

Seluk Pikuk Tinggal di Rumah Subsidi
Kunci yang Datang Bersama Cicilan
Siang itu panasnya seperti tidak punya ampun. Aspal di depan kantor pemasaran perumahan memantulkan cahaya sampai mata terasa perih. Rian berdiri sambil mengipas-ngipas map berisi berkas, sementara Sari menggenggam tasnya erat-erat, seolah di dalamnya ada sesuatu yang sangat berharga.
Padahal isinya cuma fotokopi KTP, KK, slip gaji, dan surat keterangan belum punya rumah.
“Mas, deg-degan nggak?” tanya Sari pelan.
Rian tersenyum tipis. “Deg-degan itu pas nunggu akad kemarin. Sekarang mah… lebih ke mikir cicilan.”
Sari mencubit lengan suaminya pelan. “Ih, jangan gitu. Ini rumah pertama kita.”
Rumah pertama. Dua kata itu sederhana, tapi berat.
Setelah dua tahun menikah dan tinggal di kontrakan petak berukuran 3x6 meter di gang sempit dekat pabrik tempat Rian bekerja, akhirnya mereka lolos KPR rumah subsidi. Gaji Rian sebagai teknisi mesin dan gaji Sari sebagai admin toko bangunan memang tidak besar, tapi cukup untuk memenuhi syarat.
Setidaknya di atas kertas.
Nama mereka dipanggil. Mereka masuk ke ruang kecil ber-AC yang terlalu dingin untuk ukuran siang seterik itu. Seorang staf marketing menyerahkan satu bundel kunci dengan gantungan plastik kecil bertuliskan blok dan nomor rumah.
“Selamat ya, Pak Rian, Bu Sari. Ini kunci rumahnya. Mulai bulan depan cicilan sudah berjalan.”
Rian mengangguk. Sari menatap kunci itu lama sekali.
Bentuknya biasa saja. Tidak mengilap. Tidak mewah. Tapi di tangan Sari, kunci itu terasa seperti masa depan.
---
Perumahan itu bernama Griya Cendana Asri. Namanya terdengar mewah, tapi kenyataannya adalah deretan rumah tipe 30/60 yang berdiri rapat-rapat seperti kotak korek api. Catnya seragam: krem pucat dengan atap merah bata.
Jalannya masih sebagian tanah dan batu makadam. Jika hujan, pasti becek.
Rumah mereka ada di Blok C7.
Saat pertama kali membuka pintu, bau semen dan cat baru langsung menyeruak. Ruangan tamu menyatu dengan ruang keluarga. Dua kamar kecil berdampingan, satu kamar mandi di belakang, dan dapur mungil yang hanya cukup untuk satu orang berdiri.
Sari masuk lebih dulu. Ia menyentuh dindingnya, mengusap jendelanya, lalu berdiri di tengah ruangan.
“Mas… ini rumah kita.”
Rian mengangguk, kali ini tanpa bercanda. “Iya. Rumah kita.”
Mereka tidak langsung bicara soal kekurangan. Tidak soal plafon yang sedikit retak di sudut. Tidak soal lantai yang terasa kurang rata. Tidak soal pintu kamar mandi yang sedikit seret.
Hari itu, mereka hanya ingin merasa bahagia.
---
Seminggu kemudian mereka resmi pindah.
Barang mereka tidak banyak: satu lemari plastik, kasur lipat, kompor dua tungku, kulkas kecil bekas pemberian orang tua Sari, dan motor tua Rian yang sudah menemaninya sejak masih lajang.
Tetangga mulai berdatangan.
“Assalamualaikum, penghuni baru ya?” Seorang ibu berhijab besar berdiri di depan pagar rendah mereka.
“Waalaikumsalam, Bu,” jawab Sari ramah.
“Saya Bu Ratna, rumah C5. Kalau butuh apa-apa bilang ya. Di sini air suka kecil soalnya.”
Sari mengangguk cepat. “Air kecil, Bu?”
“Iya. Kalau jam sibuk pagi sama sore, netes aja.”
