Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Warisan Malam dari Rumah Tua

Warisan Malam dari Rumah Tua

elyahasmi | Bersambung
Jumlah kata
41.2K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / Warisan Malam dari Rumah Tua
Warisan Malam dari Rumah Tua

Warisan Malam dari Rumah Tua

elyahasmi| Bersambung
Jumlah Kata
41.2K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
HorrorHorrorMisteriDunia Gaib
Raka, seorang pemuda yang hidup sederhana di Surabaya, tiba-tiba mewarisi sebuah rumah tua dari kakeknya yang meninggal secara misterius. Awalnya ia mengira rumah itu hanya peninggalan biasa. Namun sejak malam pertama tinggal di sana, hal-hal aneh mulai terjadi. Langkah kaki terdengar di lorong kosong, pintu terbuka sendiri, dan bayangan hitam sering muncul di sudut rumah. Hingga suatu malam Raka menemukan sebuah pintu tersembunyi di ruang bawah tanah. Di balik pintu itu, ia menemukan rahasia besar keluarganya: garis keturunan penjaga yang bertugas mengawasi makhluk gaib yang mencoba memasuki dunia manusia. Sejak saat itu hidup Raka berubah. Ia mulai melihat makhluk yang tak kasat mata, menghadapi teror dari dunia lain, dan perlahan menyadari bahwa rumah tua itu bukan sekadar tempat tinggal… melainkan gerbang yang dijaga oleh keluarganya selama ratusan tahun. Namun semakin dalam Raka mengungkap rahasia tersebut, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya sedang bangkit sesuatu yang dulu pernah hampir menghancurkan dunia manusia.
Rumah yang Tak Pernah Benar-Benar Kosong

Hujan turun perlahan sejak sore, meninggalkan aroma tanah basah yang memenuhi udara di sebuah gang sempit di pinggiran kota Surabaya.

Di ujung gang itu berdiri sebuah rumah tua yang tampak berbeda dari bangunan lain di sekitarnya.

Cat temboknya sudah memudar dan mengelupas di banyak bagian. Beberapa jendela tertutup rapat dengan kaca yang terlihat kusam. Atapnya dipenuhi lumut dan sebagian genteng tampak miring.

Rumah itu seperti bangunan yang telah lama dilupakan oleh waktu.

Di depan gerbang besinya yang berkarat, seorang pria muda berdiri sambil menatap rumah itu dengan ekspresi ragu.

Namanya Raka.

Usianya dua puluh enam tahun, dan sepanjang hidupnya ia tidak pernah membayangkan akan memiliki rumah sebesar ini.

Apalagi rumah yang terlihat… seperti ini.

Raka menunduk sebentar, memandangi sebuah kunci besi tua di tangannya.

Kunci itu diberikan oleh seorang notaris pagi tadi.

Ucapan pria itu masih terngiang jelas di kepalanya.

“Rumah ini diwariskan langsung oleh kakek Anda.”

Raka hampir tidak percaya ketika mendengarnya.

Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali bertemu dengan kakeknya.

Pria tua itu selalu dikenal sebagai sosok yang tertutup. Ia lebih suka tinggal sendirian di rumah ini daripada berkumpul dengan keluarga.

Bahkan ayah Raka sendiri jarang membicarakannya.

Namun kini, setelah kakeknya meninggal tiga hari lalu, rumah tua ini justru jatuh ke tangan Raka.

“Kenapa harus aku…” gumam Raka pelan.

Angin sore berhembus melewati halaman yang dipenuhi rumput liar. Daun-daun kering berdesir di tanah.

Entah kenapa, ada perasaan aneh ketika ia berdiri di depan rumah itu.

Seperti ada sesuatu yang memperhatikannya.

Raka menoleh ke kiri dan kanan.

Gang itu sepi.

Beberapa rumah tetangga terlihat tertutup rapat. Tidak ada orang yang lewat.

Langit mulai gelap karena hujan yang semakin deras.

Raka menghela napas panjang.

