

Langit sore itu tampak muram, seolah ikut menyimpan rahasia yang belum terungkap. Angin berhembus pelan, menggerakkan dedaunan kering di halaman rumah keluarga Daman. Di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang sedang disusun—sesuatu yang kelam dan tak terbayangkan.
Di sudut ruang tamu, Saka duduk termenung. Tatapannya kosong menatap lantai. Dulu, rumah ini hangat dengan tawa ibunya, namun sejak kepergian sang ibu dan kehadiran Ratih, suara di rumah ini seolah mati bagi Saka—secara harfiah maupun kiasan. Saka tidak bisa bicara. Lidahnya kelu sejak ia menerima sikasaan dari ibu tirinya, membuatnya hanya bisa berkomunikasi lewat gerakan tangan atau tatapan mata yang bicara lebih banyak dari kata-kata.
Ratih, ibu tirinya, menyimpan sikap dingin di balik senyum palsunya. Dua anaknya, Dendi dan Andi, memperlakukan Saka seperti beban bisu yang tak diinginkan.
“Heh, si idiot masih melamun aja, kerja sana bantuin ibu!” ejek Dendi sambil melempar bungkus makanan ke arah Saka.
Bungkus itu mengenai bahu Saka. Ia tak bereaksi. Ia hanya diam, menelan harga dirinya bulat-bulat. Sudah terlalu sering ia diperlakukan seperti itu. Kata-kata kasar mengalir ke telinganya, namun ia tak punya cara untuk membalasnya.
“Dasar manusia nggak guna,” sambung Andi, tertawa kecil.
Ratih yang berdiri di dapur hanya melirik sekilas. Baginya, Saka yang bisu adalah sasaran empuk—ia tidak bisa mengadu, tidak bisa membela diri, dan kini, ia menjadi penghalang harta.
Malam sebelumnya, Ratih menguping percakapan Daman dengan seorang notaris.
“Saya ingin kebun di perbatasan kampung itu nanti diwariskan untuk Saka. Dia anak pertama, dan dengan kondisinya yang terbatas, dia butuh jaminan hidup,” suara Daman terdengar tegas.
Kepalan tangan Ratih mengeras. Kebun itu luas dan mahal. Baginya, memberikan harta pada anak yang bahkan tidak bisa bicara adalah pemborosan. Sejak saat itu, niat jahat mulai mengakar di kepalanya.
---
“Kita harus singkirkan dia,” bisik Ratih malam itu pada kedua anaknya.
“Tapi Bu… gimana kalau Ayah tahu?” Andi terlihat ragu.
Ratih mendekat, suaranya tajam. “Dia itu bisu. Kalaupun dia menghilang, dia nggak bisa teriak minta tolong. Dunia nggak akan kehilangan apa-apa dari anak cacat itu.”
Dendi mengangguk setuju. “Bagus. Kita pastikan dia lenyap selamanya.”
Malam itu, rencana disusun dengan rapi. Tanpa celah.
---
Beberapa hari kemudian, Saka sedang berjalan di pinggir kampung. Ia menyukai kesunyian di sana, tempat di mana tidak ada yang mengejek ketidakmampuannya bicara. Namun, ia tidak menyadari ada sepasang mata yang mengintai.
Greb!
Sebelum Saka sempat berbalik, sebuah kain mendekap mulut dan hidungnya. Saka memberontak, tangannya menggapai udara, mencoba mengeluarkan suara peringatan, namun yang keluar dari tenggorokannya hanyalah desis tertahan yang lemah. Pandangannya mengabur saat aroma kimia tajam memenuhi paru-parunya.
Dunia menjadi gelap.
---
Saat Saka membuka mata, udara terasa dingin dan lembap. Bau tanah tua dan lumut menusuk hidungnya. Ia mencoba bergerak, tapi kepalanya berdenyut hebat.
"Aku dimana?" Bisiknya dalam hati.
Ia mendongak. Jauh di atas sana, ada lingkaran cahaya kecil.
Sumur. Ia berada di dasar sumur tua yang sudah mengering.
Rasa panik yang luar biasa menghantam dadanya. Ia mencoba berdiri, namun kakinya gemetar. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, mencoba mengeluarkan teriakan sekuat tenaga, namun hanya suara serak dan napas yang terengah-engah yang terdengar.
"Tolong... Siapa pun, tolong..". batinnya menjerit, namun bibirnya tetap bungkam.
