Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SANTRI MBELING YANG GENIUS

SANTRI MBELING YANG GENIUS

alimaksumsantritulis | Bersambung
Jumlah kata
42.9K
Popular
100
Subscribe
16
Novel / SANTRI MBELING YANG GENIUS
SANTRI MBELING YANG GENIUS

SANTRI MBELING YANG GENIUS

alimaksumsantritulis| Bersambung
Jumlah Kata
42.9K
Popular
100
Subscribe
16
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeDunia Masa Depan
Di pondok pesantren Al-Ikhlas, zakki merupakan santri jenius yang tampak sederhana secara luarnya namun isi dalam otaknya tidak mau kalah dengan santri lainnya atau bisa dikatakan sangat jenius diatas rata-rata, saat santri lain sedang asik mutholaah kitab zakki malah asyik tidur, begitu juga saat santri yang lain sedang tidur dengan pulas zakki malah asyik mutholaah kitabnya. Zakki senantiasa memakai sarung miring dan kopiyah hitamnya sering hilang entah kemana. Dan ia satu-satunya santri MATASBA yang berani berdebat dengan lurah pondok yang terkenal galak. Kehidupan zakki mulai terusik saat pesantrennya terancam oleh mafia tanah dan sekandal siber yang melibatkan orang-orang besar di pemerintahan. Di saat semua orang panik zakki malahan bangkit untuk mencari alternatif solusi yang terbaik. Dengan gaya nyeleneh dan strategi “catur” Yang tak terduga, zakki mulai bergerak dari balik bayang-bayang. Ia akan membuktikan bahwa santri yang terkenal malas malahan menjadi lawan yang mematikan bagi siapapun yang berani mengusik kedamaian gurunya dan pondok pesantrennya. ikuti terus keseruan novel ini, InsyaAllah dalam novel ini kita akan banyak memetik banyak pelajaran makna hidup yang bermanfaat untuk kita semua. jadilah pembaca yang cerdas, mampu menangkap setiap kejadian menjadi pelajaran dalam hidup, bukan hanya rasa ego dan gengsi yang dibesarkan dan dipertaruhkan mengatasnamakan harga diri. "Dalam hidup yang terpenting nyatanya bukan katanya"!!!... selamat membaca....
SARUNG MIRING DAN LOGIKA MIRING

Matahari baru saja menampakkan diri ke barat, menyisakan semburat jingga yang mempesona diatas atap seng asrama Pondok Pesantren Al-Ikhlas.

Di serambi surau yang sejuk dengan ubin keramik yang bermotif jadul terlihat masih estetik, suara dengungan ratusan santri yang mutholaah kitab Fathul Qorib terdengar seperti kerumunan disarang lebah.

Di barisan paling belakang, bersandar pada tiang kayu jati yang sudah usang tampak sudah terkelupas catnya, terdapat seorang pemuda yang tampak sangat khusyuk menghayati setiap dengungan yang tercipta dengan bisingnya suara yang membius. Saking khusyuknya, kepalanya sampai miring ke kanan dan air liur hampir saja jatuh ke atas kitab kuning yang terbuka di pangkuannya.

Zakki, sebutan akrab teman-temannya yang bernama lengkap "Ahmad Zakki Saputra" merupakan putra dari kyai dikampung halamannya yang letaknya dilereng gunung lawu. Zakki santri yang memiliki prinsip dalam hidupnya: "Selama masih bisa tidur, untuk apa terjaga, Tidur adalah ibadah paling efisien, Buat apa susah jika bisa mudah".

"Zakki!" sebuah suara berat yang menggelegar bagai petir yang menyambar, menghancurkan mimpi Zakki yang baru saja ingin menyantap bakso gratis di alun-alun kota kudus.

Zakki tersentak. Kepalanya menghantam tiang."Adduuhhh...!!! "Subhanallah! Kang basir?, sakit"

Kang Basir, merupakan Lurah Pondok yang terkenal galak dengan kumis tebal bermata tajam bagai elang yang siap menerkam buruannya, berdiri tepat di depannya. Di tangan Kang Basir, sambil membawa penggaris kayu dengan panjang satu meter mendarat kemuka zakki yang sedang bermimpi pulas ditiyang surau Pondok Pesantren Al-Ikhlas itu.

"Kamu itu, ya Zakki !!!... malahan enak-enakan tidur, yang lain sedang sibuk mutholaah kitab Fatkhul Qorib, kamu malahan tidur ngorok di tiyang belakang surau. Coba lihat kitabmu, kamu sedang membuka bab apa ? lihat itu teman-temanmu sudah sampai bab Thoharah (Bersuci). Bahkan teman-temanmu sudah sampai pada bab pembahasan tentang najis mugholladoh, kamu masih saja di alam mimpi!" bentak Kang Basir. Sebagai hukumanmu Zakki, sekarang saya akan memberikan pertanyaan, "Kalau kamu tidak sengaja menginjak kotoran ayam yang sudah kering, lalu kamu pakai sandal yang basah, bagaimana status kesucian kakimu?" jika kamu tidak dapat menjawab pertanyaanku ini, maka selepas ini kamu akan saya sangsi taqzir untuk membersihkan seluruh surau ini sendirian. Bagaimana zakki apa kamu masih berani menerima tantangan dariku ini ?

