

Hujan sudah turun sejak sore.
Sekarang hampir tengah malam dan belum ada tanda akan berhenti.
Air menetes dari tepi atap seng pos keamanan, jatuh ke tanah merah yang berubah menjadi lumpur licin. Lampu di depan pos memantulkan cahaya kekuningan pada genangan air, membuat permukaan tanah tampak seperti kaca yang retak.
Arka Pradana berdiri di beranda kecil pos jaga.
Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat lembah tambang yang terbuka di tengah hutan. Lubang besar itu diterangi lampu lampu kerja yang menyala tanpa henti. Excavator bergerak perlahan di dasar lubang. Truk pengangkut batu naik turun di jalan tanah yang berliku.
Mesin mesin itu masih bekerja, meskipun sebagian besar pekerja sudah kembali ke barak.
Tambang Gunung Rawara hampir tidak pernah benar benar berhenti.
Arka menggeser gelas kopi plastik di tangannya. Kopinya sudah dingin, tapi ia tetap meneguknya sedikit.
Suara mesin alat berat terdengar samar di antara hujan.
Suara itu kadang mengingatkannya pada sesuatu yang lain.
Konvoi kendaraan militer yang bergerak di malam hari.
Ia pernah berada di dalam kendaraan seperti itu.
Sudah lama sekali.
Di dalam pos, radio komunikasi tiba tiba berderak.
“Pos barat, laporan situasi.”
Arka masuk dan mengambil radio dari meja.
“Situasi aman,” jawabnya singkat.
Ia menaruh radio kembali.
Di meja plastik dekat dinding, dua penjaga lain sedang bermain kartu. Lampu neon menggantung rendah di langit langit dan berdengung pelan.
Bima menoleh ke arah Arka.
“Mas Arka masih di luar?”
Arka mengangguk sedikit.
“Udara enak.”
Bima tertawa kecil.
“Kalau buat saya terlalu dingin.”
Ia menaruh kartu di meja lalu berdiri.
Bima baru bekerja di tambang sekitar lima bulan. Sebelumnya ia satpam di pusat perbelanjaan di kota kecil dua jam dari sini.
“Kalau hujan begini biasanya sepi ya?” tanyanya sambil berdiri di pintu.
“Biasanya.”
Bima ikut melihat ke arah lembah tambang.
Lampu lampu di dasar lubang terlihat seperti kota kecil yang hidup sendiri di tengah hutan.
Sebuah truk besar sedang naik dari dasar tambang. Lampunya menembus hujan seperti dua titik kuning yang bergerak pelan.
“Kadang saya masih tidak percaya,” kata Bima.
“Tidak percaya apa?”
“Kalau di bawah sana ada emas.”
Arka mengangkat bahu.
“Mungkin ada.”
Bima tersenyum.
“Kalau benar sebanyak itu, orang kota pasti makin kaya.”
Arka tidak menjawab.
Orang kota jarang memikirkan tempat seperti Rawara.
Bagi mereka emas hanyalah angka di laporan perusahaan atau perhiasan di etalase toko.
Mereka tidak pernah melihat hutan yang dibuka.
Tidak melihat tanah yang digali.
Dan tentu saja tidak melihat desa kecil yang hidup dari sungai yang sama dengan tambang ini.
Bima menendang kerikil kecil di lantai beton.
“Mas Arka sudah lama kerja di sini?”
“Tiga tahun.”
“Betah?”
Pertanyaan itu menggantung sebentar.
Arka memandang lampu lampu tambang di kejauhan.
“Lumayan.”
Jawaban itu cukup bagi Bima.
Ia kembali masuk ke dalam pos dan duduk di meja kartu.
Arka tetap berdiri di beranda.
Hujan mulai turun sedikit lebih pelan sekarang.
Dari arah timur, jalan tanah yang menuju desa terlihat gelap dan kosong.
Jalan itu hanya berupa jalur tanah yang memotong hutan sebelum akhirnya mengikuti aliran sungai menuju desa Rawara Hilir.
Arka tahu jalan itu dengan baik.
Ia sering melewatinya saat patroli.
Beberapa minggu terakhir, orang desa mulai sering datang ke tambang.
Keluhan mereka hampir selalu sama.
Sungai berubah.
Kadang airnya lebih keruh dari biasanya.
Kadang baunya aneh.
Perusahaan selalu mengatakan itu normal.
Hujan membawa tanah dari lereng bukit. Semua masih dalam batas aman.
Tidak ada yang bisa dibuktikan.
Radio kembali berbunyi.
Arka masuk ke dalam pos.
“Pos utama.”
Ia mengangkat radio.
“Ya.”
“Ada kendaraan dari arah desa.”
Arka menoleh ke luar jendela.
“Jenis kendaraan?”
“Pickup tua. Tiga orang di dalam.”
Arka berpikir sebentar.
“Biarkan masuk sampai pos satu. Saya cek.”
“Baik.”
Ia menaruh radio kembali di meja.
