Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Palu Hasrat Pelahir Wanita

Palu Hasrat Pelahir Wanita

Kaliang | Bersambung
Jumlah kata
31.8K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / Palu Hasrat Pelahir Wanita
Palu Hasrat Pelahir Wanita

Palu Hasrat Pelahir Wanita

Kaliang| Bersambung
Jumlah Kata
31.8K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHarem21+Supernatural
(21+) Kamu bisa ciptakan wanita yang kamu mau, Jefri adalah Seorang pemuda yang hidup dalam hinaan dan pengucilan tiba-tiba diberikan sebuah palu misterius di tengah hutan. Sejak saat itu, hidupnya berubah—ia dikelilingi oleh para wanita dengan kepribadian dan latar belakang berbeda yang seolah terikat padanya oleh kekuatan tak terlihat.
Bab 1. Amarah Nenek

Jefri tinggal di sebuah kota kecil di Pulau Mentawai—sebuah gugusan pulau yang berada di Samudera Hindia. Tempat di mana hamparan laut lebih banyak terlihat. Hingga dia hafal bau asin, dan suara ombak yang seolah menjadi teman akrabnya selama ini. Jefri memiliki kulit sedikit kecoklatan, akibat terlalu sering menyelami lautan bersama kawan-kawan sebaya.

“Kalau laut lagi begini, besok anginnya kencang,” gumam Jefri suatu pagi, menatap air yang beriak tak biasa.

Dia hidup dalam kemiskinan sejak kecil. Bahkan terbiasa makan hanya dengan nasi campur garam, atau jika dia beruntung hanya ada telor dadar di piringnya.

“Maaf ya, Jef… hari ini cuma ini,” ucap nenek Upiak suatu malam sambil meletakkan piring di depannya.

“Tidak apa-apa, Nek. Nasi sama garam juga enak kok,” jawab Jefri cepat, lalu menyuap dengan lahap seolah itu hidangan istimewa.

Semua berawal dari kepergian kedua orang tuanya. Bapak dan Ibu Jefri meninggal dunia saat Jefri baru berusia tiga tahun.

Hidup sebatang kara membuat kakeknya, Malin, akhirnya membawanya hidup bersama. Walau kondisinya juga tidak kaya. Bahkan tidak ada janji akan memberikan hidup layak, atau masa depan yang cerah untuk Jefri. Karena yang tersisa hanya tangan tua keriput yang masih mampu memberikan makan untuk cucunya itu. Malin tidak mungkin menolak cucu yang sudah kehilangan semuanya. Dan, sejak hari itu, Malin menganggap Jefri segalanya, seperti Jefri yang terus berharap hidup bersama Malin selamanya.

Sejak kecil, Jefri dididik dengan nilai-nilai Minangkabau yang begitu kental—ajaran yang terus ditanamkan oleh Atuk Malin dengan cara yang keras.

“Laki-laki itu harus tahan lapar, tahan sakit, dan tahan dihina,” ucap Malin tegas saat Jefri jatuh dan lututnya berdarah.

“Jangan menangis.”

Namun di tempat lain, suasananya berbeda. Dapur menjadi tempat Jefri dan neneknya sering bekerja sama.

“Jef, tolong potong bawangnya halus. Jangan besar-besar,” pinta nenek Upiak.

“Iya, Nek. Begini?”

“Ya, pintar. Kau ini walau laki-laki tetap harus bisa memasak,” jawab Upiak sambil terkekeh.

Di dapur yang masih beralaskan tanah, mereka berdua seperti satu tim yang kompak dalam meracik bahan makanan. Jefri bahkan sudah menganggap kedua orang itu adalah orang tuanya sendiri.

Dengan kehidupan yang sederhana, bahkan lebih tepatnya jauh dari kata cukup, Malin bekerja hanya dengan menjual kayu dari hutan. Setiap hari dia selalu keluar masuk hutan, dan kembali saat siang atau sore hari. Kayu-kayu yang ia dapatkan dari hutan, tidak serta merta ia jual begitu saja. Melainkan dia memahatnya lebih dulu untuk dijadikan ukiran kayu, atau mainan mobil-mobilan yang akan ia jual dari kampung. Hasil ukirannya juga terbilang bagus. Namun, semua itu ternyata tidak cukup. Karena peminat dari hasil kerajinan Malin tidak begitu banyak. Sehingga hasil jualannya seringnya tersisa, bahkan terkadang keranjang jualannya akan tetap penuh saat dia pulang ke rumah.

