

Langit senja menggantung redup di atas sebuah kota kecil di Sumatera.
Kota itu tidak terlalu besar.
Tidak pula terkenal.
Jalanan utamanya hanya dipenuhi toko-toko kecil, warung makan sederhana, dan deretan rumah yang sudah terlihat tua dimakan waktu.
Di salah satu gang sempit…
berdiri sebuah rumah kecil yang catnya sudah mulai mengelupas.
Rumah itu tidak memiliki pagar.
Halaman depannya hanya tanah yang ditumbuhi rumput liar.
Di dalam rumah itu tinggal dua orang.
Seorang ibu dan anaknya.
Anak itu bernama Arya Pratama.
Usianya baru saja menginjak 20 tahun.
Tubuhnya tinggi sekitar 178 cm dengan wajah yang sebenarnya cukup tampan, namun hidup yang keras membuatnya terlihat sedikit lebih dewasa dari usianya.
Saat ini Arya sedang duduk di depan meja kayu kecil yang sudah mulai retak di beberapa bagian.
Di atas meja itu terdapat beberapa lembar uang.
Arya menghitungnya perlahan.
"Satu… dua… tiga…"
Tangannya berhenti.
Wajahnya terlihat sedikit muram.
"Hanya segini…"
Jumlah uang di atas meja itu tidak sampai seratus ribu rupiah.
Itu adalah sisa uang yang ia miliki untuk bertahan hidup selama beberapa hari ke depan.
Sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu…
hidup mereka menjadi sangat sulit.
Ibunya bekerja sebagai penjahit rumahan.
Sedangkan Arya melakukan berbagai pekerjaan serabutan.
Kadang menjadi kurir.
Kadang menjadi karyawan toko.
Kadang bahkan menjadi tukang angkut barang di pasar.
Namun semua itu tetap tidak cukup.
Arya menghela napas panjang.
Ia menatap langit-langit rumah yang sudah mulai kusam.
"Kalau saja aku punya uang..."
"Setidaknya ibu tidak perlu bekerja sekeras itu."
Suara mesin jahit terdengar dari ruangan sebelah.
Ibunya masih bekerja.
Padahal hari sudah hampir malam.
Arya mengepalkan tangannya.
Ia merasa sangat tidak berdaya.
Namun tepat saat itu…
TIBA-TIBA.
Sebuah suara asing terdengar di kepalanya.
DING!
Arya terkejut.
Ia langsung berdiri.
"Apa itu?!"
Namun suara itu terdengar lagi.
DING!
SISTEM BERHASIL DIAKTIFKAN
Arya membeku.
"Apa?"
Tiba-tiba…
sebuah layar transparan biru muncul di depan matanya.
Seperti hologram.
Tulisan di layar itu mulai berubah.
---
SISTEM SULTAN DUNIA TELAH MEMILIH ANDA
Host: Arya Pratama
Usia: 20
Kekayaan saat ini:
Rp 82.000
Arya menatap layar itu dengan mata lebar.
"Aku... bermimpi?"
Ia bahkan menepuk pipinya sendiri.
"Au!"
Sakit.
Berarti ini bukan mimpi.
Tulisan di layar berubah lagi.
FUNGSI SISTEM
Setiap uang yang dibelanjakan oleh host akan mendapatkan:
Cashback acak
Hadiah acak
Contoh:
Host membeli barang seharga Rp100.000
Kemungkinan reward:
Rp200.000
Rp1.000.000
Rp10.000.000
Kendaraan
Skill
Perusahaan
Properti
---
Arya benar-benar membeku.
"Apa..."
Ia membaca tulisan itu berulang kali.
Jantungnya mulai berdetak cepat.
"Setiap uang yang dibelanjakan… akan kembali berkali lipat?"
Jika itu benar…
berarti…
Ia hanya perlu membelanjakan uang.
Dan uangnya akan bertambah.
Arya langsung menatap uang yang ada di meja.
Delapan puluh dua ribu rupiah.
Jumlah yang sangat kecil.
