Mandor di sini. Ikut aku.”
Nada bicaranya datar, tanpa senyum.
Gatot mengikuti Moris menaiki mobil bak terbuka bersama beberapa pekerja baru lainnya. Sepanjang perjalanan, debu beterbangan menampar wajah. Di kanan kiri hanya pohon sawit, parit-parit panjang, dan pekerja yang memanggul tandan buah berat di bawah terik matahari yang belum sepenuhnya tenggelam.
Setelah hampir tiga puluh menit menyusuri jalan tanah, mobil berhenti di depan deretan bangunan kayu panjang diareal A Feng.
“Itu barak kalian,” ujar Moris singkat.
Gatot turun. Langkahnya melambat ketika melihat tempat yang akan ia sebut rumah. Kayu-kayunya tampak keropos. Seng atap berlubang di beberapa bagian. Di depan barak, jemuran pakaian tergantung kusam. Bau keringat dan asap kayu bercampur di udara.
Di dalam, ruangan panjang itu dibagi menjadi petak-petak kecil hanya dengan papan tipis. Satu kamar diisi dua sampai tiga orang. Sebuah ranjang kayu sederhana tanpa kasur empuk. Hanya tikar dan selimut tipis.
“Kau di petak nomor tujuh,” kata Moris sambil menunjuk ke ujung.
Gatot masuk ke petaknya. Ia meletakkan tasnya di sudut ruangan. Jendela kecil tanpa kaca memperlihatkan barisan sawit yang bergoyang pelan tertiup angin sore.
Hatinya tercekat.
Inilah awal perantauannya.
Di pulau yang jauh dari siapa pun yang mengenalnya.
Di tanah yang menjanjikan uang… namun tak menawarkan kenyamanan.
Di luar, suara para pekerja terdengar lelah dan berat. Sawit Sebrang tidak memberi ruang untuk bermimpi terlalu lama.
Dan Gatot belum tahu, pulau ini bukan hanya akan menguji fisiknya—
tetapi juga jiwanya.
---
Hari pertama Gatot di ancak terasa seperti hukuman panjang tanpa akhir. Sejak subuh, ia sudah digiring ke Blok—wilayah pembabatan lahan baru. Matahari bahkan belum tinggi ketika keringat sudah membasahi punggungnya. Tugasnya sederhana tapi melelahkan: membersihkan semak, menebas ilalang, dan merapikan pelepah sawit yang mengering. Namun di Sawit Sebrang, pekerjaan sederhana berarti tenaga diperas habis-habisan.
Namun itu bukan hanya tentang lelah. Itu tentang cara mereka diperlakukan.
Sore menjelang ketika Gatot akhirnya berjalan kembali dari ancak. Bahunya pegal, telapak tangannya perih karena gagang parang yang kasar. Ia berjalan menyusuri jalur tanah di antara barisan sawit yang rapat. Suasana mulai sepi. Sebagian pekerja sudah lebih dulu kembali.
Saat itulah ia mendengar suara aneh.
Suara perempuan. Tertahan. Seperti menahan tangis atau amarah.
Gatot berhenti. Dari balik rumpun sawit tak jauh dari jalur setapak, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya berdesir panas.
Moris.
Mandor itu sedang berdiri terlalu dekat dengan seorang wanita pekerja. Tubuh wanita itu setengah terdesak ke batang sawit. Tangannya ditekan kasar oleh Moris. Wajahnya pucat dan tegang.
“Ayolah… kau tak perlu kerja, HKmu akan ku masukan?” suara Moris terdengar lembut dan penuh tawaran menggoda.
Wanita itu menunduk. “Gak enak, nanti dilihat orang, Pak…”
Moris menyeringai. Tangannya mulai bergerak kurang ajar.
Tanpa sadar, langkah Gatot menggeser ranting kering di bawah kakinya.
Krek.
Moris menoleh tajam.
