Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sentuhan Nikmat Para Wanita Membawa Keberuntungan

Sentuhan Nikmat Para Wanita Membawa Keberuntungan

Yellow Melon | Tamat
Jumlah kata
228.2K
Popular
13.6K
Subscribe
1.8K
Novel / Sentuhan Nikmat Para Wanita Membawa Keberuntungan
Sentuhan Nikmat Para Wanita Membawa Keberuntungan

Sentuhan Nikmat Para Wanita Membawa Keberuntungan

Yellow Melon| Tamat
Jumlah Kata
228.2K
Popular
13.6K
Subscribe
1.8K
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremKekuatan Super
Guron hanyalah pria miskin yang tidak pernah dipandang oleh wanita. Namun, siapa sangka setelah tanpa sengaja menolong seorang wanita yang dalam pengaruh obat, Guron mendapatkan sebuah ciuman yang membuat energi keberuntungan di dalam dirinya menjadi aktif! Tidak hanya itu saja, Guron mulai menyadari bahwa setiap sentuhan wanita akan membuatnya semakin beruntung.
Bab 1 Ciuman Tak Terduga

Malam itu, Guron berjalan pulang dengan langkah yang terasa begitu berat. Setiap langkah terasa seperti menyeret beban tak terlihat. Tangannya masih berbau oli yang cukup menyengat, aroma logam dan mesin yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bajunya kusam, dipenuhi noda hitam yang tak pernah benar-benar hilang meski sudah dicuci berkali-kali.

Lampu-lampu jalan menyala redup, menciptakan bayangan panjang di aspal hitam yang retak dan tak rata.

Pikirannya hanya dipenuhi satu hal yang penting, dia benar-benar istirahat.

Ia ingin segera sampai di rumah, merebahkan tubuh di kasur tipisnya, dan melupakan dunia untuk beberapa jam saja.

Hidupnya sungguh sangat sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Sebagai montir di bengkel kecil pinggir jalan, ia sudah terbiasa dipandang sebelah mata. Orang-orang jarang mengingat namanya. Baginya, mereka hanya datang, memperbaiki kendaraan, membayar, lalu pergi. Tidak ada yang benar-benar peduli siapa dirinya, apa lagi tentang hidupnya.

Tidak ada yang istimewa darinya. Tidak ada yang patut dibanggakan atas hidupnya.

Ia hanyalah pria biasa, dengan hidup biasa, dan masa depan yang mungkin akan tetap biasa hingga akhir hayat.

Sampai pada akhirnya suara aneh terdengar, “Lepasin aku…!” Suara itu memecah keheningan malam yang senyap.

Guron pun seketika berhenti. Alisnya berkerut, tubuhnya menegang. Suara itu datang dari depan, dari sebuah gang kecil yang hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip-kedip lemah.

Di bawah cahaya redup itu, seorang wanita sedang disudutkan oleh dua pria dengan penampilan seperti berandalan.

Pakaian wanita itu berantakan. Bahunya terbuka sebagian. Rambutnya jatuh berantakan di sekitar wajahnya. Tubuhnya limbung, seolah tak mampu menopang dirinya sendiri.

Napasnya nampak tidak teratur.

Bahkan dari jarak beberapa meter, Guron bisa melihat wajahnya memerah tidak normal. Matanya setengah terpejam, seperti orang yang tidak sepenuhnya dalam keadaan sadar.

“Preman sialan itu...” Kata itu langsung muncul di benak Guron.

Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.

Naluri pertamanya adalah menjauh. Ini bukan urusannya. Ia bukan kan pahlawan. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya montir miskin yang bahkan kesulitan mengurus hidupnya sendiri. Kemampuan untuk berdebat saja tidak ada apaai berkelahi.

Namun…

Kakinya tidak mampu bergerak mundur. Sebaliknya, ia justru melangkah maju.

“Hei, kalian.” Suaranya terdengar lebih tegas dari yang ia rasakan.

Kedua pria itu pun ada langsung menoleh.

Tatapan mereka seketika tajam. Penuh ancaman. Salah satu dari mereka menyeringai sinis. “Apa lihat-lihat?” geramnya.

Guron tidak menjawab. Ia hanya menggenggam kunci inggris di tangannya lebih erat. Telapak tangannya sedikit berkeringat, dan jantungnya berdetak kencang di dadanya. Bahkan, tangannya juga gemeteran.

Ia takut, sangat takut. Tapi entah kenapa, ia tidak bisa berpaling.

Beberapa detik terasa seperti menit yang sangat panjang.

Udara malam terasa sesak dan berat.

Lalu salah satu pria itu mengumpat pelan.

“Ganggu aja. Sial,” katanya kesal.

“Maju kalian kalau berani!” ucap Guron, nekad.

Entah karena mereka tidak ingin repot, atau karena alasan lain yang bahkan Guron sendiri tidak mengerti, kedua pria itu akhirnya mengambil langkah mundur.

Mereka pergi sambil melontarkan tatapan kesal. Mulut komat kamit, mengumpat, tapi entah apa.

