

Hujan turun seperti tirai tipis yang mengaburkan wajah kota. Gedung-gedung kaca berdiri angkuh, memantulkan cahaya lampu jalan yang gemetar. Dari kejauhan, metropolitan itu tampak hidup. Namun di balik pantulan bening jendela-jendela tinggi, sesuatu sedang terbangun.
Arka berhenti di trotoar, menatap lantai dua puluh sebuah gedung perkantoran yang sudah lama ditinggalkan. Lampunya mati, tetapi kacanya berkilau seolah ada cahaya dari dalam.
“Itu gedung kosong,” gumam seorang satpam tua di pos kecil. “Sudah bertahun-tahun tidak dipakai.”
Arka menoleh. “Kosong menurut catatan. Tidak menurut naluri.”
Satpam itu terkekeh kecil, lalu berhenti ketika melihat sorot mata Arka. “Kau melihat sesuatu?”
“Belum,” jawab Arka. “Tapi sesuatu melihat kita.”
Angin mendesir, membawa hawa dingin yang tidak wajar. Di lantai atas, salah satu jendela mengembun, lalu muncul bekas telapak tangan dari dalam.
Satpam menelan ludah. “Itu … itu tidak mungkin.”
Arka melangkah maju. Dalam benaknya, suara lama berbisik. Jangan sentuh kaca. Jangan percaya pantulannya. Ia menghela napas, menepis ingatan itu.
Dari sisi jalan, sebuah mobil berhenti mendadak. Seorang perempuan turun dengan mantel gelap dan payung hitam. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tegang.
“Arka!” panggilnya.
“Laras,” balas Arka tanpa menoleh. “Kau datang cepat.”
“Kau bilang ada anomali kelas berat,” kata Laras sambil menatap gedung itu. “Aku kira kau bercanda.”
Arka tersenyum tipis. “Aku tidak pernah bercanda soal kota.”
Mereka berdiri berdampingan. Laras mengeluarkan alat kecil seperti ponsel, layarnya dipenuhi simbol berpendar.
“Frekuensi gaibnya tinggi,” katanya pelan. “Seperti ada segel yang melemah.”
“Sudah ada korban?” tanya Arka.
“Belum ditemukan,” jawab Laras. “Itu yang mengkhawatirkan.”
Dari balik pintu kaca gedung, terdengar bunyi ketuk. Pelan, teratur. Seolah seseorang meminta izin masuk dari dalam.
Satpam mundur satu langkah. “Saya … saya tidak dibayar untuk ini.”
“Kami juga tidak,” sahut Laras singkat.
Arka mendorong pintu. Kaca itu dingin, terlalu dingin untuk ukuran malam hujan. Begitu pintu terbuka, suara kota langsung lenyap, digantikan dengung rendah seperti napas panjang.
“Jangan berpencar,” kata Arka.
Lorong lobi gelap, hanya diterangi lampu darurat berwarna merah. Pantulan mereka terdistorsi di dinding kaca—tubuh memanjang, wajah berlipat.
Laras menahan napas. Pantulan ini salah, batinnya. Terlalu banyak bayangan.
“Arka,” bisiknya. “Berapa pantulan yang kau lihat?”
Arka menghitung cepat. “Seharusnya dua.”
“Yang terlihat?” tanya Laras.
“Lima.”
Seketika, salah satu pantulan bergerak lebih lambat dari tubuh aslinya. Ia tersenyum.
“Jangan menatapnya,” perintah Arka tegas.
Namun terlambat.
Kaca di sisi kanan retak dengan bunyi nyaring. Dari dalamnya, sosok gelap merayap keluar, seperti asap yang memadat. Wajahnya tidak jelas, hanya lubang hitam tempat mata seharusnya berada.
“Keluar dari wilayah ini,” suara itu menggema, berlapis-lapis.
“Ini wilayah manusia,” jawab Arka. “Kau yang melanggar.”
Makhluk itu tertawa tanpa suara. Lantai bergetar, dan kaca-kaca di lobi berderak serempak.
Laras mengangkat tangannya, menggambar simbol di udara. “Arka, segelnya bukan satu. Gedung ini simpul.”
“Aku tahu,” sahut Arka. “Pertanyaannya, siapa yang mengikatnya?”
Makhluk itu menerjang. Arka berguling ke samping, menarik tongkat logam dari balik mantel. Tongkat itu berpendar biru saat menghantam bayangan, memercikkan cahaya.
“Tidak mempan!” teriak Laras.
“Bukan untuk melukainya,” balas Arka. “Untuk memancing.”
Benar saja, dari dinding kaca lain muncul sosok-sosok serupa. Tiga, lalu lima. Lobi kini dipenuhi pantulan dan wujud asli yang bercampur.
“Ini jebakan,” gumam Laras. “Seseorang sengaja melemahkan segel.”
“Dan menunggu kita,” tambah Arka.
Salah satu makhluk mendekat ke Laras. “Kau pembaca tanda,” bisiknya. “Kau tahu apa yang tersembunyi.”