Bima menoleh.
“Dari desa?”
Arka mengangguk.
“Jam segini?”
Arka mengambil jaketnya.
“Sepertinya begitu.”
Bima menghela napas.
“Pasti soal sungai lagi.”
Arka tidak menjawab.
Ia berjalan menuju garasi kecil di samping pos.
Sebuah jip tua milik keamanan diparkir di sana. Catnya sudah kusam dan penuh bekas lumpur.
Mesinnya menyala dengan suara kasar ketika Arka memutar kunci.
Lampu depan menembus tirai hujan.
Arka mengemudikan jip keluar dari pos, mengikuti jalan tanah yang menurun menuju gerbang pertama tambang.
Ban kendaraan menggilas lumpur dengan suara lembek.
Beberapa menit kemudian ia melihat lampu kendaraan lain mendekat dari arah berlawanan.
Pickup tua berwarna hijau.
Kendaraan itu berhenti di depan gerbang.
Arka mematikan mesin jip dan turun.
Ada tiga orang di dalam pickup.
Dua pria.
Dan seorang perempuan tua.
Pria yang duduk di kursi pengemudi turun lebih dulu.
Tubuhnya kurus tapi keras seperti orang yang terbiasa bekerja di ladang.
“Kami dari desa Rawara,” katanya.
Arka berdiri di samping jip.
“Hujan begini kalian datang malam malam. Ada apa?”
Pria itu menoleh ke arah perempuan tua di dalam kendaraan sebelum menjawab.
“Air sungai kami berubah lagi.”
Arka tidak langsung bereaksi.
Ia sudah mendengar keluhan itu sebelumnya.
Sungai yang mengalir dari bukit tambang memang menuju desa mereka.
Kadang airnya keruh setelah hujan besar.
Perusahaan selalu mengatakan itu wajar.
Perempuan tua itu membuka pintu pickup perlahan lalu turun.
Langkahnya pelan karena tanah licin.
“Anak anak kami sakit,” katanya.
Suara hujan terdengar jelas di antara mereka.
Arka menatap perempuan itu.
“Sejak kapan?”
“Satu minggu.”
Pria yang berdiri di sampingnya menambahkan.
“Awalnya cuma perut sakit. Sekarang beberapa anak demam.”
Arka memandang ke arah jalan gelap di belakang mereka.
“Dokter sudah datang?”
“Klinik desa penuh.”
Perempuan tua itu memandang langsung ke mata Arka.
“Air sungai bau sekarang.”
Arka mengerutkan kening.
“Bau apa?”
Pria itu menjawab pelan.
“Seperti besi.”
Arka terdiam.
Ia pernah mencium bau itu.
Dua hari lalu.
Ketika ia patroli di tepi sungai dekat tambang.
Saat itu ia mengira hanya perasaannya saja.
Arka menoleh sebentar ke arah lembah tambang di belakangnya.
Lampu lampu masih menyala.
Mesin mesin masih bekerja.
Seolah tidak ada yang berubah.
Namun kata kata orang desa itu membuat sesuatu bergerak pelan di pikirannya.
Pria dari desa berkata lagi.
“Kami tidak datang untuk berkelahi.”
Arka menatapnya.
“Kami hanya ingin kalian tahu.”
Perempuan tua itu menambahkan pelan.
“Sungai itu satu satunya air kami.”
Hujan mulai turun lebih pelan.
Di kejauhan suara mesin tambang masih bergema di malam.
Arka menatap wajah wajah mereka.
Wajah yang lelah.
Wajah orang orang yang hidup dari tanah dan air yang sama selama puluhan tahun.
Ia akhirnya berkata pelan.
“Saya akan laporkan.”
Pria itu mengangguk.
Mereka kembali naik ke pickup.
Mesin kendaraan tua itu hidup dengan suara berat.
Lampunya berbalik menuju jalan desa.
Beberapa detik kemudian kendaraan itu menghilang ke dalam hujan dan kegelapan hutan.
Arka tetap berdiri di dekat jip.
Ia memandang jalan yang baru saja dilewati kendaraan itu.
Lalu ia menoleh ke arah lembah tambang.
Lampu lampu di sana masih menyala terang.
Excavator masih bergerak.
Truk masih naik turun membawa batu dari dasar lubang.
Tambang bekerja seperti biasa.
Seolah tidak ada yang berubah.
Namun di dalam kepala Arka, satu hal terasa berbeda malam itu.
Ia tidak tahu apakah orang desa benar.
Ia tidak tahu apakah sungai benar benar berubah.
Tapi ia tahu satu hal.
Sungai itu mengalir dari sini.
Dari bukit tempat tambang berdiri.
Dari tanah yang setiap hari mereka gali lebih dalam.
Hujan terus turun pelan di sekitar Rawara.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama bekerja di tempat ini, Arka merasa satu pertanyaan muncul kembali di pikirannya.
Apakah ia menjaga tempat ini.
Atau justru menjaga sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibuka.