Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Suami Seribu Wajah

Suami Seribu Wajah

Bp. Juenk | Bersambung
Jumlah kata
202.3K
Popular
792
Subscribe
175
Novel / Suami Seribu Wajah
Suami Seribu Wajah

Suami Seribu Wajah

Bp. Juenk| Bersambung
Jumlah Kata
202.3K
Popular
792
Subscribe
175
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPembunuhanSupernaturalMengubah Nasib
Seorang pemuda miskin yang jelek dan buruk rupa mendapatkan warisan dapat merubah wajah siapapun yang ingin ia gunakan. dan dapat menyerap kehidupan dan kemampuan orang yang ia inginkan merubah dirinya menjadi penguasa.
1. Babak Belur

Matahari sore merambat pelan di ufuk barat, menyisakan cahaya jingga yang masuk melalui terpal plastik warkop "Sederhana" yang sudah kusam. Di sudut ruangan, dekat tembok yang catnya mengelupas karena lembab, Andra duduk dengan posisi yang sama sejak dua jam lalu. Siku kirinya bertumpu pada meja kayu berlaminasi plastik, sementara tangan kanannya memilin puntung rokok yang sudah hampir habis.

Gelas kopi di depannya sudah tidak mengepul lagi. Permukaan cairan hitam itu membentuk lapisan tipis yang menandakan sudah terlalu lama didiamkan. Sesekali lalat kecil hinggap di bibir gelas, lalu terbang lagi ketika Andra menggerakkan tangannya.

"Masih lama nongkrongnya, Mas?"

Suara itu datang dari belakang meja kasir. Warni—pemilik warkop—wanita berusia empat puluhan dengan daster lusuh dan celemek penuh noda kopi, sedang menatap Andra dengan sorot mata yang sudah tidak sabar.

Andra menoleh pelan. "He eh, mbak. Masih ngopi."

"Kopi?" Warni menyeringai. "Itu kopi apa air comberan, Mas? Udah dingin dari jam tiga. Mau saya angetin?"

"Gak usah, mbak."

"Terserah." Warni menghela napas, lalu berjalan mendekat. Ia mengelap meja sebelah Andra dengan lap kotor, meskipun meja itu sebenarnya bersih.

"Mas Andra, saya ngomong apa adanya ya. Utang Mas udah dua minggu. Nggak ditagih-tagih, tapi saya juga butuh muter duit."

Andra menunduk. Jari-jarinya yang kotor dengan kuku hitam karena jarang dibersihkan, mulai memainkan ujung plastik meja yang mengelupas. "Sabtu depan mbak, saya jamin lunas."

"Sabtu depan?" Warni berhenti mengelap. Suaranya meninggi sedikit. "Mas Andra, itu Sabtu depan udah yang kelima kalinya loh Mas bilang. Saya juga mau beli beras, bayar listrik. Anak saya dua, Mas. Suami saya cuma kuli pasar."

"Saya ngerti, mbak."

"Ngerti tapi gak ngasih solusi."

Suasana hening beberapa detik. Dari luar terdengar klakson motor dan suara pedagang asongan yang lewat. Andra merogoh saku celana jeans lusuhnya yang sudah pudar warnanya. Hanya ada receh beberapa keping. Ia keluarkan dan letakkan di meja.

"Ini buat kopi tadi, mbak. Saya lunasin yang ini dulu."

Warni melihat recehan itu. Matanya melembut sedikit, meski masih ada kekesalan di sana. "Makasih, Mas. Tapi utang dua minggu kemarin?"

"Sabtu depan, mbak. Janji."

"Ya udah." Warni mengambil recehan itu. "Mau saya bikinin kopi baru? Ini gratis."

Andra menggeleng. Ia berdiri, kursi plastik birunya berderit. "Saya pulang dulu, mbak. Makasih kopinya."

"Mas Andra."

Ia menoleh.

Warni menatapnya dengan sorot mata campuran antara iba dan kesal. "Cari kerja, Mas. Masa umur tiga puluh dua masih nganggur. Liat tuh, temen-temen Mas yang seumuran udah pada punya motor, punya istri. Mas masih begini-begini aja."

Andra tersenyum getir. "Iya, mbak. Makasih sarannya."

Ia melangkah keluar warkop. Embusan angin sore menerpa wajahnya, membawa bau debu dan asap kendaraan. Andra berhenti sejenak di depan pintu, menyandarkan punggung pada tiang kayu penyangga terpal.

Dari posisinya, ia bisa melihat jalan raya yang mulai ramai dengan karyawan yang baru pulang kerja. Motor-motor berlalu lalang. Beberapa mobil mewah sesekali melintas. Dan di trotoar seberang, dua wanita muda dengan rok kantoran dan high heels berjalan sambil tertawa.

Yang satu berambut panjang sebahu, bergoyang lembut setiap langkah. Blus putihnya ketat di badan, memperlihatkan lekuk pinggang yang ramping. Rok span hitamnya sampai lutut, membalut paha yang jenjang. Temannya juga tak kalah menarik, dengan rambut dicat cokelat dan tas branded di bahu.

Andra menatap mereka. Matanya mengikuti dari ujung rambut sampai betis yang terbuka sedikit karena rok yang naik saat melangkah. Wanita berambut panjang itu menoleh sekilas ke arah warkop, melihat Andra yang sedang menatapnya. Ekspresi wanita itu berubah—dari biasa menjadi jijik. Ia berbisik sesuatu ke temannya, dan mereka berdua tertawa kecil sambil mempercepat langkah.