Namun jika sistem ini benar…
uang itu bisa menjadi awal perubahan hidupnya.
Sistem berbunyi lagi.
DING!
SELAMAT DATANG HOST BARU
HADIAH PEMULA DIBERIKAN
Arya menelan ludah.
"Ada hadiah?"
Layar sistem berubah.
Hadiah Pemula
Saldo Sistem: Rp10.000.000
Skill: IQ Level 1
Kesempatan cashback pertama: 100% berhasil
Arya langsung terpaku.
Sepuluh juta?
Sepuluh juta rupiah?!
Jumlah itu sangat besar baginya.
Bahkan ia tidak pernah memegang uang sebanyak itu sebelumnya.
Arya buru-buru melihat layar lagi.
Saldo Sistem:
Rp10.000.000
Napasnya menjadi tidak teratur.
Jika ini benar…
hidupnya benar-benar akan berubah.
Namun tepat saat itu…
pintu rumah tiba-tiba terbuka.
Ibunya keluar dari ruang jahit.
Wanita itu terlihat lelah.
Namun ketika melihat Arya, ia tersenyum lembut.
"Ya?"
"Arya, kamu belum makan?"
Arya langsung menatap ibunya.
Hatinya terasa hangat.
Ia melihat tangan ibunya yang dipenuhi bekas luka kecil akibat jarum jahit.
Saat itulah…
sebuah tekad muncul di dalam hatinya.
Ia akan mengubah hidup mereka.
Dengan sistem ini…
Ia tidak akan membiarkan ibunya hidup susah lagi.
Arya menarik napas panjang.
Senyum perlahan muncul di wajahnya.
"Ibu."
"Hm?"
"Ayo kita makan di luar malam ini."
Ibunya terlihat terkejut.
"Makan di luar?"
"Iya."
"Tapi uang kita..."
Arya tersenyum.
"Kali ini biar aku yang traktir."
Ibunya menatapnya bingung.
Namun Arya sudah mengambil jaketnya.
Dalam hatinya ia berpikir.
"Ini akan jadi pengeluaran pertama."
Jika sistem ini benar…
maka setelah makan…
hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Angin malam mulai berhembus lembut ketika Arya dan ibunya keluar dari rumah kecil mereka.
Lampu-lampu jalan sudah menyala, menerangi gang sempit yang mereka lewati setiap hari selama bertahun-tahun.
Ibunya, Bu Sari, berjalan pelan di samping Arya.
Wajahnya masih terlihat sedikit bingung.
"Arya…"
"Iya bu?"
"Kamu yakin mau makan di luar?"
Arya tersenyum.
"Iya."
"Tapi uang kita—"
Arya langsung memotong dengan lembut.
"Tenang saja, bu."
"Malam ini kita makan yang enak."
Ibunya menatapnya beberapa detik.
Anaknya memang selalu seperti ini.
Tidak pernah mengeluh.
Selalu mencoba membuat ibunya tersenyum meskipun keadaan mereka sulit.
Bu Sari akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah."
Arya lalu mengeluarkan ponselnya.
Ia membuka aplikasi ojek online.
Namun saat itu…
sebuah layar sistem tiba-tiba muncul di depan matanya.
---
DING!
Host akan melakukan pengeluaran pertama.
Kesempatan cashback: 100%
Silakan belanjakan uang.
Jantung Arya kembali berdetak cepat.
Ia menarik napas dalam.
"Tenang…"
"Ini hanya percobaan."
Namun dalam hatinya ia sangat gugup.
Jika sistem ini benar…
hidupnya akan berubah.
Arya memesan ojek online.
Biayanya sekitar Rp18.000.
Tak lama kemudian sebuah motor datang menjemput mereka.
Mereka pun menuju sebuah pusat kota kecil yang memiliki beberapa restoran.
Selama perjalanan…
Arya terus memikirkan sistem tersebut.
Ia bahkan hampir tidak mendengar ibunya berbicara.
Sekitar dua puluh menit kemudian…
mereka tiba di depan sebuah restoran.
Restoran itu cukup terkenal di kota tersebut.
Namanya Restoran Nusantara Indah.
Restoran itu biasanya dikunjungi oleh pegawai kantor atau keluarga yang ingin makan enak.
Bagi Arya…
tempat itu sudah termasuk mewah.
Ibunya terlihat sedikit ragu ketika melihat tempat itu.
"Arya…"
"Makan di sini?"
Arya tersenyum.
"Iya bu."
"Malam ini kita makan yang enak."
Mereka pun masuk ke dalam restoran.
Aroma makanan langsung menyambut mereka.
Ayam bakar.
Sop iga.
Ikan goreng.
Perut Arya bahkan langsung berbunyi pelan.
Seorang pelayan datang mendekat.
"Selamat malam, silakan duduk."
Arya dan ibunya duduk di meja dekat jendela.
Pelayan itu lalu memberikan menu.
Arya membuka menu tersebut.
Harga makanan di sana sekitar 30 ribu sampai 80 ribu rupiah.
Ibunya langsung berbisik pelan.
"Arya… kita pesan yang murah saja."
Arya tersenyum.
"Bu."
"Hari ini kita makan yang enak."
Ia lalu memanggil pelayan.
"Mas."
"Iya kak."
"Saya pesan ayam bakar dua, sop iga satu, nasi dua, sama es teh."
Pelayan itu mengangguk.
"Baik kak."
Setelah pelayan pergi…
ibunya terlihat sedikit cemas.
"Ini mahal loh…"
Arya hanya tersenyum.
Dalam hatinya ia berpikir.
"Semakin mahal… semakin besar hadiah sistem."
Tak lama kemudian makanan mereka datang.
Aroma ayam bakar benar-benar menggoda.
Ibunya bahkan terlihat menelan ludah.
Arya tertawa kecil.
"Ayo makan bu."
Ibunya akhirnya mulai makan.
Setelah beberapa suapan…
wajahnya terlihat bahagia.
"Enak sekali…"
Melihat ibunya tersenyum seperti itu…
hati Arya terasa hangat.
Selama ini mereka jarang sekali makan di tempat seperti ini.
Makan malam itu terasa sangat menyenangkan.
Mereka bahkan mengobrol tentang banyak hal.
Tentang masa kecil Arya.
Tentang ayahnya.
Tentang masa depan.
Setelah sekitar tiga puluh menit…
makanan mereka pun habis.
Arya memanggil pelayan untuk meminta tagihan.
Pelayan itu datang membawa kertas kecil.
Total:
Rp126.000
Arya langsung mengeluarkan uang.
Namun saat uang itu diberikan…
suara sistem tiba-tiba terdengar lagi.
DING!
Host telah melakukan pengeluaran.
Jumlah: Rp126.000
Menghitung reward…
Arya menelan ludah.
Layar sistem mulai berkedip.
Cashback random:
47x
Arya hampir tersedak.
Empat puluh tujuh kali?!
Layar berubah lagi.
Reward uang:
Rp5.922.000
Arya benar-benar membeku.
Hampir enam juta rupiah.
Hanya dari makan malam.
Namun sistem belum selesai.
DING!
Bonus hadiah terdeteksi.
Hadiah:
Skill Bela Diri Dasar
Arya merasa kepalanya tiba-tiba terasa panas.
Seolah-olah ada sesuatu yang masuk ke dalam pikirannya.
Gambar-gambar teknik bela diri mulai muncul di otaknya.
Cara meninju.
Cara menendang.
Cara bertahan.
Cara menjatuhkan lawan.
Semua itu terasa seperti pengalaman yang sudah ia pelajari bertahun-tahun.
Beberapa detik kemudian…
semuanya berhenti.
Arya berkedip beberapa kali.
"Apa…"
Ia mengepalkan tangannya.
Tubuhnya terasa lebih ringan.
Refleksnya terasa lebih tajam.
Ia bahkan merasa bisa bertarung sekarang.
Sistem berbunyi lagi.