“Siapa di sana?!”
Gatot membeku. Ia tak sempat bersembunyi. Mata mereka bertemu.
Beberapa detik hening yang menegangkan.
Moris perlahan melepaskan wanita itu, namun bukan karena malu—melainkan karena terganggu. Wajahnya berubah keras.
“Kau!” bentaknya. “Ngapain berdiri di situ?”
Gatot mencoba mengatur napas. “Saya… baru pulang dari ancak, Pak.”
Moris mendekat dengan langkah berat. Wanita itu merapikan bajunya dengan tangan terburu.
“Kalau sudah pulang, kenapa tak lanjut kerja di ujung blok? Pekerjaan dia belum selesai!” Moris menunjuk kasar ke arah wanita itu.
Gatot mengerutkan kening. “Tapi, Pak… itu bukan ancak saya. Saya sudah selesai bagian saya.”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, sebuah tendangan keras menghantam perutnya. Gatot terhuyung dan jatuh terduduk di tanah merah.
“Kurang ajar kau!” bentak Moris. “Kau dibayar untuk kerja, bukan untuk ngeluh! Di sini tak ada pembagian manja-manjaan!”
Rasa sakit menjalar di perutnya. Nafasnya sesak. Namun yang lebih perih adalah harga dirinya yang diinjak.
Wanita itu menatap Gatot dengan mata bersalah, namun tak berani bersuara.
Moris mendekat, menunjuk wajah Gatot. “Kalau kau mau lama di sini, belajar tutup mulut. Dan kerjakan apa yang kusuruh.”
Tanpa menunggu jawaban, Moris kembali kewanita itu, ia kembali genit pada wanita itu.
Beberapa detik Gatot hanya duduk diam. Tangannya mengepal, urat di lehernya menegang. Amarah bergejolak, tapi ia tahu satu hal—di Sawit Sebrang, melawan mandor sama dengan menggali kubur sendiri.
Ia bangkit perlahan.
Wanita itu menatap Gatot dengan rasa bersalah.
Gatot hanya menggeleng tipis.
Tanpa banyak kata, ia mengambil parangnya dan berjalan menuju ujung blok yang dimaksud Moris. Matahari mulai tenggelam, tapi ia masih harus menebas semak yang belum selesai. Setiap ayunan parang terasa lebih berat. Bukan karena tenaga yang habis—melainkan karena perasaan yang terbakar.
Ia baru sehari di pulau ini.
Dan ia sudah mengerti satu hal penting:
Di Sawit Sebrang, yang kuat menindas.
Yang lemah hanya bisa bertahan.
Namun di dalam dada Gatot, sesuatu mulai tumbuh.
Bukan sekadar keinginan untuk bertahan—
melainkan keinginan untuk naik.
Setinggi mungkin.
---
Langit sudah berubah jingga keunguan ketika Gatot melanjutkan pekerjaan wanita itu di ujung blok. Angin sore bertiup pelan, namun tak mampu meredakan panas yang masih terperangkap di antara barisan sawit. Ilalang setinggi dada orang dewasa tumbuh liar, bercampur semak berduri dan batang-batang kering yang belum dibersihkan.
Gatot mengayunkan parang dengan gerakan cepat dan berat. Setiap tebasan seperti pelampiasan amarahnya pada Moris. Suara besi beradu dengan batang keras terdengar nyaring, disusul bunyi dedaunan tumbang.
“Kau dibayar untuk kerja, bukan ngeluh…”
Kata-kata itu terngiang di kepalanya.
Ia menebas lebih keras.
Tiba-tiba, ujung parangnya menghantam sesuatu yang bukan batang kayu. Bunyi ting terdengar tajam, berbeda dari suara sebelumnya. Gatot berhenti. Ia mengernyit, lalu membungkuk. Di antara akar dan tanah merah yang setengah mengering, tampak ujung benda keras berwarna gelap.