Andra menunduk. Ia melihat penampilannya sendiri, kaos oblong putih yang sudah kusam dan bernoda kuning di ketiak, celana jeans belel dengan pinggir sobek yang bukan karena model tapi karena sudah terlalu sering dicuci, dan sandal jepit yang talinya pernah putus lalu disambung dengan dibakar.

Tangannya otomatis meraba wajahnya. Kulit kasar, pori-pori besar, beberapa bekas jerawat, dan janggut tipis yang tidak terawat. Ia bukan laki-laki tampan, dan ia tahu itu.

"Enak kali ya jadi mereka," gumamnya pelan. "Gak perlu mikir besok mau makan apa. Gak perlu takut ditagih utang."

"Mas Andra!"

Suara itu membuatnya tersentak. Dari dalam warkop, Warni melongokkan kepala. "Liat cewek mulu! Daripada melongo, mending cari kerja!"

Andra hanya melambaikan tangan malas, lalu berjalan meninggalkan warkop. Ia melangkah menyusuri trotoar yang tidak rata, beberapa bagian bahkan hilang dan diganti tanah becek karena selokan mampet. Bau menyengat dari tumpukan sampah di pinggir jalan sesekali menusuk hidung.

Perjalanan ke kosannya hanya sekitar sepuluh menit jalan kaki, melewati gang-gang sempit yang semakin gelap semakin masuk ke dalam. Rumah-rumah petak berjajar rapat, beberapa di antaranya sudah mulai memasang lampu karena cahaya matahari mulai redup.

Andra berjalan dengan kepala sedikit menunduk, kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun. Ia sudah hafal setiap lubang di jalan ini, setiap genangan air yang harus dihindari, setiap anjing galak yang biasa lepas di jam-jam tertentu.

Gang mulai sepi. Hanya ada beberapa anak kecil yang masih bermain layangan di ujung gang, dan dua ibu-ibu yang mengobrol sambil menjemur pakaian yang sudah kering dari pagi tapi lupa diambil.

"Mas Andra!"

Ia menoleh. Itu Bu RT, tetangga kosnya yang paling bawel. Wanita gemuk dengan kerudung lusuh itu melambai dari teras rumahnya.

"Iya, Bu?"

"Hutang listrik kos-kosan belum dibayar, Mas!" Kata bu kos, "Mas loh yang paling lama nunggak!"

Andra menghela napas. "Saya usahakan, Bu. Minggu depan."

"Minggu depan mulu! Janji mulu!"

Ia tidak menjawab, hanya melanjutkan langkah. Telinganya masih mendengar ocehan Bu RT yang membandingkannya dengan anaknya yang sukses jadi pegawai swasta. Andra mempercepat langkah, ingin segera sampai di kamar dan merebahkan tubuh.

Sisa cahaya senja mulai benar-benar pudar. Lampu jalan di gang ini hanya satu, itupun mati sejak seminggu lalu karena kabelnya dicuri maling. Andra berjalan dalam kegelapan yang mulai pekat, hanya diterangi lampu dari jendela-jendela rumah yang mulai menyala.

Tiba-tiba, dari balik tikungan, muncul tiga bayangan. Mereka berjalan beriringan, memenuhi lebar gang yang sempit. Andra mengerjap, mencoba mengenali siapa mereka, tapi sebelum ia sempat bereaksi, satu tangan kasar sudah mencekik lehernya dan mendorongnya keras ke tembok.

"Nah, nih dia si tukang utang."

Suara itu familiar. Andra mendongak, dan hatinya langsung ciut. Itu Jaka, preman langganan yang biasa menagih utang untuk rentenir di kampung sini. Di belakangnya, ada dua anak buahnya: Botak dan Gendut, dengan wajah-wajah yang sudah tidak sabar memukul.

"Ja-Jaka..." suara Andra tersendat karena cekikan.

"Udah lama kita cari lu, Dra." Jaka melepaskan cekikannya, tapi tetap mendekatkan wajahnya. Bau rokok kretek dan minyak rambut menyengat hidung Andra.

"Duit pinjaman dua bulan lalu, bunganya udah numpuk. Lu pikir kita main-main?"

"Saya lagi usaha cari duit, Jak. Sabtu depan—"

"DASAR LU!"

Telapak tangan Jaka mendarat keras di pipi Andra. Bentolannya cukup kuat hingga kepala Andra membentur tembok. Ia meringis kesakitan, tapi belum sempat bereaksi, tinju kedua sudah mendarat di ulu hatinya.

Andra terkulai, berlutut di tanah yang becek. Darah mulai mengalir dari bibirnya yang pecah. Ia mencoba merangkak, tapi tendangan Gendut menghentikannya. Kali ini kena tulang rusuk. Ada bunyi krek kecil yang membuat Andra menjerit.

"Tahan, jangan teriak-teriak." Jaka berjongkok di depannya, menarik rambut Andra hingga ia menengadah. Wajah Jaka yang penuh bekas luka dan tato di leher tersenyum sinis. "Kita bisa selesain di sini atau di kuburan. Tergantung lo."

"Saya... saya beneran lagi usaha, Jak. Janji..."

"Janji monyet." Jaka meludahi wajah Andra. "Lo tuh sampah masyarakat, Dra. Nganggur, ngutang mulu, gak punya masa depan. Mending lo mati aja biar gak nyusahin orang."

Ia berdiri, memberi kode pada Botak dan Gendut.

Lanjut membaca
Lanjut membaca