

Manggala tidak sabar menyaksikan keindahan yang melekat pada wanita yang dicintainya, Irene.
Dia berlari menyusuri anak tangga, menghabiskan waktu sejam lamanya demi perhelatan malam yang akan dirasakan seumur hidupnya setelah 35 tahun tidak laku dan terus melajang.
Manggala merendam diri dalam bath up besar. Menggosok kulitnya dengan busa-busa memastikan tubuhnya benar-benar bersih.
Dia menggeliat seperti ulat hijau yang kepanasan, dia tidak sabar menghabiskan waktu panjang dengan wanita yang baru saja ia nikahi.
Manggala kini tinggal dirumah Irene. Rumah Irene yang mewah dengan tangga klasik ala Eropa berwarna putih, berhasil Irene dapatkan dari kerja keras hasil menjadi wanita malam kalangan perlente.
Karena mendapatkan janda kaya, Manggala hidup ditopang wanita kaya. Pernikahan Manggala dan Irene sudah dilangsungkan siang terik dengan ucapan sah ala kadarnya.
Sebab irene enggan melaksanakan pesta mewah. Sesaat Manggala sudah keluar dari kamar mandi, Irene menunggunya dari balik pintu kamar mandi.
“Lama sekali,” ketus Irene.
Manggala tersipu malu. Dia melihat Irene menggunakan baju sutra putih terawang dengan rambut diurai sebahu.
Pancarannya sungguh membuat Manggala terpesona. Nafas Manggala menjadi naik turun bak kuda yang dipecut.
“Kamu kenapa?” Irene menatap mata Manggala yang terbelalak melihat pesonanya.
Irene tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Manggala yang polos.
“Kita minum. Kita berbincang dulu,” ajak Irene menarik lengan kanan Manggala.
Sontak Manggala tidak bisa terpejam. Sedetik dia tidak mengedipkan mata melihat keindahan buah keagungan Tuhan lewat wanita seperti Irene.
Dia seperti ingin mencengkeram tapi ditahan karena malu. Irene menuangkan wiski dari botol mahal asli Eropa.
Dua gelas emas bercorak kerajaan dikeluarkan dari laci dapur dengan lemari tinggi-tinggi bernuansa abu terang.
Mereka duduk bersebelahan dengan mesra.
“Irene, maksudku istriku sayang,” Manggala menaruh lengan kanan di pundaknya.
Irene meneguk wiski dengan lincah. Terlihat lehernya yang mulus dan jenjang bak angsa betina.
“Kenapa kamu mau menikahi aku yang tidak punya apa-apa?” Manggala mulai menggoda Irene.
“Hanya kamu lelaki perjaka dan aku ingin memiliki suami baik-baik sepertimu, Gala. Tidak ada di dunia ini, jarang sekali lelaki yang sepertimu. Apalah arti harta? Aku pun telah menikah ketiga kalinya dan tidak pernah memiliki anak. Aku punya segalanya. Ah, dunia ini.” Irene menenggak wiski lagi mengingat kekacauan hidupnya.
Kepercayaan Manggala meningkat. Manggala berpostur tinggi sekitar 185 cm dengan kulit putih.
Dia sebetulnya blasteran. Namun malang, ayahnya kembali ke Belanda karena Ibu Manggala sadar bahwa pernikahan beda iman tidak direstui Tuhan.
Gala dan ibunya harus bertahan hidup di pesisir laut. Gala bertahan menopang ibunya sebagai nelayan pencari ikan di laut, sembari mengasingkan cita-citanya yang sedari dulu ingin pergi ke kota.
Irene pernah singgah ke pulau tempat Gala tinggal, di Ujung Timur. Gala ditawari janji manis dan sumringah hidup di ibu kota bersama Irene.
Irene pun duduk ditopang Manggala seraya menyandarkan tubuhnya.
“Kamu nampak menarik.” Lengan Irene merogoh sesuatu.
Tangan Manggala bergetar hebat. Dia keringat dingin. Jantungnya berdegup kencang.
Irene meletakkan jarinya yang lentik di atas jantung Manggala. Mereka saling bertatap. Keduanya membuncah tak keruan.
Manggala tak kuasa disodorkan wanita tercantik dan terindah.
Walaupun dia belum pernah bersatu dengan wanita mana pun, namun petunjuk-petunjuk bersama Irene dia dapatkan sewaktu Manggala sering bermimpi perihal Irene.
