

"Aku tidak butuh bra butut warisan buyutmu!"
Suara gadis itu menerjang udara. Imas, kaki pendeknya disangga sepatu hak runcing. Tangan kanannya melengkung tajam, menghempaskan benda berbentuk cawan berwarna kulit ke arah wajah pria yang menghalangi jalannya.
"Aku butuh berlian, emas, mobil! Bukan barang jadul yang bau debu!"
Bra kuno itu menutupi wajah Arya seketika, lalu tergelincir pelan ke lantai basah. Pria berusia empat puluh empat tahun itu kini berlutut di depan gadis tiga puluh satu tahun, badannya menggigil tidak hanya karena hujan yang mulai turun deras.
Guruh bergemuruh menggema di atas langit mendung.
"Kumohon, tinggallah. Aku akan berusaha menghidupkan usaha keluarga lagi, Imas. Aku Janji!"
Arya meraih kedua kaki jenjang gadis itu, pelukannya menggeliat lembut, tapi gigih. Imas langsung menendangnya dengan kuat, Arya terjatuh ke genangan air yang sudah mulai bercampur lumpur.
"Jangan menyentuhku!" Gadis itu menjerit, menarik roknya sedikit ke atas. "Tangan dan tubuh kotormu merusak kulitku yang sudah aku rawat dengan mahal!"
Lumpur menutupi setiap sudut baju Arya yang lusuh. Tubuhnya kurus dan kering, tulangnya jelas terlihat di bawah kain sobek, bekas berhari-hari tidak cukup makan.
Imas menunduk, wajahnya penuh ejekan. "Menghidupkan usaha keluarga?" Ia tertawa dengan suara yang menusuk. "Hidupmu sendiri saja sudah seperti mayat yang menggelepar, bagaimana bisa memberi nyawa pada yang lain? Zombie saja lebih baik dari kamu!"
"Sudahlah sayang. Imas, kita pergi dari sini!"
Suara baru datang dari sisi jalan. Seorang pria membuka pintu mobil hitam mengkilap, kacamata hitamnya memantulkan bayangan Arya yang sedang mengangkat bra kuno itu dengan hati nurani yang hancur. Tangannya gemetar, air matanya menyatu dengan tetesan hujan.
"Memberimu makan saja tidak mampu, apalagi memenuhi kebutuhanmu yang seperti ratu!" Pria di mobil itu melambaikan tangan dengan cuek.
Imas tidak melihat lagi ke arah Arya. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju mobil.
Arya terengah-engah bangkit mengejarnya, tapi pria dari mobil langsung turun, menarik Imas masuk ke kabin, lalu menghampiri Arya dengan wajah memerah, marah.
"Jangan kau ganggu dia lagi, dasar gembel miskin!"
Tangan pria itu menyambar ke wajah Arya berkali-kali. Setiap pukulan membuatnya terhuyung-huyung, hingga akhirnya terjatuh ke dalam kubangan lumpur yang dalam. Bra kuno yang masih terjepit di tangannya terlempar ke udara, tepat saat seberkas petir menyambar dari langit.
Kilatan listrik menyelimuti benda itu, cahayanya begitu terang hingga membuat Arya menutup mata dengan keras.
"Jika bra ini benar-benar berharga hingga menjadi warisan turun temurun, maka hidupkan aku kembali. Biarkan aku memperbaiki kesalahan masa lalu dan menemukan cinta yang sesungguhnya."
Tiba-tiba, cahaya menyala lebih kuat dari sebelumnya. Arya merasakan getaran yang mengguncang tubuhnya, lalu mendengar suara klik-klik yang berputar cepat.
Kedua cawan bulat bra itu muncul angka dan gambar, berputar ke arah kiri. Dari lambat menjadi cepat, lalu melambat kembali.
Akhirnya bulatan sebelah kiri berhenti pada angka 1, 9, 4, 0, sedangkan yang kanan pada gambar seorang wanita.
Ketika ia membuka mata lagi, segala sesuatu sudah berbeda.
Suara kaki berlari menggelegar di lantai kayu. "Paman Suroso! Jangan sia-siakan umur tuamu!"
Seorang pemuda memasuki ruangan, wajahnya penuh khawatir. Ia langsung melesat ke arah Arya, yang berdiri di atas kursi dengan tali yang menjerat lehernya.
"Astaga! Apa yang paman lakukan?!"
Sebelum kata-kata itu selesai terdengar, kaki kursi patah lalu terjatuh setelah tersenggol kaki Arya.
"Lebih baik daftar jadi pejuang saja! Daripada mati bunuh diri yang merepotkan orang banyak, mati di medan perang bisa pulang membawa uang banyak!"
