Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
02:13 JANGAN BUKA MATA

02:13 JANGAN BUKA MATA

Ksatria Fana | Bersambung
Jumlah kata
22.8K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / 02:13 JANGAN BUKA MATA
02:13 JANGAN BUKA MATA

02:13 JANGAN BUKA MATA

Ksatria Fana| Bersambung
Jumlah Kata
22.8K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
HorrorHorrorSpiritualMisteriDunia Gaib
Sepuluh tahun lalu, di ruang bawah tanah yang lembap dan terlupakan di kampus mereka, empat mahasiswa psikologi kriminal—Satria, Faiz, Nia, dan Risky—melakukan eksperimen terlarang yang seharusnya hanya membuktikan sebuah teori sederhana: manusia bisa menghadapi ketakutan terdalamnya jika ditempatkan dalam kegelapan total selama tepat 13 menit, tanpa suara, tanpa cahaya, tanpa sentuhan.Malam itu, kegelapan tidak hanya menelan cahaya. Ia membuka sesuatu.Risky kejang hebat hingga hampir mati. Nia menangis histeris tanpa henti. Faiz bersumpah mendengar napas orang kelima di ruangan yang seharusnya kosong. Dan Satria… membuka mata lebih dulu. Di sudut kegelapan, ia melihat sesosok bayangan tinggi berdiri diam, menatapnya. Mereka keluar dari ruangan itu dengan tubuh gemetar dan janji diam: lupakan malam itu selamanya.Sepuluh tahun berlalu. Risky ditemukan tewas di apartemennya. Tidak ada luka, tidak ada racun, tidak ada penyebab fisik. Hanya wajahnya yang membeku dalam ekspresi teror paling murni, seolah ia melihat sesuatu yang tak seharusnya ada di dunia ini. Jam digital di ruang tamunya berhenti tepat pukul 02:13. Di dinding, tertulis dengan darah segar: **JANGAN BUKA MATA.**Satria, kini seorang penyidik forensik yang dingin dan rasional, ditugaskan menangani kasus itu. Awalnya ia mengira ini hanya pembunuhan sadis biasa. Hingga Faiz dan Nia mulai mengalami hal yang sama: suara napas di kegelapan, bayangan di sudut ruangan, jam yang berhenti di 02:13, dan mimpi berulang tentang ruang bawah tanah itu.Semakin dalam Satria menggali, semakin jelas satu kebenaran mengerikan: Eksperimen 13 menit itu tidak pernah benar-benar berakhir. Sesuatu yang mereka undang dari kegelapan tidak tinggal di basement kampus. Ia ikut pulang bersama mereka—dan menunggu.Satu per satu, teman-temannya mati dengan cara yang sama. Wajah membeku dalam kengerian mutlak. Jam berhenti di 02:13. Dan tulisan darah yang selalu sama.Satria tahu ia adalah yang pertama membuka mata malam itu. Dan sekarang, entitas itu datang untuknya. Bukan untuk membunuh. Tapi untuk mengingatkan: **Jika kau membuka mata lagi… kau tidak akan pernah bisa menutupnya.**Di antara penyelidikan, halusinasi, dan kegelapan yang semakin merayap ke dalam pikirannya, Satria harus memilih: Menghadapi ketakutan terdalamnya sekali lagi—atau membiarkan kegelapan itu mengambil alih selamanya.Karena terkadang, yang paling menakutkan bukan apa yang ada di kegelapan. Tapi apa yang kau izinkan masuk ketika kau membuka mata.**02:13 JANGAN BUKA MATA** Horor psikologis tentang rasa bersalah, ketakutan yang lahir dari diri sendiri, dan kegelapan yang tak pernah benar-benar pergi.Siapkah kau membaca sampai pukul 02:13? Atau… kau lebih baik menutup mata saja.
BAB 1 : Malam yang Tak Terlupakan

Hujan deras mengguyur Semarang malam itu, air mengalir deras di selokan-selokan pinggir jalan menuju kampus Universitas Harimurti Wibawa. Kampus swasta tua ini berdiri di atas bukit kecil di pinggiran kota, dikelilingi pohon-pohon tinggi yang daunnya bergoyang seperti bisikan di angin malam. Gedung-gedungnya bergaya kolonial Belanda yang sudah lapuk, cat mengelupas, dan koridor panjang yang sering dikatakan mahasiswa "terlalu panjang untuk ukuran normal". Basement Gedung Harimurti—bagian paling bawah dari gedung utama fakultas—sudah lama dilarang masuk. Katanya, dulu pernah digunakan untuk penyimpanan arsip rahasia atau bahkan eksperimen psikologi terlarang era Orde Baru. Tapi malam ini, empat mahasiswa psikologi kriminal berhasil menyelinap masuk dengan kunci duplikat yang Risky dapat dari tukang kunci kampung belakang kampus.

Satria menekan saklar tua di dinding koridor bawah tanah. Lampu neon kuning redup menyala pelan, menerangi ruangan persegi panjang sekitar enam kali delapan meter. Dinding beton kasar berlumut hijau tebal di sudut-sudut, bau apek campur tanah basah dan sesuatu yang amis seperti darah kering langsung menyergap hidung mereka. Meja kayu reyot di tengah, empat kursi lipat plastik retak-retak, dan sebuah tape recorder tua model kaset tahun 90-an yang Faiz bawa dari rumah.

"Serius kita lakuin ini di basement Harimurti?" tanya Nia sambil memeluk tas ranselnya erat-erat. Rambut panjangnya basah kuyup karena hujan tadi, menetes-netes ke lantai beton yang dingin.

"Tempat paling ideal," jawab Risky sambil menyeringai, tapi matanya berkedip cepat—tanda gugup yang Satria kenali setelah bertahun-tahun berteman. "Basement ini katanya angker banget. Banyak cerita mahasiswa lama yang bilang ada suara napas atau bayangan di sudut. Cocok buat tes teori sensory deprivation. Thirteen minutes in complete darkness. No light, no sound, no touch. Otak akan memproyeksikan ketakutan terdalamnya sendiri. Kalau kita tahan, kita buktiin bahwa hantu atau apapun itu cuma konstruksi pikiran."

Faiz mengangguk, tapi tangannya sibuk memutar-mutar kunci motor di saku celana jeans-nya. "Tapi kalau salah satu panik dan nyalain senter atau teriak, gagal total. Aturannya ketat: 13 menit penuh. Timer di ponselku, tapi ponsel dimatiin suara dan diletakkan di luar pintu besi."

Satria diam saja. Dialah yang pertama mengusulkan ide ini di kelas Psikologi Abnormal semester lalu. Dosen mereka tertawa kecil dan bilang, "Menarik, tapi jangan coba di basement Harimurti. Banyak yang masuk sana, keluarnya beda orang." Kata-kata itu malah jadi tantangan diam-diam di antara mereka berempat.

Mereka duduk melingkar di lantai beton yang dingin menusuk tulang. Satria di posisi utara, menghadap pintu besi berkarat yang sudah mereka kunci dari dalam. Faiz di timur, Nia di selatan, Risky di barat. Di tengah lingkaran, tape recorder diletakkan dengan mikrofon menghadap ke atas, siap merekam apa pun yang terjadi—meski rencananya tidak ada yang boleh bicara.

"Ponsel dimatiin sekarang," kata Satria pelan.

Satu per satu mereka tekan tombol power. Layar menyala terakhir kali menunjukkan pukul 23:47. Kemudian gelap.

Faiz berdiri, berjalan ke saklar. "Siap?"

Ketiganya mengangguk. Nia menelan ludah terdengar jelas di keheningan.

Klik.

Kegelapan menelan semuanya seketika.

Awalnya, masih ada sisa bayang-bayang retina—cahaya kuning tadi seperti noda samar di kelopak mata. Tapi dalam hitungan detik, itu pun hilang. Total black. Bukan gelap seperti malam tanpa lampu jalan di Semarang, tapi gelap yang pekat, seperti tinta dituang ke dalam mata. Udara terasa lebih lembap di sini, bau tanah basah setelah hujan makin kuat, seolah basement ini menyerap air dari luar—dan mungkin sesuatu yang lain.

Satria merasakan napasnya sendiri lebih dulu. Masuk dari hidung, keluar dari mulut, hangat dan lembap. Dia coba atur ritme: tarik napas dalam empat detik, tahan empat, hembus empat. Teknik pernapasan dasar dari kelas mindfulness. Tapi semakin fokus pada napas, semakin jelas suara itu terdengar… terlalu keras untuk ruangan sekecil ini.

Di sebelah kirinya—posisi Faiz—napas lebih cepat. Pendek-pendek, seperti orang baru lari naik tangga basement yang panjang. Di depan, Nia menggeser posisi duduknya sedikit; kain celana jeansnya bergesek pelan dengan beton kasar. Risky diam, tapi Satria bisa merasakan getaran kecil dari arahnya—lututnya mungkin gemetar.

Menit pertama berlalu dalam keheningan yang semakin menekan.

Menit kedua: Suhu turun drastis. Beton di bawah pantatnya terasa seperti es, merembes ke tulang. Udara terasa lebih tebal, seperti bernapas di dalam kain basah yang sudah lama tidak dicuci.

Menit ketiga: Pikirannya mulai melayang. Bayangan wajah ibunya muncul tiba-tiba—senyum tipisnya waktu Satria kecil bilang mau jadi dokter forensik. Lalu berganti wajah ayahnya yang pergi tanpa pamit saat dia berusia 12 tahun. Kenapa ingatan itu datang sekarang? Dia coba usir, tapi gelap malah membuat ingatan itu lebih tajam, seperti film diputar ulang di kepala tanpa tombol stop.

Menit keempat: Suara pertama yang bukan napas mereka.

Gesekan pelan. Seperti kain kasar digesek di dinding beton. Dari arah sudut timur laut—di belakang Risky. Satria mengerutkan kening. Mungkin tikus. Basement Harimurti memang sering dikabarkan ada tikus besar—atau sesuatu yang lebih besar. Tapi suara itu terlalu… teratur. Seperti seseorang menggeser kaki dengan sengaja, pelan-pelan, seolah mengintai dari kegelapan.

Dia ingin berbisik, "Kalian dengar?" tapi aturan: tidak boleh bicara. Tidak boleh bergerak signifikan. Hanya duduk diam, mata tertutup (walaupun sudah gelap, instruksi awal: tutup mata agar lebih immersif).

Menit kelima: Napas Nia mulai tersendat. Bukan isak, tapi seperti orang menahan tangis. Satria bisa membayangkan bahunya naik-turun cepat.

Menit keenam: Suara gesekan tadi berhenti. Digantikan… napas lain.

Bukan napas mereka.

Lebih dalam. Lebih lambat. Seperti napas orang dewasa yang sangat tenang, tapi terlalu dekat. Datang dari tengah lingkaran—tepat di atas tape recorder.

Satria merasa bulu kuduknya berdiri. Jantungnya berdegup kencang, tapi dia paksa diri tetap diam. Ini pasti halusinasi. Otak kekurangan stimulus visual dan auditori mulai menciptakan suara sendiri. Itu teori dasar sensory deprivation. Dia ingat jurnal tentang eksperimen isolasi: subjek mulai dengar suara musik, bisikan, bahkan melihat wajah.

Tapi napas ini… terasa nyata. Hangat. Terlalu nyata. Seolah ada orang berdiri tepat di depannya, membungkuk rendah, menunggu.

Menit ketujuh: Risky tiba-tiba menarik napas tajam. Tubuhnya menegang. Satria mendengar otot-ototnya berkontraksi—seperti orang yang kaget melihat sesuatu di kegelapan.

Lalu kejang dimulai.

Pertama hanya getaran kecil di kakinya. Kemudian seluruh tubuh Risky bergetar hebat. Kepalanya terdongak ke belakang, giginya bergemeretak keras. Napasnya jadi pendek dan tersengal. Nia menjerit pelan—tidak sengaja—lalu buru-buru tutup mulut dengan tangan gemetar.

"Risky!" bisik Faiz panik, melanggar aturan.

Satria langsung bergerak. Dia merangkak ke arah Risky, tangannya menyentuh bahu temannya yang keras seperti batu. Tubuh Risky melengkung ke belakang, punggungnya hampir menyentuh lantai. Foam putih berbusa mulai keluar dari mulutnya.

"Nyala lampu!" teriak Satria.

Faiz berlari ke saklar. Klik. Cahaya kuning kembali menyilaukan mata mereka yang sudah terbiasa gelap.

Risky masih kejang. Matanya terbuka lebar, tapi pupilnya melebar sepenuhnya—hanya hitam pekat. Nia menangis tersedu-sedu, memeluk lututnya. Faiz berlutut di samping Risky, mencoba menahannya agar kepalanya tidak membentur lantai.

Satria menatap ke sudut ruangan—tempat dia tadi merasa ada sesuatu.

Kosong.

Hanya dinding beton berlumut, dengan noda hitam samar seperti bekas air mengalir—atau darah yang sudah mengering bertahun-tahun.

Tapi selama sepersekian detik—sebelum cahaya penuh menyala—dia bersumpah melihatnya: siluet tinggi, kurus, tanpa wajah jelas, berdiri diam di sudut timur laut. Seperti sosok yang katanya sering muncul di basement Harimurti—tinggi tak wajar, rambut hitam menjuntai, dan mata yang seolah menatap langsung ke jiwa.

Mereka berempat diam sejenak setelah kejang Risky reda. Napasnya masih tersengal, tapi dia sadar. Matanya berkedip lambat, bingung, seolah baru bangun dari mimpi buruk yang terlalu nyata.

"Kita… keluar sekarang," kata Satria dengan suara serak.

Mereka bangun, badan gemetar. Tape recorder masih menyala—merekam semuanya.

Saat naik tangga menuju pintu keluar, Satria berbalik sekali lagi ke ruangan gelap itu.

Pintu besi ditutup pelan, bunyinya bergema seperti napas terakhir yang tertahan.

Di dalam, kegelapan kembali menunggu.

Dan sesuatu di sudut itu… seolah tersenyum tipis, menanti giliran berikutnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca