

“Apa pagi ini aku bisa tenang?”
Raka berdiri di depan rumahnya sambil menyiram tanaman cabai. Air dari selang mengalir pelan, membasahi tanah yang masih dingin.
Udara pagi sebenarnya enak. Sepi. Tidak ada suara selain burung dan gesekan daun.
Raka harap begini terus.
Ciiit—
Suara rem motor matic langsung memotong dan merusak semuanya.
Raka tidak langsung menoleh. Dia malah menghela napas dulu.
Entah bagaimana, Raka sudah lebih dulu tahu ini akan terjadi.
“Belum juga lima menit…”
Raka bergumam.
“Mas Raka!”
Raka menghela napas panjang.
Sebelum Raka akhirnya menoleh.
Sari sudah turun dari motor matic merahnya. Daster bunga-bunganya nempel ketat di badan. Rambutnya dicepol asal, tapi tetap kelihatan rapi.
Sari terlalu santai untuk ukuran janda.
Apalagi untuk ukuran kembang desa.
“Mas, bantuin bentar ya,” katanya langsung.
Raka mematikan air selang. “Kenapa lagi, Mbak? Warungnya meledak?”
“Mulutnya!” Sari mendengus. “Ini lho, keran copot. Airnya muncrat ke mana-mana.”
Sari jalan mendekat.
“Lihat deh…” tangannya menarik sedikit bagian dasternya di bahu. “Basah semua.”
Raka melirik sekilas.
Leher jenjang Sari sangat menggoda.
Raka langsung mengalihkan pandangannya.
“Dimatiin dulu pusat airnya.”
“Sudah!” jawab Sari cepat. “Tapi masa aku nggak jualan?”
Tangan Sari naik, menyentuh lengan Raka.
Sari menggelayut pelan.
“Bantuin ya, Mas…”
Raka diam satu detik.
Raka tahu ini modus.
Raka juga tahu… dia tetap bakal bantu.
“Iya. Saya ambil alat dulu.”
Sari langsung senyum lebar.
“Nah gitu dong. Dari dulu emang Mas Raka paling nggak tegaan orangnya.”
Pada akhirnya, keran di warung kopi Sari tidak separah yang dibilang.
Kerannya cuma longgar.
Raka jongkok di bawah wastafel. Kunci inggris di tangannya bergerak cepat.
Sari tidak ke mana-mana. Dia berdiri di dekat Raka. Ngeliatin saja.
“Mas…”
“Iya?”
“Kamu tuh betah banget sendiri ya.”
Raka tidak menoleh. “Sudah biasa, Mbak.”
“Biasa apanya?” Sari langsung nyaut. “Pagi mie, siang mie, malam mie?”
“Praktis toh, Mbak?”
Sari ketawa kecil.
Tangan Sari turun ke bahu Raka.
“Nanti tiap pagi ke sini aja. Biar Mbak yang urusin soal makan.”
Raka berhenti sebentar. Lalu lanjut lagi.
“Warung Mbak bisa rugi kalau saya nongkrong tiap hari.”
“Yang penting kamu datang,” balas Sari cepat.
Raka akhirnya berdiri. Merapikan alat-alatnya.
“Sudah beres.”
Sari berdecak pelan. “Cepet banget sih…”
Sari membuka keran. Air mengalir normal.
“Beneran beres.”
Raka mengangguk. “Iya.”
“Ya sudah…” Sari nyengir. “Sekarang gantian.”
Raka mengerutkan kening. “Gantian apa?”
“Sarapan.”
Belum sempat lanjut—
Suara mobil berhenti di depan warung lebih dahulu terdengar.
Raka menoleh.
Mobil putih dengan logo Dinas Kesehatan ada tidak jauh darinya.
Pintu terbuka.
Citra turun.
Suasana langsung berubah.
Kalau Sari hangat, Citra dingin.
Kalau Sari ngajak, Citra langsung narik.
“Mas Raka.”
Nada suara Citra datar.
Raka berdiri. “Iya, Bu Bidan?”
“Ke Puskesmas sekarang.”
Citra tidak pakai basa-basi.
Sari langsung nyela. “Lho, Bu Bidan… Mas Raka baru aja selesai bantu saya.”
Citra melirik Sari sekilas.
“Stop kontak rusak. Keluar api. Bisa bahaya.”
Ucap Citra pendek dan tegas.
Raka garuk kepala sambil bergumam, "mulai lagi."
“Ya sudah, saya ke sana.”
Sari langsung ambil bungkusan nasi. Memberi paksa ke tangan Raka.
“Ini dibawa.”
Nada suara Sari berubah.
“Harus dimakan.”
Raka cuma bisa nerima. “Iya, Mbak.”