“Hari ini laku, Tuk?” tanya Jefri penuh harap.

Malin hanya menggeleng pelan.

“Besok kita coba lagi.”

Jawaban itu terdengar hampir setiap hari.

Jefri yang sering melihat hal ini, merasa iba melihat kakeknya yang sudah tua harus keliling kampung dengan hasil yang tidak sesuai. Apalagi saat melihat Malin sampai rumah dengan kondisi peluh yang membanjiri wajah serta tubuhnya, namun dagangannya tidak ada satupun yang laku, membuat Jefri sedih.

Suatu sore, Jefri menghampiri kakeknya yang duduk terdiam dengan keranjang masih penuh. Ia menyerahkan air minum.

“Minum dulu, Tuk.”

Malin menerima tanpa menatap.

Jefri menarik napas panjang.

“Atuk… Jefri tidak mau lanjut SMA.”

Tangan Malin terhenti.

“Apa katamu?”

“Buat apa sekolah kalau perut kita sering kosong?” suara Jefri bergetar. “Biar Jefri yang kerja.”

“Bodoh!” bentak Malin, tapi matanya berkaca-kaca.

“Ilmu itu bekal hidup.”

“Kalau kita tidak makan, ilmu juga tidak bisa masuk,” balas Jefri lirih.

Pada akhirnya Malin pasrah, karena bagaimanapun juga, kata-kata Jefri memang tidak sepenuhnya salah.

Setelah Jefri memutuskan tidak melanjutkan sekolah, kini dia mengisi hari-harinya dengan memulung. Tidak hanya itu saja, dia juga sering menggantikan tugas kakeknya berkeliling menjual kayu ukiran Atuk Malin. Berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Hal ini membuat Jefri menjadi bahan pembullyan di lingkungan kampungnya, terutama oleh teman teman sebayanya. Dulu dia masih memiliki teman bermain, namun kini semua orang enggan mendekat. Saat anak-anak seusianya sibuk belajar di sekolah, Jefri justru berusaha menggantikan peran kakeknya. Dia tidak mengeluh, namun dalam hatinya tetap ada rasa sedih. Berharap semua ini akan segera berakhir. Kehidupan mereka bisa membaik.

Malam itu, Jefri baru saja pulang. Setelah berjalan kaki berpuluh kilometer keliling kampung satu ke kampung lain, dia tampak sudah sangat lelah dengan keringat yang membanjiri wajahnya. Jefri mengusap peluh di keningnya dengan ujung kaus lusuh yang ia pakai seharian. Yang sebenarnya sudah basah oleh keringat sejak siang, hingga menjadi kering kembali karena terus terkena cahaya matahari.

Belum sampai kaki Jefri melangkah masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara keributan dari dalam. Tangannya yang hendak mendorong pintu kayu usang di depannya terhenti. Di dalam neneknya sedang marah besar. Namun, rasa penasaran itu sangat besar, tapi dia juga tidak berani masuk begitu saja dengan kondisi di dalam rumah yang sedang memanas.

“Cukup, Malin! Aku capek hidup begini!” teriak nenek Upiak.

“Upiak, sabar… aku sudah berusaha,” jawab Malin lemah.

Tamparan keras terdengar.

“Pokoknya aku minta cerai!”

Jefri lantas mendorong pelan pintu kayu di depannya itu, hingga terbuka sedikit. Jefri bisa melihat bagaimana kondisi di dalam rumahnya. Dugaannya benar, jika nenek Upiak sedang marah besar pada kakek Malin. Tamparan yang Jefri dengar sebelumnya kembali terjadi. Bahkan kini Jefri melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana marahnya nenek Upiak pada kakeknya. Namun, yang membuat Jefri heran adalah sikap kakeknya.

Atuk Malin tampak diam saja diperlakukan demikian. Seolah dia pasrah dengan semua amukan dari istrinya. Tidak ada nampak pembelaan yang terlontar dari mulut pria tua berjenggot putih itu. Seolah olah Malin sudah tidak berdaya. Dia hanya bisa terdiam menerima semuanya.

