Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
​Petaka Gunung Lawu

​Petaka Gunung Lawu

Dita Feryza | Bersambung
Jumlah kata
27.6K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / ​Petaka Gunung Lawu
​Petaka Gunung Lawu

​Petaka Gunung Lawu

Dita Feryza| Bersambung
Jumlah Kata
27.6K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
HorrorHorrorMisteriDunia GaibKutukan
​"Di Gunung Lawu, jumlah ganjil adalah undangan. Dan bagi mereka yang melanggar pantangan, gunung tidak hanya meminta tenaga, tapi juga nyawa." ​Bram adalah seorang Malim Gunung (pemandu) berpengalaman yang sedang terhimpit keadaan. Demi biaya pengobatan ibunya yang kritis, ia terpaksa menelan firasat buruknya saat menerima rombongan klien berjumlah enam orang. Dengan dirinya, total mereka menjadi tujuh, sebuah angka ganjil yang menjadi pamali besar di jalur pendakian Cetho, Lawu. ​Rombongan itu dipimpin oleh Aris, seorang pria sombong yang menganggap uang bisa membeli keselamatan, bersama pacar barunya Selly yang manja, dan sang mantan, Dina, yang menyimpan api cemburu. Di sisi lain, ada Maya sang influencer yang haus konten, Gani yang fisiknya paling lemah, serta Riko, sweeper setia yang menjadi mata kedua bagi Bram. ​Perjalanan yang semula hanya tentang fisik, berubah menjadi horor psikologis dan gaib saat satu per satu pantangan diterjang. Mulai dari sesajen yang terinjak, ucapan saru yang menantang langit, hingga puncaknya tindakan zina di tanah sakral. ​Gunung Lawu tidak tinggal diam. Alam mulai memutar jalur, kabut hitam menelan nalar, dan sosok-sosok penghuni kegelapan mulai dari kuntilanak, genderuwo, hingga sang penunggu pasar jin—mulai menagih "pajak" nyawa. Tragedi mengerikan menimpa Aris dan Selly, mereka ditemukan tewas dalam kondisi sedang berzina, sebuah azab nyata di ketinggian 3000 mdpl. ​Kini, Bram harus memikul beban bukan hanya mayat yang terkutuk, tapi juga tanggung jawab membawa pulang anggota tim yang tersisa di tengah kepungan badai es dan teror gaib yang tak kunjung usai. Di ambang batas antara hidup dan mati, Bram harus memilih, menyelamatkan nyawa ibunya dengan uang haram yang ia terima, atau melepaskan segalanya demi memutus rantai kutukan sang pendaki kedelapan. ​Karena di Lawu, terkadang jalan pulang hanya bisa ditemukan setelah ada nyawa yang tertinggal.
Bab 1. Harga Sebuah Nyawa

Asap tembakau itu menari sebentar di udara sebelum dihantam angin lereng yang menusuk tulang. Bram menyesap dalam-dalam kreteknya, membiarkan rasa panas membakar tenggorokannya yang kering. Di atas sana, puncak Lawu sedang tidak bersahabat. Awan lentikular, cakram putih raksasa yang oleh penduduk lokal disebut "caping" bertengger angkuh di atas puncak.

Bagi para pendaki kota yang haus konten media sosial, itu adalah anugerah visual. Tapi bagi Bram, seorang malim gunung yang sudah menghafal setiap lekuk napas Lawu, itu adalah kibaran bendera perang. Badai sedang berpesta di atas sana.

"Cuaca gila," gerutu Bram. Suaranya tenggelam oleh deru pohon cemara yang beradu.

Ponsel di saku celana kargonya yang sudah pudar warnanya mendadak bergetar. Sebuah nama muncul di layar yang retak seribu: Admin RSUD. Bram memejamkan mata sejenak, menghalau rasa pahit yang mendadak naik ke pangkal lidahnya. Dengan ibu jari yang sedikit gemetar, ia menggeser ikon hijau itu.

"Halo, sore, Sus," ucap Bram, mencoba menekan nada suaranya agar tetap stabil.