“Sudahlah… cuma rumah tua,” katanya mencoba menenangkan diri.

Ia membuka gerbang besi yang langsung mengeluarkan suara berdecit panjang.

KREEEKK…

Suara itu terasa terlalu keras di tengah suasana yang sunyi.

Raka berjalan melewati halaman menuju pintu depan.

Rumah itu terlihat lebih besar dari dekat.

Pintu kayunya tinggi dan dihiasi ukiran kuno yang sudah mulai pudar.

Raka memasukkan kunci besi ke dalam lubang kunci.

Beberapa detik ia ragu.

Namun akhirnya ia memutar kunci itu.

KLIK.

Pintu terbuka.

Ia mendorongnya perlahan.

KREEEEKK…

Bau lembap langsung keluar dari dalam rumah.

Udara di dalam terasa dingin.

Terlalu dingin untuk sebuah rumah yang sudah lama kosong.

Raka melangkah masuk dengan hati-hati.

Lantai kayu di bawah kakinya berderit pelan setiap kali ia berjalan.

Ruang tamunya cukup luas, tetapi hampir tidak ada perabotan yang layak pakai.

Sebuah sofa tua yang kainnya sudah robek.

Meja kayu besar yang dipenuhi debu.

Dan sebuah rak buku tinggi yang berdiri di sudut ruangan.

Sinar matahari yang tersisa dari luar masuk melalui jendela kotor, menciptakan bayangan panjang di lantai.

Raka berjalan perlahan, melihat setiap sudut ruangan itu.

“Aneh…” gumamnya.

Seharusnya rumah yang ditinggalkan bertahun-tahun terlihat lebih berantakan.

Namun rumah ini justru terasa seperti masih… dijaga.

Beberapa benda masih tertata rapi.

Debu memang ada, tapi tidak setebal yang ia bayangkan.

Seolah seseorang masih merawat tempat ini.

Raka menggelengkan kepala.

“Pikiranku mulai aneh-aneh,” katanya.

Ia berjalan menuju rak buku tua.

Buku-buku di sana terlihat sangat lama.

Sebagian bahkan memiliki sampul yang sudah menguning.

Ketika ia menarik salah satunya, debu langsung beterbangan di udara.

Judul buku itu hampir tidak terbaca.

Namun dari bentuk hurufnya, buku itu terlihat sangat kuno.

Raka baru saja hendak membuka halaman pertama ketika—

KREK.

Sebuah suara terdengar dari lantai atas.

Raka langsung berhenti bergerak.

Ia menoleh perlahan ke arah tangga yang berada di ujung ruang tamu.

Tangga kayu itu mengarah ke lantai dua yang gelap.

Cahaya dari bawah hampir tidak mencapai bagian atasnya.

Raka menatap ke sana beberapa detik.

“Mungkin cuma tikus,” gumamnya.

Namun bahkan saat mengatakannya, ia sendiri tidak yakin.

Rumah ini terlalu besar untuk hanya dihuni tikus.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan menyalakan senter.

Cahaya putih menerangi tangga di depannya.

Setelah ragu sejenak, Raka mulai menaiki tangga itu perlahan.

KREKK…

Setiap langkahnya membuat papan kayu mengeluarkan suara.

Udara di lantai atas terasa lebih dingin.

Bahkan Raka bisa merasakan bulu kuduknya berdiri.

Ketika sampai di ujung tangga, ia mengarahkan senter ke depan.

Sebuah lorong panjang terbentang di hadapannya.

Ada beberapa pintu kamar di sisi kiri dan kanan.

Semuanya tertutup.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Raka berjalan perlahan menyusuri lorong itu.

Langkah kakinya terdengar jelas di tengah kesunyian.

Tiba-tiba—

BRAK!

Salah satu pintu kamar di ujung lorong tertutup dengan keras.

Raka langsung berhenti.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Siapa di sana?” serunya spontan.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara hujan yang semakin deras di luar.

Raka menelan ludah.

Perlahan ia berjalan mendekati pintu kamar itu.

Semakin dekat ia melangkah, semakin kuat perasaan aneh di dadanya.

Seolah-olah seseorang sedang menunggunya di balik pintu itu.

Tangannya terangkat untuk membuka gagang pintu.

Namun sebelum sempat menyentuhnya

Ia mendengar sesuatu dari dalam kamar.

Sebuah suara…

Seperti bisikan pelan.

“…akhirnya kau datang…”

Tubuh Raka langsung membeku.

Suara itu jelas.

Dan yang paling membuatnya merinding

Suara itu terdengar seperti suara pria tua.

Suara yang sangat familiar.

Suara yang pernah ia dengar saat kecil dulu.

Suara kakeknya.

Padahal pria itu sudah meninggal tiga hari yang lalu.

Senter di tangan Raka sedikit bergetar.

Ia mundur satu langkah.

“Tidak mungkin…” bisiknya.

Namun tepat saat itu

Gagang pintu di depannya bergerak sendiri.

Perlahan.

KLIK.

Pintu kamar itu terbuka sedikit.

Dari celah gelap di dalamnya, udara dingin keluar seperti napas dari sesuatu yang hidup.

Dan dari kegelapan itu…

Sebuah bayangan tinggi terlihat berdiri diam.

Menatap langsung ke arah Raka.

Raka berdiri terpaku di depan pintu yang terbuka sedikit itu.

Tangannya masih menggantung di udara, seolah lupa bagaimana cara bergerak.

Cahaya dari senter di ponselnya menyorot ke dalam kamar yang gelap.

Namun cahaya itu seperti ditelan oleh kegelapan.

Ia hanya bisa melihat sebagian lantai kayu dan bayangan samar di dinding.

Tidak ada siapa-siapa.

Raka mengerutkan kening.

“Halusinasi…” gumamnya pelan.

Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Rumah ini sudah lama kosong. Wajar jika banyak suara aneh dari kayu tua atau angin yang masuk lewat celah jendela.

Namun ketika ia hendak melangkah mundur—

Suara itu terdengar lagi.

“…Raka…”

Kali ini lebih jelas.

Tubuh Raka langsung menegang.

Suara itu memang pelan, hampir seperti bisikan.

Tetapi ia yakin sekali.

Seseorang memanggil namanya.

Dan suara itu benar-benar terdengar seperti suara kakeknya.

Ingatan lama tiba-tiba muncul di kepalanya.

Ketika Raka masih kecil, kakeknya pernah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Pria tua itu jarang berbicara, tetapi setiap kali memanggil namanya, suaranya selalu berat dan pelan.

Persis seperti yang baru saja ia dengar.

Raka menelan ludah.

Perlahan ia mendekati pintu kamar itu.

“Siapa di sana?” tanyanya lagi.

Tidak ada jawaban.

Ia mendorong pintu itu sedikit lebih lebar.

KREEEK…

Suara engselnya berderit panjang.

Cahaya senter kini menyinari seluruh isi kamar.

Kamar itu kosong.

Hanya ada sebuah lemari kayu tua di sudut ruangan dan meja kecil yang dipenuhi debu.

Tirai jendelanya bergerak perlahan karena angin.

Raka menghela napas panjang.

“Benar-benar cuma pikiranku saja,” katanya.

Namun saat ia hendak berbalik pergi—

Sesuatu menarik perhatiannya.

Di atas meja kecil itu terdapat sebuah kotak kayu.

Kotak itu tidak terlalu besar, mungkin seukuran buku tebal.

Yang aneh, kotak itu terlihat jauh lebih bersih dibanding benda lain di kamar tersebut.

Seolah baru saja disentuh seseorang.

Raka mendekat.

Ia mengarahkan senter ke kotak itu.

Permukaannya dipenuhi ukiran aneh yang terlihat sangat rumit.

Ukiran itu membentuk simbol-simbol yang tidak ia kenali.

“Apaan ini…” gumamnya.