Santri-santri yang lain menoleh ke arah zakki. Mereka mulai berbisik, ada yang mencemooh zakki, bahkan adapula yang yang secara terang-terangan merendahkan zakki di depan teman yang lain bahkan mereka bersiap menertawakan Zakki yang biasanya hanya bisa cengengesan saja.

Baiklah kang basir, saya setuju dengan tantangan yang kamu berikan, namun jika saya tepat dalam menjawab pertanyaanmu itu, saya minta jika sedang tidur saat mengaji tidak ada yang boleh membangunkan saya kecuali oleh mbah kyai Zaenuddin sendiri. Bagaimana kang basir ?...

Zakki !...bentak kang basir yang sedikit tersulut emosi, karena mendengar permintaan zakki yang tidak masuk akal itu, setelah di fikir-fikir beberapa saat oleh kang basir, akhirnya menyetujuinya.

Baiklah zakki, saya menyetujui apa permintaanmu itu, tapi jika kamu sampai salah dalam menjawabnya maka bersiaplah mengepel seluruh surau ini sendirian.

Coba ulangi pertanyaanmu tadi kang basir?

Baik zakki pertanyaannya akan saya ulang kembali "Jika kamu tidak sengaja menginjak kotoran ayam (telek ayam) yang sudah kering, lalu kamu pakai sandal yang basah, bagaimana status kesucian kakimu?"

Zakki membetulkan letak kopiahnya yang miring hampir menutupi mata. Ia sedikit melirik kitabnya sebentar, lalu menguap pelan. Sarungnya yang bermotif kotak-kotak yang sedikit pudar dan dipasang miring di bahu kanan yang melingkar miring kekiri tampak melorot sedikit.

"Statusnya, Kang ?... Tergantung," jawab Zakki singkat namun jelas.

"Tergantung apa zakki?! Najis, ya najis!"

Zakki menggelengkan kepalanya. "Gini, Kang Basir yang ganteng biar saya jelaskan secara logika ilmu fiqh saja, kalau najisnya sudah kering kerontang dan tidak berpindah sifat (warna, bau, rasa) ke sandal yang basah, ya bisa jadi tetap suci menurut sebagian pendapat. Tapi kalau menurut logika fisika fluida yang saya baca dibeberapa buku literatur diperpustakaan pondok menjelaskan bahwa jika sifat daripada warna kotoran ayam itu, baik bau dan rasanya sudah menguap karena terkena sinar matahari, walaupun terkena air sekalipun maka kandungan zat yang tergantung di kotoran ayam itu sudah berubah maka najisnyapun hilang karena penguapan sinar matahari, Kang basir..."

Zakki kemudian berdiri sambil memandangi kang basir yang masih belum bisa menerima jawaban dari zakki, lantas zakkipun mengambil sebatang lidi, lalu menggambar pola di lantai semen yang berdebu.

"Kelembapan sandal itu Cuma 15%. Sedangkan kotoran ayam itu sudah mengalami penguapan total oleh sinar matahari selama tiga hari. Secara perpindahan molekul, probabilitas partikel najis menempel pada pori-pori kulit kaki itu hampir nol koma sekian persen kang basir. Artinya, secara mikroskopis kaki saya bersih, Kang basir. Kecuali jika kotoran ayam itu masih berwujud basah atau bisa dikatakan kotoran ayam baik dari zat warnanya, baunya, dan wujudnya masih basah, lalu jatuh ke sadal saya dan kemudian sandal itu saya pakai, otomatis sandal yang saya pakai tersebut telah terkena najis, jika terkena oleh kaki saya otomatis menjadi najis dan itu harus di bersihkan terlebih dulu, menggunakan air yang bersih serta suci.

Daripada bahas kotoran ayam yang sudah kering, mending bahas kotoran hati Kang Basir itu yang sering marah-marah mulu itu. Kalau sering marah-marah nanti bisa bikin cepat tua, lho."

Satu aula sekejap menjadi hening....

Kang Basir hanya dapat melongo saja tanpa berkata apa-apa lagi. Dia bingung mau marah karena dihina, atau terpukau karena hitung-hitungan Zakki yang terdengar sangat ilmiah tapi masuk akal. Tapi kalau saya mengaku kalah dengan anak ingusan ini, nanti mukaku mau ditaruh mana. Duh,...saya harus bagaimana ini. Kang basir memegang kepalanya sambil memutar otak agar wibawanya sebagai lurah pondok tidak jatuh martabatnya di tangan zakki, santri baru yang baru selesai mengikuti MATASBA (Masa Ta'aruf Santri Baru) itu.