"Selamat sore, Pak Bram. Maaf mengganggu waktunya," suara di seberang sana terdengar datar, namun membawa beban yang menghimpit dada. "Kondisi Ibu Sumiati menurun sejak satu jam yang lalu. Dokter menyarankan tindakan pemasangan kateter jantung sore ini juga. Administrasinya harus segera diselesaikan, minimal uang muka lima puluh persen, Pak."

Bram memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut hebat. "Sore ini banget, Sus? Enggak bisa tunggu saya turun lapangan besok pagi?"

"Risikonya terlalu besar, Pak. Kalau ditunda, jadwal operasinya bisa tergeser ke minggu depan karena antrean. Kami tidak bisa menjamin stabilitas jantung pasien kalau menunggu selama itu."

Bram menatap sepatu hiking-nya yang sudah jebol di bagian samping. "Kasih saya waktu sampai besok jam sepuluh pagi, Sus. Tolong. Saya lagi jemput tamu. Uangnya... uangnya pasti saya bawa langsung ke kasir."

"Baik, Pak Bram. Kami tunggu maksimal besok pagi. Tolong diusahakan ya, Pak. Ini demi Ibu."

Klik. Sambungan terputus. Bram membuka aplikasi m-banking dengan sisa keberanian yang ada. Angka lima digit menatapnya balik dengan dingin. Hanya ada lima puluh ribu rupiah. Satu-satunya jalan keluar adalah uang muka dari dua rombongan yang akan ia pandu hari ini.

Ia menatap langit lagi. Logikanya berteriak untuk membatalkan pendakian. Tapi nuraninya menjerit menyebut nama Ibunya.

"Maafkan Bram, Bu," bisiknya lirih ke arah kabut yang mulai turun.

Sebuah SUV hitam mengilat mendadak merobek kesunyian Basecamp Cetho. Ban besarnya mencengkeram kerikil, menciptakan suara berisik yang mengganggu kedamaian gunung. Empat orang turun dengan gaya yang sangat kontras dengan suasana rimba, jaket bermerek yang masih kaku dan aroma parfum mahal yang menusuk hidung.

"Lo Bram, kan? Pemandu yang di booking agen?" tanya seorang pria berkacamata hitam, suaranya sombong dengan nada memerintah.

Bram mematikan rokoknya, berdiri tegak menyambut tamu itu. "Betul, Mas. Saya Bram."

"Gue Aris. Ini Selly," Aris menunjuk wanita yang sibuk membetulkan letak topi lebarnya sambil sesekali mengeluh kepanasan. "Terus itu Gani sama Riko. Riko ini sudah sering naik, jadi lo enggak perlu repot-repot amat jagain dia."

Riko, pria yang disebut paling berpengalaman, mendekat dan menyalami Bram dengan cukup sopan. "Salam, Mas Bram. Mohon bimbingannya."

Bram mengangguk pelan, matanya tetap tertuju pada puncak yang makin tertutup kabut. "Mas Aris, jujur saja, cuaca sedang kurang bagus. Topi gunungnya sudah tebal. Biasanya kalau angin di atas kencang begini, jalur resmi ditutup."

Aris mendengus, melepas kacamata hitamnya dengan gaya teatrikal. "Halah, cuma awan begitu doang kok repot? Kita sudah jauh-jauh dari Jakarta, perlengkapan lengkap, masa batal gara-gara mendung? Lo mau duitnya cair atau enggak nih?"

"Bukan masalah uangnya, Mas. Ini masalah keselamatan—"

Belum sempat Bram menyelesaikan kalimatnya, sebuah mobil travel berhenti tepat di belakang SUV tersebut. Dua orang wanita turun. Salah satunya berambut ikat tinggi dengan sorot mata yang tajam dan tenang, sementara temannya sibuk mengatur stabilizer kamera.

"Mas Bram? Saya Dina yang tadi WhatsApp," sapa wanita berambut ikat itu.

Bram mengecek manifes di tangannya. Dahinya berkerut. "Mbak Dina? Jadi begini, karena cuaca ekstrem, banyak pemandu yang menolak naik. Pihak agen menggabungkan rombongan Mbak Dina dengan rombongan Mas Aris dalam satu tim. Saya satu-satunya pemandu yang tersedia."