Laras menahan gemetar. Jangan dengarkan. Ia memejamkan mata, lalu berteriak, “Arka! Jendela tengah!”
Arka mengerti. Ia berlari, melompat, dan menghantam kaca besar di tengah lobi. Kaca itu tidak pecah justru menyerap cahaya dari tongkatnya.
Suara jeritan melengking memenuhi ruangan.
“Segel inti!” seru Arka. “Laras, kunci ulang!”
Laras berlutut, kedua tangannya menempel di lantai. Simbol-simbol menyala, membentuk lingkaran rumit. “Aku butuh waktu!”
Makhluk-makhluk itu menyerang bersamaan. Arka berdiri di depan Laras, napasnya berat. Ini baru awal, pikirnya. Dan kota ini sudah memilih medan perang.
Dengan satu hentakan terakhir, Laras menyelesaikan simbolnya. Cahaya putih meledak dari lantai, menyapu lobi. Kaca-kaca kembali jernih. Bayangan lenyap seolah tak pernah ada.
Hening.
Arka terengah, menatap pantulannya di kaca. Untuk sesaat, pantulan itu tidak bergerak bersamanya.
Lalu tersenyum.
Arka mengeraskan rahangnya. “Permainan sudah dimulai,” katanya pelan.
Di luar, hujan terus turun. Kota tetap hidup, tak menyadari bahwa di balik jendela-jendelanya, rahasia hitam baru saja membuka mata.
***
Hujan semakin rapat, menabuh kaca gedung seperti peringatan yang diabaikan. Arka masih menatap pantulan itu beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya mundur selangkah.
“Kau melihatnya juga, bukan?” tanya Laras dengan suara tertahan.
Arka mengangguk pelan. “Pantulanku terlambat. Lalu tersenyum.”
“Itu bukan sisa energi,” kata Laras cepat. “Itu penanda.”
“Penanda apa?” Arka menoleh tajam.
“Bahwa kita sudah dicatat.”
Sunyi menekan lobi. Lampu darurat kembali berkedip, merahnya terasa lebih gelap dari sebelumnya. Dari pintu masuk, satpam yang tadi berdiri gemetar memberanikan diri mendekat.
“A-apa sudah selesai?” tanyanya ragu.
“Untuk malam ini,” jawab Arka. “Tapi jangan berjaga sendirian.”
Satpam itu menelan ludah. “Malam ini saja sudah cukup.”
Begitu pria itu pergi, Laras menghela napas panjang. Tangannya masih bergetar. Segel kota tidak pernah selemah ini, batinnya. Seseorang mengoyaknya dari dalam.
“Kita perlu bicara,” kata Laras.
“Kita selalu perlu bicara,” sahut Arka. “Pertanyaannya, di mana.”
“Bukan di sini,” Laras menatap sekeliling. “Gedung ini sudah terkontaminasi.”
Arka mengangguk. “Mobilku di basement.”
Mereka melangkah menuju tangga darurat. Setiap langkah memantul di dinding beton, terdengar seolah ada langkah lain yang menyusul.
“Kau dengar itu?” bisik Laras.
“Ya,” jawab Arka singkat. “Dan aku tidak akan menoleh.”
Basement gelap, hanya lampu sensor yang menyala satu per satu. Saat mereka sampai di mobil, Laras berhenti.
“Arka,” katanya pelan. “Kalau dugaanku benar, ini bukan kejadian tunggal.”
“Lalu?” Arka membuka pintu.
“Ini awal perang simpul,” lanjut Laras. “Gedung, stasiun, rumah sakit—semua bangunan berkaca besar.”
Arka tertawa pendek tanpa humor. “Seluruh kota adalah medan.”
Mereka masuk ke mobil. Mesin menyala, radio tiba-tiba hidup sendiri, menyiarkan suara statis bercampur bisikan.
“Matikan itu,” perintah Laras.
Arka menekan tombol. Terlambat. Sebuah suara muncul jelas, datar, seolah berbicara tepat di antara mereka.
“Jendela pertama telah terbuka.”
Laras membeku. “Itu bukan frekuensi liar.”
“Tidak,” Arka menatap lurus ke depan. “Itu siaran.”
“Untuk siapa?” tanya Laras.
“Untuk kita,” jawab Arka. Dan mungkin untuk seluruh kota.
Radio mati sendiri. Keheningan kembali, lebih berat dari sebelumnya.
Laras menyandarkan kepala. “Siapa pun dalangnya, dia tahu caramu bekerja.”
Arka menggenggam kemudi. “Dan dia tahu caramu membaca tanda.”
“Kita target,” ucap Laras.
“Bukan,” Arka menyalakan lampu depan. “Kita pion.”
Mobil melaju keluar dari basement, menyatu dengan lalu lintas malam. Di antara ribuan jendela kaca yang mereka lewati, satu demi satu pantulan tampak bergeser, seolah mengikuti arah mereka.
Dan jauh di atas kota, sesuatu tersenyum, menunggu langkah berikutnya.