Tiba-tiba, tiga bayangan muncul di bibir sumur. Ratih, Dendi, dan Andi menatap ke bawah.
Mata Saka membelalak. Ia mengangkat tangannya, mencoba memberi isyarat memohon, gerakannya kacau dan penuh ketakutan.
“Masih hidup rupanya,” gumam Dendi dingin.
Saka menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air mata mulai mengalir. Ia menggunakan bahasa isyarat dengan cepat—Ibu, kenapa? Aku salah apa?—namun Ratih hanya menatapnya dengan jijik.
“Percuma kau menggerakkan tanganmu seperti itu, Saka. Aku tidak peduli,” ucap Ratih datar. “
"Kau tau Saka, sejak awal aku sebenarnya muak dengan tingkah mu yang selalu manja, dan cerewet!! Dans sekarang nikmati hati terakhir mu, berterima kasihlah padaku karena aku akan mengakhiri penderitaan mu di dunia ini." Ujar Ratih dengan kejam dan tanpa hati.
Saka mundur hingga punggungnya menempel pada dinding batu yang dingin. Ia memukul-mukul dadanya sendiri, sebuah isyarat kesakitan hati yang mendalam, mencoba menunjukkan bahwa ia juga punya perasaan meski tak punya suara.
“Lakukan,” perintah Ratih.
Dendi menjatuhkan sebuah batu besar. Bugh! Batu itu menghantam tanah tepat di samping kaki Saka. Saka tersentak, tubuhnya menciut. Ia hanya bisa menangis dalam diam, suara isak tangisnya yang aneh bergema di ruang sempit itu.
Batu kedua jatuh, menghantam bahunya. Rasa sakit yang tajam membuat Saka tersungkur. Ia tidak bisa mengaduh. Ia hanya bisa memegangi bahunya sambil menatap ke atas dengan tatapan yang menghancurkan hati—tatapan seorang anak yang dikhianati keluarganya sendiri.
Dan batu ketiga, di lemparkan kedalam sumur tepat di atas perut Saka, hingga saka memuntahkan darah.
“Ini akhir untukmu, anak bisu, gak guna dan pembawa sial!” ujar Ratih sebelum berbalik pergi.
Saka terkapar di dasar sumur. Ia menatap lingkaran cahaya di atas yang perlahan menghilang tertutup bayangan malam. Kesunyian kembali menyelimuti, jauh lebih pekat dari biasanya.
Namun, di tengah keputusasaan itu, sesuatu yang aneh terjadi.
Di sela-sela jemari Saka yang terkubur tanah, muncul pendar cahaya keemasan yang samar. Tanah di bawah tubuhnya terasa hangat. Sesuatu yang kuno dan kuat di dasar sumur itu seolah merespons penderitaan tanpa suara milik Saka.
Napas Saka yang tersengal perlahan menjadi tenang. Takdirnya belum usai. Sumur yang mereka pikir akan menjadi kuburannya, justru akan menjadi tempat di mana Saka menemukan "suara" yang jauh lebih ditakuti daripada kata-kata.
Saka melihat ke sekelilingnya, suasana sumur yang tadinya gelap, kini perlahan terang oleh cahaya keemasan yang belum Saka ketahui dari mana asalnya
"Dari mana cahaya ini berasal?" Bisik Saka dalam hatinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Di tengah kebingungan itu, sebuah suara terdengar berdenging di telinga Saka.
"Selamat, kamu terpilih memasuki sumur keberuntungan.."
Saka terdiam, tubuh nya berkeringat dingin dan gemetar ketakutan. Namun suara itu kembali datang..
"Selamat, kamu terpilih memasuki sumur keberuntungan..!"
Sura itu berulang sampai ketiga kali nya, saka memejamkan mata saat lagi dan lagi ia mendengarkan suara itu, suara yang cukup keras dan menggema memenuhi sumur tua itu.
"Selamat, kamu terpilih memasuki sumur keberuntungan..."
Saka menutup telinga nya, dan menyembunyikan wajahnya, rasa sakit yang tadi begitu menyiksa seolah hilang begitu saja tanpa Saka sadari.
"Hei kamu ... Bangunlah, dan bangkitlah, jadilah berani..." Seru suara itu pada Saka.
Semakin lama, suara itu semakin jelas terdengar oleh Saka. Ia melihat sesuatu yang bersinar terbang di depannya.
"Apa ini keajaiban?" Batinnya bertanya.
---