Suasana mendadak menjadi sangat dingin, jauh lebih dingin dari embusan angin Lawu.

Aris, yang tadinya sibuk merapikan tali keriernya, mendadak mematung. Ia menoleh perlahan, matanya bertemu dengan mata Dina. Ada keheningan yang menyesakkan selama beberapa detik sebelum Aris berdehem kaku.

"Ketemu di sini, Din?" ucap Aris dengan suara yang dipaksakan datar.

Dina tidak menjawab. Ia hanya menatap Aris dengan tatapan dingin yang seolah mampu membekukan aliran darah. Matanya bergeser pelan ke arah Selly yang kini bergelayut manja di lengan Aris. Sebuah senyum tipis hampir menyerupai seringai pahit muncul di sudut bibir Dina.

"Dunia memang sesempit itu ya, Mas Bram," ujar Dina tanpa melepas tatapan dari Aris. "Apa tidak ada pilihan lain? Saya lebih baik bayar dua kali lipat asal tidak dalam satu grup."

Bram menghela napas, ia merasa terjebak di antara dua badai: badai gunung dan badai masa lalu manusia di depannya. "Maaf, Mbak. Pilihannya cuma dua: berangkat bareng atau batalkan pendakian sore ini."

Aris tampak sedikit terpojok, ia melirik Selly yang mulai tampak bingung. "Sudahlah, Din. Jangan kekanak-kanakan. Kita di sini mau naik gunung, bukan mau bahas masa lalu. Gue enggak masalah kalau memang Mas Bram yang pegang kendali."

Dina mendengus pelan, membuang muka ke arah hutan.

Selly yang merasa diabaikan mulai bersuara dengan nada manja yang dibuat-buat. "Sayang, ini siapa sih? Kok mukanya judes banget gitu?"

Aris tampak kikuk, ia mengusap leher belakangnya. "Dina. Teman lama, Sel."

"Oalah, cuma teman lama," Selly tersenyum kemenangan, menempelkan pipinya ke bahu Aris.

Riko, yang menyadari situasi makin runyam, mencoba menengahi. "Mas Bram, daripada makin sore, mending kita urus administrasinya sekarang. Biar masalah di bawah selesai di bawah, di atas kita fokus selamat."

Bram mengangguk setuju. "Iya, silakan kumpulkan KTP di loket."

Sambil berjalan menuju loket, Bram menghitung dalam hati. Aris, Selly, Gani, Riko, Dina, Maya. Enam orang. Ditambah dirinya, totalnya menjadi tujuh orang.

Langkah kaki Bram mendadak terasa berat. Angka tujuh. Di Lawu, via Cetho, angka itu adalah pemantik bencana bagi mereka yang percaya.

"Mas Bram, kok bengong? Ayo!" seru Maya yang sudah siap dengan kameranya.

Bram berhenti tepat di depan gerbang basecamp. Wajahnya berubah sangat serius. "Mas, Mbak, dengerin saya. Jumlah kalian berenam. Kalau ditambah saya, totalnya tujuh orang."

Aris tertawa mengejek. "Terus kenapa kalau tujuh? Mau tanding futsal?"

"Di Lawu, mendaki dengan jumlah ganjil itu pantangan besar, Mas," suara Bram merendah, hampir berbisik. "Ojo ganjil, begitu kata sesepuh. Kalau jumlahnya ganjil, gunung akan 'menggenapkannya'. Akan ada yang mengikuti atau bahkan ada yang diambil."

Tawa Aris makin keras, menggema di pelataran basecamp. "Zaman sudah AI, Mas, masih saja percaya tahayul begitu! Nih!" Aris mengeluarkan dompet kulitnya, menarik tiga lembar uang seratus ribuan, lalu menjejalkannya ke saku jaket Bram dengan kasar.

"Itu buat uang rokok lo. Kita berangkat sekarang. Gue enggak mau dengar alasan mitos lagi. Paham?"

Bram menyentuh tumpukan uang di sakunya. Bayangan wajah ibunya yang pucat di bangsal rumah sakit kembali muncul. Uang ini... uang ini bisa menyelamatkan ibunya. Ia menelan semua harga dirinya dalam-dalam.