Langkah kaki mereka menghilang dalam kegelapan yang senyap.

Guron baru menyadari bahwa napasnya sempat tertahan.

Namun sebelum ia sempat lega, tubuh wanita itu terhuyung cepat, dan hampir jatuh.

Guron pun refleks bergerak maju dan menangkapnya.

Tubuh wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.

Dan saat itulah ia menyadari sesuatu yang tidak biasa, tubuh itu hangat.

Tidak, bukan sekadar hangat, tapi terlalu hangat. Seperti ada panas yang tidak wajar mengalir dari dalam dirinya.

Wanita itu mengangkat wajahnya perlahan.

Di bawah cahaya lampu jalan, Guron akhirnya bisa melihat wajahnya dengan cukup jelas.

Cantik sekali.

Garis wajahnya lembut, bibirnya penuh, dan kulitnya halus tanpa cela. Namun ekspresinya kacau. Matanya tidak fokus, seolah kesadarannya melayang di antara nyata dan tidak.

“Tolong aku…” bisiknya lirih.

Napasnya menyapu kulit leher Guron, hangat dan menggoda tanpa sengaja.

Jantung Guron berdegup lebih keras. Ia hendak mengatakan sesuatu.

Namun tiba-tiba, tangan wanita itu meraih kerah bajunya, menariknya, dan sebelum Guron sempat bereaksi, bbibir mereka bertemu.

Tubuh Guron seketika membeku, pikirannya kosong.

Bibir wanita itu lembut dan panas.

Ciuman itu bukan ciuman ragu. Bukan sentuhan singkat. Wanita itu menciumnya dengan dalam, dengan kebutuhan yang jelas, seolah Guron adalah satu-satunya tempat ia bisa bersandar.

Jantung Guron berdetak liar. Saat itu, ia merasakan sensasi yang aneh.

Dari titik pertemuan bibir mereka, muncul sengatan kecil. Halus, seperti aliran listrik yang lembut namun nyata. Sensasi itu menyusup masuk, menembus kulitnya, menjalar ke seluruh tubuhnya.

Dari bibir, turun ke leher, lalu ke dada. Hangat, panas, dan semakin kuat.

Napas Guron berubah berat. Tubuhnya merespons tanpa izin. Darahnya mengalir lebih cepat. Jantungnya berdetak seperti genderang perang.

Ia bahkan tanpa sadar membalas ciuman itu.

Tangannya yang semula kaku kini perlahan menegang di sekitar tubuh wanita itu.

Energi itu terus mengalir.

Masuk, mengisi. Seperti ada sesuatu yang ditanamkan ke dalam dirinya. Sensasi itu membuat kepalanya ringan. Dunia di sekitarnya memudar. Hanya ada wanita itu.

Panas yang aneh itu, dan perasaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Namun tiba-tiba, tubuh wanita itu muka melemas.

Ciuman itu terputus, wanita itu pingsan.

Tubuhnya jatuh lemah dalam pelukan Guron.

Guron terengah, bibirnya masih terasa panas.

Tubuhnya masih bergetar oleh sisa sensasi aneh itu.

“Apa… sih itu tadi…” bisiknya pelan.

Ia tidak mengerti.

Tidak ada penjelasan logis.

Namun ia tidak punya waktu untuk memikirkan itu.

Wanita itu membutuhkan bantuan sekarang juga.

Dengan hati-hati, Guron mengangkat tubuhnya, membawanya ke klinik terdekat.

Setelah memastikan wanita itu ditangani oleh perawat, Guron akhirnya keluar dari klinik terdekat.

Udara malam terasa berbeda kali ini, jadi lebih ringan.

Langkahnya terasa aneh. Seolah tubuhnya tidak sepenuhnya miliknya sendiri, ada sensasi melayang.

Pikirannya masih terasa kacau, dan saat ia berjalan pulang, ia melihat sesuatu.

Sebuah amplop coklat.

Tergeletak begitu saja di pinggir jalan.

Guron pun berhenti.

Ia melihat ke sekeliling, sepi.

Tidak ada siapa-siapa di sana.

Dengan ragu, ia mengambil amplop itu, tangannya sedikit gemetar saat membukanya.

Dan saat ia melihat isinya, matanya langsung melebar.

Uang!

Lembar-lembar uang merah. Ia pun menghitungnya.

“Satu, dua, tiga...” ia akhirnya ia berhenti.

Lima ratus ribu rupiah.

Napasnya pun tertahan.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia melihat ke kanan dan kiri sekali lagi.

Masih tidak ada siapa-siapa.

Ia menggenggam amplop itu erat sekali.

Perasaan aneh memenuhi dadanya.

Dia bingung, tidak percaya, tapi juga merasa senang.

“Aku… bisa juga beruntung?” Ia tertawa kecil, tidak yakin. “Hah… masa iya? Seumur hidup… baru kali ini bisa beruntung banget…”

Lanjut membaca
Lanjut membaca