

Dunia Eddy hanya seluas empat tembok kamar dengan cat putih yang mulai menguning di sudut-sudutnya. Di atas meja belajarnya, tumpukan buku kalkulus, fisika kuantum, dan jurnal sains tersusun rapi, tegak lurus, seolah mencerminkan hidupnya yang kaku dan penuh presisi. Bagi orang tuanya, angka adalah kepastian, dan kepastian adalah keselamatan. Namun, bagi Eddy, angka-angka itu adalah jeruji besi yang memenjarakan sesuatu yang jauh lebih liar di dalam dadanya.
Setiap sore, ketika matahari mulai turun dan bayangan pohon mangga di depan rumah memanjang masuk ke sela-sela jendela, Eddy akan melakukan ritual rahasianya. Ia memastikan pintu kamarnya terkunci rapat. Ia mendorong lemari kecilnya sedikit ke samping untuk mengambil sebuah pemutar kaset tua yang ia sembunyikan di balik tumpukan majalah ilmiah.
Dengan gerakan tangan yang gemetar karena kombinasi rasa takut dan gairah, ia memasukkan kaset pita yang pita magnetiknya sudah mulai menipis.
Klik.
Suara statis pelan terdengar, disusul oleh dentuman piano yang megah dari Bohemian Rhapsody. Saat vokal Freddie Mercury membelah kesunyian kamar, Eddy bertransformasi. Ia melepas kacamata tebalnya yang sering melorot di hidung, meletakkannya di atas meja, dan dunia di matanya menjadi sedikit kabur—namun di saat yang sama, semuanya terasa lebih nyata.
Ia mengambil penggaris kayu panjang, menggenggamnya seolah itu adalah mikrofon perak di depan ribuan penonton yang bersorak. Di depan cermin lemari, ia bukan lagi Eddy si pemuda "cupu" yang gagap saat ditanya soal masa depan. Ia adalah legenda. Ia menirukan setiap lekuk suara Freddie, setiap geraman serak Bon Jovi, dan gaya panggung Mick Jagger yang lincah.
"I want to break free..." gumamnya lirih, nyaris berbisik. Ia tidak berani bernyanyi lantang. Suara orang tuanya yang sedang berbincang di ruang tengah tentang rencana masa depannya sebagai ilmuwan atau pegawai kantoran yang "jelas" selalu berhasil menyiutkan nyalinya. Di rumah ini, musik rock dianggap sebagai kebisingan yang tidak berguna, dan band adalah jalan pintas menuju kehancuran moral.
"Eddy? Kamu sedang apa di dalam?" suara ibunya mengetuk pintu, tajam dan penuh selidik.
Seketika, Eddy mematikan pemutar kasetnya. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang dari double pedal drum lagu rock manapun. Ia menyambar kacamatanya, memakainya dengan terburu-buru, dan kembali duduk di depan buku fisikanya.
"Lagi baca bab termodinamika, Bu," jawabnya dengan nada datar yang sudah ia latih bertahun-tahun.
"Bagus. Jangan dengar suara-suara aneh. Fokus saja. Sebentar lagi kamu lulus kuliah, kamu harus segera cari kerja yang terhormat," sahut ibunya dari balik pintu sebelum langkah kakinya menjauh.
Eddy menghela napas panjang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Seorang pemuda dengan kacamata tebal yang membuat matanya terlihat kecil, rambut klimis yang disisir rapi ke samping, dan kemeja yang dikancingkan hingga ke leher. Ia adalah definisi nyata dari "kurang pergaulan" atau kuper, sebutan yang sering dilemparkan teman-teman masa kecilnya dari luar pagar rumah.
Seringkali, teman-temannya datang menjemput. Mereka akan berteriak dari depan pagar, mengajak Eddy untuk sekadar nongkrong di persimpangan jalan atau melihat latihan band di balai desa. Namun, Eddy tidak pernah keluar. Ia hanya akan mengintip dari balik tirai jendela, melihat mereka tertawa dan pergi dengan motor-motor berisik, sementara ia tetap di sini, memegang penggaris dan memimpikan panggung yang tidak pernah ia injak.
Selama empat tahun kuliah, pola itu tidak berubah. Ia pergi ke kampus, duduk di barisan depan, mencatat setiap rumus dengan detail, lalu langsung pulang ke rumah. Orang tuanya merasa telah berhasil mendidik anak yang penurut, sebuah "investasi" masa depan yang aman. Mereka tidak pernah tahu bahwa di dalam tas ranselnya yang penuh buku sains, Eddy menyembunyikan lirik-lirik lagu yang ia tulis di sela-sela kuliah kalkulus.
Hingga akhirnya, hari itu datang. Hari di mana ijazah sarjana IPA-nya resmi berada di tangan.
"Sekarang saatnya kamu membuktikan diri, Eddy," ujar ayahnya malam itu di meja makan, suaranya berat dan penuh wibawa. "Cari pekerjaan. Jangan cuma mendekam di rumah. Kamu sudah dewasa".
Kata-kata ayahnya yang biasanya terasa seperti perintah eksekusi, kali ini terdengar seperti bunyi kunci yang terbuka. Untuk pertama kalinya, Eddy diberikan izin—bahkan diperintah—untuk keluar dari sangkar emasnya. Tentu saja, maksud ayahnya adalah mencari kantor pemerintahan atau sekolah-sekolah bergengsi. Tapi bagi Eddy, "keluar" berarti sesuatu yang lain.
Malam itu, setelah orang tuanya terlelap, Eddy tidak membuka buku sainsnya. Ia mengeluarkan sebuah selebaran kecil yang sudah lecek, hasil curiannya dari papan pengumuman kampus beberapa minggu lalu. Sebuah alamat studio musik rental di pinggiran kota yang berdebu.
Besok, ia tidak hanya akan mencari kerja. Besok, untuk pertama kalinya, ia akan mencoba mencari dirinya sendiri.
Ia tahu ini adalah awal dari sesuatu yang rumit. Di satu sisi, ada tanggung jawab sebagai lulusan eksak yang harus mencari nafkah di bawah ekspektasi besar orang tuanya. Di sisi lain, ada dawai gitar yang memanggilnya dan lirik-lirik yang sudah terlalu lama tersumbat di tenggorokannya. Ia tidak tahu bahwa takdir sedang menyiapkan sebuah simfoni yang berantakan: sebuah ruang kelas di mana ia akan menjadi guru yang kaku, dan sebuah panggung rahasia di mana ia akan menjadi pemuja kebebasan.
Dan yang paling berbahaya dari semuanya, ia belum tahu bahwa di koridor sekolah yang akan ia tempati nanti, ada seorang wanita bernama Celine. Seorang guru Bahasa Inggris yang akan membuatnya menyadari bahwa rumus fisika paling rumit sekalipun tidak akan bisa menjelaskan mengapa mencintai seseorang bisa terasa seperti sebuah dosa sekaligus anugerah. Sebuah romansa terlarang yang akan menguji setiap serat keberanian dalam dirinya.
Eddy kembali merebahkan dirinya di tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Esok adalah hari pertamanya melangkah keluar. Tangannya tanpa sadar bergerak, memetik udara seolah sedang memainkan intro gitar Hotel California. Senyum tipis muncul di wajahnya yang kaku.
Permainan baru saja dimulai. Sang pemuda cupu itu akan segera belajar bahwa hidup tidak selamanya tentang angka yang pasti, melainkan tentang harmoni yang ditemukan di tengah kekacauan.