Ia menyingkirkan tanah dengan ujung parang.
Perlahan, bentuknya terlihat.
Sebuah keris.
Sarungnya sudah rapuh, kayunya retak dan terkelupas. Namun bilahnya masih tersembunyi rapi di dalamnya. Anehnya, benda itu tak berkarat meski terkubur entah berapa lama.
Gatot mengangkatnya. Beratnya terasa pas di genggaman. Ada sensasi aneh—dingin, namun tidak seperti dingin besi biasa. Seolah-olah benda itu menyimpan sesuatu.
“Siapa yang mengubur ini di tengah ancak…” gumamnya pelan.
Ia menoleh sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Hanya deretan sawit dan bayangan senja yang memanjang.
Dengan hati-hati, ia menyelipkan keris itu ke dalam tas kecil yang biasa ia bawa untuk bekal. Lalu ia kembali bekerja hingga bagian itu benar-benar bersih. Hari sudah hampir gelap ketika ia akhirnya selesai.
Dalam perjalanan pulang ke barak, ia bertemu Roni—pekerja seusianya yang sejak tadi siang memperhatikannya diam-diam saat Moris menendangnya.
“Tot,” sapa Roni pelan sambil berjalan sejajar. “Aku lihat tadi.”
Gatot tidak langsung menjawab.
“Di sini memang begitu,” lanjut Roni. “Kalau mau selamat, sabar saja dulu. Jangan banyak bicara.”
Gatot menghela napas panjang. “Apa memang tak ada yang pernah melawan?”
Roni tertawa hambar. “Yang melawan? Dipindah. Atau dipulangkan tanpa upah.”
Mereka berjalan dalam diam beberapa langkah.
“Kita ini cuma buruh,” kata Roni lagi. “Kalau mau hidup lebih baik, cari cara pelan-pelan. Tapi jangan gegabah.”
Kata-kata itu menggantung di kepala Gatot.
Sesampainya di barak, suasana sudah riuh oleh suara orang mandi di sumur belakang dan panci yang beradu di dapur bersama. Lampu bohlam redup menggantung di langit-langit kayu.
Gatot masuk ke petaknya. Ia duduk di ranjang kayu, lalu mengeluarkan benda yang ditemukannya.
Keris itu tergeletak di tangannya.
Ia mengambil ember kecil berisi air dan kain lap yang masih bersih. Perlahan, ia membersihkan tanah yang menempel pada sarungnya. Kotoran yang menempel luruh sedikit demi sedikit.
Ketika akhirnya ia menarik bilahnya keluar, Gatot terdiam.
Pamor di bilah keris itu terlihat jelas—lekukan-lekukan halus berpola seperti garis senyum tipis. Kilauannya lembut namun tajam. Tidak ada karat. Tidak ada noda usia.
Seolah-olah keris itu menunggu untuk ditemukan.
Gatot menatapnya cukup lama. Entah kenapa, ada perasaan sulit dijelaskan di dadanya. Seperti getaran halus. Atau mungkin hanya perasaannya saja.
“Barang antik saja mungkin,” gumamnya menenangkan diri.
Ia mengeringkannya dengan kain, lalu membungkusnya rapi menggunakan kain bersih dari tasnya. Setelah itu, ia menyelipkannya di bawah ranjang kayu, tersembunyi dari pandangan siapa pun.
Tubuhnya lelah luar biasa. Ia merebahkan diri di atas tikar tipis. Suara dengkuran mulai terdengar dari petak sebelah. Angin malam menyusup lewat celah papan dinding.
Mata Gatot perlahan terpejam.
Di bawah ranjangnya, keris itu terdiam.
Namun di dalam keheningan malam Sawit Sebrang, sesuatu seperti berdenyut pelan—
sebuah kekuatan yang belum disadari Gatot,
kekuatan yang kelak akan mengubah hidupnya…
dan menagih harga yang tak pernah ia bayangkan.