

Arman meringkuk takut di pojok ruangan, saat kedua matanya melihat hempasan sapu lidi di depannya.
“Ampun, Ibu! Tolong hentikan!” ucap Arman memohon.
Lantai semen yang dingin itu terasa membeku di pipi Arman. Tapi rasa perih di punggungnya jauh lebih panas. Di depannya, berdiri seorang wanita yang seharusnya dia panggil "Ibu", namun sosok itu lebih mirip seperti monster yang haus akan penderitaannya. Ratna, ibu tirinya, baru saja menghantam punggung Arman dengan sapu hingga lidi-lidi itu patah berantakan.
"Mana uangnya? Jangan bohong! Aku tahu kau dapat uang banyak hari ini di lampu merah!" teriak Ratna. Suaranya melengking, memecah kesunyian rumah kecil mereka.
Arman merangkak mundur. Tangannya yang kotor dan gemetar mencoba menutupi saku celananya yang sudah robek. Di dalamnya hanya ada beberapa keping logam dan selembar uang lima ribu rupiah yang sudah sangat lusuh. Itu adalah hasil dari jerih payahnya seharian di bawah terik matahari, menahan malu di depan mobil-mobil mewah.
"Ini ... ini untuk beli sarapan besok," bisik Arman. Suaranya serak karena terus-terusan menangis.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Arman. Kepala pemuda 18 tahun itu terhentak ke samping. Rasa amis darah mulai terasa di mulutnya. Tapi bagi Ratna, itu belum cukup. Dia tidak peduli dengan perut Arman. Dia hanya peduli pada uang yang bisa dia gunakan untuk bersenang-senang.
"Sarapan? Buat apa sarapan kalau ngamen aja nggak becus? Sini uangnya!" Ratna menjambak rambut Arman, memaksa remaja itu untuk menatap matanya yang penuh kemarahan.
Dengan kasar, Ratna merogoh saku Arman. Dia mengambil paksa setiap keping uang yang dikumpulkan Arman dengan susah payah. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Ratna mendorong tubuh ringkih Arman sampai tersungkur ke lantai.
Tangan kurus Arman mencengkram perutnya kuat-kuat, seolah berusaha menahan remasan gaib yang sedang menyiksa organ dalamnya. Rasanya bukan lapar biasa, melainkan sensasi tajam yang menusuk-nusuk, seakan dinding perutnya saling bergesekan tanpa ada pembatas. Setiap kali dia mencoba menarik napas dalam, rasa perih itu justru semakin menjadi-jadi, menyebarkan linu hingga ke tulang belakang.
Sejak fajar menyapa, belum ada satu butir nasi pun yang melewati kerongkongannya. Satu-satunya yang mengisi perutnya hanyalah air keran dari pancuran masjid di pinggir jalan yang dia teguk terburu-buru tadi siang. Air dingin itu memang sempat membasahi tenggorokannya yang kering, tapi entah kenapa perutnya terasa semakin kembung dan nyeri karena asam lambung yang terus bergejolak tanpa henti.
Pandangannya mulai berkunang-kunang. Setiap langkah kaki terasa sangat berat, seolah-olah bumi sedang menarik tubuh ringkihnya untuk jatuh bersimpuh. Lidahnya terasa pahit, sementara aroma masakan dari dapur membuatnya semakin tersiksa.
"Bu ... lapar, Bu ... Arman belum makan dari kemarin," rintih Arman sambil menatap kaki ibu tirinya.
Ratna hanya melirik sinis. Tanpa rasa iba sedikit pun, dia berjalan ke dapur. Ratna mengambil piring berisi nasi hangat dan sepotong ayam goreng yang baunya sangat harum. Bau itu memenuhi ruangan, tanpa sadar air liur Arman menetes. Namun, bukannya memberi makan, Ratna malah duduk di kursi dan makan dengan lahap tepat di depan mata putra tirinya itu.
"Kalau lapar, cari makan sendiri! Kau kan punya kaki dan tangan. Jangan jadi beban di rumah ini!" ucap Ratna sambil terus mengunyah.