"Kamu itu...bicara apa zakki !? Fisika-fisika segala! Ini itu pondok, bukan laboratorium! Atau Perpustakaan!" seru Kang Basir yang mulai emosi, mukanya sudah tampak merah, karena amarah yang dipendamnya, disebabkan oleh jawaban zakki tersebut, meski suaranya mulai bergetar ragu.

"Lho gini kang basir, Gusti Allah itukan menciptakan alam pakai hukum alam, Kang basir. Ngaji itu biar pinter, bukan Cuma hafal teks tapi nggak paham cara kerja dunia," balas Zakki sambil nyengir lebar, lalu kembali duduk. "Oh iya, sarung saya miring ya? Maaf, ini namanya gaya gravitasi selektif."

Zakki kembali menyandarkan kepalanya ke tiang. Sebelum Kang Basir sempat membalas, Zakki sudah kembali tertidur memejamkan mata.

Di balik kelopak matanya, Zakki sedang menghitung berapa liter air yang dibutuhkan untuk mengisi bak mandi pondok jika debit air yang keluar sangat kecil, sementara santri yang antre ada lima ratus orang. Bagi orang lain itu masalah sepele, bagi Zakki, itu adalah teka-teki matematika yang harus dipecahkan sambil tidur.

Emosi kang basir hampir saja meledak, karena merasa diremehkan oleh zakki santri baru dari lereng gunung lawu itu, dengan perasaan jengkel kang basir yang masih memegang penggaris kayu dengan panjang satu meter itu hampir memukul kembali wajah zakki.

Saat akan mendaratkan kembali penggaris kayu dengan panjang satu itu ke wajah zakki, ada suara Kyai Zaenuddin yang mencegahnya.

Tahan dulu kang basir !!!, jangan kamu pukul zakki lagi.

Mohon maaf Mbah Kyai Zaenuddin. Kang basir sangat hafal jika barusan adalah suara Mbah Kyai Zaenuddin, mengetahui jika posisi kang basir sedang terpojok, akhirnya kang basir tidak jadi memukul zakki dengan menggunakan penggaris panjanng satu meter.

Mbah Kyai Zaenuddin, berdiri didepan kang basir yang tertunduk malu. Kang basir, kamu itu lurah pondok !...tidak seharusnya berperilaku seperti itu, apalagi disaksikan oleh ratusan santri seperti ini, zakki memang salah karena saat jam mutholaah kitab dia malahan tidur, tapi yang saya sayangkan jika kalah argumentasi, dan kalah tabir, kemudian tidak terima dengan kekalahannya lalu menggunakan kekerasan untuk menutupi kekurangannya, itu namanya bukan seorang santri yang jentelmen.

Sambil tertunduk malu kang basir menggakui kekalahannya terhadap zakki serta disaksikan oleh ratusan santri yang ada di surau Pondok Pesantren Al-Ikhlas itu.

Maafkan saya mbah yai zaenuddin, hal serupa tidak akan saya ulangi kembali, saya siap diberikan taqziran sebagai konsekuensi dari sikap saya yang kurang pantas sebagai lurah pondok.

Sebagai lurah pondok memang harus memiliki sikap jentelmen, tidak bersikap semena-mena seperti itu, karena sesungguhnya jabatan menjadi lurah pondok adalah amanah yang diberikan oleh pondok pesantren agar dijalankan dengan sebaik mungkin, sebagai hukumanmu karena telah lalai menjalankan tugasmu, maka sebagai gantinya bersihkan surau ini sendiri.

Baik mbah kyai zaenuddin, saya menerima hukuman yang diberikan.

Dan untuk kamu zakki, karena telah melakukan pelanggaran yaitu tidur saat jam mutholaah kitab, sebagai gantinya kamu juga membantu kang basir untuk membersihkan surau ini, dan karena kang basir sudah kalah argumentasi debat denganmu maka janji tetap harus ditepati, kamu boleh tidur saat ngaji tapi saat saya yang mengajar selain saya kamu tidak diperbolehkan untuk tidur saat ngaji. Bagaimana zakki apakah kamu menerimanya ?

Zakki sangat menerimanya mbah yai zaenuddin. Di dalam hati zakki dia telah berhasil menumbangkan kang basir.

Setelah mbah kyai zaenuddin pergi meninggalkan zakki dan kang basir yang merupakan lurah pondok tersebut dengan hati yang sangat senang, dalam hati mbah kyai zaenuddin tidak menyangka kang basir akan dikalahkan oleh santri baru dari lereng gunung lawu itu.

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca