

Pagi di Distrik Pecinan bukanlah sekadar awal hari; itu adalah sebuah simfoni kekacauan yang teratur. Cahaya matahari yang masih kemerahan berjuang menembus kabut tipis dan asap dari pembakaran hio di depan klenteng-klenteng tua. Suara roda gerobak kayu yang beradu dengan jalanan aspal yang retak menciptakan ritme yang konstan, bersahutan dengan teriakan pedagang bakpao yang menjajakan dagangannya dengan suara serak. Di gang-gang sempit yang menyerupai labirin, aroma bawang goreng, bau apak bangunan kolonial, dan wangi bunga sedap malam berbaur menjadi satu identitas yang hanya dimiliki oleh Kota Tua.
Di jantung distrik inilah, di sebuah gedung tua berlantai dua dengan cat putih yang sudah mengelupas di sana-sini, terletak sebuah kantor yang papan namanya nyaris jatuh: "Detektif Kuku & Rekan – Spesialis Masalah Pelik & Kehilangan".
Di dalam kantor itu, waktu seolah berhenti di tahun 1950-an. Detektif Kuku, pria yang usianya sulit ditebak namun memiliki sorot mata yang sanggup menguliti kebohongan, sedang duduk di singgasananya—sebuah kursi kayu jati besar yang selalu mengeluarkan bunyi derit setiap kali ia bersandar. Kuku tidak mengenakan setelan jas mahal. Ia lebih nyaman dengan kemeja katun tua yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan kulitnya yang kecokelatan. Di depan hidungnya, sebuah kaca pembesar besar menjadi jendela untuk memeriksa sebuah barang bukti yang sangat kecil: sehelai bulu putih yang halus.
"Bimo," panggil Kuku tanpa mengalihkan pandangan. Suaranya rendah, serak, seperti suara gesekan amplas pada kayu. "Tahukah kau bahwa bulu ini tidak berasal dari sembarang kucing? Ini adalah bulu kucing Persia keturunan murni dari pegunungan Zagros. Seratnya lebih kuat, dan ia memiliki kemampuan unik untuk memantulkan cahaya di tempat gelap. Siapa pun yang memiliki kucing ini, dia tidak hanya memiliki hewan peliharaan, tapi sebuah perhiasan bernyawa."
Di sudut ruangan yang lain, Bimo sedang bertarung dengan tumpukan koran pagi yang menjulang tinggi hingga menutupi jendela. Bimo adalah antitesis dari Kuku. Jika Kuku adalah air yang tenang namun dalam, Bimo adalah air terjun yang riuh namun seringkali tumpah ke mana-mana. Kaosnya yang bergambar kartun terlihat kontras di antara furnitur antik kantor itu.
"Bang Kuku, saya rasa bulu itu tidak akan bisa bicara," sahut Bimo sambil mencoba merapikan tumpukan kertas itu. "Yang bisa bicara adalah perut saya. Kita belum dapat klien sejak dua minggu lalu, dan stok biskuit jahe kita sudah menipis. Kalau begini terus, kucing-kucing kita bakal mogok kerja."
Memang, kantor itu lebih menyerupai tempat penampungan kucing daripada firma detektif. Ada sekitar tujuh ekor kucing yang berkeliaran bebas di sana. Ada si Si Pitung, kucing oranye tangguh dengan luka parah di telinganya hasil perkelahian jalanan, dan si Malam, kucing hitam legam yang matanya kuning menyala, selalu duduk di atas lemari arsip seolah-olah ia adalah pengawas rahasia.
BRAKK!
Bimo kehilangan keseimbangan. Tumpukan koran itu longsor, menimbun separuh tubuhnya. Debu beterbangan di udara, menari-nari di bawah sinar matahari yang masuk lewat celah ventilasi.
"Astaga, Bimo! Aku sudah bilang berkali-kali, informasi dalam koran-koran itu adalah harta karun. Jangan kau perlakukan seperti sampah!" Kuku berseru sambil melindungi cangkir teh melatinya agar tidak kemasukan debu. Ia menyesap teh itu dengan perlahan, membiarkan rasa pahit dan wangi bunga melati menenangkan syaraf-syaraf kepalanya yang mulai berdenyut.
Sebelum Bimo sempat membalas, pintu kantor berderit terbuka. Bunyi lonceng kecil di atas pintu menandakan kedatangan seseorang.
Seorang wanita tua melangkah masuk. Ia adalah Nyonya Lim, pemilik toko kain paling terkemuka di Pecinan. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak rapuh. Kebaya encimnya yang berwarna krem terlihat kusut, sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa bagi wanita seteliti dia. Ia tidak membawa tas belanja, melainkan mendekap sebuah sapu tangan sutra seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
"Detektif Kuku..." suaranya bergetar, lebih halus dari bisikan. "Si Manis... dia hilang dari kamarnya semalam."
