Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kembali Hidup Sebagai Kacung Kenikmatan

Kembali Hidup Sebagai Kacung Kenikmatan

Queen.J | Bersambung
Jumlah kata
53.6K
Popular
452
Subscribe
148
Novel / Kembali Hidup Sebagai Kacung Kenikmatan
Kembali Hidup Sebagai Kacung Kenikmatan

Kembali Hidup Sebagai Kacung Kenikmatan

Queen.J| Bersambung
Jumlah Kata
53.6K
Popular
452
Subscribe
148
Sinopsis
18+PerkotaanAksiHaremReinkarnasi21+
Jono, pria berusia 39 tahun harus hidup menjadi kacung seorang ketua mafia. Hidup sebagai kacung membuatnya harus melaksanakan perintah ketua meski hanya sekedar membeli rokok. Ia bahkan terbiasa melihat Ketuanya bercinta dengan banyak gadis tanpa bisa merasakannya. hingga kecelekaan membuatnya harus tewas, dan kembali hidup di gang kumuh.... Sebagai Gelandangan dan di pungut oleh Seorang Wanita yang menjadikannya... Seorang Kacung lagi...
Bab 001

Jono menatap deretan botol bir di kantong plastiknya dengan tatapan kosong, seolah benda itu adalah beban terberat di dunia. "Bos enak-enakan di atas kasur sama dua model, gue malah disuruh cari merek bir yang tokonya di ujung gini," gumam Jono sambil meludah ke samping trotoar dengan gusar.

Ia melangkah gontai menyeberangi jalanan aspal yang masih basah sisa hujan tadi sore tanpa menoleh kanan-kiri. "Kapan ya gue bisa ngerasain dipijit cewek beneran, bukan cuma nontonin dari balik pintu kamar doang?" batin Jono sambil membayangkan wajah-wajah cantik yang sering ia lihat di klub malam milik bosnya.

Tiiiiinnnn! Suara klakson nyaring itu merobek lamunan Jono, diikuti cahaya lampu truk yang tiba-tiba sudah ada di depan batang hidungnya.

"Waduh, mati beneran nih gue!" teriak Jono dengan mata melotot dan mulut menganga lebar karena kaget bukan main.

BRAAAKKK! Tubuh Jono terpental sejauh lima meter, mendarat keras di atas aspal dengan suara tulang yang berderak ngeri. Kantong plastiknya robek, membuat botol-botol bir itu pecah dan cairannya mengalir membasahi kepalanya yang mulai terasa dingin.

"Sialan, birnya malah pecah semua, bisa dimarahin Bos kalau gue nggak mati," bisik Jono dengan suara parau dan napas yang satu-satu. "Masa akhir hidup gue cuma ditemenin aspal dingin sama bau alkohol begini sih?" batinnya sambil menatap langit malam yang mulai terasa berputar-putar.

Pandangannya perlahan kabur, namun satu bayangan wanita cantik di iklan sabun papan reklame seolah melambai padanya. "Tuhan, kalau tahu bakal begini, tadi gue nekat aja cium tangan mbak-mbak kasir minimarket," gumam Jono dengan tawa getir yang diiringi keluarnya busa dari sudut bibirnya.

Dunia perlahan menjadi gelap gulita, menyisakan rasa sesal yang amat mendalam di relung hati pria malang itu. "Nasib... mati dalam keadaan perjaka tua dan tetap jadi kacung, bener-bener komedi paling nggak lucu," batin Jono sebelum detak jantungnya berhenti total dan semuanya menjadi sunyi.

Jono mengerjapkan matanya yang terasa lengket, berusaha mengusir bayangan truk yang tadi sempat menghantamnya sampai gepeng. "Hah, kok gue masih napas? Bukannya tadi gue udah jadi perkedel di aspal ya?" gumam Jono sambil meraba dadanya yang terasa utuh meski bajunya bau apek bukan main.

Pandangannya perlahan jernih dan menangkap sosok wanita cantik dengan gaun merah mewah yang sedang membungkuk di depannya. Aroma parfum mahal yang menyeruak membuat Jono seketika lupa kalau dia baru saja tewas konyol di jalanan.

"Wah, beneran ada bidadari ya di surga, cantiknya nggak masuk akal begini," bisik Jono dengan mata berbinar-binar penuh damba. "Mumpung di surga, gue nggak boleh jadi kacung pemalu lagi kayak dulu," batinnya sambil meraih tangan halus wanita itu dengan cepat.

Tanpa aba-aba, Jono langsung menarik tangan itu dan menciuminya berkali-kali dengan penuh nafsu seolah sedang menyembah dewi asmara. "Aduh Mbak Bidadari, makasih ya udah jemput Jono yang jomblo ini," racau Jono sambil memejamkan mata, menikmati kelembutan kulit yang belum pernah ia sentuh seumur hidup.

DUAAKKK! Sebuah sepatu bot hitam berukuran besar mendarat tepat di hidung Jono, membuatnya terpental ke belakang dengan posisi sangat tidak estetik. "Kurang ajar! Berani-beraninya lo pegang-pegang Nona Besar pakai tangan kotor lo itu, ya!" teriak seorang gadis muda yang berdiri di samping wanita tadi.

Jono tersungkur dengan wajah mendarat mulus di atas tumpukan sisa makanan yang sudah membusuk dan berair. "Aduh, hidung gue mau copot ini, kok bidadari pengawalnya galak amat sih?" rintih Jono sambil berusaha bangkit dari kubangan lendir sampah yang menjijikkan.

