Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
BAYU SANG PEMUAS WANITA

BAYU SANG PEMUAS WANITA

Tuanmuda | Bersambung
Jumlah kata
56.6K
Popular
4.2K
Subscribe
1.1K
Novel / BAYU SANG PEMUAS WANITA
BAYU SANG PEMUAS WANITA

BAYU SANG PEMUAS WANITA

Tuanmuda| Bersambung
Jumlah Kata
56.6K
Popular
4.2K
Subscribe
1.1K
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+Mengubah NasibHarem
(⚠️AREA 21++) Sejak kedua orang tuanya pergi ke luar negeri, Bayu dititipi sebuah kos-kosan wanita untuk dikelolanya. Berbekal keteguhan dan kegigihannya, Bayu harus mampu mengelola serta menuntaskan seluruh masalah para wanita penghuni kos tersebut.
1. Warisan Kos-Kosan

"Aaghhh!"

Bayu menggelengkan kepalanya perlahan. Keringat dingin menetes dari sebelah pelipisnya. Staminanya mulai tertantang, pinggulnya terasa kebas karena permainan hebat yang sedang ia alami.

"Shhh! Lebih dalam lagi, Yu!" Riana mendesis penuh kenikmatan tatkala sebuah benda yang berukuran sepanjang tiang bendera itu mengobrak-abrik dirinya tanpa ampun.

Berusaha mencari puncak kenikmatan yang bisa ia rasakan, Riana semakin melajukan gerakan pinggulnya dengan hebat. Jari-jemarinya mengapit sepanjang leher Bayu, sementara suara-suara rancu kembali terdengar di seluruh ruangan.

"Akhh… Massh Yu!"

Satu hari yang lalu!

"Hanya ini yang bisa Ibu berikan padamu, Nak." Ibu Siti menyodorkan surat kepemilikan kos-kosan kepada Bayu, anaknya.

"Wah, terima kasih, Bu!" Bayu menerima surat itu dengan penuh rasa syukur. Memang, sudah lama ia tidak memiliki pekerjaan. Usianya yang telah berada di kepala tiga membuatnya sulit mencari pekerjaan.

"Ibu ingin pergi ke luar negeri dengan Papa. Sebisa mungkin, kos-kosan wanita ini kamu yang kelola, ya?" ucap Ibu Siti yakin pada anaknya.

Kedua orang tua Bayu memang memiliki cukup banyak bisnis yang sukses, dan kos-kosan wanita ini adalah salah satunya.

Karena tak bisa membagi waktu dengan pekerjaan mendesak di luar negeri, kedua orang tua Bayu terpaksa menyerahkan hak pengelolaan kos-kosan itu kepadanya.

"Aku akan berusaha sebaik mungkin, Ma!" ujar Bayu senang, menggenggam erat surat di tangannya.

Meski masih menjadi pengangguran, mereka yakin Bayu bisa menjadi anak yang kompeten dan rajin jika diberi pekerjaan yang layak untuk diurusnya.

Waktu pun berganti. Kini Bayu berjalan ke arah kos-kosan yang berada di ujung Jalan Mangga Muda.

"Jadi ini ya kos-kosannya?" Bayu mengerjapkan mata ke depan.

Koskosan itu tampak cukup besar, dengan pagar hitam menjulang tinggi di depan. Kamar-kamar terlihat tertata rapi, terdiri dari dua lantai yang menjulang.

"Assalamualaikum!" sahut Bayu perlahan.

Karena tak ada yang membalas salamnya, Bayu segera melangkahkan kaki masuk ke dalam, mengawasi area sekitar dengan cermat.

Cklek!

Pintu kamar mandi terbuka lebar di ujung ruangan. Bayu terkejut seketika saat melihat sesosok wanita yang mengenakan kain tipis keluar dari balik pintu itu.

"Eh!" Wanita itu terkejut melihat seorang laki-laki masuk ke dalam kos-kosannya. Berbekal handuk tipis yang membalut bagian atas tubuhnya, Riana segera berjalan menghampirinya.

"Kamu siapa ya?!" teriak Riana pelan sambil menundukkan wajahnya, salah satu tangannya memegang ujung handuk di depan tubuhnya.

Gleg!

Bayu menelan ludah dengan kasar. Tubuh Riana tampak sangat berisi, seakan handuk itu bisa saja terlepas karena kedua gunung tanpa pelindung yang mengapit kencang di hadapannya.