Kuku meletakkan kaca pembesarnya. Ia bangkit berdiri, memberikan gestur sopan agar Nyonya Lim duduk di kursi tamu yang sudah mulai kempis busanya. "Tenang, Nyonya Lim. Duduklah. Bimo, ambilkan air hangat. Dan jangan jatuh lagi kali ini."
Nyonya Lim duduk dengan kaku. Ia menceritakan bagaimana semalam ia mendengar suara kaca pecah di gudang bawah tanahnya, namun saat ia memeriksanya, ruangan itu kosong. Hanya jendela kecil di bagian atas yang terbuka paksa. Si Manis, kucing kesayangannya yang biasanya tidak pernah meninggalkan bantal sutranya, raib tanpa jejak.
"Hanya ini yang mereka tinggalkan," Nyonya Lim menyodorkan sebuah kertas kecil yang terlihat kotor.
Kuku menerima kertas itu dengan hati-hati. Ia membacanya dalam hati, namun raut wajahnya berubah seketika. Matanya yang tajam seolah menembus serat-serat kertas itu.
"Jika kau ingin Si Manis kembali, temukan 'Mata Naga Merah' sebelum bulan purnama ketiga."
"Mata Naga Merah?" Bimo mengintip dari balik bahu Kuku. "Itu bukannya legenda tentang permata yang hilang di zaman Dinasti Ming? Ayah saya sering cerita itu sebagai dongeng sebelum tidur."
Kuku menarik napas panjang, aroma teh melati bercampur dengan bau kertas lama memenuhi rongga dadanya. "Bagi orang biasa, itu dongeng, Bimo. Tapi bagi orang yang mengerti sejarah bawah tanah Jakarta, itu adalah peta kekuatan. Nyonya Lim, apakah Anda tahu mengapa mereka mengincar kucing Anda untuk mendapatkan permata itu?"
Nyonya Lim menggeleng, namun matanya menyiratkan ketakutan yang mendalam.
"Si Manis bukan sekadar kucing," lanjut Kuku sambil berjalan menuju jendela, menatap ke arah atap-atap gedung Kota Tua. "Kucing itu adalah kunci. Kakek buyut Anda, Tuan Lim, adalah salah satu penjaga rahasia harta karun itu. Mereka percaya bahwa Si Manis memiliki rahasia yang tersembunyi di dalam kalungnya, atau mungkin di dalam ingatannya yang diwariskan."
Suasana kantor mendadak menjadi tegang. Si Malam, kucing hitam di atas lemari, mendesis pelan, seolah merasakan kehadiran bahaya yang mendekat.
"Bimo," suara Kuku terdengar lebih dalam dan berwibawa. "Lupakan soal biskuit jahe. Kita punya kasus yang akan membuat seluruh sindikat di kota ini keluar dari lubang persembunyiannya. Ambil tas lapanganmu. Kita akan memulai perjalanan ini dari tempat di mana semua rahasia dikuburkan."
"Ke mana, Bang?"
"Ke kediaman tua keluarga Lim. Kita harus melihat jejak kaki yang mereka lewatkan."
Kuku masih berdiri mematung di depan jendela kaca besar yang sudah buram oleh debu bertahun-tahun. Ia melihat ke bawah, ke arah jalanan Pecinan yang mulai padat oleh asap knalpot bajaj dan gerobak kaki lima. Pikirannya melayang jauh melampaui riuh rendah kota. Di matanya, Jakarta bukan sekadar tumpukan beton, melainkan sebuah teka-teki raksasa yang potongan-potongannya seringkali tersembunyi di tempat yang paling tidak terduga—seperti di balik kerah baju seorang wanita tua atau di dalam dengkur seekor kucing Persia.
"Bang Kuku? Bang!" Suara Bimo memecah lamunan Kuku. "Ini tasnya sudah siap. Senter, buku catatan, kompas (yang agak karatan), sama biskuit cadangan buat Si Pitung sudah saya masukkan. Tapi jujur, Bang... 'Mata Naga Merah'? Bukannya itu cuma mitos buat nakut-nakutin pencuri barang antik?"
Kuku membalikkan badannya perlahan. Ia mengambil topi flat cap cokelatnya yang tergantung di paku pintu, lalu mengenakannya dengan satu gerakan mantap. "Mitos adalah sejarah yang belum ditemukan buktinya, Bimo. Di kota yang usianya ratusan tahun ini, tidak ada yang benar-benar mustahil. Jika seseorang sampai berani menculik kucing kesayangan keluarga Lim, berarti mereka sudah menemukan bukti yang selama ini kita cari."