Raka baru melangkah dua langkah keluar saat—
“Mas Raka!”
Suara baru terdengar.
Lebih ringan dan lebih ceria.
Raka noleh.
Anisa muncul dari gang sebelah. Lari kecil, napasnya agak ngos-ngosan. Wajahnya merah. Tapi matanya langsung terkunci pada Raka.
“Mas…”
Anisa langsung pegang lengan Raka. Tidak peduli tatapan orang di sekitarnya.
“Bapak manggil.”
Raka kaget sedikit. “Sekarang?”
“Iya!” Anisa angguk cepat. “Katanya penting. Soal tanah.”
Sari langsung natap Anisa.
Citra dari mobil juga ikut lihat.
Tiga arah.
Satu Raka.
Anisa makin nempel.
“Mas ikut aku dulu ya…”
Nada suara Anisa beda.
Lebih manja.
Lebih berani.
Sari langsung nyaut, “Anisa, Mas Raka itu mau ke Puskesmas dulu.”
Anisa langsung balas, “Bapak lebih penting.”
Citra membuka kaca mobil.
“Fasilitas umum lebih penting.”
Suasana tiba-tiba langsung dingin lagi.
Raka diam tidak tau apa harus ikut bicara.
Raka melihat ketiganya satu-satu.
Sari.
Citra.
Anisa.
Tiga-tiganya nunggu jawaban.
“Gila…” gumam Raka pelan.
Masih pagi tapi sudah begini.
Anisa narik lengan Raka lagi.
“Mas…”
Sari menyilangkan tangan.
“Mas Raka, minimal makan nasi uduknya dulu.”
Citra dari mobil tidak mau kalah, “Saya tunggu. Jangan lama.”
Raka lihat langit berharap ada bantuan datang.
Cukup lama, tidak ada keajaiban terjadi.
Raka nampaknya harus tetap memilih.
“Gini aja.”
Semua langsung diam.
“Aku ke Puskesmas dulu.”
Raka menatap Anisa.
“Habis itu ke Balai Desa.”
Lalu ke Sari.
“Baru makan.”
Sunyi sebentar.
Tidak ada yang puas.
Tapi tidak ada yang nolak juga.
Anisa berdecak pelan. “Ya sudah… tapi jangan lama ya, Mas.”
Sari tersenyum tipis. “Jangan lupa makan.”
Citra menutup kaca mobil tanpa komentar.
Raka masuk ke mobil.
Pintu ditutup.
Sunyi.
AC langsung terasa dingin.
Raka duduk sambil pegang nasi bungkus.
Aromanya semerbak.
“Taruh di belakang.”
Suara Citra tanpa noleh.
Raka langsung nurut. “Iya, Bu Bidan.”
Mobil mulai jalan.
Beberapa detik tidak ada suara.
Lalu—
“Kamu terlalu baik.”
Raka melirik sedikit.
“Hm?”
“Semua orang bisa minta bantuan ke kamu.”
Citra tetap fokus ke jalan.
“Kamu nggak capek?”
Raka santai. “Sudah biasa.”
“Biasa atau… kamu nikmatin?”
Raka tidak jawab.
Citra lanjut.
“Terbiasa dan diam-diam nikmatin itu beda lho.”
Raka bersandar. Matanya lihat ke depan. Dia tidak tahu harus jawab apa.
Yang Raka tahu—
Setiap hari selalu begini. Selalu ada yang butuh dia. Selalu ada yang narik dia ke arah berbeda.
Dan Raka… tidak pernah benar-benar nolak.
Mobil terus melaju.
Meninggalkan warung.
Meninggalkan Sari dan Anisa yang punya ketidakpuasan di mata keduanya.
Meski Raka sudah berhasil pergi, ini bukan berarti selesai.
Raka sudah hafal.
Ini baru pagi.
Nanti siang beda lagi.
Sore beda lagi.
Malam… biasanya lebih ribet.
Raka menghela napas pelan. Harusnya dia bisa hidup tenang di desa... harusnya.
Tapi sejak Raka pulang ke Karangmulya—
Semua orang seperti punya urusan dengannya.
Dan anehnya…
Raka tetap jalanin.
Tidak nolak.
Tidak lari.
Raka bisa salahkan hal ini pada sifat tidak enakan-nya.
“Harusnya di novel, orang kayak aku kudu dapat benda ajaib dulu,” gumamnya pelan.
Citra melirik sekilas. “Apa?”
“Bukan apa-apa, Bu Bidan.”
Raka menyenderkan kepala ke jok. Matanya setengah terpejam.
Hari baru saja mulai.
Dan Raka sudah tahu—
Hari ini tidak akan mudah seperti biasanya.
Apalagi tenang... dia mungkin memang harus melupakan itu mulai dari sekarang.