

## BAB 1: KONTRAK TERAKHIR
Banda Aceh di bulan Februari tidak pernah benar-benar bersahabat bagi mereka yang membenci kelembapan. Udara terasa berat, seolah setiap partikel oksigen yang dihirup Arkan mengandung butiran air yang siap mengendap di paru-parunya. Arkan duduk di sudut sebuah kedai kopi yang interiornya didominasi kayu ulin tua, aromanya bercampur antara kopi arabika yang baru digiling dan sisa hujan semalam di aspal jalanan. Di depannya, seorang pria paruh baya dengan kemeja safari rapi—yang Arkan kenali sebagai Bapak Malik, perwakilan dari sebuah konsorsium pengembangan lahan—menyorongkan sebuah map kulit sintetis berwarna hitam.
"Ini adalah wilayah yang kami sebut sebagai *The Empty Polygon*," suara Malik berat, tenang, namun mengandung desakan. "Area ini belum pernah dipetakan secara digital dengan akurasi di bawah sepuluh meter. Satelit LiDAR kami mengalami gangguan interferensi setiap kali melewati titik ini. Kami butuh data darat, Arkan. *Ground truthing*."
Arkan menarik map itu, membukanya dengan gerakan mekanis yang terlatih. Matanya segera memindai koordinat geografis yang tertera. Sumbu X dan Y menunjukkan area di kedalaman Taman Nasional Gunung Leuser, jauh dari jalur pendakian resmi, melampaui zona rimba yang biasa dijamah tim SAR maupun peneliti botani. Secara teknis, ini adalah wilayah *terra incognita*. Bagi kebanyakan orang, itu terdengar mengerikan. Bagi Arkan, itu hanyalah sebuah tantangan logistik.
"Tiga puluh hari pemetaan dasar, dan sisa waktunya untuk observasi anomali topografi?" Arkan bergumam, suaranya datar tanpa intonasi kekaguman. "Nilai kontrak ini terlalu tinggi untuk sekadar berjalan kaki membawa tripod dan GPS."
Malik tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya disimpan oleh orang-orang yang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui lawan bicaranya. "Karena kami tidak membayar kaki Anda, Arkan. Kami membayar ketangguhan mental Anda. Banyak surveyor yang kembali sebelum hari ketujuh. Mereka bilang... medannya tidak masuk akal."
"Logika sering kali kalah oleh kelelahan dan dehidrasi," jawab Arkan skeptis. Ia tidak percaya pada istilah 'tidak masuk akal'. Baginya, segala fenomena di alam memiliki penjelasan biofisika atau geologis, hanya saja terkadang instrumen manusia belum cukup sensitif untuk menangkap datanya. "Selama kompas saya menunjukkan arah Utara yang benar dan pasokan kalori saya terjaga, saya tidak melihat adanya masalah."
Arkan menutup map tersebut. Kesepakatan tercapai. Namun, sebelum ia melangkah keluar dari kedai kopi, pikirannya sudah berpindah pada hal yang lebih krusial: integritas peralatan.
---
Satu jam kemudian, Arkan sudah berada di kamar hotelnya yang sempit, mengubah lantai yang beralaskan karpet tua itu menjadi bengkel kerja darurat. Ini adalah ritual yang ia sebut sebagai 'Audit Integritas'. Baginya, di dalam hutan, peralatan bukan sekadar benda mati; mereka adalah ekstensi dari indera dan organ tubuhnya. Jika salah satu gagal, maka Arkan gagal.
Ia menarik tas *carrier* berkapasitas 75 liter miliknya—sebuah mahakarya dari bahan nilon balistik Cordura. Arkan memulai dengan memeriksa setiap jahitan pada *shoulder strap*. Ia menariknya dengan kekuatan konstan, mengamati apakah ada benang yang mulai merenggang atau menunjukkan gejala *stress fracture*. Ia mengoleskan lilin parafin pada setiap ritsleting untuk memastikan mereka tidak akan macet saat terpapar lumpur atau kelembapan tinggi Leuser yang bisa mencapai 95%.
Selanjutnya adalah sepatu *trekking*. Arkan memegang sepasang sepatu *high-cut* dengan sol Vibram yang sudah teruji. Ia menekan bagian *midsole*-nya, memastikan busa EVA masih memiliki daya pantul yang cukup untuk meredam beban tubuhnya ditambah 25 kilogram beban tas. Ia memeriksa *lugs* atau kembangan pada sol; ketajamannya adalah satu-satunya hal yang akan mencegahnya terjatuh ke jurang saat melintasi lumut basah.
"Gaya gesek statis harus lebih besar dari gaya dorong gravitasi," bisiknya pelan, seolah sedang membaca hukum fisika yang suci. Ia mulai mengaplikasikan cairan *waterproofing* pada permukaan kulit nubuck sepatu tersebut. Ia melakukannya dengan gerakan melingkar yang presisi, memastikan tidak ada pori-pori kulit yang terlewat.