Ia mengulurkan tangan dan menyentuh kotak itu.

Kayunya terasa dingin.

Aneh sekali.

Padahal udara di dalam kamar tidak terlalu dingin.

Perlahan Raka membuka tutup kotak tersebut.

KLIK.

Tutupnya terbuka dengan mudah.

Di dalamnya terdapat sebuah benda kecil yang terbungkus kain hitam.

Raka mengangkat benda itu.

Ketika kainnya terbuka, ia melihat sebuah kunci tua.

Bentuknya hampir sama seperti kunci rumah yang ia pegang tadi, tetapi ukurannya lebih kecil.

Kunci itu terbuat dari logam hitam dengan ukiran yang sama seperti di kotaknya.

Raka memutar kunci itu di tangannya.

“Apa lagi ini…” katanya.

Ia tidak mengerti kenapa kakeknya menyimpan benda seperti ini.

Namun sebelum sempat memikirkannya lebih jauh—

Suara langkah kaki terdengar dari lorong.

TOK.

TOK.

TOK.

Raka langsung menoleh ke arah pintu kamar.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Suara langkah itu jelas.

Seperti seseorang sedang berjalan pelan di lorong lantai dua.

Padahal sejak tadi ia yakin tidak ada siapa-siapa di rumah ini.

Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamar.

Sunyi.

Raka menahan napas.

Beberapa detik terasa sangat lama.

Lalu perlahan—

BAYANGAN seseorang terlihat di lantai lorong, tepat di depan pintu kamar.

Bayangan itu tinggi.

Dan tampak seperti sosok pria.

Raka langsung mematikan senter secara refleks.

Kamar itu kembali gelap.

Ia berdiri diam, tidak berani bergerak sedikit pun.

Langkah kaki itu terdengar lagi.

Namun kali ini menjauh.

TOK.

TOK.

TOK.

Perlahan suara itu menghilang di ujung lorong.

Beberapa detik kemudian, rumah kembali sunyi.

Raka masih berdiri kaku.

Ia bahkan baru menyadari bahwa napasnya sejak tadi tertahan.

“Apa… itu tadi?” bisiknya.

Ia memberanikan diri menyalakan senter lagi.

Cahaya putih kembali menerangi kamar.

Raka berjalan ke pintu dan mengintip ke lorong.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa ia tidak sendirian di rumah ini.

Perlahan ia menutup pintu kamar.

Tangannya masih menggenggam kunci kecil yang ia temukan di dalam kotak.

Entah kenapa, ia merasa benda itu penting.

Sangat penting.

Seolah-olah kunci itu akan membuka sesuatu yang lebih besar dari sekadar pintu biasa.

Raka kembali menuruni tangga menuju ruang tamu.

Hujan di luar kini semakin deras.

Petir sesekali menyambar langit, membuat cahaya putih masuk melalui jendela.

Ketika sampai di ruang tamu, Raka berhenti.

Matanya tertuju pada rak buku besar di sudut ruangan.

Ia yakin sekali tadi rak itu terlihat biasa saja.

Namun sekarang…

Ada satu bagian rak yang sedikit terbuka.

Seperti sebuah pintu rahasia yang tersembunyi di baliknya.

Raka perlahan mendekat.

Jantungnya kembali berdetak cepat.

Ia mendorong rak buku itu sedikit.

KREEK.

Rak itu bergerak.

Dan di baliknya…

Terlihat sebuah tangga batu yang mengarah ke bawah tanah.

Udara dingin keluar dari sana.

Lebih dingin dari bagian rumah mana pun.

Raka menelan ludah.

Ia memandang kunci kecil di tangannya.

Lalu menatap tangga gelap di depannya.

Perasaan aneh muncul di dadanya.

Seolah-olah seluruh rumah ini sedang menunggu sesuatu.

Menunggu dirinya.

Dan tanpa ia sadari…

Sesuatu di bawah sana juga sedang menunggunya turun.

Lanjut membaca
Lanjut membaca