Di padang rumput yang luas. Rumputnya tinggi-tinggi sekepala orang dewasa. Manggala sering bermimpi, membawa Irene ke semak belukar.
Di mimpinya Manggala begitu hebat berpetualang cinta. Masih ingat dalam mimpinya, Irene sampai tertawa riang. Sekarang mimpi itu akan menjadi nyata.
“Wangi sekali,” Irene meliuk-liuk.
Irene lantas melepas kimono sutranya. Manggala semakin terbelalak. Dia dapat dengan jelas melihat keindahan Tuhan yang tergambar lewat seorang wanita.
“Aku akan bekerja keras dan membuktikan kabar angin di luar sana tentangku,” Manggala mendekatkan dirinya ke tubuh Irene.
Dia lantas membenamkan wajahnya, menahan gelora. Tangannya tengah berpetualang lincah di antara kedua nafas yang tersengal.
Manggala pernah menonton film sebelum menikah dengan Irene. Dia berharap dengan begitu bisa terlihat berpengalaman di depan Irene, wanita pujaannya.
Manggala mengangkat Irene dan berlari menyusuri anak tangga menuju lantai atas dengan ringannya seperti mengapung ke udara menuju kamar utama.
Kamar yang didesain sedemikian rupa menjadi kenangan indah di malam pertama Manggala. Pikirnya demikian. Manggala membuka jaring-jaring sutra dengan tergesa-gesa.
“Malam yang menyenangkan,” pekik Irene lagi.
Mereka akan bersatu di malam purnama. Manggala meloroti celana dalamnya dengan semangat, Irene mulai terheran-heran.
“Milikmu masih belum berdiri tegak padahal kita telah berpetualang?” Irene menatap milik Manggala yang masih membungkuk.
Manggala mulai menyadari hal tersebut, dia masih belum paham.
Adegan malam pertama berhenti. Manggala dan Irene menatap sesuatu yang tidak terbangun juga.
Manggala mulai menyadari keanehan tersebut. Irene langsung beranjak dari kasurnya, ia berdiri dan berteriak keras menyemprot batin Manggala yang menjadi hina di depan wanita yang pandai bermain cinta.
“Milikmu tidak bisa berdiri. Kamu seorang impoten,” Irene lantas berlari menjauh.
Manggala tersungkur di lantai. Bukan tidak bisa membalas, namun rasa sayang dan cinta yang mendalam pada Irene membuat dia tidak ingin menyakitinya walau hanya dengan omongan.
Gala berdiri dari jatuhnya. Menatap Irene dengan tatapan rindang. “Aku akan sembuh. Kita akan memiliki banyak anak.”
“Kalau begini caranya, aku tidak bisa pensiun dari pekerjaanku. Aku ingin menikah dengan lelaki baik dan berubah menjadi baik demi keluarga. Kenapa kamu nggak bilang kamu punya penyakit itu? Kamu sudah membohongi aku?” Irene membalikan badannya.
“Aku terlalu polos untuk paham. Aku terlalu bodoh memang, aku hina di mata kamu,” Manggala terperosok lesu, lutut bergetar.
Harga diri Manggala jatuh di depan cinta pertamanya yang diagung-agungkan, diidam-idamkan, hanya karena miliknya tidak bisa berfungsi.
“Gala, tolong berhenti,” Irene lesu menatap Manggala. “Kamu impoten, susah disembuhkan. Pernikahan kita tidak akan berjalan lancar. Kamu tahu?” Irene membuang muka.
Manggala terhanyut dalam derita. Dia terkapar seolah kalah dalam peperangan. Dalam cinta dan mencintai, dia telah kalah telak.
Irene nyerocos lagi, Gala tidak ingin menyakiti hati istrinya. Irene segala-galanya bagi Manggala.
“Kita cerai saja,” ucap Irene lantang.
“Jangan sekali-kali ucapkan itu.” suara Manggala bergetar.
“Gal, tolong berkaca. Kamu tahu arti penting dari milikmu yang berdiri tegak? Apa arti pernikahan tanpa milikmu itu? Jangankan aku, semua wanita akan kabur,” tungkas Irene menjelaskan.
“Irene aku mohon, hormati suamimu ini,” ucap Gala berusaha melindungi harga diri yang telah diinjak Irene.
Irene pergi meninggalkan Manggala di ruang tengah, ia berjalan menaiki tangga dan meninggalkan Manggala seorang diri.
“Aku minta bercerai darimu, Gala. Aku ingin berpisah darimu,” ucap Irene.
***