Di sisi lain tempat tidur, Arkan menyusun perangkat elektronik. Ada dua unit GPS Garmin genggam, sebuah *power bank* berkapasitas besar, dan panel surya lipat. Ia menyalakan keduanya, memastikan mereka melakukan *handshake* dengan jumlah satelit yang cukup. Di bawah langit Banda Aceh yang cerah, perangkat itu menunjukkan tingkat akurasi hingga 3 meter.
Arkan mencatat nomor seri setiap perangkat. Ia sangat teliti, hampir ke tahap obsesif. Baginya, skeptisisme dimulai dari keraguan terhadap diri sendiri, dan cara terbaik mematikan keraguan itu adalah dengan persiapan teknis yang tanpa celah. Jika surveyor sebelumnya gagal, Arkan berasumsi mereka mungkin menggunakan peralatan berkualitas rendah, atau gagal melakukan kalibrasi instrumen di medan yang berat.
"Medan tidak masuk akal," ia mengulangi kata-kata Malik sambil mendengus pelan. Ia membayangkan para surveyor sebelumnya—mungkin mereka adalah anak-anak muda yang terlalu banyak membaca novel petualangan dan terlalu sedikit mempelajari termodinamika atau navigasi darat. Hutan tidak memiliki emosi. Hutan tidak memiliki niat jahat. Hutan hanyalah sekumpulan materi biologis yang mengikuti hukum alam.
---
Arkan berdiri di depan cermin, memeriksa postur tubuhnya sendiri. Ia adalah pria dengan fisik yang efisien; ototnya tidak besar namun kering dan ulet, hasil dari bertahun-tahun melakukan evakuasi di medan paling berat di Indonesia. Ia mengatur napasnya, merasakan detak jantungnya yang berada di angka 55 detak per menit—kondisi atletis yang optimal.
Ia mulai memasukkan barang ke dalam tas. Ini adalah bagian paling teknis dari persiapannya. Ia menggunakan prinsip distribusi beban: benda paling berat harus berada sedekat mungkin dengan punggung, di antara belikat, agar pusat gravitasi tas tetap sejajar dengan tulang belakangnya.
Benda-benda ringan seperti *sleeping bag* diletakkan di bagian paling bawah. Cadangan makanan kering diletakkan di tengah. Alat medis dan jas hujan berada di bagian kepala tas agar mudah diakses. Setiap gram dihitung. Arkan bahkan memotong gagang sikat giginya untuk mengurangi beban beberapa gram—sebuah tindakan yang tampak konyol bagi orang awam, namun sangat masuk akal bagi seseorang yang akan mendaki ribuan meter secara vertikal.
"Satu kilogram di kaki sama dengan lima kilogram di punggung," Arkan bergumam, mengutip pepatah pendaki lama. Ia menimbang tasnya menggunakan timbangan gantung digital. 24,8 kilogram. Sempurna.
Pikirannya kembali pada *The Empty Polygon*. Mengapa LiDAR gagal? Ada beberapa kemungkinan logis: kandungan bijih besi yang sangat tinggi di permukaan tanah yang menciptakan anomali magnetik, atau vegetasi yang begitu rapat sehingga sinyal laser tidak mampu menembus tajuk pohon untuk mencapai lantai hutan. Tidak ada sihir di sana. Hanya ada masalah teknis yang membutuhkan solusi teknis.
Ia mengambil pisau rimba (*machete*) berbahan baja karbon tinggi yang selalu ia bawa. Arkan menguji ketajamannya dengan memotong sehelai kertas tipis; kertas itu terbelah tanpa suara. Pisau ini akan menjadi alat utamanya untuk menebas jalur, membangun tempat berlindung, dan jika diperlukan, membela diri dari predator hutan. Di Aceh, predator berarti harimau atau beruang madu. Arkan menghormati mereka sebagai entitas biologis, tapi ia tidak takut. Selama ia menjaga jarak aman dan tidak melanggar teritorial mereka secara bodoh, gesekan bisa dihindari.
Arkan mematikan lampu hotel. Besok, ia akan berangkat menuju Kedah, gerbang terakhir menuju jantung Leuser. Di dalam kegelapan kamar, ia membayangkan jalur pendakian yang akan ia lalui. Ia tidak membayangkan petualangan heroik; ia membayangkan tabel data, garis kontur, dan titik-titik koordinat yang akan ia isi satu per satu.
"Seratus hari," ucapnya pada kegelapan. "Hanya masalah waktu dan ketekunan."
Ia tidak menyadari bahwa di dalam labirin hijau Leuser, waktu tidak selalu berjalan maju, dan ketekunan sering kali hanyalah nama lain dari kenaifan di hadapanda di sana jauh sebelum manusia mengenal angka dan logika.
Besok, langkah pertamanya akan dimulai. Dan Arkan, dengan segala keangkuhan logikanya, merasa benar-benar siap.
---