"Ak… aku Bayu, pemilik baru dari kos ini!" tegas Bayu ke arah Riana, sembari menjaga kedua matanya agar tidak melihat ke mana-mana.

"Pemilik baru? Bukannya Ibu Siti yang mengelola tempat ini?"

"Iya, Ibu Siti itu ibuku, dan kini ia menyerahkan seluruh manajemen kos ini kepadaku," jelas Bayu, karena memang ibunya telah memasrahkan seluruh pengelolaan kos-kosan kepadanya.

"Oh, jadi kamu anaknya Ibu Siti?" tanya Riana lagi, kini bersikap lebih santai.

"Iya. Dan Mbaknya ini siapa ya?" sahut Bayu.

"Kenalin, aku Riana, anak kos di kos-kosan ini. Pindah ke sini baru dua bulan yang lalu," jawab Riana.

"Baiklah kalau begitu. Maaf sebelumnya tadi mengagetkan kamu, ya. Aku Bayu, dan mulai sekarang kalau perlu apa-apa bisa bilang kepadaku." Bayu ingin segera meninggalkan tempat itu. Batang kayu yang sebelumnya lemas kini mulai kokoh, membuatnya takut tak bisa mengendalikan diri lebih jauh.

Belum sempat Riana menjawab, Bayu sudah berbalik dan menjauh, meninggalkan Riana yang masih mengenakan handuk tipis di sana.

Di lantai dua, terdapat beberapa kamar yang berjejer. Kamar di bagian tengah telah diberitahukan oleh Ibu Siti untuk ditempati Bayu.

Setelah merapikan seluruh barang bawaannya, kamar Bayu terlihat bersih dengan lemari dan kasur sederhana yang berada di dalamnya.

Huft!

Bayu mendengus. Lehernya terasa kering, membuatnya turun kembali untuk mengambil segelas air.

"Sst, Mas Bayu!"

Saat hendak mengambil air dari galon, Bayu terkejut karena mendengar suara wanita memanggilnya dari samping.

Ia mengangkat wajahnya dan menatap ke depan. Terlihat Riana dengan wajah gusar berdiri di depan kamarnya.

Ingin dikenal sebagai pemilik kos yang cepat tanggap, Bayu langsung menghampiri Riana untuk mengetahui apa masalahnya.

"Ada apa, Dek Rin?" tanya Bayu sembari melihat Riana yang memakai baju longgar, namun masih tak mampu menutupi kedua belahan yang ganas itu.

"Anuu… Mas Bayu, Mas tadi bilang kan, kalau ada apa-apa bisa manggil Mas," sahut Riana sambil menundukkan wajahnya. Kedua tangannya meremas-remas ujung baju di tubuhnya.

"Iya, Dek. Memangnya kenapa?" Bayu mengernyitkan alisnya.

"Emm… itu, meski kita baru kenal, tapi Mas bisa ajarin nggak?" tanya Riana semakin pelan. Pipinya mulai memerah, tubuhnya mendekat perlahan ke arah Bayu, dengan kedua pundaknya sedikit disodorkan ke depan.

Deg!

Jantung Bayu berdetak kencang. Kedua belahan besar di depan matanya semakin jelas menantang.

"Hah?! Ajarin apa!!" gusar Bayu dengan napas tergesa-gesa.

"Itu… jadi Adek Rin punya pacar dan diajak ninuninu, tapi Adek Rin nggak punya pengalaman… jadi bisa nggak Mas Yu yang ajarin?" mohon Riana dengan wajah semerah buah ceri.

"Aku janji nggak bakal masalahin apa-apa, deh!" janji Riana. Ia memang baru memiliki pacar yang mendampinginya. Di usianya yang sudah menginjak dua puluh tiga tahun, ia masih polos dalam urusan hubungan. Saat menerima ajakan seperti itu, Riana tak tahu harus menanggapinya bagaimana.

Belum sempat menjawab, jantung Bayu seakan ingin copot ketika kedua tangan Riana mencengkeram lengannya dengan kencang.

"Eh!"

Bayu ditarik masuk ke dalam kamar Riana. Dengan cepat, pintu kamar ditutup rapat.

Jklek!

Lanjut membaca
Lanjut membaca