Arman menatap piring itu dengan mata berkaca-kaca. Di pikirannya, memori tentang almarhumah ibu kandungnya mendadak muncul. Dulu, ibunya selalu memastikan Arman kenyang sebelum dia sendiri makan. Ibunya akan memeluknya dan berkata, semuanya akan baik-baik saja. Tapi sekarang, sejak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi, rumah ini berubah menjadi penjara bagi Arman.
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Prasetyo, ayah Arman, pulang dengan wajah sangat lelah setelah seharian menarik becak. Arman merasakan sedikit ada harapan. Dia ingin berlari ke arah ayahnya, memeluk kakinya, ingin menceritakan betapa sakit punggungnya dan betapa lapar perutnya.
"Ayah ..." panggil Arman lirih.
Tapi belum sempat Arman mendekat, Ratna sudah lebih dulu berakting. Dia memasang wajah sedih yang dibuat-buat dan mendekati suaminya.
"Mas, lihat anakmu ini. Tadi aku suruh dia membantu pekerjaan rumah, malah membangkang. Dia pergi main-main seharian dan pulang tidak bawa apa-apa. Aku sampai pusing mengaturnya. Ingat umurnya sudah delapan belas tahun, Mas," adu Ratna dengan nada yang manja.
Prasetyo menarik napas panjang. Dia melihat Arman yang duduk di lantai dengan wajah lebam, tapi dia terlalu lelah untuk mencari tahu kebenaran. Sejak menikah lagi, dia seolah-olah kehilangan keberanian untuk membela darah dagingnya sendiri. Dia hanya ingin ketenangan, meskipun harus mengorbankan perasaan anaknya.
"Arman, dengarkan kata ibumu. Jangan menyusahkan dia. Bagaimanapun, bu Ratna sudah sepuluh tahun merawatmu," kata Prasetyo dingin. Dia berjalan melewati Arman begitu saja seolah-olah putranya itu adalah benda mati.
Dunia Arman rasanya runtuh saat itu juga. Pengkhianatan yang paling menyakitkan bukanlah dari orang asing, melainkan dari ayahnya sendiri yang memilih untuk tidak mau tahu.
Malam semakin larut, tapi penderitaan Arman belum juga usai. Ratna menyuruhnya mencuci tumpukan baju kotor di belakang rumah. Di bawah cahaya lampu yang redup, Arman menggosok pakaian kasar itu dengan tangan yang sangat lemas.
Setiap kali dia berhenti karena kepalanya pusing, Ratna akan muncul dan berteriak, "Cepat! Jangan malas-malasan! Kalau tidak selesai, jangan harap kau boleh tidur di dalam!"
Arman hanya bisa menunduk. Air matanya jatuh menetes ke dalam ember cucian. Dia bertanya-tanya, apa kesalahannya sampai Tuhan memberinya cobaan seberat ini? Kenapa hidupnya berubah menjadi neraka setelah ibunya pergi?
Selesai mencuci, Arman mencoba mencari sisa makanan di dapur. Dia berharap ada sedikit kerak nasi yang tersisa di panci. Namun, Ratna sudah merendam panci itu dengan air sabun agar Arman tidak bisa memakan sisanya. Ratna bahkan dengan sengaja membuang sisa tulang ke tempat sampah tepat di depan matanya.
"Sana tidur di gudang! Jangan mengotori lantai depan," usir Ratna dengan kasar.
Arman berjalan dengan sisa tenaganya menuju gudang kecil di samping rumah. Di sana hanya ada kardus-kardus bekas dan bau debu yang menyesakkan. Dia berbaring di lantai tanpa alas apa pun. Perutnya terus berbunyi, meminta makan yang tidak akan pernah datang malam itu.
Dalam kegelapan, Arman memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar karena kedinginan. Dia mencoba membayangkan wajah ibunya agar bisa sedikit merasa tenang. Sementara di luar, hujan mulai turun deras, suaranya di atap seng terdengar seperti tangisan yang menemani kesedihannya. Malam itu, dia hanya bisa berharap agar hari esok tidak pernah datang, karena dia tahu esok hanyalah awal dari penderitaan baru.
Dalam ketenangan malam, kedua matanya pun mulai terpejam. Dibawah alam sadarnya, seseorang masuk kedalam mimpinya.
“Man, bangun, Man!”
“Ibu?”