Rian dan Sari saling pandang.
Belum juga seminggu, mereka sudah belajar realita pertama: rumah subsidi bukan cuma soal cicilan murah.
Malam pertama di rumah baru terasa aneh. Suara jangkrik bercampur dengan suara televisi dari rumah sebelah yang volumenya keras sekali. Sesekali terdengar anak kecil menangis. Dari kejauhan, suara motor knalpot brong melintas.
“Mas, kok berisik ya?” bisik Sari.
“Namanya juga perumahan padat.”
Di kontrakan dulu memang sempit, tapi tetangganya kebanyakan pekerja pabrik yang pulang langsung tidur. Di sini, banyak keluarga muda dengan anak kecil.
Jam sepuluh malam, terdengar suara orang bertengkar.
“Kamu tuh nggak pernah ngerti!” suara perempuan berteriak.
“Lah, kamu maunya apa sih? Uang segini ya segini!” sahut suara laki-laki.
Sari menelan ludah. “Mas…”
Rian menghela napas. “Ya begini kali ya… kehidupan.”
Mereka saling diam. Untuk pertama kalinya, rumah baru itu tidak terasa sehangat siang saat menerima kunci.
---
Masalah air datang lebih cepat dari yang mereka kira.
Pagi hari pertama setelah pindah, Sari bangun jam lima untuk memasak sebelum berangkat kerja. Ia memutar keran.
Airnya keluar kecil sekali, seperti orang menangis.
“Mas!” panggilnya panik.
Rian yang masih setengah mengantuk keluar kamar. “Kenapa?”
“Airnya kecil banget.”
Rian mencoba membuka keran kamar mandi. Sama saja.
Ia teringat kata Bu Ratna. Air sering kecil.
Jam enam, suara pintu pagar terdengar dibuka-tutup. Tetangga ramai menampung air di ember besar.
Seorang bapak berteriak, “Cepat tampung! Nanti mati lagi!”
Rian ikut keluar membawa dua ember. Ia baru menyadari bahwa di sini, bertahan hidup butuh strategi.
Hari itu mereka belajar menampung air sebelum berangkat kerja. Ember-ember memenuhi dapur kecil mereka.
---
Bulan pertama berjalan dengan campuran bahagia dan cemas.
Cicilan pertama dipotong otomatis dari rekening. Nominalnya memang “terjangkau”, tapi setelah ditambah listrik, air, bensin, dan kebutuhan sehari-hari, sisa uang mereka tidak banyak.
Suatu malam, Rian menghitung pengeluaran di atas meja plastik.
“Kalau gini terus, susah nabung ya.”
Sari duduk di sebelahnya. “Yang penting kita punya rumah dulu, Mas.”
Rian terdiam. Ia tahu Sari benar. Tapi sebagai suami, beban itu terasa nyata.
Apalagi atap mulai bocor saat hujan deras mengguyur seminggu kemudian.
Tetesan air jatuh tepat di ruang tamu.
“Mas… bocor.”
Rian mengambil ember. Air menetes dengan ritme menyebalkan.
Besoknya ia izin kerja setengah hari untuk memeriksa atap. Ternyata ada celah di sambungan genteng.
Ia memperbaikinya sendiri, karena memanggil tukang berarti keluar biaya lagi.
Rumah subsidi mengajarkan satu hal: banyak hal harus diselesaikan sendiri.
---
Tidak semua cerita pahit.
Ada juga tawa.
Sari mulai akrab dengan beberapa ibu-ibu di bloknya. Mereka sering duduk sore hari di depan rumah sambil mengawasi anak-anak bermain sepeda.
Di situlah Sari mulai mendengar banyak kisah.
Ada yang suaminya driver ojek online. Ada yang kerja di pabrik garmen. Ada yang baru saja kena PHK. Ada yang menunggak cicilan tiga bulan dan dikejar bank.
“Yang penting jangan sampai nunggak lebih dari tiga bulan, nanti bisa disita,” bisik salah satu ibu.
Sari pulang dengan pikiran penuh.