"Bram, ini Simaksi-nya sudah siap," ujar Pak Yanto, petugas basecamp senior, sambil menyerahkan selembar kertas. Pak Yanto menatap Bram dengan sorot mata penuh peringatan. "Bram, kamu yakin? Langitnya sudah merah begitu. Terus... aku hitung jumlahmu ganjil?"

Bram tidak berani menatap mata pria tua itu. "Kepepet, Pak. Ibu harus operasi jantung besok pagi."

Pak Yanto menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Bram pelan. "Hati-hati. Jangan lupa 'permisi' di setiap pos. Jaga mulut tamu-tamumu. Kamu lebih tahu Lawu dibanding aku, Bram. Jangan sampai kamu yang dimakan sama mereka."

Bram mengangguk kaku. "Inggih, Pak. Matur nuwun."

Bram kembali ke rombongan yang tampak sudah tidak sabar. "Masuk ke dalam, selesaikan pendaftaran. Kita berangkat sepuluh menit lagi."

Riko mendekati Bram saat yang lain mulai menjauh. "Mas Bram, sejujurnya saya juga agak was-was soal angka ganjil itu. Tapi kalau memang harus jalan, saya siap di belakang sebagai sweeper. Saya akan pastikan jumlah kepala selalu enam di depan saya."

Bram menatap Riko dengan sedikit rasa hormat. "Terima kasih, Mas Riko. Tolong bantu saya. Pastikan tidak ada yang terpisah, dan tolong... jangan ada yang bicara sembarangan atau mengumpat."

"Siap, Mas."

Di sudut lain, Selly mulai merengek saat mencoba mengangkat tas keriernya yang penuh barang-barang tidak penting. "Sayang! Tas aku berat banget, pundak aku sakit nih!"

Aris menoleh ke arah Bram dengan nada memerintah. "Mas Bram, tolong bawakan tas Selly ke atas. Nanti gue tambah lagi tipnya di puncak. Gampanglah itu."

Dina, yang lewat di samping mereka, hanya bisa memutar bola matanya. "Baru sampai pintu rimba sudah banyak drama. Kalau enggak kuat mending di rumah saja, belanja ke mal," sindirnya tajam.

"Eh, apa maksud kamu?!" seru Selly tidak terima.

"Sudah! Jangan ribut!" bentak Bram, suaranya menggelegar membuat suasana mendadak sunyi. "Gunung tidak suka suara keras. Kita di sini bertamu, tolong hargai tuan rumahnya."

Bram memanggul keriernya yang berat, lalu melangkah menuju gerbang rimba yang kini mulai tertutup kabut tebal. Angin dingin tiba-tiba berembus sangat kencang, membawa aroma bunga melati yang sangat menyengat padahal tidak ada pohon melati di sekitar situ.

Sayup-sayup, di antara deru dahan cemara yang bergesekan, sebuah suara bisikan halus namun sangat jelas masuk ke telinga Bram.

"Kulo tenggo, Le..."

(Saya tunggu, Nak...)

Bram terperanjat, jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak. Ia menoleh ke belakang dengan cepat, namun hanya ada Selly yang sibuk memulas lipstik dan Aris yang memaki-maki karena sinyal ponselnya hilang. Tidak ada siapa-siapa lagi di belakang mereka.

"Ayo, jalan! Jangan ada yang melamun!" perintah Bram dengan suara yang sedikit bergetar.

Ia melangkah melewati batas antara dunia manusia dan dunia Lawu. Pintu rimba itu seolah menelan mereka satu per satu ke dalam kegelapan hijau yang lembap. Bram tahu, sejak detik ini, nyawa mereka tidak lagi berada di tangan mereka sendiri. Dan ia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Lawu tidak benar-benar menggenapkan jumlah mereka dengan cara yang tragis.

"Permisi..." bisik Bram saat kakinya menginjak tanah hutan untuk pertama kalinya sore itu.

Di belakangnya, kabut menutup jalur setapak seolah-olah menghapus jalan untuk kembali. Perjalanan menuju Petaka Gunung Lawu baru saja dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca