Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
AURA SALAH FAHAM

AURA SALAH FAHAM

Xylendra | Bersambung
Jumlah kata
76.0K
Popular
1.1K
Subscribe
335
Novel / AURA SALAH FAHAM
AURA SALAH FAHAM

AURA SALAH FAHAM

Xylendra| Bersambung
Jumlah Kata
76.0K
Popular
1.1K
Subscribe
335
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeHarem21+Urban
Arka Pratama, 24 tahun, cuma ingin hidup tenang. Kerja biasa, main game, makan mie instan, tanpa drama. Ia bahkan bercita-cita jadi “NPC” di kehidupannya sendiri. Tapi sejak kecelakaan kecil waktu SMA, Arka punya sesuatu yang aneh: Aura Salah Paham. Hal-hal biasa yang ia lakukan selalu dianggap orang lain sebagai sesuatu yang dalam, keren, bahkan romantis. Akibatnya, hidup yang ia inginkan justru makin kacau. Seorang CEO dingin, idol pop manja, teman masa kecil yang posesif, dan guru privat yang agresif semuanya tertarik padanya. Padahal Arka cuma ingin satu hal sederhana: menyelesaikan mie gorengnya sebelum keburu basi.
BAB 1: Filosofi di Balik Mie Instan Rasa Soto

Jam dinding di dinding kosan Arka menunjukkan pukul 19.00 WIB. Ini adalah waktu suci. Waktu di mana perut mulai berbunyi dan otak mulai meminta asupan karbohidrat murah meriah.

Arka menatap panci di atas kompor portable-nya. Air di dalamnya mendidih dengan antusias, seolah tahu bahwa ia akan segera bertemu dengan bumbu bubuk rasa soto.

"Tenang, Nak," gumam Arka pada panci itu. "Sabar. Nanti juga jadi."

Bagi orang normal, ini adalah gejala kelaparan akut. Bagi Arka, ini adalah rutinitas meditasi.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama Dinda muncul di layar. Arka menghela napas panjang. Mengangkat telepon berarti bertanya "Sudah makan?", "Kapan nikah?", atau "Kenapa sampah di depan kamarmu belum dibuang?". Menolak telepon berarti Dinda akan datang ke kosan dan mengetuk pintu sampai tetangga mengira ada polisi penggerebekan.

Arka memutuskan opsi ketiga: Membiarkannya bergetar sampai mati sambil fokus mengaduk mie.

"Halo? Halo, Ark! Angkat woi!" Suara Dinda terdengar dari luar pintu.

Arka terbatuk. "Kapan dia sampai sini? Aku belum kunci pintu?"

Ternyata, Arka lupa mengunci pintu karena terlalu fokus pada tahap 'pemasukan bumbu'. Pintu kosannya terbuka sedikit, dan Dinda sudah berdiri di sana dengan tangan di pinggang, mengenakan jaket denim dan ekspresi wajah yang bisa membekukan air mendidih.

"Lo nggak denger gue nelepon ya?" tanya Dinda, melangkah masuk tanpa permisi. Matanya langsung menyapu ruangan kosan yang berantakan. Ada tumpukan baju di kursi, kabel semrawut di lantai, dan aroma mie instan yang menyengat.

"Gue lagi masak, Din. Situasi genting. Mie kalau kelamaan jadi lembek," jawab Arka datar, tetap mengaduk mie dengan sendok garpu.

Dinda mendengus. "Lo ini ya, umur 24 tahun hidup kayak mahasiswa tingkat akhir yang nggak pernah lulus. Kapan lo mau serius cari cewek? Kapan lo mau naik jabatan?"

Arka meniup uap panas dari mie-nya. "Naik jabatan itu beban, Din. Gaji nambah, tanggung jawab nambah. Mending begini. Cukup buat makan, cukup buat kuota, cukup buat bahagia."

Dinda terdiam. Matanya membelalak sedikit.

Dalam kepala Dinda, kata-kata Arka tadi tidak terdengar seperti kemalasan.

(Dia... dia menolak ambisi duniawi? Dia menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan pada materi, tapi pada ketenangan jiwa? Arka... sejak kapan lo jadi filsuf stoikisme?)

"Lo... sadar kalau lo menyia-nyiakan potensi lo kan?" tanya Dinda, suaranya melembut, sedikit ragu.

Arka menyedot mie-nya dengan suara slurp yang keras. "Potensi apa? Potensi jadi tukang gorengan? Gue nggak punya bakat goreng, Din. Minyaknya panas."

Dinda kembali terdiam.

(Dia menggunakan metafora minyak panas! Dia bilang dunia kerja itu seperti minyak panas yang bisa membakar, dan dia memilih mundur untuk keselamatan diri. Dalam!)

"Gila, Ark. Kadang gue nggak ngerti sama lo," kata Dinda sambil duduk di tepi kasur Arka yang belum dirapikan. "Tapi ya sudahlah. Gue bawain makanan. Nanti lo sakit lagi kalau makan beginian terus."

Dinda meletakkan kotak bento mahal di atas meja belajar Arka yang penuh debu.

"Gue nggak minta," kata Arka.

"Iya, iya. Anggap aja sedekah. Biar dosa lo numpuk nggak makin banyak," canda Dinda, meski wajahnya memerah tipis.

Arka tidak menjawab. Ia sedang sibuk memisahkan telur rebus yang pecah dari gumpalan mie. Baginya, telur pecah adalah tragedi nasional.

Tiba-tiba, ada ketukan pintu lagi.

Tok. Tok. Tok.

Arka dan Dinda menoleh serentak. Kosan Arka bukan tempat populer. Siapa yang datang jam segini?

Arka membuka pintu. Di sana berdiri seorang wanita dengan balutan blazer hitam, rok pensil, dan sepatu hak tinggi yang terlihat menyiksa kaki. Wajahnya cantik, tapi ada lingkaran hitam di bawah matanya yang menandakan kurang tidur kronis. Rambutnya diikat rapi, tapi ada beberapa helai yang lepas berantakan.

Wanita itu menatap Arka. Tatapannya tajam, seperti laser scanner.

"Apakah ini kosan nomor 402?" tanya wanita itu. Suaranya berat dan berwibawa.

"Iya. Ada apa?" tanya Arka.

"Saya Clarissa. Saya cari pemilik akun email arka.pratama.malas@gmail.com," kata wanita itu.

Arka mengernyit. "Oh. Saya. Ada urusan apa? Kalau soal tagihan listrik, saya sudah bayar via aplikasi kemarin."

Clarissa menggeleng. Dia melangkah masuk, mengabaikan Dinda yang langsung berdiri dengan sikap waspada (siap cakar). Clarissa menatap meja Arka, menatap mie instan, lalu menatap wajah Arka yang sedang ada sisa kuah di sudut bibir.

"Saya CEO dari Nexus Tech," kata Clarissa. "Saya melacak IP address Anda. Anda adalah satu-satunya pelamar kerja yang mengirim lamaran lewat email jam 3 pagi dengan subjek: 'Mohon Ditolak, Saya Butuh Tidur'."

Dinda menyipitkan mata. "Hei, Mbak. Sopan dikit nggak? Ini rumah orang."

Clarissa mengabaikan Dinda. Dia fokus pada Arka. "Kenapa Anda menulis demikian?"

Arka menggaruk kepala. "Ya jujur aja. Jam 3 pagi itu waktu tidur. Kalau saya kirim lamaran jam kerja, berarti saya pengangguran desperate. Kalau saya kirim jam 3 pagi, berarti saya begadang. Tapi kalau subjeknya minta ditolak, berarti saya nggak butuh uang. Jadi HRD nggak akan merasa bersalah nolak saya. Efisien kan?"

Hening.

Clarissa menatap Arka selama sepuluh detik penuh. Jantung Dinda berdegup kencang, takut Arka diusir.

Tiba-tiba, sudut bibir Clarissa terangkat. Sedikit. Hampir tidak terlihat.