Nyonya Lim bangkit dari kursinya, tangannya masih gemetar saat melipat sapu tangan brokatnya. "Detektif, tolong... Si Manis itu segalanya bagi saya. Sejak suami saya meninggal, hanya dia yang menemani saya di rumah besar itu. Saya tidak peduli soal permata atau naga itu, saya hanya ingin kucing saya kembali."
"Kami akan melakukan lebih dari sekadar mengembalikan kucing Anda, Nyonya," jawab Kuku dengan nada suara yang menenangkan namun tegas. "Kami akan memastikan siapapun yang mengganggu ketenangan Anda akan menyesal karena telah menginjakkan kaki di wilayah kekuasaan saya."
Mereka bertiga melangkah keluar dari kantor. Udara panas Jakarta langsung menyergap, membawa bau aspal yang terbakar dan aroma bumbu dapur dari restoran terdekat. Kuku berjalan di depan dengan langkah yang panjang dan terukur, tangannya sesekali meraba termos teh melati di saku jasnya. Bimo mengikuti di belakang, tampak sedikit kesulitan membawa tas lapangan yang berat sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya yang melorot karena keringat.
Perjalanan menuju kediaman keluarga Lim tidaklah jauh secara jarak, namun terasa seperti perjalanan menembus waktu. Semakin dalam mereka masuk ke jantung Kota Tua, bangunan-bangunan modern mulai menghilang, digantikan oleh rumah-rumah bergaya kolonial dan Tionghoa peranakan yang memiliki pilar-pilar besar dan pintu-pintu kayu setinggi tiga meter.
"Rumah Nyonya Lim adalah benteng," gumam Kuku saat mereka tiba di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Di atas gerbang itu, terdapat ukiran naga yang melilit sebuah bola dunia—simbol kejayaan keluarga Lim di masa lalu. "Bimo, perhatikan setiap detail. Jangan cuma lihat ke arah penjual es cendol di seberang sana."
"Siap, Bang! Saya lagi perhatiin... eh, itu ada bekas goresan di tiang gerbang, Bang!" Bimo menunjuk sebuah bekas goresan vertikal yang masih tampak baru di cat besi gerbang tersebut.
Kuku mendekat, mengeluarkan kaca pembesarnya. Ia tersenyum tipis. "Bagus, Bimo. Matamu mulai bekerja. Ini bukan goresan biasa. Ini bekas alat pembobol magnetik. Profesional. Mereka tidak memanjat gerbang, mereka mematikan sistemnya dari luar."
Nyonya Lim membuka gembok gerbang dengan kunci besar yang tergantung di pinggangnya. Begitu mereka masuk ke halaman rumah yang luas namun terasa sunyi, suasana mendadak berubah mencekam. Pohon beringin besar di tengah halaman seolah menunduk lesu, dan dedaunan kering berserakan di atas lantai batu.
"Ke gudang bawah tanah, Nyonya. Sekarang," perintah Kuku.
Mereka berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap di dalam rumah. Di dinding-dindingnya, foto-foto hitam putih anggota keluarga Lim dari berbagai generasi seolah menatap mereka dengan tatapan dingin. Sampailah mereka di depan sebuah pintu besi kecil di sudut belakang rumah.
"Di sinilah Si Manis biasanya tidur," bisik Nyonya Lim sambil membuka pintu gudang.
Begitu pintu terbuka, aroma debu, kayu tua, dan sesuatu yang tajam seperti bau belerang langsung menusuk hidung. Ruangan itu berantakan. Kotak-kotak kayu besar terbuka paksa, isinya berserakan di lantai. Dan yang paling mencolok: di tengah ruangan, terdapat sebuah lingkaran yang digambar dengan serbuk merah misterius.
Kuku berjongkok di samping lingkaran itu. Ia mengambil sedikit serbuk tersebut dengan ujung jarinya, lalu menciumnya. "Cinnabar..." bisiknya. "Ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah ritual."
Bimo menelan ludah, wajahnya mendadak pucat. "Ritual? Bang, saya pikir kita cuma cari kucing, bukan lawan sekte sesat!"
"Di kota ini, Bimo," Kuku berdiri tegak, matanya berkilat di balik kacamata bulatnya, "batas antara kejahatan biasa dan kegelapan itu setipis helai bulu kucing. Siapkan catatanmu. Kita baru saja menemukan pintu masuk menuju lubang kelinci yang sangat dalam