Pemuda itu adalah Xuance. Ia meraih kaki Arya dengan kuat. Tepat saat itu, kursi benar-benar terjatuh ke lantai dengan suara dentuman keras.
Arya terkejut, kedua tangannya mencoba melepaskan tali yang semakin mengencang di lehernya. Ia melihat sekeliling, dinding kayu bertuliskan aksara jawa kuno (hanacaraka), perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari tanah liat dan kayu, sama sekali asing.
"Aku di mana? Kamu siapa? Kenapa pakaianmu kuno begitu? Terlihat aneh banget!" Arya mengerang, tubuhnya terus bergoyang.
"Paman, ini rumahmu sendiri! Kenapa tidak ingat sama ponakanmu?" Xuance menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. "Sudahlah jangan banyak drama! Kalau paman daftar perang, pasti dapat banyak uang!"
"Ponakan? Perang? Uang?" Napas Arya tersengal-sengal. "Sejak kapan aku punya adik yang anaknya sebesar kamu? Tahun berapa sekarang? Kenapa masih ada perang?"
"Paman sudah berumur 88 tahun, tentu saja aku sudah dewasa. Umurku tahun ini 22 tahun!" Xuance menarik napas dalam. "Ini tahun 1940, masa penjajahan kolonial Belanda!"
"Apa?!"
Keduanya terjatuh ke lantai bersamaan. Akhirnya Arya berhasil melepaskan tali dari lehernya, matanya masih terpaku pada ruangan yang tak pernah ia kenal.
Lamunannya terpecah oleh suara keras pintu kayu yang terbuka dengan diterjang. Seorang wanita masuk dengan wajah memerah marah, melempar sebuah barang yang tepat jatuh di hadapan Arya. Bra yang sama persis dengan yang menjadi warisannya.
"Dasar orang tua cabul! Kenapa bra sialan ini ada di ember cucian kotorku?! Kalau sudah kamu pakai untuk m*st*rb*s*, cucilah saja sendirian!"
Bra itu mendarat tepat di depan matanya, seolah-olah ia sedang memakainya sebagai kacamata.
"Kamu, Imas? Kenapa ada di sini juga?"
"Bukan! Imas siapa? Itu perempuan khayalanmu, ya?" Wanita itu mengangkat alis. "Namaku Asih, istrinya Xuance, keponakan paman! Masa paman lupa?! Dasar orangtua pikun! Terlalu banyak imajinasi saat *n*n*."
Arya mengambil bra itu dan menatapnya dengan cermat. "Bra ini yang membawaku ke dunia kalian. Ini bra keberuntungan warisan turun temurun keluargaku, bukan pembawa kesialan. Aku percaya padanya."
Tiba-tiba, dari bra itu muncul layar holografik. Di dalamnya tampak seorang wanita cantik, seksi berbikini dengan suara merdu.
[Selamat Tuan Suroso. Anda Telah Mengaktifkan Sistem Kekayaan Dan Kejayaan.]
Arya terkejut hingga melempar bra itu. "Kamu bisa bicara?! Siapa sebenarnya kamu?" Ia melihat ke arah Xuance dan Asih. Keduanya membeku seperti patung. "Kenapa mereka jadi begitu? Waktu seakan berhenti!"
[Aku Adalah Sistem Keberuntungan Pembawa Kekayaan Dan Kejayaan. Mereka Bukan Bagian Dari sistem, Dan Anda Adalah Pemain Utama.] Suara mekanis terdengar jelas.
[Aku Akan Membantumu Mendapatkan Kesuksesan Kamu Kembali.]
"Bagaimana caranya?"
[Mudah!] Gadis hologram itu menjentikkan jari sambil mengedipkan matanya. [Tuan Harus Mengikuti Instruksi Dalam Sistem. Jika Berhasil Melewati Setiap Tantangan, Tuan Akan Mendapatkan Hadiah. Setelah Menyelesaikan Misi Permainannya. Apakah Anda Mau Bermain Bersamaku?]
"Apa ini kehidupan kedua dari Tuhan untuk memperbaiki kesalahan fatal di masa lalu? Tapi ini zaman 1940, bukan tahun 2026. Mungkinkah aku bereinkarnasi ke kehidupan lampau?"
[Ehem.] Suara sistem berdehem, menyadarkan Arya dari lamunannya.
"Baiklah! Apa permainan pertamamu? Tapi namaku bukan Suroso. Aku Arya! Kenapa kalian memanggilku Suroso?"
[Permainan Pertama Untuk Tuan Suroso adalah... .]