Malam itu ia berkata pada Rian, “Mas, kita jangan sampai telat cicilan ya.”
Rian tersenyum kecut. “Makanya aku lagi mikir cari tambahan kerjaan.”
Ia mulai menerima servis kecil-kecilan mesin motor tetangga di teras rumah tiap akhir pekan. Uangnya tidak banyak, tapi cukup untuk beli beras dan gas.
Teras kecil itu perlahan berubah jadi bengkel mini.
Tetangga ada yang senang karena terbantu. Ada juga yang mengeluh karena suara gerinda.
“Mas Rian, agak sore dikit dong, anak saya tidur,” tegur seseorang suatu hari.
Rian mengangguk minta maaf.
Di perumahan padat seperti itu, batas antara usaha dan gangguan tipis sekali.
---
Konflik kecil mulai terasa ketika lahan parkir jadi masalah.
Jalan depan rumah sempit. Jika satu mobil parkir sembarangan, motor sulit lewat.
Suatu malam, Rian kesulitan masuk karena mobil tetangga berhenti tepat di depan gang kecil.
Ia mengetuk rumah pemiliknya.
“Pak, bisa geser mobilnya sedikit?”
Si pemilik, Pak Doni, terlihat kurang senang. “Sebentar lah, saya lagi makan.”
Rian menahan emosi. Ia tidak ingin punya musuh di lingkungan baru.
Setelah sepuluh menit menunggu, mobil baru dipindah.
Sari melihat wajah suaminya tegang.
“Mas sabar ya. Namanya juga hidup bareng-bareng.”
Rian mengangguk. Ia belajar bahwa tinggal di rumah subsidi bukan cuma soal punya bangunan, tapi soal belajar berbagi ruang.
---
Bulan ketiga, kabar mengejutkan datang.
Sari terlambat datang bulan.
Mereka membeli test pack di minimarket ujung perumahan. Sari memeriksanya di kamar mandi kecil yang lampunya agak redup.
Dua garis.
Ia menatapnya lama sekali.
“Mas…”
Rian yang menunggu di luar langsung masuk ketika mendengar suara bergetar itu.
“Kita… mau punya anak.”
Rian terdiam. Lalu tersenyum lebar. Lalu wajahnya berubah lagi—antara bahagia dan khawatir.
“Alhamdulillah.”
Malam itu mereka tidak banyak bicara. Mereka sama-sama memandangi langit-langit kamar yang masih polos.
Rumah kecil itu akan segera terasa lebih sempit.
Tapi juga lebih hidup.
Rian memegang tangan Sari. “Kita pasti bisa.”
Sari mengangguk. “Rumah ini saksi ya, Mas. Dari awal kita mulai.”
Di luar, suara anak-anak masih bermain meski sudah hampir jam sembilan malam. Suara ibu-ibu memanggil nama anaknya. Suara motor lewat. Suara kehidupan.
Rian sadar satu hal.
Rumah subsidi ini bukan tempat yang sempurna. Dindingnya tipis. Airnya kadang kecil. Atapnya pernah bocor. Tetangganya beragam watak.
Tapi di sinilah mereka belajar bertahan.
Di sinilah mereka belajar menahan ego, menambah sabar, dan menghitung rupiah dengan hati-hati.
Di sinilah mimpi mereka bertumbuh, meski pelan.
Ia memandang Sari yang kini tersenyum sambil memegang perutnya.
“Seluk pikuk ya hidup kita,” gumamnya pelan.
Sari tertawa kecil. “Baru juga mulai, Mas.”
Dan memang benar.
Ini baru awal.
Cicilan masih panjang. Tantangan pasti datang lagi. Tapi malam itu, di rumah tipe 30/60 dengan dinding krem pucat, dua orang manusia muda memilih percaya bahwa segala ribut, segala bocor, segala antre air, adalah bagian dari cerita yang kelak akan mereka kenang sebagai perjuangan.
Kunci yang dulu terasa ringan kini terasa berat.
Bukan karena besinya.
Tapi karena tanggung jawab di baliknya.
Dan kisah mereka baru saja dimulai.