“Pokoknya aku minta cerai!”

Kalimat itu diucapkan nenek Upiak lagi dengan lantang. Dengan kedua bola mata yang melotot tajam, menatap suaminya. Tidak ada keraguan sedikitpun di kedua matanya. Seolah semua hal ini sudah ia pikirkan dengan sangat matang. Tidak hanya suaranya yang meninggi, tapi tangan Upiak juga beberapa kali memukul meja bahkan dinding kayu di dekatnya.

Setelah mengucapkan kalimat itu, nenek Upiak masuk ke dalam kamar. Sementara itu kakek Malin hanya diam mematung di tempatnya berdiri. Pasrah. Ada gurat kesedihan terpancar di matanya, tapi dia tidak melakukan apapun. Hanya diam. Tak lama kemudian, nenek Upiak keluar dengan membawa semua pakaiannya, juga sebuah kotak ukiran yang memang miliknya. Nenek Upiak pergi dari rumah.

Pintu dibuka lebar, sorot mata tajam terpancar di wajah nenek Upiak. Bahkan saat melihat Jefri berdiri mematung di depan pintu, wanita tua dengan rambut yang sudah memutih itu, tidak mengatakan apapun. Hanya menatap Jefri, lalu pergi begitu saja.

“Nenek… jangan pergi,” ucap Jefri lirih.

Tapi Jefri hanya mendengar isak tangis dari neneknya saat langkah wanita tua itu semakin menjauh.

Sementara itu, kakek Malin hanya terdiam sambil tangannya memegang palu pahatnya. Mencengkram erat benda itu, seolah sebagai luapan rasa sakit dan sedihnya yang tidak ia tunjukan pada Jefri. Tapi, begitu istrinya sudah pergi menjauh, runtuh sudah semua pertahanan kakek Malin. Pria tua itu mulai menangis. Bukan hanya isak tangis pelan saja, tapi tangisan yang begitu besar. Seperti ada luka besar di hatinya.

“Upiak… maafkan aku.” Malin merintih penuh kesedihan.

Itu pertama kalinya Jefri melihat Kakeknya menangis. Sosok kuat dan keras yang selama ini melekat pada diri Malin, kini berubah. Seperti sosok lain yang tidak pernah Jefri lihat sebelumnya. Inilah sisi lain dari kakeknya yang baru ia kenal. Dibalik semua sikap tegas dan keras dari Malin, tetap saja dia seorang manusia biasa. Dia bisa terluka dan menangis seperti orang lain.

Tiba-tiba palu pahat yang sejak tadi digenggam kakeknya mulai di arahkan ke dirinya sendiri.

“Lebih baik aku mati saja!”

Jefri terkejut, lalu berlari mendekat. Dengan cepat tangannya menahan palu itu hingga jatuh. Dan, dengan tindakannya itu, tangan Jefri terluka.

“Atuh! Jangan bodoh! Jangan melakukan hal seperti itu, Tuk!”

Tanpa Jefri sadari, tangannya mengeluarkan darah segar. Walau Jefri tidak mengeluh kesakitan, tapi Malin mulai sadar atas apa yang dia lakukan.

“Maafkan Atuk, Jefri. Maaf.” Tangisan kakeknya kembali meraung. Lalu Malin mendekat dan memeluk Jefri sambil meminta maaf, karena telah melukai cucunya itu.

“Atuk, sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa nenek Upiak pergi?” tanya Jefri dengan penuh rasa penasaran.

Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut kakeknya. Justru Malin tampak linglung. Jefri sadar kalau kakeknya sangat terpukul dengan hal yang baru saja terjadi.

“Ya sudah. Atuk lebih baik istirahat dulu saja. Ayo, aku antar ke bilik Atuk.”

Dengan perlahan, Jefri menuntun kakeknya masuk ke dalam kamar. Jefri berharap setelah kakeknya beristirahat, maka kondisi pikiran serta hati Malin akan membaik nanti. Sehingga dia bisa berpikir jernih lagi, dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara kakek dan neneknya itu.

Lanjut membaca
Lanjut membaca