(Dia... memanipulasi psikologi HRD? Dia tahu bahwa perusahaan lebih menghargai kandidat yang tidak terlihat 'butuh'? Dia mengirim lamaran di luar jam kerja untuk menunjukkan bahwa dia punya work-life balance yang ketat, bahkan di tahap rekrutmen? Dan subjek email itu... itu adalah tes untuk melihat apakah perusahaan menghargai kejujuran atau hanya mencari budak korporat?)

Wajah Clarissa memerah. Bukan karena marah, tapi karena terkesan.

"Brilian," bisik Clarissa.

"Apa?" Arka bingung.

"Strategi Anda... brilian," Clarissa melangkah lebih dekat, mengabaikan ruang pribadi Arka. "Kebanyakan orang hanya fokus mencari kerja. Anda fokus memilih lingkungan kerja yang menghargai privasi Anda. Saya butuh orang seperti Anda di tim saya."

"Saya cuma admin part-time, Mbak. Gaji saya UMR."

"Bergabunglah dengan Nexus Tech. Gaji lima kali lipat. Tapi ada satu syarat."

Arka waspada. "Syarat apa? Kalau suruh lembur, saya keluar."

Clarissa tersenyum. Senyum yang biasanya hanya ia berikan pada investor, kini muncul di depan pria berkaos oblong berlubang.

"Syaratnya, ajari saya cara 'malas' seperti Anda," kata Clarissa serius. "Saya sudah tiga hari tidak tidur. Saya lihat cara Anda makan mie itu... sangat tenang. Sangat terkontrol. Saya ingin belajar efisiensi energi dari Anda."

Dinda yang sedari tadi diam, akhirnya meledak. "Eits! Dekat-dekat ya! Dia nggak bisa diajarin apa-apa! Dia itu cuma malas, bukan ahli efisiensi!"

Clarissa menoleh pada Dinda. "Maaf, Nona. Ini urusan profesional."

"Ini urusan pribadi! Dia tetangga gue!"

Arka melihat kedua wanita itu. Satu teman masa kecil yang posesif, satu CEO kaya yang sepertinya kurang tidur dan butuh psikiater, bukan guru malas.

Arka melihat mie-nya. Sudah mulai dingin.

"Begini saja," kata Arka tiba-tiba, memotong perdebatan mereka.

Kedua wanita itu menoleh.

"Kalau kalian mau berdebat, silakan keluar. Kalau mau diam, silakan duduk. Tapi jangan ganggu mie saya. Kalau mie ini dingin, teksturnya berubah. Dan kalau teksturnya berubah, mood saya hancur. Kalau mood saya hancur, saya nggak bisa ngapa-ngapain. Termasuk nerima kerjaan atau dengerin curhat."

Hening lagi.

Dinda ternganga. Clarissa terpaku.

(Dia menetapkan batasan (boundary) dengan sangat tegas di tengah tekanan dua wanita dominan. Dia memprioritaskan kebutuhan pribadinya di atas peluang karir dan hubungan sosial. Ini... ini adalah puncak dari self-love!) batin Clarissa.

(Berani banget lo sama Mbak CEO gitu! Tapi... tapi kenapa gue malah makin nge-fans sih?!) batin Dinda.

Arka tidak peduli dengan batin mereka. Ia mengambil sendok, menyendok kuah mie, dan meminumnya dengan nikmat.

"Enak," gumam Arka.

Clarissa mengeluarkan buku catatan dari tas mahalnya. "Catat: Prioritas utama Arka adalah tekstur mie. Kunci motivasi: Tekstur Mie."

Dinda langsung mengeluarkan ponsel. "Gue rekam nih. Buat bukti kalau lo nggak waras."

Arka hanya menghela napas.

Hidup tenang, katamu, Arka. Hidup tenang.

Di luar, langit malam Jakarta bersinar dengan lampu-lampu gedung. Di dalam kamar sempit itu, takdir Arka sebagai magnet masalah baru saja dimulai. Dan semuanya bermula dari sebuah mie instan rasa soto yang mulai dingin.

Lanjut membaca
Lanjut membaca