Saldo saat ini:
Rp15.922.000
Arya hampir tertawa keras.
Lima belas juta rupiah.
Baru saja sistem aktif beberapa jam.
Namun tepat saat itu…
sebuah suara sinis terdengar dari meja sebelah.
"Ha…"
"Sampai habis begitu?"
Arya menoleh.
Di meja sebelah duduk tiga pemuda.
Mereka mengenakan pakaian mahal.
Jam tangan mereka juga terlihat sangat mahal.
Salah satu dari mereka menatap Arya dengan ekspresi meremehkan.
"Aku lihat kalian dari tadi."
"Makan banyak sekali."
"Uangnya cukup?"
Ibunya langsung terlihat tidak nyaman.
Arya mengerutkan kening.
Pemuda itu tertawa kecil.
"Wah…"
"Anak miskin bawa ibunya makan di restoran?"
Temannya ikut tertawa.
"Kasihan sekali."
"Besok mungkin mereka harus makan mie instan lagi."
Tangan Arya langsung mengepal.
Namun ia masih mencoba menahan diri.
Ibunya berbisik pelan.
"Arya… sudah…"
Namun pemuda itu belum berhenti.
Ia bahkan berdiri.
Lalu berjalan mendekat ke meja Arya.
"Kalau tidak punya uang…"
"Jangan sok makan di tempat mahal."
Tiba-tiba…
ia menepuk bahu Arya dengan kasar.
"Apa kau mengerti?"
Namun tepat saat itu…
mata Arya berubah dingin.
Skill bela diri yang baru saja ia dapatkan…
membuat refleks tubuhnya bergerak secara otomatis.
Dalam sekejap…
Arya menangkap tangan pemuda itu.
Gerakannya sangat cepat.
Pemuda itu bahkan tidak sempat bereaksi.
Lalu…
Arya memutar tangannya sedikit.
"AHH!"
Pemuda itu langsung berteriak kesakitan.
Teman-temannya terkejut.
"Apa yang kau lakukan?!"
Arya berdiri perlahan.
Tubuhnya terlihat tenang.
Namun matanya tajam.
"Aku tidak suka orang yang menghina ibuku."
Ia lalu melepaskan tangan pemuda itu.
Pemuda itu langsung mundur beberapa langkah sambil memegang pergelangan tangannya.
Wajahnya merah karena marah dan malu.
"Kau…!"
"Kau berani menyentuhku?!"
Ia mencoba menyerang Arya.
Namun…
Arya bergerak lebih cepat.
Ia menghindar.
Lalu menendang kaki pemuda itu.
BUK!
Pemuda itu langsung jatuh ke lantai.
Restoran menjadi hening.
Semua orang menatap mereka.
Arya berdiri tegak.
Wajahnya tenang.
Pemuda itu mencoba bangkit.
Namun matanya penuh kemarahan.
"Kau akan menyesal!"
"Ayahku pemilik perusahaan terbesar di kota ini!"
Arya hanya tersenyum tipis.
Dalam hatinya ia berkata.
"Dengan sistem ini…"
"Suatu hari nanti bahkan perusahaan ayahmu pun bisa aku beli."
Ia lalu membantu ibunya berdiri.
"Ayo bu."
Mereka berjalan keluar dari restoran.
Di luar…
angin malam terasa sejuk.
Ibunya masih terlihat sedikit kaget.
"Arya… sejak kapan kamu bisa bela diri?"
Arya tersenyum kecil.
"Belajar sedikit dari internet."
Ibunya mengangguk pelan.
Namun dalam hatinya ia merasa anaknya mulai berubah.
Arya menatap langit malam.
Bintang-bintang bersinar terang.
Ia mengeluarkan ponselnya.
Lalu melihat saldo banknya.
Rp15.922.000
Arya tersenyum.
Ini baru permulaan.
Dengan sistem ini…
Ia akan menjadi sangat kaya.
Sangat kuat.
Dan suatu hari…
seluruh dunia akan mengenal namanya.
Arya Pratama.
Orang yang akan menjadi sultan dunia.