Ia menoleh ke sekeliling dan menyadari kalau dia bukan di surga, melainkan di gang sempit yang lebih busuk dari kandang ayam. "Eh, tunggu dulu, ini tangan kok dekil banget dan banyak daki begini?" tanya Jono sambil menatap tubuhnya yang dibungkus kain gombal penuh lubang.

"Sialan, beneran hidup lagi tapi malah jadi gelandangan bau sampah begini!" batin Jono sambil meratapi nasibnya yang bukannya naik kasta malah makin merosot tajam. "Tuhan, ini konsep reinkarnasinya gimana sih, masak kacung mafia naik pangkat jadi gembel?" gumamnya lirih sambil mengusap ingus yang bercampur darah di bibirnya.

"Aduh, cakep-cakep kok galak banget sih, Mbak!" ringis Jono sambil memegangi hidungnya yang terasa mau copot. "Mimpi apa gue semalam, bangun-bangun langsung dapet salam olahraga dari cewek cantik," gumamnya lirih sambil berusaha mengusap sisa kuah sampah yang menempel di pipinya.

Jono mendongak dan melihat seorang wanita berambut pendek dengan setelan jas hitam rapi sedang menatapnya dengan tatapan jijik. Tangan wanita itu masih siaga di depan tubuhnya, seolah siap mengirimkan tendangan kedua kalau Jono berani macam-macam lagi.

"Berani lo sentuh Nona sekali lagi, kaki lo yang gue patahin!" ancam ajudan itu dengan suara yang dingin dan tajam seperti silet. "Dasar gembel nggak tahu diri, dikasih hati malah mau nyosor!" batin Jono menirukan omongan pedas wanita itu sambil meringis kesakitan di atas tumpukan kardus basah.

Wanita bergaun merah yang tadi hendak menolongnya hanya menghela napas panjang, sambil mengibaskan tangan seolah mengusir bau busuk. "Sudahlah, Vanya, jangan dikasari terus, dia cuma gelandangan yang lagi linglung mungkin," ucap si Nona dengan nada suara yang lembut tapi terasa sangat jauh jarak sosialnya.

Jono terpaku menatap kedua wanita itu, antara kagum dengan kecantikan mereka dan ngenes melihat kondisi tubuhnya sendiri yang penuh daki.

"Tunggu, ini gue beneran jadi gembel ya, bukan lagi syuting film?" tanya Jono dalam hati sambil meraba-raba kain rombeng yang menutupi badannya yang kurus kering.

"Ya ampun, kenapa reinkarnasi gue skenarionya begini banget sih, Tuhan!" keluh Jono sambil menepuk jidatnya sendiri yang terasa berlemak. "Dulu kacung mafia, sekarang malah jadi keset kaki bidadari galak," gumamnya pasrah sambil menatap ujung sepatu hak tinggi milik si Nona yang berkilau di depannya.

"Nama saya Maya, dan ini Vanya," ucap wanita bergaun merah itu sambil memberikan isyarat ke arah ajudannya yang masih menatap Jono dengan bengis. "Dan, siaap namamu?" tanya Maya dengan nada yang lebih ke arah kasihan daripada menghina.

​Jono terdiam sejenak, berusaha mengumpulkan nyawanya yang seolah masih tertinggal di bawah ban truk. "Nama saya... Jono, Nona," jawabnya dengan suara serak sambil berusaha duduk tegak di antara sisa-sisa kulit pisang. "Aduh, mimpi apa gue semalam, ditanya nama sama cewek bening begini," batin Jono sambil mencium aroma ketiaknya sendiri yang sangat mematikan.

Maya menghela napas pendek, lalu melipat tangannya di depan dada sambil menatap Jono yang masih terduduk lemas. "Mau ikut saya kerja di tempat saya? Daripada di sini cuma jadi gelandangan," tawar Maya dengan nada suara yang tenang tapi berwibawa.

"Ngapain sih Nona nawarin gembel kayak dia, mending kita tinggalin aja!" seru Vanya sambil memberikan tatapan tajam yang seolah ingin menusuk bola mata Jono. "Awas ya, kalau lo macam-macam, kaki lo yang gue patahin," batin Jono menirukan raut muka galak Vanya yang masih bikin dia ngeri.

Kruyuuuukk! Suara perut Jono yang sangat keras tiba-tiba saja memecah keheningan gang kumuh itu dengan sangat tidak sopan. Jono langsung memegang perutnya sambil menyeringai malu ke arah dua wanita cantik di depannya.

"Aduh, perut gue beneran nggak punya harga diri banget di depan bidadari," gumam Jono lirih sambil menundukkan kepala. "Ya sudah Nona, saya ikut saja, yang penting perut saya nggak demo lagi," ucap Jono kemudian sambil berusaha berdiri tegak meski kakinya masih sedikit gemetar.

Maya hanya mengangguk kecil lalu berbalik arah menuju mobil mewah yang terparkir di ujung gang. "Ya sudah, ayo ikut saya ke mobil." perintah Maya tanpa menoleh lagi ke belakang.

"Cepat jalan! Jangan sampai daki lo nempel di jok mobil!" bentak Vanya sambil mendorong bahu Jono dengan kasar sampai dia nyaris terjatuh lagi.

"Sialan, baru hidup lagi udah dapet majikan baru yang satu malaikat, yang satu lagi algojo," batin Jono sambil berjalan tertatih mengikuti mereka.

Lanjut membaca
Lanjut membaca